Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.

Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.
Episode 66


__ADS_3

" Ada apa Mira?" kataku sambil Menggendong Lio yang berada di pelukan Mira tadi.


" Danesh, Aa. katanya mbak Yuti yang ngasuh lio, kemarin Sore Danesh ke siram air panas. sekarang Ada di rumah eyang nya?" katanya kepada ku.


" Estu gak bilang sama kamu emang nya?" tanya ku.


" Enggak Aa. tadi pagi juga gak ketemu pas Mira ke rumah, teh Estu udah berangkat kerja?" katanya. aku hanya diam.


Memang, Mira aku suruh naik ojek online tadi. Sengaja, Agar Estu tak mengetahui aku ke Jakarta membawa mobil milik Livia. Aku meminta Mira berbohong bahwa kami ke Jakarta naik kereta api.


Lalu aku, Mira dan Lio pergi ke rumah mantan mertua ku itu. untuk menemui Danesh.


" Papa...teriak Danesh sesampainya aku di sana. Aku langsung memeluknya,sambil Mencium nya berkali kali.


Terobati rasanya rasa rindu ku dengan anak anak.


Aku melihat kaki nya yang mulai memerah karena tersiram air Panas itu.


" Kemarin sore, cerita nya dia kepingin bikin mie instan sendiri. nah waktu airnya mendidih, Malah gagang pancinya Kesenggol sendiri sama dia. terus jatuh, ya sekarang begitu?." cerita mantan mertuaku kepada aku dan Mira.


Aku hanya tersenyum.


" Kamu kalau gak bisa jangan sok bisa makanya Danesh. minta tolong sama eyang atau mbak nya?" kataku sambil memangku nya.


" Danesh bisa sendiri kok, Cuman gak sengaja aja gagang nya ke senggol." kata. anak ku itu bercerita.


" Dan juga, kalau mau apa apa itu hati hati." kataku lagi. dia hanya diam.


" Kalau sakit begini, kan kasihan eyang uti jadi bingung." kataku.


" Tapi ajak Danesh Dong pa ke kebun binatang, pingin Danesh itu jalan jalan?" katanya kepada ku mengalihkan pembicaraan.


" Minta ijin dulu sama Eyang, boleh gak?" kataku lagi . kemudian dia memandang neneknya itu.


Kami hanya tersenyum.


" Jadi kegiatan nya apa nak di Jawa?" kata mantan mertua ku itu.


" Saya di Jawa jual beli kayu Bu. lah usaha kecil-kecilan." kataku Berbasa-basi dengan nya.


" Gimana kabarnya Bapak Bu?" tanya ku Kepada nya.


"Alhamdulillah bapak sekarang sehat. udah gak sakit sakit lagi. ya itu cuma jalaninya di rutan?" katanya sedikit tertawa.


" Ya mungkin ini ujian buat kami Nak.?" katanya kepada ku. aku hanya tersenyum sambil sedikit manggut-manggut.


" Kalau pas jenguk bapak. salam dari saya ya Bu?" kataku.


" Oh iya nanti pasti saya sampai kan." katanya sambil menyuruh ku minum teh di meja itu.


" Sekarang Nak sakha sudah menikah lagi atau belum?" tanya nya. aku hanya tersenyum sambil sedikit menggelengkan kepalaku perlahan.


" Iya itu sama, Estu juga belum mau menikah lagi. padahal seperti nya dia dekat sama seseorang sekarang?" katanya.


Tiba-tiba perasaan ku seperti naik ke atas, Seperti Naik roller coaster!


" Sama Erwin Bu?" tanya ku kepada mantan mertua ku itu.


" Bukan sama Erwin nak, ini sama teman SMP nya dulu katanya. ya sama sama Single parents. namanya Haris kalau gak salah." jawab nya.


Aku mengangguk, sambil merasakan perasaan ku yg seperti turun ke dasar itu.


***

__ADS_1


Aku melirik Ponsel yg ada di hadapanku, Notifikasi Pesan dari ibu. aku sebentar membacanya.


" Ada apa Tu.? " tanya Haris Kepada ku, aku hanya tersenyum kecil.


" Ibu kirim pesan. nitip sesuatu." jawab ku sambil tersenyum.


"Ooo..gimana kerjaan kamu di kantor. lancar?" tanya nya lagi. Aku hanya tersenyum kepadanya. laki yang usianya hampir sama dengan ku. Haris, teman semasa sekolah dahulu.


Dia duda cerai dengan 1 orang anak, tak jauh berbeda denganku. hanya saja dia yang menceraikan istrinya yang dinilainya tidak patuh dan hormat kepada seorang suami.


ditambah lagi, mertuanya yang selalu campur tangan di dalam rumah tangganya. Katanya, itu membuatnya lebih baik menceraikan istrinya daripada di dalam rumah tangganya selalu terjadi ke dzoliman.


aku dan Haris dahulu memang sempat menjalin hubungan, Ya bisa dibilang cinta monyet mungkin. cinta yang terjadi saat kami masih berumur belasan tahun saat duduk di bangku SMP.


" Tadi ketemu klien, yah mungkin usianya Setahun atau dua tahun dibawah kita. pengusaha furniture dari Jawa.?" katanya sambil mengaduk lemon Tea yang ada di hadapannya itu.


" Baru sampai Jakarta beberapa jam sebelum kita ketemu, Usaha nya ini baru di rintis katanya. Tapi bener bagus itu produk nya.!"


" Sampai sampai menejer ku bilang, suruh ikutin produk nya itu di pameran tahunan di Swedia." katanya Bercerita. Aku hanya menanggapi nya biasa saja.


Yah, mungkin saja dia masih mencari perhatian ku. setelah beberapa saat yang lalu dia mulai intens mendekati aku.


Setelah Erwin,. yang begitu saja pergi. kembali ke Jepang.


" Nanti, mungkin kalau sudah berjalan setahun. dari kantor meninjau usaha nya itu yang ada di Jawa, dimana ya tadi. Purwokerto apa Purworejo gitu. aku lupa.!" katanya lagi.


aku terdiam memikirkan perkataan Ibu tadi yang mengatakan bahwa sekarang Sakha ada di Jakarta.


perasaanku sedikit melambung mendengarnya, ada perasaan senang karena kedatangan nya itu, Walaupun mungkin dia tidak bermaksud untuk menemuiku lagi.


tapi setidaknya aku bisa bertemu dengannya dengan alasan anak anak ku.


" Besok minggu kamu ada ada acara nggak?" tanya Haris kepadaku yang sedikit mengagetkan dan membuyarkan lamunanku itu.


" Kamu lagi mikirin apa sih?" tanya nya. aku hanya membalas senyuman nya itu.


" Gak mikirin apa apa. aku cuma Ngerasa sedikit mengantuk." Kataku beralasan.


" Aku antar pulang atau Gimana?" Tawar nya.


" Aku bawa mobil sendiri Kok." kata ku kepada nya.


Dia hanya mengangguk kecil.


" Tadi kamu bilang apa ya, maaf aku gak konsentrasi tadi." ulangku lagi. Dia tersenyum kecil.


" Aku tanya, besok Minggu kamu ada Acara nggak?" katanya mengulang.


Aku menatapnya.


" Belum tau juga, kemarin sih anak aku minta diajak jalan jalan." kataku.


" Sekalian jalan jalan sama anak aku yaa.. biar seru." katanya bersemangat. Aku menatapnya.


" Boleh sih, tapi apa gak repot?" tanya ku.


" Ya enggak lah, anak aku kan sudah agak besar dari anak anak mu. ya pastinya bisa lebih jagain si siapa anak kamu yang kecil?" tanya nya.


" Arcelio.!" kataku. dia mengangguk


" kan seru kalau kita bawa tiga anak lelaki jagoan.?" katanya sambil sedikit tertawa kecil, aku menanggapi nya hanya biasa saja, sedikit tersenyum.


Ketika aku pulang ke rumah, disana sudah ada mobil berwarna biru per plat ' AD '. Kemungkinan dari Solo. pikirku. Aku memarkirkan nya di samping mobil itu.

__ADS_1


" Kapan Datang Kha,?" kataku setelah memasuki rumah dan mendapati nya bercanda dengan anaknya itu.


Dia menatapku. Tubuhnya sedikit kecil, dengan tulang rahang yang lebih terlihat jelas. Namun tubuhnya malah terlihat lebih kekar. Dia tersenyum.


" Kemarin, aku sama Mira nginap dulu di rumah kakak ku yang di Bekasi?" jawab nya.


" Kamu apa kabarnya?" katanya sambil menyodorkan tangannya itu. Aku menatapnya seraya sedikit tertawa.


" Apa apaan sih kamu, sok Formal banget.?" kataku sambil tertawa kecil . Dia menarik Tangan nya sedikit tersenyum kecil.


" Oh iya Estu, Tadi Danesh bilang minta di ajak jalan jalan ke Bonbin." katanya. aku menatapnya.


" Ya sudah, sekalian besok Minggu aja." kataku.


" Aku gak bisa lama lama di sini Estu, aku lagi ada urusan di Jawa." jawab nya tampak serius.


Aku memandang nya.


" Aku berencana untuk mengajak mereka Besok pagi. yah Biar Aku saja sama Mira yang mengajak mereka." Katanya. Aku sedikit menatap nya tajam.


" Besok hari apa emang nya?" tanyaku.


" Kamis, soalnya Jumat aku harus Pulang ke Jawa.?" katanya.


" Aku Rental mobil nya cuma sampai hari Jumat malam." katanya lagi. aku diam dan sedikit mengangguk.


***


Setelah meminta ijin dari kantor, Aku bergegas naik taksi ini untuk menyusul mereka di kebun binatang.


Ya, Aku berharap sih kami. Aku dan sakha. masih bisa menemani anak anak ku, dan terlihat baik baik saja.


" kerjaan kamu lancar Kha?" tanya ku membuka pembicaraan. Dia sedikit sibuk Menggendong Lio. sedangkan Danesh di dorong menggunakan troli anak.


Sebenarnya dia sudah tak pantas naik troli itu, hanya saja keadaan nya mendesak. Mungkin Sakha juga sudah merasa berat dengan bobot Danesh yang semakin tinggi dan besar itu.


" Lumayan lah. sedikit demi sedikit." Katanya.


" Kata ibu kamu dekat sama seseorang Estu, calon ataukah pacar?" katanya Bertanya dengan suara yang sedikit Berhati-hati. Aku menatap nya yang tersenyum itu.


" Teman, baru teman." kataku padanya.


" Yaa, aku harap sih teman kamu itu nantinya bisa terima keberadaan dua anak aku juga.!" katanya.


Aku menatapnya.


" Lalu kamu?!" kataku balik bertanya. Dia menatapku dengan tatapan matanya yang selalu teduh itu.


" Aku... mungkin aku balik sama ..Dia." katanya hati hati


" Oohh.!" kataku dengan hati yang sedikit panas


" Susah cari orang baru yang bisa terima aku apa adanya." katanya terdengar memberi alasan.


" Yang terbaik aja deh buat kamu." kata ku sambil terus berjalan bersama nya.


Aku menelan ludah ku. Se getir inikah rasanya, mendengar nya berterus terang tentang hubungan nya itu.


Niat nya dahulu untuk berpoligami menghindari perceraian nyatanya malah membuat ku yang harus tersingkir dari hidup nya.


Meskipun kini aku tahu jikalau Bapak lah yang sengaja menjebak nya agar terlihat salah di mataku.


Rasanya sakit, memendam cinta kepada seseorang yang dahulu pernah berjuang untuk ku, namun tak ku anggap.

__ADS_1


Dan kini aku berharap kepada sesuatu yang sudah tak mungkin Berjuang lagi untuk ku.


__ADS_2