Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.

Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.
Episode 10


__ADS_3

Terdengar suara Danesh yg menangis Saat Estu memakai kan pakaian nya kembali.


Kemudian suara Estu menenangkan nya sambil sedikit mengomel.


Aku masih menggendong Arcel yang tampak diam memperhatikan kakak nya itu.


" Sekalian habis magrib saja ya pulang nya?" kata ku. Estu cuma diam.


" Apa kamu mau telfon bapak dulu pake hape ku Estu??" tawarku.


Dia hanya menjulurkan tangannya, meminta ponsel milik ku.


" ituloh di meja?" kata ku . tak lama terdengar suaranya yang bercakap cakap dengan mantan mertua ku.


" Estu, nanti kamu naik taksi online aja. kasihan anak anak nanti kena angin??" kataku.


" Nanti aku ngikutin kamu dari belakang?" kataku lagi. dia hanya diam.


*****


" Anak anak di taruh di tengah aja biar gak kena angin??" kataku sambil mengambil jaket ku.


" kita langsung pulang aja kan ini??" tanya ku kepada Estu.


" Emang mau kamu ajak kemana lagi sihh??" jawab nya.


" Ya siapa tau kamu mah kemana dulu??" tanyaku.


" gak usah mampir mampir lah, langsung pulang aja?" katanya. aku hanya mengangguk.


Kemudian aku menutup pintu rumah kami dahulu.


Insyaallah selesai, batinku.


Motor yang ku kendarai akhirnya sampai di pelataran rumah mantan mertua ku.


Aku memarkirkan nya di garasi samping yang tampak kosong. entah dibawa kemana mobil ku dulu.


" aku langsung pulang aja atau gimana??" tanyaku kepada Estu. dia menatap ku tajam. kemudian aku mengangguk.


" Tadi main dulu kerumah pak. pas mau pulang anak anak malah tidur ditambah turun hujan lagi ??" kata ku menjelaskan.


Mantan mertuaku hanya tersenyum. dan aku tahu betul arti senyuman nya itu.


" Ooo..ya gak apa apa. bapak cuma mikir ini kalian kemana,kok gak pulang pulang??' katanya dengan eksen Jawa nya sambil tersenyum. aku membalas senyuman nya itu.


" Maaf ya pak,bukan disengaja tadi itu??" kataku lagi.


" iya sudah. gak masalah. yang penting Estu sama anak nya sudah sampai di Rumah??" katanya lagi sambil tersenyum tipis.


" Gimana kerjaan kamu Sa??" tanya mantan mertua ku itu.


" Baik pak, alhamdulillah. tapi mungkin besok atau lusa saya di mutasi ke daerah?" jawab ku.


" Oo.kemana??!" katanya pura pura kaget. aku cuma tersenyum lagi.


" ke daerah di Jawa pak, Purwokerto apa Purworejo gitu. saya susah menghapalkannya?" jawab ku.


" Oo..begitu,iya iya iya??" katanya sambil manggut-manggut.


" Sekalian ini pak,saya Pamit ke bapak dan saya bermaksud menitipkan anak anak saya ke bapak??"

__ADS_1


" Kenapa mesti di titipkan... kan mereka sudah disini sebelumnya, mereka juga sudah kerasan tinggal di rumah ini dengan kami??" katanya sambil tertawa kecil.


Sebenarnya, sungguh aku tak tahan berbasa basi seperti ini dengan pak Kardiman Rahardjo Aku hanya menarik nafas ku dan menghela nya perlahan.


" Ya sudah bapak mau kedalam dulu ya.. apa ada lagi yang mau kamu sampaikan?" tanyanya sambil berdiri.


aku hanya menggeleng kepala ku perlahan seraya tersenyum.


Dia pergi sambil memanggil Estu. tak lama diapun keluar bersama Danesh.


" Mana Arcel??" tanya ku.


" Ada di dalam, kenapa??" tanyanya


" Sudah malam, aku mau pulang. besok kunci rumah aku kirim lewat kurir ya??" kataku.


" Segala urusan Rumah sama kendaraan sudah aku serahin semuanya ke kamu. terserah mau kamu apain. kalau itu buat anak kita ya gak apa apa??" terang ku.


" Aku titip anak anak ya. tolong kasih kabar, atau menghubungi ku kalau ada apa apa.??"


" Ijin kan aku kalau sewaktu waktu kangen pingin video calll atau sekedar ngobrol??" kataku dalam.


Dia hanya diam sambil menatap ku.


Danesh tampak bergelendot di tubuh ku. sesekali dia mencari perhatian ku. Aku berkali-kali mengelus dan mencium rambut nya yang lurus berponi.


Ada perasaan tak ingin pisah aku dengan Anak- ku.


Tak lama kemudian kedua mantan mertua ku keluar dari ruang tengah. aku berdiri dan mengalami nya. kembali berbasa-basi dan senyum senyum tipis.


aku menggendong Arcel, kucium anak ku itu berkali-kali. sebelum kemudian di bawa lagi kedalam oleh mantan mertua ku.


" Makasih ya buat hari ini. aku titip anak anak,aku percayakan mereka sama kamu?" kataku.


Tiba tiba ponselku berdering.


" Oh iya pak segera saya keluar dari rumah, tunggu sebentar ya?" kataku .


" Ojek nya sudah datang aku pulang dulu ya??" kataku pada Estu.


" Papa mau kemana...ikut??" Rengek Danesh tiba tiba.


Aku menatap nya sambil tersenyum.


" Besok lagi ya sayang. papa mau kerja dulu??" jawab ku sambil jongkok di hadapannya dan mencium nya.


Air matanya makin deras. Aku berusaha mengabaikan nya.


" Estu... aku pamit ya. Terima kasih.!" kataku sambil mencium kening nya lalu pergi tanpa menghiraukan tangis Danesh yang di tahan oleh Estu.


******


Aku membuka pintu rumah ini, dan segera menutup nya.


Aku memandang ke sekeliling nya, tampak bayangan Estu dan anak anak ku beberapa jam lalu.


wangi minyak telon dan Bedak terasa sekali di hidung ku.


tak terasa aku merintih, menahan rasanya patah hati karena perpisahan tadi.


Aku mengingat setiap momentum hari ini dengan Estu dan anak anak ku, aku tersudut dan menangis.

__ADS_1


Ya Tuhan... seperti inikah Derita yang harus aku rasakan. Patah hati sejadi jadinya menangisi keadaan yang sudah tak mungkin di perbaiki.


ingin rasanya aku segera pergi dari sini,Rumah yg menyiksaku dengan segala kenangan.


*******


" Kelakuan nya gak robah Rubah, gak ada sopan santun nya dia itu?" kata Bapak kepada ku.


" Pergi katanya cuma ke taman kok malah dibawa ke perumahan mu sih Estu... kamu kok ya mau maunya juga??" lanjut nya.


" Dasar gak tau diajarin tata Krama ya kayak begitu.!?" katanya dengan nada jengkel. aku hanya diam.


" Rasak no manggon Nang kampung Kowe!!?" umpat nya


Ternyata benar dugaan ku, Di Mutasi nya Sakha ke daerah masih ada campur tangan Bapak ku!?


" Udah sih pak, wong tadi itu juga gak sengaja. Estu juga yang salah mau diajak sama dia??" kataku.


" Ya mesti dia maksa kamu tadi. kamu saja yang nutup nutupi!?" katanya dengan eksen Jawa.


" Anak kok di pake alesan!!?" katanya dengan nada benci.


" Kalau niatnya cuma mau mulangin kunci, kendaraan apa sertifikat tanah ya gak usah bertele-tele alesan ngajak Anak main. kan dia bisa datang, ngasih terus pergi!!?"


" Gak sampai malam begini??;" katanya jengkel.


Aku tahu alasan Bapak mengapa sangat membenci Sakha. Se marah itu dia dengan Sakha karena hal yang sepele dan tak di sengaja seperti ini.


Aku akui, dulu aku menikah Dengan Sakha karena aku sudah mengandung Danesh.


Aku mencoreng nama baik Bapak di mata keluarga Panca, tunangan ku dahulu yang notabene adalah anak dari teman Bapak semasa muda.


Panca dulu di gadang gadang sebagai menantu nya yang akan menggantikan posisinya di kantor.


Panca kala itu masih berkuliah di Kuala lumpur. iya kami memang di jodohkan. jujur,aku baru beberapa kali bertemu dengan nya. kemudian singkat cerita kita LDR an.


Aku bertemu dengan Sakha yang hanya lulusan Diploma komputer,yg menurut Bapak hanya lelaki biasa. namun nyatanya dia memenangkan hatiku. karena kesalahan itu, kami menikah.


Karena Bapak malu tentang kebenaran Sakha, Dia menguliahkan kembali Sakha meskipun hanya di UT hanya untuk sebuah gelar.


Sakha Disuruh nya magang di BUMN Dimana Bapak mengabdi. Segala kebutuhan kami, Bapak yang Backup.


Setelah Sakha mendapatkan gelar yg bapak mau, dia Andil Dalam Pengangkatan Sakha menjadi Pegawai tetap di BUMN Dimana dia bekerja.


Aku tau, Rasa tidak sukanya terhadap Sakha selalu Bapak tahan.


Sedikit demi sedikit Sakha pun bisa mengambil hati Bapak. Sakha yang Memang keluaran pesantren memiliki suara yang merdu saat Tilawah Qur'an, dia jatuh hati saat melihat Sakha mengaji. Saat Sakha menjadi imam shalat membuat bapak Jatuh hati dan mulai luluh. apalagi jika berbincang, Seringkali Sakha menjelaskan Hadist atau pengetahuan nya tentang agama kepada Bapak.


Bapak saat itu seperti ketemu patner dalam hal Religius.


Sedikit demi sedikit Bapak mengajarkan ilmu yg dia ketahui terhadap Sakha.


Mengajar kan nya berinvestasi, memberikan nya hadiah berupa mobil saat Sakha bisa mengambil kridit rumah atau Memberikan barang lainnya.


Namun sikapnya kembali berubah menjadi benci saat Bapak tau sendiri Sakha bermain Hati dengan Perempuan lain.


Jujur, yang mempengaruhi ku untuk bercerai dengan Sakha adalah Bapak.


Perintah nya saat itu tak mungkin ku tolak.


Aku juga takut jika melanjutkan pernikahan ini dengan Sakha akan Gagal. Aku tak bisa membayangkan betapa kecewanya lagi Bapak terhadap ku.

__ADS_1


__ADS_2