
Aku sedikit mengangkat kedua tangan ku. tak berani membalas pelukan nya itu.
Dia semakin membenamkan wajahnya kedalam Dada ku. Terasa ada yang hangat menyentuh dadaku itu.
Air mata, Seperti nya Ayu menangis.
Aku sedikit Menelan ludah ku dan menghela nafas perlahan.
" Ayu... sudah, nanti ada yang lihat." kataku pelan.
" Sebentar saja Mas!" katanya.
Aku Sedikit tak berkutik karena nya.
Lalu aku perlahan memegang kedua bahunya.
" Sudah, yang terjadi diantara kita ini cuma ujian buat kamu yang mau menikah. Aku ini cuma gangguan buat kamu?" kataku sambil sedikit tertawa.
Dia menatapku tajam dengan mata yang Tampak basah karena air mata.
Dia sedikit mendongakkan wajahnya Kepada ku seraya memejamkan matanya. Aku menarik nafas ku panjang. Apa ini? Pikirku.
Dia mencium ku dalam sentuhan yang lembut, tangan nya melingkar di leherku. Aku membalas nya walaupun aku tahu ini salah.
Aku mencium nya sekali lagi Tampa ragu. kami berdua terhanyut dalam Romansa.
Tangan nya mendorong Dada ku, sesaat ciuman kami menjadi sesuatu yang memburu. Aku menaikkan nya ke atas meja makan. seakan mengiyakan keinginan kami yang terpendam.
Namun tak berapa lama terdengar suara seseorang mengucapkan salam di depan pintu. Suara milik Linggar pikir kami saling menatap.
Kemudian aku meminta nya keluar dari pintu belakang.
Dengan memasang ekspresi wajah biasa saja, aku menemuinya.
" Ohh..mas Linggar, kenapa ya?" tanyaku pura pura.
" Ayu ada di sini gak ya Mas?" tanya nya.
" Tadi kayaknya sudah pulang mas ke kostan nya. soalnya tadi saya ke kamar. pas keluar kok Mira sama ayu sudah gak ada?" jawab ku berpura-pura.
Tak lama kemudian, Mira datang menggunakan motor milik Ayu.
" Loh ayu mana mir?" tanya ku kepada Mira.
" Bukan nya tadi di rumah Aa.. tadi Mira tinggal Ambil laundry an?" katanya.
" Udah gak ada siapa siapa tadi, Aa Panggil kamu tanya baju malah gak ada orang?" kataku.
" Kalau pergi kok gak pake sendalnya sih Aa?" kata Mira.
" Mana Aa tahu, kan tadi Aa di kamar lagi beberes.!" kataku
Linggar Tampak memperhatikan kami.
__ADS_1
" Coba ke kostan nya dulu mas, siapa tahu dia ada di sana?" kata ku menyarankan padanya.
Dia hanya mengangguk dan langsung pergi.
Hufftt,, Batin ku sambil menarik nafas panjang.
Hampir saja. pikirku sambil memperhatikan nya.
Ada rasa bersalah aku terhadap Linggar, seandainya saja di posisi nya itu adalah aku? Dan kalau sampai tahu bahwa Pacar, kekasih dan calon istrinya itu mencintai orang lain dan berselingkuh di belakang nya.
Terus, pasti nya akan sangat marah jika mengetahui nya.
Lalu aku berfikir tentang aku sendiri, Bukan nya aku sudah menikah dengan Livia. bagaimana janji ku kemarin dengan Livia yang berjanji Akan membereskan masalah ku dengan Ayu.
Kacau... pikirku.
" Mira, kamu Ikut sekalian sama Aa ke Jakarta. temenin Aa dijalan?" kataku.
" lah, Katanya Aa mau naik kereta?" katanya. Aku menatap nya.
" Aa gak dapat tiket kereta nya. Sekarang kamu siap siap. Aa mau ganti Oli dulu ke bengkel." kataku Kepada nya. Dia hanya mengangguk.
" Aa..?" kata Mira Memanggil ku. aku menatapnya.
" Aa... mbak ayu pernah tanya, itu mobil punya teh Livia ya. katanya dia pernah tau?" tanya nya kepada ku. Aku hanya tersenyum.
" Jawab aja gak tau." kataku padanya.k
****
" Tadi lagi ngambil jambu di belakang Mas." jawab ku padanya.
" Tadi habis bantuin Mira cuci piring, aku ngelihat keluar dapur kok banyak jambu. ya aku langsung keluar ambil. terus pulang ke kostan. lupa gak pake sandal?" kataku sambil tersenyum menghindari kecurigaan nya itu.
Entahlah, apa yang akan terjadi jika mas Linggar tadi tidak datang mencari ku. Mungkin kami tadi sudah melakukan sesuatu seperti saat dulu waktu mas Sakha akan ke Jakarta.
Ada perasaan menyesali, entah karena mas Linggar yang tiba-tiba datang mengingatkan posisi ku ataukah karena terhenti di tengah jalan?.
Aku menarik nafas, Seraya tersenyum kepada nya.
" Tumben ke kostan gak ngasih kabar?" tanya ku.
" Aku tadi sempat telpon, kok gak di angkat angkat. kirim pesan juga gak di bales." katanya.
" Ooh, Iya. Tadi gak bawa HP mas." kataku sedikit cengengesan sambil memeriksa ponsel ku itu.
Tiba-tiba ada pesan masuk dari Mira. aku langsung memeriksa nya.
" Darj siapa?" tanya mas Linggar sedikit curiga.
Aku menatapnya.
" Dari Mira, katanya mau ke Jakarta ikut Mas Sakha." jawab ku. Mas Linggar tersenyum seperti mengejek.
__ADS_1
" Mantan Koruptor ya gitu. sibuk sana sini cuci uang! kok ya mas mu Bandi mau maunya kerja sama dengan si Sunda itu!!" katanya terdengar menghina.
Aku menatapnya, mengernyitkan dahi ku heran.
" Loh mas, kata siapa dia koruptor? wong putusan pengadilan bilang dia gak terlibat sama gak bersalah kok?" kataku sedikit membela.
" Lah, ya sudah pasti. kalau sampai ke bawa bawa kan pasti nya Udah nyicipin duit haram.!" katanya sinis.
" Kok kamu bisa bilang begitu mas!?" kataku sedikit tak terima. Dia menatap kesal.
" Kok kamu Protes Yu! belain dia apa?" katanya terdengar marah.
" Lah kok ngomong nya malah begitu? Aku bukan belain mas, Cuma ngasih tau aja kalau dia itu gak terlibat.!"
" Terus ngapain juga sih mas punya pikiran buruk gitu sama orang. Toh mas Bandi juga banyak di bantu sama orang itu.!"
" Kamu kok yaa, bisa bisanya nuduh gak ada Dasar. gak suka aku!" kataku terdengar kesal.
" Kok kamu kayak belain dia sih Yu!?" katanya bernada tak terima.
" Siapa juga yang belain!, kamu aja yang gak suka sama dia. gak boleh mas punya prasangka buruk. inget loh mas mu itu juga aparat pemerintah, kalo sewaktu waktu kesandung masalah. apa enak dengernya kalau dia di tuduh yang enggak enggak!?" kataku.
" Lah terus apa hubungannya nya kamu sampai segitunya belain dia. Apa dia juga mas mu!?" katanya.
" Ya kamu nuduh dia koruptor! Terus bilang mau maunya mas Bandi kerjasama sama dia!?" apa berarti itu sama aja Nuduh mas ku penadah uang haram dari dia.!?" kataku sedikit emosi.
" Mas Bandi itu orang lebih tau daripada kita mas, seharusnya kita yang saudara nya bisa bantuin dia saat kelilit utang. Bukan orang lain!" kataku.
" Sodara mu bukan saudara mu ini!?" katanya santai.
Aku makin melotot karena nya.
" Iya sih sodaranya aku! Bukan saudara nya kamu. Mau aku nikah sama kamu juga dia gak bakal kamu anggap saudaranya. Kamu mau nikahin aku cuma mau sama aku aja apa mas. bukan sama keluarga aku!!" kataku Kesal, membuat nya telak tak berkutik.
" Ayu... maksud aku bukan begitu!?" Katanya sedikit gugup.
" Bukan gitu apanya!! Jelas banget kok kamu ngomong nya?!' bentak ku kesal.
" Kalau aku bilang ini sama mas Bandi, apa iya lamaran kamu bisa di Terima!. kamu gak mikir apa mas, dikit dikit kamu ngadu nya sama siapa kalau bukan sama mas Bandi!?" Gertak ku.
" Kamu Belum apa apa kok ya udah bisa ngomong ini itu, kamu bisa bantuin dia juga enggak!?" kata ku kesal.
" kok ini malah kemana-mana sih?! tadinya kan aku bahasnya apa kok sampai ke sini.!" katanya dengan nada bicara sedikit tinggi kepadaku..
" kalau bukan Karena kamu yang salah ngomong tentang dia, gak mungkin aku Bahas sampai ke sini Mas!!"
" kamu aja punya pikiran yang buruk sama dia. akhirnya kebongkar semua keburukan hati kamu. ya gara-gara Kamu sendiri yang ngasih tau!!" kataku kesal.
Linggar tampak diam memperhatikanku. aku sendiri masih kesal karenanya, menjelek-jelekkan mas Sakha.
Untung saja aku bisa beralasan dan berdalih menjatuhkan kata-katanya.
Sebenarnya bukan membela mas Sakha nya. tapi memang kata-kata linggar keterlaluan menuduh tanpa alasan.
__ADS_1
sebenarnya aku tahu mungkin Linggar berbicara seperti itu karena merasa cemburu terhadap sakha yang tak gamblang dia ungkapkan kepada aku.
" Ya sudah maaf." katanya terdengar lirih. aku hanya diam