
kemana perginya rasa benci dan amarahnya terhadapku dahulu , Ketidak suka an dan sikap dingin nya terhadapku?
Pikirku ku Diam, mengingat-ingat kejadian tadi siang.
Aku setengah heran dan tak kupungkiri aku Senang. Mungkinkah ada kemungkinan aku akan kembali kepadanya??
Tampak nya, Keretaku sudah mulai berjalan. malam ini aku bersiap kembali pada habitat lamaku.
Semoga saja masih ada peruntungan untukku, Pikirku ku lagi.
Sejak Saat itu, Terakhir kali di apartemen. aku tak bisa lagi menghubungi Livia. Nomornya sudah tidak aktif, terus kemana kutemui dia pikirku. Apa aku harus pergi ke tempatnya bekerja? Di Bank itu, di Jogja??
Sudahlah, Berfikir nya besok saja. Aku ingin tidur sekarang!? Kataku dalam hati sambil mulai menyandarkan kepala ku ke sisi gerbong.
*****
" Waahh, pulang kapan Mas kok gak kabar-kabar??" kata Eko padaku. aku hanya tersenyum.
" Semalam Tadi, Semalam kontrakan cuma ada Hakka. kalian pergi kemana?? tanya aku.
" Semalam aku pergi ke rumah temanku, kalau ilman sama Noval Aku nggak tahu perginya kemana.?" Jawab nya. Aku hanya memanggut kecil.
" Gimana Mas hasil sidangnya??" tanyanya kemudian. Aku Hanya tersenyum sambil mengacungkan kedua jempol ku.
" Alhamdulillah.??!" teriaknya
" Nanti sore kita syukuran ya mas.?" katanya sambil tersenyum
" Boleh... boleh?" jawabku padanya Sambil tersenyum.
" Yaa udah Mas aku tinggal kerja dulu ya?" jawabnya
Aku mengangguk pelan kepadanya.
" Ehh... Ko, tolong kamu tanyakan ke mbak Giyarti , apa sudah ada surat panggilan buatku dari pusat untuk kerja kembali??" Kataku
" Siap mas.!, nanti aku tanyakan?" katanya sambil tersenyum.
Aku menemui Pak Subandi. bercakap-cakap lama dengannya.
Yaahh, hanya untuk bercerita tentang pengalaman ku Di Jakarta kemarin. bercerita banyak atas kejadian yang menimpaku, yah mungkin sedikit berkeluh-kesah kepadanya.
Aku rasa selama ini, Aku tak pernah mengeluh kepada seseorang yang lebih dewasa usianya daripada Aku. bahkan kepada keluargaku sendiri.
Ayahku kandung tinggal bersama istrinya di Purwakarta. Sedangkan ibuku sudah almarhum. mungkin hampir setengah hari aku berada di bengkel kayu miliknya.
berbicara kesana kemari sambil sedikit belajar seluk beluk kayu kepadanya.
mengisi waktu ku yang kosong, mencari kegiatan yang berguna sebelum aku kembali bekerja di kantor nantinya.
Aku belum bekerja karena belum ada panggilan.
***
" Alhamdulillah ya pak masa sakha itu nggak terbukti bersalah dan bebas dari segala tuntutan.?"
" Iya Bu Alhamdulillah. semoga saja ini pertanda untuk kelangsungan usaha kita sama dia."
" Untung saja waktu itu aku enggak nurut omongan mu Bu, mulangin modalnya dia yang sudah diPercayakan dia sama aku??" kata Subandi kepada istrinya.
Bu Asih hanya tersenyum Kaku kepada suaminya itu.
***
Ada perasaan Senang yang entah kenapa saat mendengarnya sudah kembali disini.
Aku tahu, Memang aku bukan siapa-siapa baginya. namun rasanya nanti suatu hari entah kapan, Aku akan lebih kenal dengannya.
Mungkin sekarang hanya sebatas harap, pinta Dan doaku. Sesuatu yang entah itu mengapa harus dia.
" Indah Rahayu, ngapain kamu senyam-senyum sendiri ?" kata Syam kepadaku. aku la,ntas memalingkan pandangan ku kepadanya.
" Enggak we... Sopo sing senyam-senyum??" jawab ku.
" Halahhh... ngapusi. wong aku lihat sendiri kok kamu senyum-senyum play wong edan??" katanya sambil tertawa. Aku memoyongkan bibirku sambil memukul badannya. Dia tertawa.
" Kenapa?? Senang yaaa... mas Linggar melamarmu katanya.
" Kok ke mas Linggar Linggar segala tho??"
" Sembarangan Banget Kowe iku. Wong Aku pacaran aja belum??"
" Bisa bisanya Kamu bilang lamaran, gak usah bikin gosip aja kamu syam. lemes?!" kataku kepadanya Sambil tertawa.
" Huuuu...mong Takon tok di seneni!!?" katanya
Aku tertawa lepas kepadanya.
" Makanya jadiin, biar Kowe gak kelamaan Jomblo??" katanya
" Sopo sing Jomblo??" Tanyaku.
" Amnesia, Jomblo mu Pancen Akut Ndah??" katanya sambil tertawa.
" Aseeemmmmm??" kataku Sambil tertawa.
" Selamat datang, silahkan Belanja di Toko kami??" kata Syam menyambut seseorang yang masuk ke dalam minimarket.
dia tersenyum ke arah kami lalu pergi mencari barang yang dia butuhkan.
" Sudah pak, ini saja??" kata Syam sambil menghitung barang belanjaannya. dia hanya mengangguk kecil.
" Minumannya Teh enggak ini saja pak. yang merk kemuning lagi ada promo beli 2 gratis 1 Pak ??" " Minumannya enak kok pak nggak bikin tenggorokan kering?" katanya beriklan.
" Gak usah lah mas ini aja. takut Nanti Noda nya gak hilang di gigi saya??" katanya.
Seketika Syam tertawa kecil bersamanya, aku yang tengah merapikan barang Juga menahan tawa karena
mendengarnya.
" Mau isi pulsanya sekalian pak?" tawar Syam lagi.
" Enggak Mas, kalau bisa saya mau di isi iman dan Takwa saja??" Candanya. Syam kembali tersenyum padanya
Tak lama kemudian dia pun pergi meninggalkan toko.
setelah itu, kami sontak tertawa lagi, mengingat kejadian barusan.
__ADS_1
" Mas ini siapa sih, Bayol banget. perasaan baru kelihatan lagi yaa?" tanya Syam mengingat-ingat.
aku hanya diam tanpa menjelaskan kepada Syam.
***
" Ngehubungin siapa Mas tanya HK kepadaku. aku tersenyum dan menatapnya.
" Teman. dari kemarin susah dihubungin."
" kalau nomor sambungan yang anda hubungi tidak tersedia maksudnya apa? aku diblokir atau dia ganti nomor yaa??" tanyaku
" Biasanya itu ganti nomor Mas. kalau enggak,Yaa disana nya gak ada sinyal. Emang temennya di daerah ??" Hakka bertanya balik
" Hmm... enggak sih. Ada di Jakarta kok ?" jawabku
" Dia paling ganti nomor Mas, Atau handphone nya hilang dicuri orang. terus kartunya buru-buru di ganti kali sama orang??" katanya menjelaskan.
" Apa Iya ya??" kataku
" Mungkin aja sih Mas. emang Mas nggak punya nomor lain??" tanya ya
Aku hanya menggeleng kepadanya.
" Nomor kantor atau nomor rumah mungkin?? atau nomor keluarga, saudaranya, temennya yang berhubungan sama dia?? tanya nya kepada ku.
Aku kembali menggeleng-gelengkan kepalaku, dia yg melihat ku hanya menaikkan kedua alisnya, memainkan mimik mukanya.
"Bagaimana Livia yaa?? fikir ku.
***
" Yaaa kalau bisa besok kita ke Wonogiri aja mas, Pakai mobil Bak punya saya." kata Pak Subandi kepadaku.
" Yaaa lihat-lihat saja dulu keadaan kayunya.?" katanya lagi.
" Ini harganya terbilang murah loh Mas, kayu jati Usia 10 tahun harganya cuma segitu??" katanya
" Yaa kalau bapak ajak, ya saya mau aja ikut tapi sebelah atas melihat-lihat dulu ya pak?" kataku.
" Iya mas, sekalian saya mau nengokin orang tua saya di kampung." tambahnya
" di mana itu Pak??" tanyaku balik
" di Salatiga Mas?" jawabnya. aku hanya menganggukan kepalaku walaupun tidak mengerti itu di mana
Kalau tidak Salah, kampung halaman Livia pun ada di Surakarta tetapi aku tidak tahu itu dekat dengan Salatiga atau tidak??
Ehh, entahlah aku tidak yakin juga pikirku.
****
" Panji, mbak mau tanya sama kamu. Tolong kamu jawab dengan jujur??" tanyaku kepada adik ku itu.
" Ada apa sih Mbak kok kayaknya serius sekali??" jawabnya santai.
Aku memandang ke sekeliling, takut ada ada orang yang mendengarkan pembicaraan kami. terutama bapak dan ibu.
lantas aku menariknya ke belakang, dekat mushola di atas kolam ikan koi milik bapak.
" Kenapa sih Mbak, tiba-tiba kamu tanya seperti itu? itu kan udah lama berlalu. ya udah.. aku udah ngelupain dan maafin dia?" katanya terdengar bijak.
" Tolong kamu serius Panji ngomong kebenarannya??" kataku mendesak nya.
" Kamu pikir aku nggak tahu kebenarannya??" kataku menyudutkannya.
matanya seperti merasa bersalah kepadaku.
" Mas Sakha Emang ngadu apa sama kamu??" katanya sedikit tinggi
" Kamu membelanya sekarang??" katanya dengan nada menyindir.
" Haahh... bukan masalah ngadu ngadu, tapi kamu yang ngadu domba. menutupi kebenaran yang terjadi!" ajak ku.
" Maksud mbak apa?!' katanya terdengar tersudut.
" Yaa Kamu cerita aja sih kebenarannya daripada aku balik balik kan??" Kataku.
" Emang apa yang mbak tahu??" katanya.
aku tersenyum sinis kepadanya.
" Seriusan, kamu enggak mau cerita sendiri. bukan maksudku bikin malu kamu loh tapi kamu memang salah sama dia. Kamu memperbaiki keadaan Dengan mengatakan hubungan sama bapak.?"
" aku nggak masalah kalian membencinya, atau mungkin membenci anak-anakku juga?"
" bukan berarti juga aku masih punya perasaan sama dia aku cuman kasihan sama dia gara-gara kamu??" kataku.
" kok gara-gara aku Mbak !!?" kata Panji terdengar tidak terima.
" Yaa gara-gara kamu gak video patah ditabrak sama orang Suruhan Bapak?!" kataku
" lah kok Mbak sampai minum dulu bapak seperti itu??"
" udahlah itu nanti kita bahasanya, kamu cerita aja sebenarnya kamu gimana apa yang terjadi sama kamu sebenarnya.??"
dia tampak menarik nafasnya panjang.
" Emang masa ah cerita gimana??" katanya
" kamu sama selingkuhan kamu ke pergok kan, sama suaminya di hotel.??"
" Kamu dipukulin oleh mereka, saat sakha datang, Kamu tidak sempat di Tolong Dia??"
" Mungkin saja kamu merasa malu sama dia, Jadi kamu berkata bahwa dia yang mukulin kamu. supaya kelakuan busuk mu itu nggak ketahuan kan??" kataku menganalisis.
Panji hanya diam. Dia hanya menatapku sedikit memelas.
" Mbak, Tolong Panji. jangan sampai Bapak tahu??" katanya terdengar menghiba kepadaku.
" Tega ya kamu fitnah dia, teganya kamu fitnah orang lain buat nutupin kebusukan kamu?" kataku sedikit emosi. dia hanya diam.
" Tolong lah, kamu hargain istri kamu Reni kurang apa dia sama kamu?"
" Apa lagi Harsya masih kecil, kan kamu masih seumur jagung. jangan sampai kejadian Jang jelek menimpa kamu cukup aku aja. kataku.
Mbak enggak cerita ceritakan sama Reni masalah ini.
__ADS_1
aku nggak pernah cerita sama dia tentang ini tapi dia sudah curiga sama kamu udah gede kok malah. bisa saja kalau dia tidak tahan bakalan ngomong sama bapak kataku. dia hanya diam.
" Kita cuma perempuan Panji, bisa apa selain menangis.??"
" Kalaupun aku bisa menuntut Sakha dulu itu karena dukungan dari bapak. yang merasa sakit hati anaknya diselingkuhin.??"
" Sekarang Apa Iya bapak bakalan belain kamu kalau memang ternyata kamu yang salah selama ini??" kataku.
" kamu lupa, mungkin Reni itu hanya seseorang bagi kamu. sekarang kamu merasa memilikinya dan berhak menyakitinya.??!"
" Kamu nyakitin hati Reni, kalau sampai ketahuan sama keluarganya. keluarganya juga nggak bakal tinggal diam!!"
" Yang kamu sakitin itu bukan cuma Reni, tapi juga keluarganya. Kamu tahu nggak Kamu!!?" kataku kepada Panji dengan sedikit keras.
dia hanya diam.
tanpa disangka-sangka Bapak muncul di hadapan kamu.
" Ada apa ini??" tanyanya. kamu berdua saling pandang
" Coba Ceritakan, kalian ada masalah apa!?" tanya Bapak
" Kenapa ada nama sakha kamu sebut Estu. kamu ada apa lagi denganya?!" katanya terdengar membentakku aku menatap kepadanya.
Aku hanya diam.
aku menatap Panji dan Panji balik menatapku.
" Hehhh!! Apa kalian tuli nggak bisa jawab pertanyaanku !?" katanya terdengar marah.
" Ada apa sih ini pak, kok teriak teriak segala.??" tanya ibu yang tiba-tiba juga datang menghampiri kami.
" Ini anakmu rupanya diam-diam menjalin hubungan lagi sama orang brengsek itu!?" Katanya kasar.
" Siapa, siapa yang berhubungan lagi??" ibu kepada bapak.
" anakmu ini loh si Estu, hubungan lagi sama si Sakha orang Sunda brengsek itu !!" katanya penuh dengan kebencian.
" Sabar thio pak. Emang iya Estu Kamu Berhubungan lagi dengan dia.??" tanya ibu kepadaku.
aku hanya diam.
" Nah kan!! dari diamnya saja sudah ketahuan dia enggak bisa menyangkal!!"
" Kamu kira aku nggak tahu kalau kamu itu diam-diam sering ketemu dengan Sakha??"
" Pura-pura ini, Pura-pura itu, Alasan anak, Arisan rumah atau Gak sengaja ketemu. Kamu berhubungan lagi kan sama dia!?" desak Bapak kepadaku.
aku sedikit menatapnya nanar. lalu aku menundukkan kepalaku.
Kenapa Pembahasanya jadi Sakha, pikirku. Kenapa Jadi dia yang disalahkan dengan aku.
bukankah tujuan utama Aku ingin menanyakan kebenaran kepada Panji.
Aku mengumpulkan segenap keberanian ku untuk berbicara dengan Bapak.
" Estu nggak ada hubungan lagi dengannya Pak, kalaupun Estu ketemu dengan dia itu karena urusannya menyangkut dengan anak. gak ada hal yang lain.?"sangkal ku.
" wajarlah Estu ketemu sama dia ngajak Danesh sama Arcel? anak-anaknya yang pingin ketemu sama Papanya?" kataku membela diri.
" Alahhh... alasan saja kamu Estu?!" katanya keras.
" Lalu Apa yang Bapak perbuat sama dia, Bapak pikir Estu nggak tahu perbuatan Bapak sama dia??"
" Perbuatan Apa, yang mana!?" katanya kesal.
" Bapak sengaja kan nyuruh orang buat nabrak Sakha sampai kakinya patah?!" Kataku.
" Sekarang kamu berani nuduh bapak begitu !!"
" Kamu berani sekarang belain dia di depan bapak!" katanya
Ibu yang tampak Bingung melerai kami hanya diam dan bolak-balik memperhatikan kami yang bertengkar.
" Sudah sudah??" katanya.
" Lihat anakmu sudah berani melawan aku aku bodoh sesuatu yang nggak bener buat belain orang brengsek itu.?" kata bapak marah.
" Dulu dia memang bersalah sama Estu, tapi kan semuanya sudah selesai. enggak ada hubungannya sekarang.?!"
" Bapak tahu kebenarannya tidak, Apa yang dilakukan Bapak itu sama dia adalah kesalahan gara-gara Panji.?!"
" Gara-gara dia, bapak bisa melakukan hal-hal yang keji sama orang lain.??"
" ini semua nggak ada sangkut-pautnya sama perasaan Estu terhadapnya. gak ada sama sekali!"
" Cuma Estu benci. benci sama kelakuan Panji dan bapak yang selalu menyalahkan orang lain untuk membenarkan tindakan yang salah.!!?"
kataku penuh emosi.
" Kenapa kamu bawa Panji?!'' tanya Bapak keras
" Coba saja kalau dia nggak ngomong Bohong sama bapak Saat dia lebam di pukuli seseorang - Dan Ngomong kalau Sakha yang mukulin dia.?"
" Nggak mungkin Bapak berbuat nekat seperti itu Sama Sakha.?"
" Jangan kira aku nggak tahu Pak, Bapak dalang di balik ini semua.?" kataku Skak.
" Bagaimana jika saat itu, sakha melaporkannya kepada polisi. sama polisi diusut tuntas dan ketahuan kalau bapak dalangnya.?"
" Apa Bapak nggak malu dipenjara gara-gara hal yang sepele??"
" gara-gara mulut seseorang yang sengaja meng kambing hitam kan orang lain, Menutup segala Fakta dan kebenaran.??!"
Kata ku.
" Lho... ada apa ini, kenapa kamu malah menyalahkan Panji.?" katanya tak terima.
" Coba Bapak tanya sama dia. berani enggak dia ngomong jujur ke bapak!!"
" apa yang diperbuatnya nggak lebih sama Rendahnya dengan Sakha dulu terhadap Estu.!!"
" Maksud kamu apa!!?" kata bapak bingung marah terhadapku.
" Mungkin, Sebentar lagi. Akan ada surat gugatan cerai yang datang untuk Panji dari Reni.?!"
" Bapak tanya sendirilah kenapa bisa seperti itu??!" kataku sambil pergi.
__ADS_1