
sejak kejadian semalam aku belum diberi kesempatan untuk meminta maaf kepada Livia secara langsung.
dia masih mengunci pintu kamar nya.
sedangkan Pak Subandi dan rekanku yang lain memintaku untuk segera kembali ke Kutoarjo.
belum lagi pak Kapolres mengatakan ada titik terang atas kasus terbakarnya Gudang CV ku.
Mau tidak mau Aku harus pergi malam ini kembali ke Jawa.
Sudah berapa kali aku mencoba menelpon nya tetapi tak diangkat. aku mengetuk kamarnya pun dia tidak membukanya.
pikiranku jadi bermacam-macam dan negatif terhadap Livia.
" Livia, tolong buka pintunya aku mau bicara?" kataku sambil mengetuk ketuk pintu kamarnya itu.
" Tolong buka pintu nya Sekali Ini Saja, aku mau bicara??" kataku.
" Livia, aku harus segera kembali ke Jawa, bisa tolong buka pintunya??" kata ku memohon. tapi dia tidak bergeming dari dalam kamar
" Livia, Aku minta maaf Aku menyesal. tolong beri aku kesempatan untuk menjelaskan ya sama kamu.?" kataku Kepadanya.
" Aku ngaku salah sama kamu, tolong beri aku kesempatan bicara sama kamu. aku serahkan sepenuhnya ini sama kamu Livia,Mau di gimana kan juga aku terima.?"
" Tolong buka pintu kamarnya, kalau kamu takut Aku berbuat kasar lagi sama kamu, aku bawa Mira untuk berjaga-jaga? Yaaa Livia yaaa?? tolong buka pintu kamarnya." kataku memohon.
Aku menarik nafas ku perlahan, Rasa kesabaranku sedang diuji.
sedangkan batas waktu yang aku tentukan tampaknya tidak berarti apapun. Livia tidak membukakan pintu kamarnya untukku.
Tak ada cara lain, aku berkemas siap-siap untuk kembali ke Jawa.
Aku meminta Mira untuk membujuk Livia. Seolah beralasan untuk berpamitan kepadanya.
ketika Livia membuka pintunya, secepat kilat Aku berlari namun sayangnya langkah nya lebih cepat dari lariku. dia kembali ke kamar dan aku hanya menghantam pintu kamarnya Yang keras.
Brakkkk!!!
Seketika darah keluar dari balik rambutku Dan mengucur cukup banyak.. Mira berteriak Panik. tak ada yang membantu nya.
sedangkan Mbak Surti tetap dibelakang, menjauh kan Kylie dari keributan.
" Cece tolongin Mira Ce... Aa harus ke dokter, Daerahnya banyak Ce!?" kata Mira memohon di depan pintu kamar Livia Sambil menangis.
" Darah nya gak berhenti keluar Ce?" katanya panik.
Sedangkan Aku berusaha menekan lukaku agar darah yang tak keluar. aku besok bersandar di kursi kecil di dekat pintu pintu.
Mata Livia masih sembab saat keluar dari kamar nya.
" Cepat bawa dia ke mobil?" katanya.
Mira berlari sambil memapah ku yang masih kesakitan
Aku dan Mira duduk di belakang.
**
" Nyeruduk Apa pak? Sampai lebar begini?" tanya dokternya sambil tersenyum. dia terus membersihkan luka ku.
" Pintu pak, kejadianya sangat cepat Saya tidak bisa ingat.?" jawab ku. Pak dokternya yang tersenyum Lagi
" ini harus dijahit ya pak?" katanya sambil memberikan suntikan Anestesi di sekitar luka ku.
" Lukanya Lebar itu Bu, tapi sudah saya jahit tadi. ada 9 jahitan?" katanya kepada Livia yang duduk disampingku.
Lalu si Dokter menjelaskan obat yg harus ku minum.
Aku duduk diam di samping Livia sambil menahan rasa Sakit ku. Lengkap sekali Tuhan? Pikirku.
Aku kembali duduk di belakang, bersama Mira. Livia masih diam, hanya sesekali menjawab pertanyaan Mira mengenai obat yang harus di minum.
__ADS_1
Aku diam bukan karena marah kepada nya, gara gara dia menutup pintu itu. Tapi aku sedang menahan rasa Sakit.
Sesampainya di rumah, Dia masih diam lalu mencari Kylie. aku duduk bersandar di sofa.
" Mira, barang barang yang mau di bawa naikin ke mobil.?" kataku.
" jadi pulang sekarang Aa??" Tanya Mira heran.
Aku menatapnya sambil mengisyaratkan dengan mataku pelan.
" Aa banyak urusan disana. Mau gak mah harus pulang. ?" kataku
" tapi kan Aa masih sakit?" katanya gelisah.
" Kamu gak pingin ketemu Arya?" kataku. dia hanya diam.
Aku berjalan ke belakang mencari Livia, sana dia tampak sedang menggendong Kylie. menidurkan dalam pelukannya. Dan momentum itu harus ku abadikan. diam diam aku memotret nya dengan ponsel ku.
" Livia?" kataku berjarak beberapa langkah dari nya. Dia menoleh. tapi aku tak mendekat.
" Aku mau bicara?" kataku. dia hanya diam, kemudian dia membawa Kylie ke kamar nya. meletakkan nya di atas kasur.
Dia berjalan kembali ke belakang, aku terus mengikuti nya. menjaga jarak.
Dia menatapku, mata nya merah. seperti menahan tangis. Hatiku bergetar. Aku tahu kesalahan ku.
Aku menarik nafas dalam-dalam sebelum berbicara dengannya.
" Livia, Aku mau minta maaf sama kamu. iya aku salah, iya dengan sadar aku melakukan itu sama dia. tetapi itu semua aku lakukan bukan untuk sengaja membalas dendam terhadap kamu." kataku.
" Itu terjadi atas dasar keinginan aku. mungkin benar kata kamu kalau aku belum selesai sama dia!?"
" Aku... aku terlalu lemah untuk membendung semua perasaanku sama dia. aku udah berusaha sebelumnya Livia tapi sekarang aku nggak tahu harus gimana lagi?"
kataku sambil tertunduk di depannya itu. Hidung ku merasa sengau.
" Terus, sekarang kamu ngarepin apa dari aku Kha?" katanya dengan suara bergetar menahan tangis.
" aku salah apa sih Kha sampai kamu giniin?"
" Apa kurangnya aku buat kamu? Support yang seperti apalagi yang harus aku kasih ke kamu.??"
" Kamu tuh bikin semua pengorbanan aku jadi sia-sia! aku merasa nggak kamu anggap.?" katanya sambil menangis.
Aku diam, hatiku merasa Sakit.
" Livia.. aku?" kataku sambil melangkah mendekatinya. namun dia menjauh. aku menghentikan langkahku.
" Livia, aku minta maaf. semua pasar di luar kendali aku. aku manusia yang banyak kekurangan?" Kataku.
" Terus?? dengan kamu ngaku salah dan menyadari kekurangan kamu itu semua, menjadi alasan untuk membenarkan semua perbuatan kamu sama aku, iyaa?!" bentak nya.
Aku menatapnya dan terdiam. Tuhan aku harus apa?? pikiranku terpojok.
" Aku gak berusaha membela diri Livia. mau terus-terusan kamu salah kan juga aku terima?" kataku.
" Aku mau Cerai!??" katanya tegas.
Aku terdiam, sambil menatapnya tajam.
" Aku mau Cerai Kha. Aku gak mah kamu giniin!!" katanya lagi.
Aku sampai merasa tidak bisa bernafas, rasanya hidungku menjadi mampet tidak bisa menghirup udara. dadaku bergetar ada rasa sakit yang tiba-tiba muncul. entahlah, ini sakit hati atau serangan jantung?? pikirku.
" Livia... Enggak sekarang!?" kataku. sambil menggelengkan kepala perlahan.
" Livia... tolong kamu jangan bilang itu sekarang. Aku sedang pusing, kepalaku sakit!?" kataku.
Dia menatap perban yang ada di kepalaku.
" Terus Kapan!?" tanyanya keras. aku menatapnya sambil berjalan sedikit ke padanya.
__ADS_1
" Livia... kamu jangan bicara seperti itu. Tolong kamu kasih aku kesempatan untuk memperbaiki nya.!" kataku.
" Alahhh, Bullshitt kalau kamu mau memperbaiki nya!"
" omongan kamu itu gak bisa dipercaya, apalagi kalau sudah nyangkut ************. T** An****!!" katanya kasar.
Aku hanya diam Meskipun aku tidak suka mendengarkannya.
" Aku Terima,dan bersedia untuk kamu salahkan. Sekarang, besok, atau seumur hidup? Tapi Tolong maafkan aku?" kataku.
Dia diam lanjut terus menangis terisak-isak.
Dadaku sakit, berat. mungkin juga dia sama.
" Aku minta maaf sama kamu untuk sekarang. masalah kamu nggak mau ngelupain itu urusan kamu!" kataku.
" Aku minta maaf sama kamu.!"
" Yaa Livia, maafin aku?" kataku sambil berusaha mendekat dan memegang tangannya. namun dia tetap menghindar.
Aku menelan ludahku, kemudian menarik nafas ku menahannya di dada Sebentar. lalu menghembuskan nya, meniupkan dari Bibir ku... Hufftt 😞
" Sudahlah, kalo kamu masih belum mau maafin aku. Mungkin besok atau entah kapan itu, aku akan tetap minta maaf ke kamu.!"
" Sampai kamu mau maafin aku, keluar dari mulut kamu.?" kataku.
" Kamu jangan terlalu berharap!! Aku gak akan maafin kamu!!" katanya ketus sambil menatap ku penuh kebencian.
Aku kembali diam sambil menatapnya kaku. lalu aku mengangguk perlahan.
" Yaa sudah. kalau itu kata-kata kamu sekarang, semoga besok aku masih bisa minta maaf kamu lagi.?"
" aku permisi, aku harus kembali ke Jawa sekarang?" Kataku.
" Jangan bawa Kylie!!" katanya membentak ku. Aku menatapnya.
" Lalu sama siapa dia Disini?!" kata ku bingung.
" Aku bisa asuh Dia!?" katanya.
" Kamu repot, belum ngurus Mama??" kataku.
" Urusan ku!" katanya keras kepala.
aku kembali menggelengkan kepalaku sambil bertolak pinggang, merasa bingung dan heran terhadapnya.
" Livia you waste my time? I must back to Java now. bisa nggak sih kita bahas anak nanti saja Aku tuh nggak mau ngerepotin kamu Kamu ngerti nggak sih?!" kataku kepadanya.
" Pokoknya, aku mau Kylie sama aku. jangan kamu bawa Dia!" katanya.
Namun aku tak bergeming. aku memanggil Mira dan menyuruh nya naik ke mobil beserta mbak Surti juga Kylie.
Livia Seperti menggila, dia menarik narik mbak Surti yang sedang menggendong Kylie. Kylie menangis karena nya.
" Livia!! Cukup!" kataku keras.
" Hentikan Livia, Kylie itu bukan barang!!" kataku marah kepada nya.
" Aku nggak mau kamu bawa dia, dia harus sama aku!!" katanya berteriak sambil menggendong Kylie.
" Oke fine!!" kataku berteriak juga.
" kalau kamu ngerasa dia punya kamu,ambil. ambil semua yang kamu mau Dari Aku.! apa yang kamu mau lagi dari aku AMBIL!!" kataku membentaknya. Kylie semakin kencang menangis, dia merasa takut.
" Susah susah gue jaga kesehatan nya biar nggak kaget, nggak stres! dia ketemu kamu malah kamu hancurin kerja keras gue untuk jaga dia.!!"
" coba sekali-kali kamu tanya sama Arya, Gimana caranya memperpanjang umur seorang anak yang divonis punya kelainan jantung!!"
" kamu sebenarnya Care nggak sih sama dia, sayang nggak sih sama dia!" kata ku marah.
" Kylie gue bawa, kamu ambil sendiri ke Jawa Nanti. sekalian kamu bawa suratnya kalau mau cerai sama aku!!" kataku kesal.
__ADS_1