Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.

Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.
Episode 60


__ADS_3

" Sayang, ini mama Livi?" kata Maurice Kepada Kylie.


mereka berdua tampak tersenyum.


Sepertinya Mereka berdua sudah sedikit akrab. Livia tampak mencium anaknya itu penuh kasih.


Lalu Kylie menatap ku.


" Sayang, ini Papa." katanya mengenalkan ku pada Kylie. Dia sedikit menyembunyikan badan nya yang Mungil itu di dekapan Livia. aku hanya tersenyum kecil memandang kepadanya.


Sekilas wajahnya mirip dengan Mira sewaktu kecil.


Dagu nya sedikit terbelah, matanya bulat, bibirnya tipis mirip dengan Livia.


Ingin sekali aku memeluknya dan mencium nya sekali saja. rasanya tak percaya jika aku memiliki seorang anak perempuan yang rupawan ini.


Livia tampak memperhatikan ku.


Maurice sempat mempertanyakan keseriusan ku untuk memperjelas hubungan ku dengan Livia. dan aku sedikit gugup memang karenanya.


Aku tak bisa Berbicara, karena? Ya karena kami sudah Pernah membicarakan nya tetapi Tak menemukan jalan keluar.


" seharusnya kalian tidak egois, ada Kylie yang harus kalian ingat." Katanya kepada kami berdua.


" Lama kelamaan dia akan tumbuh menjadi besar dan dia memerlukan kejelasan dari kalian berdua."


" Jangan biarkan dia bersedih karena keegoisan kalian."


Aku sedikit gusar akan kata kata Maurice, aku menatapnya.


" Bukan bermaksud untuk membela diri, kalau aku terserah Livia. Aku mau menikah dengan nya." Kataku dihadapan Maurice.


" Sakha, Aku!" kata Livia.


" Apalagi?" kataku sambil mengangkat bahu.


" Aku ada Mama yang masih butuh perhatian. jika menikah Aku..?" katanya terputus.


" Aku gak nuntut kamu 24jam di dekat aku Livi, kalau kamu harus nungguin Mama ya silahkan." jawab ku.


Dia memandang ku.


" Sudahlah, kalian gak perlu bertengkar di sini. yang terpenting adalah tanggung dia kalian terhadap anak yang kalian miliki!" kata Maurice.


" Dia membutuhkan kasih sayang penuh dari kedua orang tuanya." Tambah nya lagi.


" Dan mulailah menjadi orang tua ya yang bertanggung jawab!" katanya Sambil berjalan Meninggalkan kami bertiga.


" Maurice, Aku akan menikahi Livia. Dan aku akan menjaga anak ku Sendiri.!" kataku terdengar lantang.


Dia berbalik Kepada ku.


" Kapan?" gertak nya.


" Besok, besok aku mau menikah dengan nya." kataku.


" Sakha-kamu sadar gak sih dengan yang kamu ucapkan?" kata Livia . aku memandang nya.


***


" Hari ini aku lelah banget Livi, bisa gak aku istirahat dulu sebentar di hotel baru nanti sewaktu aku bangun kita main bertiga?" kataku Kepada Livia Sambil mengemudi mobil nya.


" Yaa sudah. gak masalah." katanya terdengar lirih sambil mengelus rambut Anak nya itu yang Duduk di pangkuan nya.


" Livi, Aku berencana membawa nya ke tempat ku. sementara Biar Adik ku yang menjaga nya." kataku lagi. Dia hanya diam sambil sedikit menarik nafas nya.


" Sakha, kamu? omongan mu tadi Serius yang di hadapan Maurice?" tanya nya kepada ku.


" Yang mana?" ulang ku. Dia menatapku tajam.

__ADS_1


" Ooo, yang itu? Ya aku serius kok sama kamu. Dari dulu Malah aku tanya ke kamu. Kamu nya saja yang ini dan itu."


" tidak usah menyalahkan aku terus, Bukannya ini pernah kita bahas? "


aku menatapnya sekali lagi.


"sekarang aku mau menikah sama kamu di gereja atau di mana pun kamu mau tapi aku tidak bisa meninggalkan Tuhanku. "kataku.


Aku menarik nafas panjang. sambil menatap mereka berdua.


" Aku lakukan ini untuk kebaikan Anak kita, Aku ingin dia tumbuh menjadi seseorang yang tidak bingung akan identitas nya..Dia harus tau, kalau kita orang tuanya, dia harus tau siapa keluarga nya, saudara nya. Asal usulnya jelas."


" Tapi Sakha?" Katanya.


" Sudahlah, gak pakai Tapi." kataku memotong.


" Kamu yakin kan dia anak ku?" kataku sedikit hati hati.


" Maksud mu?" katanya sambil sedikit tertawa kesal.


" Kalau kamu gak yakin, mending gak usah Di lakuin!" kata nya terlihat kesal.


" Siapa yang gak yakin? Aku cuma tanya ke kamu. kamu yakin kan dia anak aku? dengan kata lain aku nanyain keseriusan kamu! Kenapa kamu malah kesal sama aku sih Livi.!" Kataku.


Dia tertawa sinis. tak lama ponselku bergetar. Aku meraihnya yang berada di saku celana ku.


Tampak wajah Ayu di layar ponsel ku.


Aku menatap Livia.


" Sudah angkat sana, telepon dari pacar kamu itu!" katanya terdengar ketus. Aku hanya diam.


" Itulah, mengapa aku gak mau nikah sama kamu dari dulu. karena kamu, Kamu gak cukup sama satu perempuan!" katanya kesal.


Lagi lagi aku hanya diam.


Aku menarik nafas ku lagi.


" Ya sudah, kalau itu anggapan mu. Bikin aku berhenti Di kamu!" kata ku. Terdengar tawa sinis nya kembali.


" Sudah, aku mau istirahat dulu. kamu mau jalan jalan atau mau ikut ke kamar?" tawar ku sambil memberhentikan mobilnya di depan lobby hotel.


Dia hanya diam sambil mengikuti langkah ku memasuki Hotel.


****


Kok telfon nya gak di angkat ya? pikirku. Baru juga semalam kami baikan, sudah ada saja hal yang dia lakukan. bikin aku curiga.


Sebenarnya ketempat siapa dia ke Surakarta. Apa mungkin dia menemui mantan kekasihnya itu atau Pacarnya yang lain?


Lalu siapa aku ini sih? Pikirku lagi. Apa aku harus meninggalkan nya ataukah bertahan sampai dia memperjuangkan ku? Sedangkan aku terikat dengan Linggar.


" Ayu?" Kata mas Linggar tiba tiba yang mengejutkanku. aku menatapnya sambil tersenyum.


" Kok makan nya gak di habiskan?" Tanya nya lagi.


" Kayak nya aku sudah kenyang mas, gak apa apa kan." jawab ku sambil menyingkir kan makanan ku. dia tersenyum kecil.


" Ya sudah, kalau kamu sudah kenyang ya gak apa apa." Jawab nya.


" Oh iya, Minggu depan keluarga ku mau ke rumah keluarga mu. aku di paksa mereka untuk buru buru bertunangan sama kamu?" katanya yang membuatku sedikit kaget.


" Loh, ada apa Yu. kok kelihatan nya kamu gak suka?" katanya menyelidik. Aku buru-buru menyadari nya.


" gak apa-apa mas, Cuma kok rasanya kecepatan saja. bukannya kamu setuju kalau kita jalani ini pelan pelan." kataku. Dia tertawa.


" Kamu gak yakin sama aku Yu?" tanya nya. Aku han diam.


" Kalau kamu gak yakin mending kamu ngomong sekarang sebelum kamu atau aku merasa menyesal!" katanya sedikit marah. Aku memandang nya.

__ADS_1


" Kok kamu marah sih mas?' tanya ku Kepada Nya.


" Siapa yang marah, aku cuma kesal sama kamu. semakin lama kamu kayaknya mundur-mundur dari rencana awal kita berpacaran.!"


" Semakin hari kamu semakin terlihat tidak serius sama hubungan kita, aku nggak enak sama keluarga kamu. aku juga nggak enak sama keluarga aku!"


" Kalau aku nunggu kamu terus, kita kapan nikahnya? sedangkan aku dikejar sama waktu. adik aku mau menikah juga tahun depan."


" kamu kan tahu adat di kita melarang menikahkan anak dalam 1 tahun secara bersamaan!" katanya. Aku hanya terdiam menatapnya.


" Berulang kali aku tanya sama kamu, kamu mau menikah seperti apa, pakaiannya, dekorasinya, prewedding nya!"


" Bahkan cincinya pun kamu tidak memilih untuk kita!!"


" Terakhir terakhir ini kamu semakin cuek sama aku. semakin nggak menganggap hubungan kita?"


" Tolong bilang Sekarang, mau kamu kita bagaimana? putus atau lanjut.!?"


Aku masih terdiam menatapnya. dalam benakku apa yang dia ucapkan tadi adalah kenyataan yang benar adanya.


konsentrasiku terpecah semenjak aku mengenal Sakha.


Entahlah, apa yang aku harapkan kan dari hubunganku dengannya? namun aku masih ragu jika lanjutkan hubunganku dengan Linggar?


Akupun menyadari sebenarnya aku ini apa di mata Mas Sakha, Bagaimana pandangannya terhadap hubungan kami Ini.


Tidak Pernah terucap dari mulutnya, kata-kata serius Yang aku harapkan.


Sedikit memalukan tapi aku memang benar-benar mengharapkannya, meskipun kesempatanku tipis untuk bersama nya.


Aku menarik nafas ku sejenak lalu memandang kepada Mas Linggar.


" Ya sudah Mas, aku nurut sama kamu saja."


" Kalau kamu merasa ingin cepat-cepat mengikatku dengan pertunangan, Aku siap!." kataku terdengar yakin namun Sebenarnya hatiku ragu.


Mas Linggar tersenyum sumringah kepadaku, kemudian tangannya menggenggam tanganku. Aku tak merasakan apa-apa, Apakah aku ku berdosa terhadapnya.


Padahal mungkin kata kata ku tadi tak ingin aku ucapkan. Dan bisa jadi suatu kesalahan.


***


" Kamu gak kemana-mana tadi?" kataku sambil sedikit menggeliat kan badan ku. Dia menatapku yang baru saja bangun dari tidur.


Aku melihat jam pada ponsel ku. pukul setengah sebelas malam.


" Kamu sudah makan malam?" tanya ku lagi sambil beranjak menuju ke kamar mandi.


" Livia, kamu sudah makan malam? Kylie sudah kamu ajak makan belum!" tanya ku sekali lagi.


" Tadi Sudah. tadi aku sama dia sudah makan di Bawah." Jawab nya.


" Makanan nya enak?" tanya ku sambil membetulkan resleting celanaku. Dia sedikit memperhatikan ku.


" Kurang enak." katanya.


Aku berjalan mendekati nya Di ranjang sebelah. mendekati Kylie yang tampak tertidur pulas. Aku menatapnya, Sambil tersenyum Kecil. membelai rambutnya dan sesekali mencium nya.


" Jangan ganggu dia Kha. dia belum lama tertidur." Kata Livia Kepada ku. Aku menatapnya tak bergeming.


" Yang kamu Perhatian dari tadi Cuma dia. Aku kamu abaikan?" katanya kemudian. Aku memperhatikan nya sambil tersenyum. lalu menghampir nya.


" Kha, dia belum lama tidur." katanya lagi. aku menatapnya.


" Kita matiin saja lampunya, Jangan ada suara yaa." kataku Menggoda nya. dia tersenyum Manis ke pada ku.


" Aku pastiin, Main nya pelan." kataku sedikit berbisik di telinganya sambil terus menggoda nya.


Dia hanya menggeliat,tak bergeming.

__ADS_1


__ADS_2