Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.

Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.
episode 106


__ADS_3

" Apa kamu puas sekarang Livia, ini kan yang kamu mau?" kata Sakha Sambil menatap Livia.


" Ini semua masalah dari aku, Aku sengaja nggak bilang sama saudaranya Dulu. sama Pak Bandi ini karena aku yakin bisa menyelesaikannya?"


" Sebenarnya nggak harus kamu ngadu ngadu sama dia, aku akan cerita sendiri dan mengakui segala kesalahanku." katanya.


" Kamu sendiri yang minta cerai sama aku, aku bilang mau nikah sama Ayu kamunya cemburu.!!"


" Ayu aja belum tentu mau nikah sama saya?"


Livia hanya diam menatap Sakha seperti sengit.


" Kamu harus yang berfikir lagi, aku ini punya hubungan sama Pak Bandi bukan sebatas kenalan bukan karena Ayu juga. aku ini punya usaha loh sama dia, hubungan untuk jangka panjang.!"


" aku sampai hari ini bisa seperti ini karena dibantu sama dia. dia orang yang pertama percaya sama aku bisa menjalankan usaha ini?"


" Pikiran kamu menjadi dangkal gara-gara cemburu?"


" kalau aku balas membalikan, seharusnya aku yang sangat cemburu sama kamu?"


" aku yang seharusnya dua kali berfikir mau menikah sama kamu.!"


" aku berusaha melunakkan hati kamu, aku yang berusaha meredam emosi keluarga kamu, aku yang menerima kamu walaupun berbeda keyakinan??"


" Kamu lupa kalau aku susah payah minta maaf sama kamu bulan kemarin sampai merobekan keningku.?


dan sekarang kamu merobek bibirku dengan tangan orang lain Karena Cemburu?"


" aku yang seharusnya cemburu sama kamu Livia, Bukan sebaliknya?" Kata Sakha.


**


" Sekarang kamu Ay, Tolong jawab di depan mereka semua. biar tidak ada dusta diantara kita, setelah kejadian ini. Apa kamu masih mau menikah sama aku?" tanyaku pada Ayu di depan Pak Bandi, Mira dan Arya juga mereka, Estu dan Livia.


Ayu sepertinya bingung, dia menatap pada kami semua.


bisa saja dia tidak siap untuk menjawab.


" Kamu ngomong aja apapun yang ada dalam perasaan kamu." Kata ku.


" Aku gak tahu mas, harus bagaimana." katanya dengan suara yang bergetar.


Aku lantas menarik nafasku.


" Pak Bandi, Saya minta kepada bapak. saya mohon sekali, Saya minta maaf atas kejadian ini dan saya meminta kepada mas jangan membocorkan ini terlebih dahulu kepada keluarga Ayu?" kataku.


" Jangan panggil saya Mas, Saya ini bukan kakak kamu Sakha!!" katanya yang terdengar membentak ku.


Aku menatapnya kaget sekaligus Malu. aku hanya mengangguk pelan dan Berujar maaf sekali lagi.


" Kamu jangan lagi berharap sama saya yang akan tetap mendampingi kamu. saya mengundurkan diri dari usaha sama kamu!!" katanya


" Tolong Pak jangan berbuat seperti itu, ini tidak ada kaitanya sama Usaha Milik Kita?" kataku menyayangkan ucapannya itu.


" saya enggak mau berhubungan sama laki-laki yang brengsek macam kamu!" katanya marah.


" tolong lapak pikirkan baik-baik, tolong pisahkan antara masalah pribadi dan kerjaan kita yang sudah berjalan sejauh ini?"


" saya enggak bisa berbuat banyak tanpa bantuan dari bapak?" kata aku memohon.


" saya sudah bulat, Baik saya, Ayu atau keluarga saya akan saya larang berhubungan dengan anda!!" katanya tegas. aku Hanya diam, lebih ke bingung.


Tak bagitu lama, tiba-tiba ada telepon masuk dari Richard.


Aku lantas mengangkat nya. Aku terdiam sambil memandang Livia. lalu mematikan panggilannya itu.


" Sekarang kalian siap-siap pulang ke Jakarta, aku nganterin kalian?" kata ku menyembunyikan kepanikan.

__ADS_1


" Mira, Tolong bantu kakak kakak kamu ini berkemas-kemas?" kataku.


" Sakha, ada apa??" tanya Estu bingung. Aku hanya menggeleng. lalu menatap pak Bandi.


" Maaf Pak mengenai omongan Bapak tadi sebaiknya diundur untuk beberapa saat. saya ada kepentingan mendesak di Jakarta tolong saya meminta tolong kepada bapak untuk menghandle kerjaan di sini?!" kataku sambil mendekati nya.


" urus aja kerjaan kamu sendiri Mas, jangan minta bantuan Saya lagi!!" katanya masih marah. aku menatapnya tajam. Sambil sedikit menelan ludah.


" Tolong saya lah pak, Sekali Ini Saja. untuk yang terakhir kali. saya janji nanti tidak akan menyusahkan bapak, apapun yang Bapak mau akan saya turuti?" kataku sedikit memohon kepadanya.


" Saya tidak mau, saya tidak Sudi!!" katanya membentakku. aku terdiam menatapnya nanar.


" Saya tahu saya salah Pak, Maaf kan saya?" kataku.


" Arya, Tolong kamu urus sebentar sekitar seminggu kerjaanku. karena masih ada orang-orang yang bekerja sama saya sekarang.?" kataku kemudian sambil menghampiri Arya.


" Ada apa mas?" katanya kemudian.


" Mertua ku meninggal!" kata ku Pelan.


Sepertinya Livia mendengarkanku kemudian dia menelpon saudaranya. tak begitu lama terdengar suaranya menangis, lantas Mira dan Estu memeluknya.


aku menatap Ayu dan Pak Bandi bergantian. ada rasa Sedih dalam hatiku karena semua ini.


" Maaf pak, maaf Ayu. bukan aku gak mau cari titik temu untuk menyelesaikan persoalan ini. tapi ada hal-hal yang lain yang mendesak." kataku.


Pak Bandi hanya terdiam.


Lantas aku memeluk Livia mencoba menenangkannya. tak ku hiraukan siapapun lagi yang menatap aku dengan sejuta pertanyaan.


Estu dan Mira segera bergegas memberesi barang-barang. sedangkan aku masih memeluk livia, menenangkan sambil mengusap rambutnya. aku sudah tak menghiraukan pikiran Pak Bandi ataupun Ayu kepadaku. yang ku tahu, istriku itu sedang bersedih.


Aku meninggalkan Livia Sebentar untuk berkemas, aku meminta ini dan itu kepada Arya. Aku tau ini akan merepotkan nya. Aku meminta mengawasi orang yg bekerja sesempat nya dia.


Sepertinya Ayu menghampiri Livia, memeluknya sambil mengucapkan bela sungkawa. adapun Pak Bandi berlaku seperti itu juga mengucapkan turut berbela sungkawa. namun dia masih diam menatapku, kemudian pergi.


Aku merasakan hatinya yg berat meninggalkan ku.


Dan Livia masih menangis, ditenangkan oleh Estu.


***


sudah hampir sore ketika aku sampai di rumah Livia, kerabatnya yang datang sudah ramai memenuhi rumah.


itu terbaring almarhum mertuaku yang meninggal karena sakit.


Estu hanya mampir sebentar, aku pulang ke rumah ya menggunakan taksi. aku tidak bisa mengantar ya meskipun Lio menangis tidak ingin berpisah denganku.


tak sekalipun almarhum ibu mertuaku itu membuka matanya semenjak dia koma karena kanker, sampai dia menutup Mata untuk selamanya.


Livia masih menangis tersedu-sedu. di samping peti ibunya itu. aku berdiri di sampingnya sambil menggendong Kylie. sedangkan pemakaman akan dilangsungkan keesokan harinya.


Aku merasa tak enak badan, namun aku harus berdiri tegak melindungi istri dan anakku. Livia tak bisa berbuat banyak selain menangis. dia bersandar di tubuh ku.


sampai besok kan harinya pun di pemakaman. livia masih menangis, aku merangkul bahunya itu. dia menangis sambil bersandar di tubuhku. pemakaman ini ini terasa sangat hitam dan kelam. seolah melukiskan perasaanku dan Livia yang ditinggal meninggal oleh ibu dan mama kami.


tubuhku terasa lemas, hampir saja aku terjatuh. aku bertahan sekuat tenaga.


sesampainya di rumah aku didekati oleh om vanus. dia menjabat tanganku sedikit tersenyum dibalik wajahnya yang sangar.


" Terima Kasih ya, kamu mau mendampingi Livia dalam keadaan yang begini.!" katanya. aku hanya tersenyum.


" Terima kasih karena kamu masih mau menemani Livia Walaupun dia mengajukan gugatan cerai sama kamu!" katanya yg membuat ku kaget.


Apa seluruh keluarganya Livia mengetahui bahwa kami akan bercerai. Aku kembali tersenyum kecil. tak berapa lama anakku menangis, aku menggendongnya.


" Kylie mau susu?" tanyaku padanya. hampir saja aku lupa dan mengabaikan anakku tersebut.

__ADS_1


Aku lupa, jika selain Livia yg sekarang harus diperhatikan, ada Kylie yang harus diprioritaskan.


" Sudah kewajiban saya Om. sebisa saya.?" kataku sambil memberikan Dot berisikan susu kepada Kylie.


anak gadisku itu hampir berusia 5 tahun. hampir sama dengan Lio - Arcelio, anak ku dari Estu.


" Hallo Kha..kamu Dimana?" kata Estu yg menelepon ku.


" Ada di rumah Livia?" kataku menjawab.


" Kha, ini badan Lio Kata mbak Yuti panas sekali.?" katanya seperti panik. mataku sedikit melotot karena sontak kaget.


" Ada apa Kha?" tanya om Vanus.


" Anak Saya sakit Om?" kataku.


" Ya sudah kamu segera Kesana?" katanya menyarankan, aku mengangguk.


" kamu telpon mbak Yuti, suruh kompres Lio dulu. aku segera datang?" kataku. yaa, saat itu Estu menelponku dari kantor.


Sambil menggendong Kylie aku berjalan menuju mobil.


tadi om Vanus sempat meminta Kylie supaya di tinggal saja. Namun aku tau, Livia masih bersedih karena di tinggal Ibu nya itu. Aku tidak ingin Kylie terbengkalai.


Dengan cepat aku menggendong Lio, aku serahkan Kylie kepada Mbak yuti, dia mengikuti langkah ku dari belakang. Aku melajukan mobil ku ke klinik Dokter Anak. sampai sana, aku segera meminta bantuan kepada perawat yang berjaga.


Lio Harus di infus.


kata Dokter dia terkena Demam berdarah. Aku tak tega saat mendampingi Lio yg di tusuk dengan jarum, Tangis nya pecah. hatiku bergetar karenanya.


saat sore hari selepas pulang bekerja, Estu langsung aku mendatangi kami di klinik.


wajahnya yang terlihat panik itu tidak bisa disembunyikan, dia menangis sambil menggenggam tangan Lio yang mungil. aku merangkul bahunya. mencoba menenangkannya.


namun kemudian aku teringat kepada anakku yang lain. aku segera menghampiri Mbak Yuti, Apakah anakku ini sudah diberi makan yang ternyata belum.


sedikit bingung dan gusar aku karena nya.


rasanya ingin marah tetapi semua juga karena salah aku.


" ini mbak sekalian kamu beli makan,?" kataku sambil menyodorkan selembar uang kepadanya. kalau aku menggendong Kylie. mencarikannya susu di mesin minuman.


" kamu sendiri sudah makan belum?" kata Estu kemudian.


" Aku belum lapar?" jawab ku.


" kamu cari makan dulu buat kamu, ya dia sama aku?" katanya sambil berusaha menggendong Kylie.


" udah nanti aja gampang, sekalian pulang. kalau bisa Lio dirawat di rumah saja?" kataku.


" nanti biar saja perawatnya mengontrol ke rumah?" kataku.


" Aku enggak suka Rumah Sakit?" kataku.


Tak lama kemudian, Livia menelponku.


" Kamu kemana aja sih, keadaan begini juga kamu masih sempat-sempatnya keluyuran. mana bawa bawa anakku!" kata yang terdengar marah dengan suara yang Parau.


Aku hanya diam.


" Iya maaf, aku buru-buru tadi nggak sempet bilang sama kamu. terpaksa aku bawa Kylie tadi, karena aku lihat kamu masih sedih?"


" Cepetan pulang aja. ini lho keluarga dari mama mau pulang ke Solo dia mau ketemu Kylie dulu?!" katanya yang terdengar memerintah.


Lantas aku menatap Estu. Tatapan nya seolah mengerti. dia menyarankan agar aku segera pergi.


Aku Merasa keadaanku tidak fit dan kurang istirahat, Jujur aku lelah.

__ADS_1


__ADS_2