
" Hallo Kha, dimana?" tanyaku di sambungan teleponku itu.
" Oohh, kamu mau nginap!?" tanyaku.
" Cuma Mira, kamu tidur Dimana?" kataku lagi.
" Sekarang aku masih di Rumah sakit. Kondisi mama sudah stabil walaupun masih koma." jawab ku.
" Aku? Sudah sih. tadi siang makan sama om Vanus."
" Kamu mau jemput aku Di sini? tapi kamu masih lama Gak- Aku gak mau lho Ganggu kamu sama Anak-anak kamu.?" kata ku Sedikit mengingat kejadian yang lalu itu.
" Ya sudah, Aku tunggu." kataku lagi.
Apa iya, seharian ini dia cuma sama Anak-anak nya? kataku sedikit Curiga.
***
" Siapa yang di rumah sakit Kha??" tanyaku curiga. dia menatapku sedikit ragu ragu mau bicara nya.
" Eee...itu. Mama nya Dia!." katanya Tampa menyebutkan Namanya.
" Ooo, Mama mertua kamu Sakit Toh?" Kataku Sedikit sinis. Dia hanya diam terlihat kikuk.
" Sakit Apa?" tanya ku lagi.
" Kanker. mamanya kena kanker." jawab nya
" Terus, kalau kamu menikah sama Dia? Gimana caranya kalian bersama?" kataku
" Kamu dimana, dia disini! Emangnya kamu Bisa begitu?!" kataku lagi. dia hanya diam menatap ku. lalu sedikit tersenyum.
" Bisalah, yang penting komunikasi!?" katanya lugas.
Aku tertawa kecil, Lebih seperti mengejek nya.
" Yakin cuma komunikasi? Kamu gak butuh yang lain? dulu Komunikasi lancar, udah gitu dekat, ditungguin juga masih kecolongan?! " Kataku sedikit menyindir nya. Dia hanya diam.
" Kecuali kamu disana juga punya serep. Semacam Cadangan gitu!?" kata ku lagi.
Kali ini dia menatapku tajam seraya tertawa kecil sambil bertolak pinggang santai.
" Yaaaa, Kali ini aku harus nyobain lah Estu. Masa iya hidup Harus selalu sama dengan yang di Mau!?" katanya terdengar jelas.
" Dia juga Bukan gak mau dekat sama Aku. Ya karena ada Sesuatu yang lebih Urgen dibandingkan Cuma ngurusin Aku.!" katanya lagi.
" Oohh, Bagus deh. ternyata kamu udah sedikit maju cara berfikir Nya?!" kataku seperti mengejek.
Dia tersenyum sambil tertawa Datar.
" Hufftt, lumayan lah kalau kamu bilang aku sedikit maju cara berfikir nya. Semoga nanti kamu juga Tidak merendahkan lelaki lain Seperti kamu ke aku Yaa!?" katanya membalas ku.
Hatiku terasa panas Terbakar karena ucapannya itu.
Dia tersenyum sinis Kepada ku. aku menatapnya tajam. Aku juga tersenyum sinis Kepada nya.
" Oohh iya, gimana kabarnya Anak perempuan kamu. Sehat?" kataku coba mengalihkan pembicaraan.
" Yaaa... Alhamdulillah baik." katanya menjawab ku.
__ADS_1
" Dia di sini atau dimana? Kok kayaknya di sembunyikan sih.?" Kataku dengan nada sinis.
" Itu anak kamu kan Kha, Bukan anak Tuyul?' kataku mengejek nya.
Mukanya langsung terlihat Merah, Matanya Menatap Nanar penuh dengan Kemarahan sepertinya. Baguslah, pikirku.
Dia menarik nafas nya dalam dalam, dan buru buru menghembuskan nya.
" Jika anak perempuan ku tuyul, Pasti nya kedua anak lelakiku juga Anak setan.!" jawab Nya.
" Kamu Orang tua seperti apa sih!?" tanyanya.
" Tega banget hina anak orang lain!!"
" Kalau kamu benci sama Orang tua nya, jangan anak nya dong yang kamu Serang!! Sebenci Bencinya aku sama kamu. Apa pernah aku bilang Orang tua kamu Binatang!!" Katanya sangat marah.
" Kamu tinggal bilang, kalau aku gak boleh tengokin anak anak aku dari kamu. Jadi kita gak susah susah Ribut, berantem begini .!"
" Kalau kamu bilang gak boleh ke aku buat nengok anak anak itu lebih Fear. Dibandingkan aku di persilahkan kamu boleh nengokin anak anak tapi sengaja kamu pake buat nyerang aku!!"
" Kamu belum puas Ribut sama aku Estu!!" katanya sambil bertolak pinggang.
Aku hanya diam menatap nya. Rasanya kuping ku juga ikut memerah.
" Kamu Senggol aku, sindir sindir aku atau dia. aku bisa terima Estu.!"
" Tapi maaf kalau soal anak, Aku Gak akan terima!!" katanya.
Aku hanya diam. Karena aku yang mengaku salah.
Sesaat kita berdua diam.
" Besok aku mau balik ke Jawa. Tadinya aku pingin tidur sama mereka, tapi? Yasudah lah. aku sudah gak ada tempat lagi??" katanya.
kemudian terdengar ******* nafasnya panjang.
" Besok sebelum pulang. Aku sempatkan Mampir ke Sini, pamit sama Anak anak.!" kataku.
" Jam berapa?" kataku lirih Tampa menatap nya.
" Sekelar nya urusan ku sama Dia. Mama mertuaku sakit, Aku juga mau urus Ini itu selagi Di Jakarta." katanya.
Lalu dia memanggil Mira, mengajaknya pergi.
" Sakha, Kalau kamu mau pulang besok. biarin Mira di sini dulu. Sekalian bantu aku ngurus Danesh dan Lio?" kata ku.
Dia tampak memandang si Mira. Seperti menanyakan dia mau atau Tidak.
" Ya sudah. Baik. besok aku jemput Mira sekalian pamitan sama Anak Anak!?" katanya sambil berjalan Keluar Rumah.
Aku mengantar nya sampai depan pintu rumah. ketika dia hendak menaiki mobil nya itu, dia berjalan balik ke menghampiri ku.
" Estu, Aku tuh gak pingin Musuhan sama kamu!Berantem atau saling Sindir tentang ini itu?!" katanya.
" Kita harus tetap Harmonis, Walaupun mungkin sulit. Tapi itu semuanya demi anak anak?" katanya sambil memegang pundak ku.
Aku menatapnya, sambil menahan Tangis ku yang nyaris pecah.
" Sekarang waktunya bagi kita saling menghormati kehidupan Masing-masing.!"
__ADS_1
" Aku sudah punya kehidupan Baru, dan kamu juga sudah punya Kehidupan lain. Tapi anak anak harus tetap jadi Bagian dari kita?!" katanya Terdengar Bijaksana.
Aku memeluknya, menumpahkan tangisan ku itu Di dadanya. Aku menangis, dan masih memeluk nya meskipun Dia tak memeluk ku balik.
" Sudah Estu, jika cerita nya begini. Kapan masalah kita akan Selesai!?" katanya sambil melepaskan ku dari tubuh nya.
" Sebentar Saja Kha?" kataku lirih.
Dia memeluk ku, membuat perasaan ku yang kering itu seperti tersiram Air. Ada perasaan bahagia dan lega.
Aku menangis Bahagia.
Aku masih butuh kamu, Kata batinku bicara.
Tak lama, Ponselnya berbunyi. Mungkin dari Miliknya.
Aku melepaskan pelukan ku. Sakha menatap ku.
" Ya Hallo Livi, iya sebentar ini Macet. Aku sudah Otw dari tadi, Kalau gak macet mungkin sudah dari tadi aku sampai?" katanya berbohong.
" Sudah ya.. sebentar lagi aku sampai." katanya sambil buru buru mematikan ponselnya itu.
Dia kembali menatap ku. Lalu mencium kening ku
Saat di akan pergi, Aku menahan Tangannya Seolah- olah?
Sakha menatapku sedikit Ragu. Kami berdua terhanyut dalam Romansa dan berciuman Mesra.
entah dalam hubungan Macam apa ini.
****
Sudah setengah jam lebih aku menunggu nya di luar kamar Inap mama. tapi dia belum juga datang.
Aku jadi Kesal karena nya.
Kemana lah dia!? pikirku. Macet macet Dimana!, Dirumahnya si Estu!! Pikirku kesal.
Tak begitu lama, terlihat dia yang berjalan menghampiri ku. sedikit berlari. Aku yang kesal dari tadi tak bergeming saat dia mulai mendekat.
Sakha melayang senyuman nya yang tak ku tanggapi.
" Lama yaa? Maaf tadi aku beli kebab dulu. aku sudah lama gak makan kebab." Katanya. sambil senyam-senyum sendiri.
Aku menatapnya tajam.
" Ini buat kamu satu." Tawar nya sambil menyodorkan Kebab. kepada ku.
" Kan kamu yang keping, makan aja.!" kataku ketus.
Dia seperti tak jadi menggigit kebab yang sudah berada di depan mulut nya itu.
lalu terdengar suara Nafasnya.
" Ya sudah, kita makan di luar yuk. kamu mau makan Terserah!?" katanya sambil senyam-senyum.
Aku menatapnya tajam. Kesal banget tapi kok ya pingin ketawa karena nya.
" Ikkhh....!!" kataku sebal sambil mencubit Tangan nya.
__ADS_1