Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.

Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.
Episode 107


__ADS_3

Aku tersenyum. sambil sedikit berbasa-basi dengan Saudara Livia yg hendak kembali ke Solo itu.


Mengucapkan banyak terima kasih atas kehadiran mereka di sini.


Padahal aku merasa pusing, kepalaku terasa berat. Aku memaksa nya.


" Livia, aku minta izin sama kamu. Anak ku masuk Rumah Sakit, Aku harus berganti menjaganya malam ini?" kataku.


" Anak apa Anak?" katanya terdengar menyindir.


" Jadi gak boleh?" kataku kesal. Dia menatapku Curiga


" Enggak usah ngelihatin aku seperti itu?! Buat apa lagi naruh Curiga sama aku kalau aku sudah Busuk Dimata kamu?!" kataku.


Dia tersenyum sinis.


" Sekalian bawa barang barang kamu, nanti sekalian pulang ke Jawa sana. Mau sama Ayu kan kamu??" katanya Tajam. Aku menatapnya, Ada Rasa yg sedikit perih. seperti teriris aku dengan sindirannya itu.


Aku berusaha tersenyum, namun rasanya sangat berat


Aku hanya Diam, Sambil mendekati putri ku itu yg tertidur.


" Jangan ganggu dia!" hardik nya keras


" Dia itu capek. Kamu bawa kemana-mana!!" katanya kesal.


Aku hanya diam Sambil menciumi tangan Kylie. Sekeras itukah kamu Livia terhadap ku kini? pikirku.


Aku menatap nya, Ada perasaan kesal sekaligus sedih aku terhadap nya. Aku menelan ludah ku.


" Mobil gak usah kamu Bawa. Buat aku kemana mana disini!!" katanya.


Mulutku Rasanya terkunci, meskipun aku ingin melawan nya. Aku kesal, aku sakit hati sama Perempuan Peranakan ini. pikirku. lantas aku menarik Nafas ku, menenangkan perasaan yg kacau. Lalu aku mengeluarkan kunci kontak mobilnya


" Ini, makasih!?" kataku Sambil Pergi keluar kamar tanpa menengok nya lagi.


" Lohh, mau kemana kamu sekarang?" tanya om Vanus saat kami berpapasan.


" Mau ke rumah sakit Om, anak saya di Rawat?" jawab ku.


Dia memandangiku yang tampak membawa ransel baju ku.


" Terus itu apa? kamu mau kemana Lagi?" Katanya.


" Ini Om, rencananya saya besok mau langsung pulang ke Jawa. saya Banyak urusan disana?" Kataku.


" Kamu gak bisa tinggal sehari atau dua hari lagi disini!" katanya. Aku menatapnya terdiam, lalu menatap kamar Livia. Aku menghela nafas ku Berat.


Namun rasanya dia seperti Paham. lalu menepuk-nepuk pundak ku.


Namun di luar hujan cukup deras saat aku akan pergi dari rumah ini. Mana aku sudah terlanjur memesan ojek online lagi??


" kamu nggak pakai mobil?" tanya om Vanus tiba tiba menghampiriku kembali.


aku hanya tersenyum biasa kepadanya.


" Biarlah dipakai sama lifia dan juga Kylie. Sayang enggak apa-apa kok, kalau punya rezeki nanti saya beli Om?" kataku sambil sedikit tertawa ringan.


dia hanya mengangguk sambil menepuk-nepuk pundak kembali.

__ADS_1


" Kamu nggak bujuk dia buat Rujuk?" tanya om Vanus kepadaku. Aku menggeleng.


" sepertinya sudah tertutup pintu maaf nya untuk aku Om, Sudah nggak ada kesempatan?!" kataku lagi.


" Apa benar kamu pernah mencekiknya, kamu sering melakukan tindakan kekerasan dalam rumah tangga?" tanyanya kemudian kepadaku.


aku sedikit menelan ludah. seingatku aku mencekiknya pada saat dia menolak melayani ku dan berkata anjing kepada ku pada saat itu Mira yg melerai kami.


Aku kembali menghela nafas panjang, lalu aku menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada Om Vanus serta menyerahkan Kan keputusan percaya atau tidak Atas cerita ku itu terserah kepadanya.


" Kamu Pacaran Lagi atau kamu CLBK sama mantan kamu??" tanyanya. Kali ini aku menatapnya serius.


Serinci itukah livia menceritakan semua permasalahan rumah tangga kami kepada Om nya.


" Kalau saya menyangkalnya- memang saya dekat, Kalau saya bilang jadian atau pacaran tapi itu tidak terjadi?" kataku Berkilah.


" Saya sudah capek Om membela diri, Sekarang semua terserah livia. Saya berusaha menuruti semua- apapun yang dia inginkan terhadap saya?"


" Bukannya saya nggak mau berjuang Om tapi memang posisi saya tidak bisa diperbaiki dimatanya.!!" kataku Mengawang.


" Kalau saya tidak bercerai, Saya takut ini akan menjadi ungkitan baginya seumur hidup. nanti setiap ada persoalan, dia akan mengungkit-ungkit itu yang saya enggak mau?"


" Kalaupun dilanjutkan, saya takut jika hubungan kami berjalan tidak sehat?" kataku.


" Livia nggak ngasih saya kesempatan untuk membela diri, memberikan alasan atau memperbaiki nya om?" kataku Sambil menahan rasa sesak.


" Livia itu tipikal perempuan yang- jika menganggap sesuatu itu salah maka selamanya akan salah dimatanya.!"


" bukan saya tidak ingin berjuang Om. Saya pernah mematikan perasaan cemburu saya sama dia Om.!!" kata ku mengadu.


" dia masih jalan sama saya, saya siap untuk menikahinya saat itu walaupun pada saat itu om melarang kami berdua."


" Saya tidak menikahinya Om kalau dia Tidak bilang punya anak dari saya.!"


" Saya percaya 100% Kylie anak saya, saya enggak sangsi. bisa saja saya sebaliknya Dulu sama dia?"


" Saya dibenci sama dia, bersama seluruh keluarganya saya rela Om, semua rela saya lakukan demi legalitas anak saya!" kataku yg hampir mengeluarkan air mata.


" Kalaupun perceraian ini sampai terjadi, ini bukan kehendak saya tapi dia!" kataku.


" Saya tahu saya banyak salah sama dia, Saya ini bukan lelaki sempurna cocok ataupun pas untuknya. tapi saya mencoba melakukan yang terbaik sebisa saya.!" kataku.


Om Venus hanya diam. Akhirnya, ojek online yang kutunggu-tunggu tadi datang. aku berpamitan kepadanya sambil mengucapkan kata maaf.


Rasanya aku ingin menangis. perasaan di dalam dadaku ini seperti meledak-ledak.


apa boleh Bagiku untuk menangis, bukankah aku seorang lelaki. pikirku. Tidak. Aku tidak ingin menangis, setidaknya untuk sekarang.


Setelah Sampai di depan rumah Estu, dengan tubuh yang sedikit menggigil aku mengetuknya.


Mbak Yuti yg membuka nya. aku berbasa-basi sebentar dengannya. menanyakan keberadaan Estu.


" Ibu belum pulang Pak Masih ngurus Aa Lio?" katanya.


" jadi masih berada di klinik?" tanyaku.


" Iya pak. katanya Ibu tadi saya suruh pulang ke rumah dulu untuk membereskan kamarnya Aa Lio. katanya, Aa mau di rawat di rumah saja?" katanya kemudian.


Aku mengangguk pelan. Rasanya kepalaku pusing nya tak karuan.

__ADS_1


" Yaa halo Estu? gimana Lio. apa boleh dirawat di rumah?" kataku.


" oh ya syukur kalau begitu, sekarang aku lagi di rumah kamu Aku tunggu di rumah ya?" kataku lagi.


Lalu aku sedikit tersenyum.


" Ehh, iya Estu. maaf, Malam ini aku boleh nginep di rumah kamu?" tanyaku hati-hati.


" Gak usah di kamar? di mushola pun aku mau kok tidur?" Kataku.


" Udah lah, nggak usah ngomongin dia aku pusing. dia sendiri yang memintaku untuk pergi?" jawab ku.


" Yaaa aku tunggu kamu di rumah?" kataku.


Aku sandarkan tubuhku yang lelah ini di atas karpet berwarna hijau itu. Aku baru saja selesai melaksanakan salat isya di mushola rumah milik Estu.


Rasanya aku lelah dan ingin tertidur.


***


" Sekarang orangnya ke mana Mbak?" tanyaku kepada mbak Yuti sesampainya kami di rumah. aku dan Lio.


Untung saja Danesh sudah kerasan tinggal di rumah ibu. jadi memang jarang bersamaku.


" Tadi sih kayaknya salat isya Bu, tapi nggak kedengeran lagi setelah itu?" jawab nya. namun kemudian aku mengobrol dengan perawat yang mengantar kami.


aku menanyakan ini dan itu kepada perawatnya. aku berjalan ke mushola rumah. dan mendapati saka yang terbaring sedang tertidur. aku membiarkannya dan maklum.


Dini hari aku di bangunkan oleh Mbak Yuti. kamarku diketuk olehnya beberapa kali sambil memanggil namaku. aku membukanya.


" Bu maaf ganggu?" katanya. lalu aku panik dan segera menuju kamar Lio.


" Ada apa Mbak?! kenapa Lio!!" kataku buru-buru.


" Buu...bukan Aa Lio Bu?" katanya kemudian yang menghentikan kepanikan ku. aku menatapnya tak mengerti


" Maaf bu bukan Aa Lio, tapi taksaka yang sedari tadi menggigau?" katanya. aku menatapnya tak mengerti.


aku membenarkan kimono tidurku sambil berjalan menuju mushola.


Aku mendapati Sakha yg tidur meringkuk seperti kedinginan. Dia terdengar menggigau. seperti mengatakan sesuatu. aku mendekatinya sambil menggerakkan tubuhnya.


" Sakha, bangun... bangun!!" kataku. tetap yang terlihat dia semakin mengigau dengan badan yang menggigil.


Aku meraba keningnya yang terasa sangat panas.


Aku menelan ludah ku, kemudian menatap Mbak Yuti.


" Mbak tolong ambilin ponsel saya, terus Mbak siapin air kompres an ya pakai es !?" kataku sedikit panik.


Bagaimana ini pikirku.


celana yang dia kenakan terasa basah, Apa mungkin tadi dia hujan-hujanan ke sini. tadi di depan pun tidak ada mobil yang biasa digunakan olehnya.


Apa mungkin??" pikirku. Hatiku terasa Bergetar, dan Trenyuh Kepada nya.


" Sakha Bangun??" kataku yg tak terasa meneteskan air mata.


" Sakha... Sakha bangun?" kataku lagi sambil menggerakkan tubuhnya itu yg terus menggigil.

__ADS_1


" Mbak Yuti.. cepetan?" kataku dengan suara beserta Tangisan.


__ADS_2