
"Aduuuhhh....stop...stop.....,". Teriak bu RT.
Meleraikan amukan para emak-emak. Mata bu RT, melotot siapa yang di amukan oleh ibu-ibu.
"Kaliaaaan,". Teriak bu RT. Ia beralih ke arah ibu-ibu.
"Untung ada bu RT,". Bisik Sinta,yang sudah babak belur.
"Tolong..tolong kami bu RT, mereka sudah menganiaya kami. Liat kami babai belur begini,". Isak tangisnya bu Halimah.
"Mereka yang salah bu RT, mereka berdua mengeroyok Ayunda dan saling menjambak rambut,". Ucap salah satu ibu-ibu disekitar.
"Benar,itu bu. Kami semua menyaksikan langsung," sahut yang lainnya.
"Bi Ijah,yang minta tolong kepada kami.membantu Ayunda,". Timpal lainnya.
Mendengar perkataan ibu-ibu lainnya, membuat Bu RT marah. Matanya melotot memandang ke arah mereka. "Usir mereka dari sini,aku tidak sudi mereka berada di lingkungan kita,". Bentak bu RT. "Sudahlah,jangan di hajar lagi.usir saja mereka,".
"Iya,kita usir saja,".
"Pergilah kalian bu Halimah dan Sinta. Bawa anakmu itu,". Teriak lainnya.
"Usiiiirrr....iya,uusssiiirrr,". Teriak emak-emak. Bahkan para suami mereka tidak ada maju selangkah pun.
"Ayundaaaa...jangan usiir kami....kami minta maaf,". Isak tangisnya bu Halimah,ia di seret.
"Diam, bu Halimah. Kamu jangan jadi wanita penjilat,". Bentak bu Sumi. Ia begitu sengit kepada mereka.
Bu RT, langsung menghampiri Ayunda. Menyelonong masuk ke dalam rumah Ayunda.
"Kamu tidak apa-apa,nak Ayunda,". Ujar bu RT. melihat wajah Ayunda,sudah berantakan rambut acak-acakan.
"Alhamdulillah,bu. Gak papa,sudah di bantu yang lainnya,". Jawab Ayunda.
"Maaf,aku telat. Tadi ada tamu, tapi baguslah ada ibu-ibu lainnya,". Ucap bu RT. "Iiihhh...gemesnya anakmu Yu,".
Akhirnya bu Halimah dan Sinta, beserta anaknya. Mereka sudah terusir, dengan hati kesal badan juga sakit-sakitan.
"Kemana lagi kita bu,". Ucap Sinta, mereka sangat lelah untuk berjalan lagi.
"Ibu tidak tau nak,kita cari kontrakan. Kamu cari kerja yah,biar bisa bayar juga,". Lirih sang ibu.
"Jangan aku doang bu, ibu juga cari kerjaan lah. Anakku juga sudah besar,". Ucap Sinta.
"Iya, ibu akan membantu.tenang saja," ketus bu Halimah.
*******
Dering...
__ADS_1
Ponsel beberapa kali dan beberapa pesan masuk di ponselnya Ayunda.
Semuanya dari bi Ijah,tidak ada jawaban dari Ayunda. Sedangkan Ayunda,lagi meeting di ruangan berbeda. Sedangkan ponselnya berada di meja,ruang kerja kantor Ayunda.
"Kenapa perasaanku tidak enak,". Gumam Ayunda, pelan.
Saat meeting dia merasakan sesuatu yang tidak baik, perasaan campur aduk tengah gelisah.
Selesai meeting dia langsung buru-buru menuju ke ruang kerjanya.
"Ya Allah, telpon dan pesan dari bi Ijah, begitu banyak sekali,". Lirih Ayunda,ia membuka pesan dari bi ijah.
Saat membaca pesan dari bi Ijah,matanya membelalak. Ia langsung menyambar tas dan kunci mobilnya.
Ia berjalan sedikit berlari. Hatinya begitu gelisah,ia tak henti-hentinya mondar-mandir di dalam lift.
"Ya ampun, begitu lambannya lift ini turun,". Decak Ayunda.
Bruuukkkk.....
Ayunda, langsung menabrak seseorang saat keluar dari lift.
"Alex,maaf. Aku buru-buru,". Ucap Ayunda,ia mengambil kunci mobil terlempar.
"Kau buru-buru kemana,hemm...aku ada perlu dengan mu,". Tangan Alex,mencekal lengan Ayunda.
"Emangnya anakmu kenapa,apa perlu aku antar. Hemmm,". Alex, melepaskan cekalan lengan Ayunda.
Tidak.. Alex,tidak boleh tau,batin Ayunda. "Anakku gak mau makan, katanya mau minta beliin makanan diluar. Makanya aku buru-buru takut dia kelaparan,". Alibi Ayunda.
"Terus berkas-berkas ini bagaimana? Nanti malam kamu ikut bukan!! Ke acara kolega bisnis nanti malam,". Tanya Alex,yang masih mencegah Ayunda.
"Aduuhh.... minggir-minggir napah...!!! Iya,aku bakalan ikut malam nanti. Berkas-berkas kamu taruh saja di meja,". Ayunda, mendorong dada bidang Alex.
Membuat Alex, sedikit mundur. "Gila,kuat benar kamu Ayunda,". Gumam Alex, menatap kepergian Ayunda.
"Ada-ada saja.Uuhhh...jadi telat ini, semoga saja anakku gak kenapa-kenapa,". Ayunda, menancapkan gas mobilnya.
Beberapa menit kemudian.
Ayunda,sudah sampai di mansion J.
Ia langsung masuk ke dalam mansion, terlihat begitu sepi.
"Al....Aaalll...ini mamahhh sayang,". Teriak Ayunda. Ia calingukan mencari anaknya.
"Maaf,nona. Tuan ada di dalam kamar atas,". Ucap salah satu pelayan mansion .
Dengan langkah cepat. Ayunda, menaiki anak tangga satu persatu. Sesampai di atas,ia juga langsung masuk ke dalam kamar J.
__ADS_1
Sebelum masuk. Hatinya dag-dig-dug tak karuan,mana mungkin bisa. Ia memasuki kamar kakak iparnya itu,yang sudah lama tidak melihatnya. Tangannya gemeteran ada rasa takut dan penasaran.
"Buka,gak yah? Aduhhh...aku jadi seperti ini,". Gumam Ayunda,ia sudah memegang ganggang pintu kamar J.
Ceklek....
Ayunda, mengintip dari balik pintu kamar J. Ia melihat sekeliling ruangan kamar,tapi dia hanya tersenyum kecil.
Saat menatap ke atas ranjang,ia melihat anaknya tengah tertidur pulas bersama J.
Ayunda, sedikit demi sedikit langkah kakinya mendekati tepi ranjang.
Terlihat jelas wajah kakak iparnya. Ia tengah memeluk Al, mereka berdua saling berpelukan dan tertidur pulas.
Ada rasa lega di hati Ayunda,ia tersenyum manis dan mengelus rambut anaknya.
Ayunda, meletakkan tasnya dan menuju ke kamar mandi karena panggilan alam.
Beberapa menit kemudian. Ia menyelesaikan panggilan alamnya,saat keluar dari kamar mandi.
Ia melihat sosok pria yang tengah berdiri di depan pintu kamar mandi. Ayunda,ingin menjerit karena terkejut namun langsung di bungkam J.
"Aaammmppttt...hammmppttt...,". Ayunda, memberontak namun kalah. Ia didorong oleh J dan masuk ke dalam kamar mandi.
"Huuuusttt....jangan berteriak,nanti Al bangun,". Bisik J.
"Kauuu... lepaskan aku,". Bentak Ayunda. Namun ia melihat ke arah lengannya sudah menyentuh dada bidang kokoh J.
Saat ini J, tengah bertelanjang dada. Susah payah Ayunda, meneguk saliva nya.
"Oh...my...god.. sixpack J,". Gumam Ayunda.
"Kau menyukainya Ayunda,". Bisik sensual J.
Dengan gelabakan karena Ayunda, tengah tak sadarkan diri. Tangannya beraba-raba kotak perut J. Karena Ayunda, ketahuan ia tak sengaja menghidupkan sower. yah...air mengguyur membasahi tubuh mereka.
Membuat mereka berdua basah kuyup. J,hanya tersenyum kecil di sudut bibirnya.
Ia langsung mencekal lengan Ayunda dan menarik ke atas. Ia mematikan kran walaupun badan mereka Sudah basah kuyup.
"lepaskan akuuu...atau aku akan berteriak,". Bentak Ayunda,ia memalingkan wajahnya. Karena wajah J,hanya beberapa senti saja.
"Berteriak lah,agar anak kita bangun dan melihat apa yang kita lakukan di sini,". Bisik J.
Anak kita?sejak kapan aku membuatnya dengan mu,dasar sok ngaku-ngaku, batin Ayunda.
Ia melihat postur tubuh Ayunda yang begitu menggoda iman,karena basah begitu terlihat lekukan indah dalam diri Ayunda. Bongkahan gunung kembar begitu padat. J, bahkan tak berkedip melihat wajah dan tubuh indahnya Ayunda.
"Ke-kenapa kamu memandang ku seperti itu ha,". Ayunda, semakin ketakutan melihat J. Ia menyeringai tajam, seakan-akan ingin memakan Ayunda hidup-hidup.
__ADS_1