Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.

Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.
Episode 87


__ADS_3

Aku hanya menatap diam setelah Estu kembali dari menerima telepon.


" Teman sekantor." jawab nya canggung. Aku hanya mengangguk.


" Ya sudah, kalian Istirahat." kataku sambil masuk kedalam kamar membawa anak anak.


Livia mengikuti ku.


" Kha, besok Kylie aku bawa ya ke Jakarta sama pengasuh nya.?" katanya. aku hanya mengangguk.


" Nanti,kalau kamu sudah selesai disini. Jemput yaa?" katanya lagi. Aku kembali mengangguk.


Dia menatapku seakan-akan Merasa kesal aku tanggapi dingin.


" Iya nanti aku jemput ke Jakarta." kataku.


" Kamu istirahat, Ajak anak anak tidur." kataku lagi.


" Kha?" panggil nya. Aku menatapnya ketika hendak keluar dari kamar.


" Iya, Sudah. gak apa-apa. anak anak ajak tidur dulu. Aku juga mau tidur." kataku sambil meninggalkan nya.


**


Aku membuka mataku yang masih terasa berat ini. mungkin masih pukul dua Pagi, aku dengar suara tangis Lio berbarengan dengan suara Kylie yang juga rewel. Aku menghampiri mereka.


" Kenapa sih?" tanyaku pada Livia dan Estu.


" Biasa, rewelnya kumat." jawab Estu sambil menggendong Lio.


lantas Aku mengambil Lio dari tangan Estu.


" Coba bikinin Susu dulu sana.?" pinta ku. Dia hanya diam menatap ku. Apa ini? Pikirku.


" Ayo, aku antar ke dapur!" kataku kemudian.


" Kha, Sekalian buat Kylie yaa?" kata Livia. Aku hanya mengangguk kecil. Sepertinya mereka berdua takut.


Aku hanya merasa maklum saja.


" Teman kamu yang tadi nelpon kamu, masih satu ruangan?" tanyaku kepada Estu.


" Eee... Enggak sih. Dia beda Divisi sama aku." jawab nya sambil mengaduk Susu.


" Oo.. Sering main yaa?" tanyaku lagi sambil Pukpuk Lio yg ada di dekapan ku. Dia menatapku Sebentar.


Aku menaikkan kedua alis ku.


" Enggak juga sih, paling kalau mau tanya urusan kantor. Dia kerumah. Dia masih baru soalnya?" jawab nya.


" Oohhh... kek mau serius ya dia? ya gak apa-apa sih. yg penting sayang sama anak anak, Nerima anak anak ku." kataku.


" Apa sih? wong gak ada apa apa juga?" sangkal nya.


Aku hanya tertawa kecil, sambil mengambil susu yang ada di tangan nya itu.


" Kamu tidur aja. biar Lio tidur sama Aku." kataku sambil pergi. Dia mengikuti ku buru buru.


" Kha, anak kamu ini loh. ngerengek aja.?" kata Livia sambil masuk kedalam Kamar.


Baru saja ku letakkan Lio di kasur, sudah harus memenangkan Kylie.


Aku mengambil nya dari dekapan Livia.


" Ya sudah, kamu tidur sana. biar dia tidur sama aku.?" kataku. Tapi dia malah tidur di samping Lio.


" Ke kamar sana loh, kamu tidur di sini. lantas aku tidur dimana?" kataku.


" Masih ada space. jangan cerewet kenapa?" katanya. Aku hanya diam sambil menarik nafas ku perlahan.


**


Aku bermaksud untuk membangunkan Lio yang semalam.tadi Bersama dengan Sakha. Ku buka tirai gorden kamar bekas Almarhum Abah itu.


Tak ku sangka, aku tak sengaja memandang pemandangan yang seketika membuat ku iri. hatiku panas seperti terbakar, ada api nya.


Dengan Mesra nya, Livia meringkuk di pelukan Sakha. salah satu lengan Sakha dijadikan sandaran oleh Livia. Aku cemburu. Seketika aku berfikir Sampai jauh.


Argghhh... aku jadi sebal sendiri.


Aku langsung keluar, kembali kedalam kamar. namun tak kudapati Danesh. lalu aku melihat nya sedang duduk di depan rumah, yang persis seperti bale.

__ADS_1


Kakinya menggantung. tangannya memegang batang rumput yang panjang. entahlah,dari mana dia dapat.


" Sayang, mandi yuk?" kataku.


" Enggak ah ma, Dingin. Nanti siang aja mandi di kali itu sama Papa?" katanya sambil menatap ku dengan muka bantal nya.


" Mana bisa begitu? Papa sibuk. kita mesti pulang ke Jakarta kan sekarang?" kataku.


" Danesh mah pulang sama Papa aja lah ma. sama adek juga." katanya.


" Papa mu itu sibuk. lain kali aja yaa?" kataku lagi.


" Masa sibuk terus sih ma? Masa adek terus yang di gendong. masak gendong Kylie juga, emang iya dia adek Danesh juga?" tanyanya kritis


Aku menatapnya sambil tersenyum kecil.


" Iya, Kylie juga adek Danesh dari Mama Livia. kalau Lio sama Kylie kan masih kecil. pantas di gendong.?"


" Kalau Danesh kan sudah besar sayang. sudah Berat." kataku.


" Tapi kan Danesh juga mau ma di gendong Papa, sekali Saja.?!"


" Apa apa Adek... apa apa Adek.?" katanya seperti kesal.


" Papa kemaren janji mau beliin Krayon aja gak beli beliin Danesh. Apa apa Adek. mainan buat adek, susu juga buat Adek. tidur juga kenapa harus sama adek!" katanya terdengar cemburu.


Aku mengelus rambut nya yang berponi itu.


" Iya, Nanti pasti giliran sama Danesh." kataku.


Jangan kan kamu nak, yang cemburu kalau Papamu sama saudara mu yang lain. Mama mu juga masih Cemburu, Gak rela kalah Papamu sama orang lain. Tapi Mama ini siapa sekarang buat Papa mu.


Kataku dalam hati.


****


" Ya Hallo Pak, oh iya. Maaf tapi saya lagi gak ada di kantor. sedang makan siang?" Kata Haris menjawab telepon nya.


" Oh begitu. begini saja, apa bapak sekarang bisa temuin saya di Restoran di Mall sekarang saja."


" Saya share lokasi nya aja yaa. saya tunggu ya pak. tapi maaf ini Pak Yaa?" katanya lagi.


" Oke.. Saya tunggu ya pak?" katanya sambil menutup ponselnya kemudian.


" Klien ku dari Jawa sana. Mau Ngajukan pinjaman, udah di ACC sih. tinggal aku menjelaskan sama dia." jawabnya.


" Mungkin bulan depan aku ke tempat nya di Jawa buat Survey penguatan dari kantor." katanya.


Aku hanya mengangguk.


" Tapi aku gak bisa nemenin kamu ya habis ini, Aku mau balik ke kantor?" jawab ku.


Dia hanya mengangguk kecil.


Setelah setengah jam berlalu aku bermaksud untuk berpamitan dengan nya.


Tak di sangka-sangka aku berpapasan dengan Sakha yang tampak nya terburu-buru di parkiran basement.


" Sakha!" panggil ku. dia menoleh.


" Lohh... Estu ngapain disini?" katanya.


" Habis makan siang tadi sama temen-temen?" kataku ngeles. Dia hanya tersenyum kecil.


" Ini mau balik ke kantor?" tanyanya. aku hanya mengangguk.


" Yaa Udah yaa.. aku buru buru. nanti sore kalau gak besok pagi aku nengokin anak anak yaa?" katanya lagi. Aku kembali mengangguk. Lalu dia pergi meninggalkanku, Namun rasanya aku penasaran. siapa yang akan di temui nya itu. Lalu aku diam diam mengikuti nya.


Sakha berjalan ke Restoran tempat aku tadi makan sama Haris. Aku perhatikan lebih teliti lagi, dengan siapa dia bertemu.


Aku menutup mulut ku seakan tak percaya. Sakha bersalaman dengan Haris?


Ternyata yang selama ini diceritakan oleh Haris adalah Sakha.


Klien nya pengusaha Furniture yg mengajukan pinjaman modal itu adalah Sakha. tempat usahanya habis terbakar, dan kemungkinan di bakar.


Apa mungkin dia Sudah tau kebohongan ku selama ini? dan telepon dari Haris Waktu itu yang ku terima sebenarnya dia tahu antara aku dan Haris.


Bagaimana ini? pikirku.


***

__ADS_1


" Kha, urusan nya di Jakarta udah beres?" tanya ku pada Sakha yang masih bergurau dengan Kylie.


Dia menatapku lalu mengangguk.


" Terus pulang ke Jawa kapan?" tanya ku lagi.


" Besok Sore yaa?" katanya. Aku hanya Diam.


" Livia, aku mau nengokin Lio sama Danesh dulu ya Nanti sore?" katanya meminta ijin.


" Kenapa Sore sih!?" kataku sedikit menekan.


" Mau nemuin mbak Estu juga!?" kataku lagi.


Dia hanya diam.


" Ya sekalian Pamitan lah?" katanya.


" Harus gitu?!'' kata ku. Dia diam lagi.


" Ya nggak harus sih, tapi mau sekalian bilang makasih sama dia?"


" Makasih ke dia, buat apa?" potong ku sedikit ketus.


dia menatapku tajam Sambil sedikit menarik nafas nya.


" Ya bilang makasih lah, udah mau Takziah jauh jauh kemarin?" jawabnya.


" Kalo nggak ada dia kan kamu juga gak bakalan Dateng?" jawabnya sambil sedikit menatap ku penuh arti.


Iya juga sih, pikir ku. Aku masih ingat dengan pertengkaran di waktu lalu itu yang nyaris fatal tak terselamatkan.


Jika tidak ada kejadian itu. entahlah kapan aku bisa ketemu dengan nya.


Aku menatapnya diam.


" Kalau boleh, Aku mau ajak nginap anak anak disini?" Katanya lagi.


Aku menatapnya tajam.


" Nggak ahh.. Ribut.!" Sahut ku.


" Lah, namanya juga anak anak Livi? anak laki laki lagi?" jawabnya. Aku hanya diam lagi.


" Kalau gak boleh ya aku nginep di hotel yaa semalam?" Katanya mengakali.


" Ke hotel sama anak anak apa sama anak anak!?" kataku Curiga.


" Jadi boleh nya Gimana?!" katanya terdengar sedikit Kesal. Aku hanya diam.


" Ini itu gak boleh? ini itu Curiga!?" Katanya.


" Aneh kamu ini, masa iya aku mau nemuin anak anak Aja sembunyi sembunyi dari kamu.!?"


" Jujur salah, Bohong Apalagi!?" katanya terdengar Mengeluh.


" Atur ajalah Kha! Maunya kamu!?" kataku sambil Pergi. Dia segera menyusul ku.


" Livia.. kok malah jadi kesel sih?" katanya.


" Aku loh tanya ke kamu baiknya Gimana kok malah Jengkel!?" katanya sambil menahan bahu ku.


" Ya baik nya kamu, terserah saja!?' kataku.


" Kamu Lohh, sama anak aja cemburu. kan gimanapun aku ini bapak Nya merek!" katanya.


" Ya aku tau. yaudah... terserah kamu baiknya Gimana?" kataku sambil tersenyum memaksa.


" Shitt...!! Gini aja jadi Masalah. Bengek gue ngarepin lu!?" katanya kesal.


" Kalau Marah,gak suka ngomong jangan terserah.. terserah!"


" Kalo Cemburu ngomong ke siapa. anak anak apa Estu!"


" Ditanya baik nya gimana malah terserah?"


" Gue kawin lagi terserah yaa!?" katanya terdengar jelas. Aku langsung menatap nya.


Dia diam, lalu mulai tersenyum. meskipun itu senyum nya yg di tahan. kemudian dia tertawa geli.


Aku mendorong nya.

__ADS_1


" Kawin nya sama aku Aja?" Kataku.


" Hayukk ahh Gas?" katanya tertawa Sambil mengunci pintu kamar.


__ADS_2