
Lagi lagi Mendapatkan sore yang indah setiap kali aku kesini.
Teringat sesaat lalu, Saat aku kesini bersama nya kala itu. seperti tak ada sekat, tak ada yang mengikat.
Namun saat ini ada Dia- yang tak mau ku sebut namanya Itu.
Meskipun kami berjalan seperti layaknya, namun masih kurasa ke kakuan diantara kami.
Sakha Tampak Menggendong Danesh yang masih luka kaki nya itu berjalan di belakang kami.
Sangat dekat sekali jarak aku dan dia saat berjalan, kadang tangan kami bersentuhan karena gerakan.
Kami semuanya diam.
" Disebelah sana ada kali kecil loh Livia, kapan kapan kalau ada waktu luang. aku ajak kamu Kesana." katanya sambil menunjukkan arah Dimana yang dia maksud. aku hanya bergumam pelan.
' Tempat dimana kami pernah bermain bersama.' pikirku.
" Kamu Dulu kecilnya Di sini atau Gimana sih Kha? Aku lupa Ceritanya kamu?" katanya kepada Sakha.
" Aku jarang kumpul sama Abah, aku lama di pondok dekat sama Uwak Aku di Tasikmalaya." jawab nya.
' Aku tahu sekali cerita itu.' Pikirku lagi.
" Keur musim Kadu nteu sih Ayena Mir?" tanyanya Kepada adik nya itu.
" Kamu mau beli Duren, gak ahh.. aku gak doyan!" sahutnya.
" Siapa juga yang mau beliin kamu... Yeee??" Jawab Sakha sambil tertawa.
" Aku gak suka aja, nanti kamu beli beli yang aku gak doyan terus maksa maksa aku makan!" katanya
" Kapan! kamunya yang mau sendiri kok salah salahin aku?" Sangkal nya.
Ternyata, perlakuan nya Sama seperti perlakuan nya dahulu kepada ku. Sesaat ada perasaan Iri, Namun??
Aku hanya diam mendengar keduanya, Jadi pendengar yang setia.
" Estu, Kamu masih ingat Orang yang dulu kita temui pas beli Duren itu gak?"
" Yang baru pulang dari ladang itu?" katanya kepada ku
" Kalian pernah pulang bareng kesini, Kapan??" tanya Livia.
" Waktu Almarhum Ambu Meninggal. Aku belum ketemu lagi sama kamu waktu itu." Jawa nya berterus terang. Dia hanya diam.
" Yang mana sih?" jawab ku kemudian Tampa menoleh kepadanya.
" Itu loh, yang pake iket kepala sukanya. kamu bilang mirip orang Baduy?" katanya lagi.
" Ohh, iya. kenapa dia?" tanyaku sambil sedikit mengingat nya.
" Itu kata si Atmaja, Baru Minggu kemarin meninggal." katanya.
Aku hanya mengucapkan innalilahi lirih.
" Atmaja siapa sih Kha?" tanya nya.
" Ya adik ipar ku, suaminya si Elis. tadi itu yang di rumah Abah." jawab nya.
" Oooalah, Dia adik ipar mu. kok aku ngiranya tadi dia Tukang kebun nya Abah?" katanya sambil tertawa.
Sontak, Aku, Sakha dan Mira Tertawa.
Tak berapa lama kami sampai di area makam Kecil. Makam Almarhum Ambu dan Amih nya Sakha nyaris berdekatan.
" Nantinya, aku juga ingin di makam kan di sini ya? Tolong nanti sampai kan pesan ku sama Anak anak ku ya.!" Katanya.
__ADS_1
Aku dan Dia hanya saling menatap, Walaupun sebentar.
***
Aku Jatuh Cinta kepada Angin sore
Dan aku jatuh Cinta Kepada Gelapnya malam Berbintang_
Mungkinkah Akan Suatu hari
Aku memegang tangan mu dibawah Rindangnya pohon mahoni.
Berbicara dari hati ke mimpi
Kita bincangkan tentang Nanti
Sambil Aku menikmati Manisnya Senyum mu
Bagai Gulali yang tak mampu ku beli
menatap mu Lekat, Sekuat aku memegang tangan mu.
Aku harap nanti, Aku temukan Dunia ku di kamu
Aku minta nanti kau Sadarkan aku Di tengah bimbang dan bingung ku.
Kau tenang kan aku Dalam mabuk dan Emosi ku
Dan hentikan, Ingat kan seluruh Kesalahan ku.
Disitulah, Aku akan tahu jika
Engkaulah Dunia-ku.
*AdiSakha 12 Juli 2006.
###
Setelah Semuanya mencuci tangan dan kaki terlebih dahulu Sebelum memasuki Jolopong milik Abah.
Aku terdiam, Menyadari telat nya aku mengetahui Tulisan ini.
Lalu Terdengar Suara Elis dan Mira yang sedang di Dapur. Aku pun menghampiri mereka, Ternyata sudah ada dia disana yang sedang membantu mempersiapkan makan malam. Aku pun Berbaur.
Tak berapa lama Sakha muncul sambil menggandeng tangan anak nya itu.
" Lagi pada ngapain?" tanya nya sambil mengambil sesuatu di rak piring.
Ponsel nya berdering sesaat kemudian. Kami jadi menoleh kepadanya. Dia menatap aku dan Dia sedikit bergantian.
" Telpon dari pacar yaa.? Belum selesai selesai juga!" kata Dia terdengar jengkel.
" Bukan kok, dari pak Bandi." Jawab nya.
" Alahhh, Bisa bisanya kamu aja ngasih nama kontak kamu pak Bandi Dua, aslinya kontak cewek itu kan!?" katanya lagi.
Dia hanya diam sambil memperhatikan nya. Dan Mira Tampak tercengang, dia sedikit menatapku lalu langsung pergi.
Ternyata, kelakuan nya Sakha masih saja sama pikirku. Tetapi Dia terlihat sedikit santai Menghadapi nya, ketimbang aku Dulu terhadap nya?
" Yaa Hallo pak, maaf Pulang nya saya agak terlambat. Bapak saya sakit pak. ini saya lagi pulang kampung?" katanya sambil sedikit tertawa kecil.
" ya mungkin beberapa hari lagi pak. Tolong urus sebentar ya pak." katanya terdengar Fake.
Kemudian dia menghampiri Sakha. Aku dan Mira saling bertatapan.
" Aa kamu punya pacar Mira?" kataku bertanya sedikit berbisik kepada adiknya itu. Mira hanya menggeleng pelan.
__ADS_1
Sepertinya, Dia membawa Sakha ke belakang rumah. untuk di interogasi. Aku sedikit tersenyum karena nya.
" Kamu ini maunya apa sih!?" Katanya terdengar marah dengan suara yg sedikit di pelan kan.
" Loh, mau Apa maksud kamu sihh!" jawab Sakha.
" Aku Lohh, udah Nurutin maunya kamu. Kamu kok masih begitu aja!" katanya kesal.
" Yang barusan telepon memang pak Bandi kok. kamu kira Siapa?" jawab si Sakha.
" Bohong banget sih kamu, coba sini lihat telepon nya!" Katanya.
" Kan, kamu gak kasih. beneran kan kamu masih ada hubungan sama dia." katanya lagi.
" Pokoknya, gak mau tau. habis dari sini kamu langsung ambil Kylie di Maurice. jemput dia?!" katanya terdengar sangat kesal sekali.
" Apa sih yang kamu cari! Kamu itu udah ada aku sekarang, apa kamu mau jadiin aku seperti mbak Estu juga!?" katanya sedikit serak.
" Kamu ini terlalu Sakha. Sudah keterlaluan!" katanya terdengar seperti diiringi tangis kesal.
" Iya, maaf. aku bakalan selesaikan ini nanti. tolong jangan nangis, aku gak ingin Yang lain tau." katanya.
" Biarin aja pada tahu, emang Yang lain sudah tau kelakuan mu kok!!" katanya kesal sekali.
" Disini siapa Yang gak tau kelakuan mu, mbak Estu apa Adik kamu. aku rasa Ayah kamu juga sudah tau kok. Cuma anak anak kamu saja belum tau, belum ngerti aja!!" katanya.
Sakha hanya diam.
***
" Besok kita pulang." katanya sambil menyantap makanan sederhana di depannya itu, yang di siapakan oleh kami tadi.
" Mira, kamu disini aja. nanti Aa dari Jakarta langsung kesini lagi. berangkat dari sini balik ke Jawa nya." katanya kepada Adiknya itu.
" Abah,upami abdi uih deui ka Java. henteu kunanaon upami anjeun angkat?" Katanya kepada Ayahnya itu.
Abah hanya tersenyum.
" Neng Estu sama neng Livi, mau pulang ke Jakarta besok. yang hati hati ya. terima kasih sudah mau nengokin Abah disini!" kata Ayahnya itu kepada kami.
Kami berdua hanya tersenyum.
" Yahh, begitulah keadaan nya anak saya ini. Susah di tebak. Ya sabar sabar aja ngadepin nya. kalau gak kuat tinggal pergi saja." Katanya. entahlah, kata kata itu untuk Siapa diantara kami.
Sedangkan Sakha hanya diam, dan sedikit salah tingkah sambil beberapa kali bergumam kecil.
" Kamu juga Sepp, yang kuat iman. Rintangannya kamu itu masih banyak, dibandingkan sama yang terlihat sekarang." kata Abah nya itu kepada Sakha.
" Insya allah, ku do'a ti abah. Sakha salamet. tong hariwang teuing. Upami lalaki, cobaanna seueur. "
# ( Insyaallah, dengan Doa dari Abah. Sakha bisa bertahan. jangan terlalu khawatir. Kalau lelaki memang cobaan nya banyak.") jawab nya.
" Entong sok janten awéwé anu jadi godaan anjeun, émut karma.anjeun ogé ngagaduhan putra awéwé. naon anu kurang dua awéwé ieu sih?"
#( Jangan selalu wanita yang menjadi penggodamu, ingat karma. Kamu juga punya anak perempuan. apa yang kurang dari kedua wanita ini Emang?")
Sakha hanya tertunduk malu dihadapan Ayahnya itu.
Ada sedikit perasaan puas dalam hati ku terhadap nya. Namun tak menyalahkan nya juga. Entahlah.
Malam ini, kami sedikit banyak berbincang, Banyak sekali Cerita cerita yg di kisah kan oleh Abah nya itu tentang Sakha dan keluarga nya sewaktu dulu. Menceritakan kepada aku dan Dia.
Kami Bercengkrama Layaknya keluarga, tak ada sekat dari nya yg ditunjukkan kepada anak anak ku.
Malah kadang menertawakan sesuatu, meskipun masih ada kekakuan diantara kami.
Ketika sudah semakin malam. Dan sudah waktunya kami untuk tidur, dan kami masuk kedalam kamar kecil milik Mira. Disana, Sakha tampak sudah menidurkan kedua anak nya itu. dan tergeletak di tempat tidur.
__ADS_1
Hanya beralaskan kasur lantai yg sudah di persiapkan oleh Elis tadi, terpaksa aku berbagi tempat dengan nya itu.
Ya mau gimana lagi. Gak ngerti juga, kenapa aku bisa Se menerima itu kepada nya.