Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.

Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.
Episode 1


__ADS_3

" Ya baiknya aku harus apa lagi Estu?."


" Semuanya seolah-olah sudah di final kan sama keluarga kamu, keluarga besar kamu.semuanya setuju kalau aku ini pantas kamu tinggalkan."


" Aku tau,aku pernah salah sama kamu. kesalahan besar yang bakal jadi aib aku, kekurangan aku seumur hidup aku Dimata keluarga kamu.?!"


" Tapi tolong,tolong kamu berfikir jernih.jangan mengiyakan saja kata kata keluarga kamu.!?"


" tolong kamu ingat Danesh, tolong kamu ingat Arcelio anak kita.berulang kali aku bilang,aku gak ingin anak anak aku mengalami nasib yang sama seperti aku dulu.perpisahan hanya mengorbankan anak anak aja."


" Apa selama ini juga kamu gak yakin sama perbuatan aku buat memperbaiki diri.memperbaiki hubungan kita ini Estu..iya?" kataku sedikit cepat.


Hanya terdengar suara desahan nafas Pangestu dari ponsel yg ku pegang.


" aku gak tau kha,aku mesti gimana.??" katanya.


" Ya kamu masih cinta gak sama aku Estu,masih mau gak nge lanjutin keluarga kita.!?''


" jangan lah kamu ngambil tindakan yang kamu itu gak mau,hanya karena desakan dari keluarga kamu."


" udahlah kha,aku pusing.aku capek.!" katanya sambil memutus pembicaraan.


" halo..halo..halo Estu?!" kataku sambil menatap ponsel yg ku pegang.


Yah,mungkin nasib pernikahan ku sekarang sedang di ujung tanduk.


aku akui,memang aku yang sudah melakukan kesalahan.aku yang bermain api dengan perempuan lain yang awalnya mungkin coba coba.


iya,coba coba melirik perempuan yang lebih muda.ikut ikutan teman sekantor yang hobinya seperti itu.


dan perempuan itu adalah Livia. yang ternyata masih adik sepupu dari teman ku sendiri. parahnya,aku menggagalkan rencana pernikahan nya kala itu dengan seseorang yang bernama Amar,lelaki asal Palangkaraya.


iya,aku nya saja yang bodoh.mencoba menyalahkan orang lain karena kesalahan ku. menyalahkan teman teman ku yang mempengaruhi ku.


Salah nya aku sendiri mengapa bodoh,sampai terpengaruh.


Tetapi memang mungkin awalnya karena coba coba,iseng atau apalah aku dengan Livia. pada akhirnya aku yang menaruh rasa amat dalam terhadap nya,merasakan lagi apa itu yang namanya jatuh cinta.merasakan lagi apa itu mabuk kepayang dan tergila-gila kepadanya. aku yang akhirnya cinta mati terhadap nya,dan memutuskan ingin berpoligami. membagi hati dan hidup ku dengan dua wanita. Pangestu dan Livia.


hahahah...saat itu aku tak merasa diriku Bodoh.

__ADS_1


Bodoh, karena tak sadar aku menyakiti hati dan perasaan Pangestu istri ku.tak sadar karena Pangestu memiliki keluarga yang amat besar dan solid yang juga merasa disakiti.


Dan maaf ku sekarang terasa makin percuma dan sia sia.


" Terus, sekarang apa yang mau kamu lakukan kha?" tanya Ade, seorang teman ku.


aku cuma menggeleng perlahan.


" Aku gak tau de,mau nyewa pengacara juga da eweh duit na!?" kataku lesu.


dia menepuk pundak ku.


" Selama kamu gak ingin menceraikan nya.insyaallah gak bakal pegat hubungan kamu sama Estu?" katanya menyemangati.


Aku hanya menatap nya sambil tersenyum tipis.


" Kalau enggak,kamu coba ngomong sama keluarga kamu kha. ngomong kamu butuh pengacara?!" lanjut Ade. aku kembali menatap nya. tersenyum getir.


andai saja aku. bisa menceritakan bagaimana keluarga ku,tanggapan mereka atas kejadian yg sedang aku alami. Malah menambah kepedihan yg tak ingin aku ceritakan.


Teringat lagi aku akan pertemuan aku dan teteh ku,kala aku beranikan diri datang kerumah nya yg tidak bisa dibilang sederhana itu. Rumah berlantai dua dengan kendaraan yg berjajar di rumah nya.


" Tiap kali kamu kesini cuma pas ada masalah kha.?" katanya sedikit menyudutkan.


" enggak kamu, enggak Ridwan sama saja. urusan nya duit." katanya


" kalau si Estu pingin cerai ya udah wae..biarin aja,kan dia yg gugat.kamu gak bakal ngeluarin duit ini kha?!" katanya dengan nada yang agak tinggi.


Aku hanya diam sambil sedikit melihat ke arah nya.


" apalagi dua bulan lagi si Iqbal mau lamaran,si Nissa mau masuk kuliah.?" katanya


" Teteh ada uang,tapi semua mau kepake kha. ga bisa teteh ngasih pinjaman ke kamu."


" Saran teteh sih,udah si Estu mau sampe mana gugat kamu cerai. biarkan saja."


" selama kamu menolak kan,gak bisa lain cerai mah!?"


" kalo kamu sampe cerai mah.bisa kali kamu kawin lagi,nyari yang lebih dari si Estu - kamu lelaki ini, bisa milih maunya yang bagaimana.?" katanya Tampa beban.

__ADS_1


Rasanya saat itu pingin nangis aku. Berkali-kali aku ngomong gak ingin cerai pun dia seakan gak peduli.yang dia pedulikan,uang nya tak sampai di pinjam oleh ku.


Sesakit inikah karma Ku Tuhan?? atas apa yg pernah aku lakukan terhadap Estu.


Seperti tak ada yang mau menolong ku dan Anak anakku,aku yg sedang berjuang agar aku tak bercerai dengan Estu. merasa tak ada keluarga ku yg peduli,mendukung ku agar jangan sampai berpisah dengan Estu, memperhatikan psikologi anak anak ku nanti nya.


Bukan kah mereka juga tau rasanya menjadi anak tiri, rasanya menjadi anak separuh di keluarga yang baru.baik ayah atau ibu.


Menjadi anak yang tak tahu harus mengadu ke siapa? hanya untuk berkeluh kesah atau memiliki foto saat kelulusan sekolah bersama orang tua,dan banyak lainnya.


Dengan perasaan yg tak karuan saat itu aku berpamitan kepada teteh ku. tak bisa ku ceritakan rasa kecewaku.


Aku tak membantah tiap kata yg keluar dari mulutnya.


aku hanya menyalahkan diri sendiri. kenapa datang kepada seseorang yang tak perduli dengan mu, kenapa mengandalkan orang lain. harusnya aku tanggung sendiri.karena ini akibat dari kesalahan ku.


" Heeh kha,kok malah diem aku kasih saran gitu ke kamu??" tanya Ade yang membuyarkan lamunanku.


aku menatap nya.


" Mending gak usah nyusahin sodara lah de, selama ini mereka juga sudah aku susah kan??" jawab ku dengan getir.


******


" Pa... Besok kalo Udah pulang, beliin kakak Crayon ya Pa??" . terdengar suara Danesh anak sulung ku di telepon.


" iya,nanti papa belikan.oiya adik Rewel gak kak?" tanyaku padanya.


" Hmm...gak sih pa. cuma gak bisa diem aja si Acel kalo udah mainan. apa apa di acak acak?" katanya sambil tertawa kecil menceritakan tingkah adik nya.


Lalu dia mengoceh kesana kemari, menceritakan kesehariannya bersama adiknya.


Ada perasaan perih dan pilu, Ingin rasanya aku meminta maaf kepada kedua anakku.


ingin rasanya aku memeluk mereka. jujur aku kangen sama mereka,sudah hampir tiga bulan aku tak bertemu dengan nya.


Estu di jemput oleh Orang tuannya, membawanya pulang kerumahnya mereka.


terakhir yang ku dengar, Estu tinggal di rumah Kontrakan yang dekat dengan kantor nya. sedangkan kedua anak ku, Danesh dan Arcelio berada di rumah mertua ku.

__ADS_1


__ADS_2