
" Terus kenapa sampai menjadi Bintang mas??" tanya ku ulang.
Dia tampak membetulkan selimut nya. sambil menghisap Vape yang tadi tergeletak di meja.
" Semua kisah yang seperti itu tadi Menyedihkan dan pasti akan menitik kan air mata, Nah Air mata yang benar-benar tulus bersamaan dengan Doa lah yang akan Naik ke atas langit??"
" Maksudnya??" tanya ku tidak mengerti.
Dia kembali tersenyum.
" Ini sih Cuma peng'artian dari aku aja yaaa??" Katanya Tampak menelan ludah sedikit.
" Kalau aku lihat Kelip Bintang itu seperti Kilauan Air. Kilauan Air mata, kamu pasti tau lah kalau orang mau nangis itu. matanya berkaca-kaca??"
" Kalau Dia menangis karena sesuatu di hati nya di barengi dengan Doa... Doa itulah yang akan naik ke atas langit. Tersimpan selamanya, bersamaan dengan kisah&Doa yang lain.?"
Katanya, sesuai penafsiran nya. Aku cuma diam,tidak menyangkal atau mengiyakan.
" Aku yakin sih, Kelip Bintang di atas langit itu salah satunya milik kita??"
Tambah nya lagi.
" Suatu saat, kita juga mengalami kisah yang seperti itu... Mungkin?"
" Atau Doa beserta Tangisan kita terhadap sesuatu. karena yang menilai tulus atau tidak hati kita cuma Tuhan yang maha esa??"
Tambah nya. Aku cuma Diam memperhatikan nya.
" Tapi, Mana ada Mas orang yang mau punya kisah yang menyedihkan??" kataku
Dia kembali tertawa kecil
" Tapi tetap saja kan Mas, Ada Sesuatu yang bisa kita perbuat untuk menghindari kesedihan tersebut??" jawab ku.
" Pinter kamu??" pujinya sambil tersenyum.
" Tapi kan semuanya ada konsekuensi nya??"
" Konsekuensi itu yang kadang bikin manusia gak bisa bertahan??" katanya.
" Mungkin sih, melihat umur kamu sekarang. kamu belum terlalu banyak melalui rintangan dan kesulitan hidup hingga di pilihkan dengan situasi yang kamu harus siap menghadapi imbasnya juga??"
Katanya.
" Ahh..kata siapa? mas gak tau aja??" kataku sambil tertawa.
" Yaaa mungkin aja kan yaa??" katanya tertawa sangat renyah.
Tampak dua gigi taring nya yg terlihat sedikit panjang dari deretan gigi lainya menyeringai. terlihat semakin manis.
***
Tak lama kemudian Eko dan yang lain datang, menggunakan mobil milik Irfan.
Mereka tampak Keluar dari dalam Mobil dan tiga gadis muda, Mungkin seusia dengan Ayu.
Sesaat aku memandang mereka yang berjalan ke arah kami.
" Kok belum tidur mas??" tanya Eko kepada ku.
" Kebangun tadi??" jawab ku.
" Kok pas yaa sama Dia??" katanya sambil memandang Ayu.
Kemudian yg lain ada yg tertawa kecil.
" Siapa nih??" tanya ku kemudian.
" Teman mas??" Jawab Ikmal kepadaku. aku hanya mengangguk
Aku sedikit memperhatikan Ayu yang seperti nya menatap tajam kepada seseorang. Namun dia berusaha wajar saja.
__ADS_1
" Ya sudah, aku tinggal masuk dulu ya??" kataku lagi.
" Ayu.. kamu mau sama mereka apa mau masuk kedalam??" tanyaku.
" Ooh..ehh, iya mas aku juga mau tidur. kasihan Tiwi sendirian ??" jawab nya. aku hanya mengangguk.
Lalu kami meninggalkan mereka.
****
Kemana perginya Tiwi, pikirku. apa mesti tak Miss call aja apa gimana??
Kok malah ngilang gini, Ngapain sih dia sama Irfan?? pergi kok gak pulang pulang. pikirku lagi.
Saat aku hendak masuk kedalam kamar ku, sedikit terdengar suara pelan Tiwi. aku urungkan untuk membuka pintu kamar.
Suara kasak kusuk dari mereka jelas terdengar. membuat ku panas dingin.
Aku beralih ke ruang tengah, yang sepertinya mas Sakha juga ada disana.
" Mas??" sapa ku lagi
" Lohh.. kok gak tidur??" katanya.
Aku hanya terlihat kikuk terhadap nya. memandang kamar tidur, lalu menatapnya, sambil menggerakkan ke dua tangan ku Tampa berkata-kata.
Dia tersenyum, dan tertawa kecil.
" Memang seharusnya kita gak ikut ke sini??" jawab nya.
" Aku juga harus rela tidur di sini, dari pada menyaksikan mereka Live??" katanya tertawa.
Maksudnya??"... mereka bertiga dan perempuan tadi, yang salah satunya teman semasa sekolah ku? kataku dalam hati.
Ternyata Desas-desus tentang Marissa selama ini benar. kalau dia??
Dan ketiga lelaki itu yang sebelumnya tampak membeli Ko***m di toko, untuk malam ini kahh?? pikirku.
Lalu aku memandang nya sedikit curiga?
" Ayu...kenapa diam aja?" tanya mas Sakha kepada ku.
Dia tertawa kecil.
" Gak kok, gak akan aku seperti mereka??" katanya seolah tau apa yang sedang aku pikir kan.
Aku hanya tersenyum.
" Yaa Ko.. ngapain telpon??" katanya sambil memegang ponsel di tangannya.
" Gak usah lah, aku gak mau. kalian aja?" katanya.
" Ya gak aja Ko, aku gak mau ikutan aja??" jawab nya
" Udah yaa...aku ngantuk?" katanya sambil menutup telponnya itu.
entahlah,dia tadi membicarakan apa.
" Ayu...kamu aja yg tidur di sofa. biar aku disini??" katanya sambil meringkuk dengan selimut. mirip trenggiling pikir ku.
Sedikit dengan Ragu, aku mulai merebahkan tubuh ku di atas sofa.
*****
" Lohh, kalian kok tidur di sini??" terdengar Suara Noval mengagetkan ku. aku perlahan membuka mata ku.
Aku hanya tersenyum Kecil.
" Kamu kok gak tidur di kamar sih Ndah??" Katanya lagi.
" Semalam ke asyikan ngobrol??" Jawab ku. kulihat disebelah sana dekat TV, Mas Sakha masih terbungkus di selimut nya. Masih seperti trenggiling.
__ADS_1
" Aduh, ini juga mas Sakha kok malah pules ngene??" katanya sambil membangunkan Sakha.
Aku segera beranjak, dan bermaksud pindah ke kamar ku. Karena teringat kejadian semalam, sebelum masuk kamar. aku mengetuknya terlebih dahulu.
Karena tak ada Jawaban, aku beranikan saja masuk kedalam nya.
Yaahh,, benar saja. Ada Irfan tidur di samping si Tiwi. Aku pura pura bergumam kecil.
Seketika Tiwi terbangun.
" Aku Mau Mandi, jadi masuk ke kamar ngambil ganti??" kata ku Tampa menghiraukan Irfan. pura pura saja Tan melihatnya.
" Semalam Kowe Bubu nan ndie??" tanya nya.
" Nak Sofa, aku Ngobrol nganti isuk karo mas Sakha??" jawab ku.
Dia hanya diam.
****
" Jangan anggap aku Bapak mu lagi Estu??"
kata bapak terdengar sangat marah di telepon terhadap ku.
" Apa sih kamu, malah begitu belain orang lain ketimbang adik sendiri!!"
" Tapi masalahnya, si Panji emang salah Pak?? kenapa sih Bapak selalu menutup mata Atas semua faktanya??" kataku membalas nya.
" Kamu itu dihasut, Panji itu di fitnah!! Gak mungkin lah si Panji selingkuh, kamu lupa kalau dialah dulu yang diselingkuhin sama Pacar nya?!" kata bapak terdengar masih membela.
" Udah lah pak, Estu capek ngomong sama bapak, udah muak dengar alibi membela Panji.!!?"
" Tolong sekali-kali bapak cari tahu sendiri kegiatan Dan kelakuan Panji di luar seperti apa.??" jawab ku
" Sudah enggak usah ngajarin Bapak!!!"
" Sekarang kamu mau pulang atau enggak??!"
" Kalau kamu nggak mau pulang, jangan sekali-kali kamu menginjakkan kaki di rumah bapak Lagi!!"
" Jangan anggap Aku ini bapakmu lagi!!?"
" Aku juga nggak sudi punya cucu dari badjingan macam Sakha.!!"
kata yang terdengar sangat marah sambil menutup ponselnya.
Dengan perasaan yang sangat emosi, aku mengirimkan foto dan video dari galeri ponselku kepada bapak.
Foto dan video yang pernah Sakha berikan kepadaku Dulu.
Sekaligus mengirim pesan kepada Bapak,
Aku memintanya untuk memeriksa rekaman CCTV di lobby maupun di lorong kamarnya pada saat itu.
Sekalian aku lampirkan alamat hotel di mana Panji pernah menginap, tanggal dan waktu nya.
Terserahlah pikirku aku sudah muak dengan segala kebohongan yang terjadi.
Aku sudah bertekad, apapun yang terjadi nanti akan aku hadapi.
****
Karena penginapan ini berada tepat di lereng gunung Ungaran, hawa sejuknya seperti pagi hari meskipun waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang.
Aku berjalan berdampingan dengan Ayu. sedangkan Noval dan Irfan beserta pasangan nya entahlah kemana.
Eko cs tak ikut dengan kami. mereka tinggal di penginapan.
Entahlah, aku tak bisa melarang atau menasehati mereka. Aku merasa tidak pantas saja, mengingat kegilaan ku dulu saat masih di Jakarta malah melebihi batas dibandingkan dengan mereka.
" hmm, Mas boleh tanya tidak??" kata ayu tiba tiba kepada ku.
__ADS_1