Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.

Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.
Episode 7


__ADS_3

Setelah berbasa-basi sedikit dengan mantan mertua ku. Pak Kardiman Rahardjo, aku meminta izin kepada nya untuk menemui kedua anak ku.


Aku di persilahkan nya untuk ke Ruang tengah. tampak disana Danesh yang sedang di suapi oleh Baby sitter nya berlari kearah ku.


Dengan tersenyum aku menyambut dekapan nya yang tampak riang sekali. Dia memanggil ku dengan suara yang amat ku rindukan.


" Pa..Mau ajak Anesh kemana hali ini?" katanya sambil menatap ku.


" hmm...kemana ya?" kataku sambil berpura pura berfikir.


" Ajak Danesh ke taman aja Pas..yang ada ayunan nya?" pinta nya. aku hanya tersenyum menatap nya.


" iya deh, tapi makanya dihabiskan dulu sama mbak??" pintaku.


" Tapi jangan Papa pergi lagi yaa?" katanya merengek.


aku hanya tersenyum sambil menggeleng perlahan.


Kemudian dia berlari ke arah mbak sitter nya.


Tak lama Estu keluar sambil menggendong Arcelio yang tampak sudah besar dari sebelumnya.


Sudah hampir setahun memang aku tak dekat dengan nya.


Semenjak dia dilahirkan memang sudah pindah ke rumah mertua ku.


Iya memang, aku tak mengikuti perkembangan nya secara langsung. tidak seperti saat melahirkan Danesh dulu.


Aku berdiri menyambut nya, mengacungkan tangan ku. hendak menggendong nya.


Dengan tatapan datar Estu memandang ku sambil menyerahkan Arcelio kepada ku.


" Ayok sama Papa,uhh cayang cayang??" celoteh ku sambil mendekapnya.


" Aku mau mandi dulu?" kata Estu sambil meninggalkan ku. aku balas menatap nya sambil mendekap Arcelio yang tampak semakin panjang.


Tak lama Danesh mendekati ku merengek ingin di gendong juga. Mbak sitter nya tampak membantu menenangkan.


Danesh yang tampak menunjukkan rasa cemburunya menggelendot di kakj ku. aku hanya tertawa kecil.


Akhirnya Danesh ku gendong di punggung ku.


Ada perasaan bahagia walaupun sebenarnya susah untuk menggendong kedua anakku itu.


Andai saja keadaan seperti ini masih ada di rumah kami dahulu. mungkin aku tak akan mengenakan kemeja dan celana bahan yang tampak formal.


Bisa saja aku hanya memakai kolor atau sarung dengan singlet atau kaos yang sudah tak jelas bentuk kerah nya.


******


Aku mengamati nya jauh dari sini, pemandangan yang indah saat Danesh merengek tak mau kalah ingin ikut di gendong juga sama Sakha.


Bergelendot di kaki Papa nya. sedangkan Papa nya hanya terse sambil berusaha mengangkat kakinya yang berat.


Andai moment seperti ini ada di rumah kami dahulu. Mungkin aku akan langsung berteriak kepada Danesh dengan rambut yang masih di roll, hanya menggunakan daster tipis yang dibelikan Sakha di online shop.


Aku akan biasa saja,dan menganggap ini hal yg normal Tampa harus sembunyi menangkap momentum seperti ini menggunakan kamera.


*******


" Oh iya Estu... aku mau ngembaliin ini sama kamu?" kata ku sambil menyerahkan STNK dan BPKB mobil serta motor kepada nya.


Lalu aku mengeluarkan map dari tas kerja ku.

__ADS_1


" Ini Sertifikat tanah dan rumah. kamu saja yang simpan?" kataku sambil menyodorkan nya.


Dia hanya diam sambil menatap datar.


" Insyaallah, aku akan melakukan kewajiban sesuai perjanjian yang sudah kamu buat?" kataku lagi.


Tampak sedikit melirik kepada ku.


Iya memang semua perjanjian dia yang membuat nya.


" Lusa aku akan ke daerah, aku titip anak anak sama kamu."


" Aku di Mutasi dan harus tinggal di daerah entah berapa lama!?"


" Dimana?" tanya Estu pada ku.


" Kalau gak di Purwokerto ya Purworejo?" jawab ku.


" Aku lupa, susah bedain nya...yang pasti depan nya Purwo?" kataku lagi.


" Bukan di alas Purwo kan??" kata Estu kemudian.


" Dimana itu??" tanyaku tak mengerti


" Tau dimana?" jawab nya cuek.


Tak lama kemudian Danesh kembali mendekati ku. Menanyakan lagi perihal pinta nya tadi.


Aku menatap Estu. menarik nafas ku perlahan.


" Kita bisa pergi gak Estu??" tanyaku sambil menatap nya.


" Coba Danesh,Tanya Mama. Boleh gak kita pergi ke luar?" kataku kepada anak ku.


Estu menatap ku bias dan datar.


" Kamu aja sama dia yang jalan yaa??" jawab nya.


Aku hanya diam.


Sebenarnya aku ingin pergi bersama kedua anak ku, ke taman saja yang dekat. bercengkrama sambil menikmati cahaya matahari.


Aku menggenggam tangan Danesh yang mungil. mendampingi nya saat memakai sandal nya. kami berencana untuk ke taman perumahan dengan berjalan kaki.


Kami saling menatap, sesaat sebelum keluar dari rumah, Estu memanggil namaku. dia berencana hendak ikut.


" Gak usah ke taman yang didepan, kotor. ke taman yang disebelah sana aja yang banyak mainan nya?" katanya menambahkan.


" Pake motor aja biar gak capek?" katanya sambil menyerahkan kunci kontak nya.


Dia menggendong Arcel sambil mendekati ku.


" Pake helm gak??" kataku.


" Gak usah lah cuma Deket?" Jawab nya. aku memandang nya lekat,mata kami saling beradu.


" Mbak Tiwi..mbak..mbak,tolong ambilkan helm ya dua. ada itu di atas rak sebelah Buffet.?" katanya sambil berteriak.


******


Aku membiarkan Danesh yang tampak bermain dan berlarian menaiki kerangka kerangka besi ber cat warna-warni itu.


Aku duduk disamping Estu yg tengah memangku Arcel. aku memandang nya sambil memainkan rantai pohon yang ku pegang.

__ADS_1


" Rencana kamu Estu setelah ini.?" tanya ku.


" gak ada rencana apa apa." jawab nya pelan.


Aku tersenyum kecil.


" Emang kamu ada rencana apa Kha?" tanyanya balik. aku memandang nya seraya menggeleng kan kepala ku perlahan.


" Belum.. gak tau aku mesti ngapain." jawab ku. dia hanya tertawa kecil.


" Massa..?" katanya dengan nada yang meledek


" Aku pingin sendiri dulu, menata hati dan hidup ku."


" Mungkin nanti waktu yang menjawab.?" kataku menerawang


" Ouhh... seperti itu?" katanya.


kemudian aku mengangkat Arcel dari pangkuan nya. Kakinya menendang nendang seperti ingin jalan.


" Kamu lihat Arcel, mungkin sebentar lagi dia akan Berlarian mengejar Danesh."


" Mungkin aku seperti dia sekarang, sekuat apapun aku ingin berjalan dan berlari. tetap saja harus melewati tahapannya.?"


" Jika seorang balita ingin berjalan mungkin harus merangkak dahulu,baru berdiri perlahan, bersandar dan butuh pegangan, kemudian ada seseorang yang membantunya berdiri dan berjalan pelan, berlatih berdiri Tampa terjatuh, jalan perlahan setapak demi setapak Tampa terjatuh, kelancaran jalan Tampa di bantu siapapun lalu kemudian berlari atau menghampiri apa yang ingin dia tuju??" kataku sambil berdiri dan menggendong Arcelio.


" Sekarang kondisi ku sama seperti Arcelio, butuh waktu perlahan untuk melewati ini semua.?" jelas ku


Estu tampak memalingkan wajahnya.


Aku tertawa kecil.


" Lohhh...iya kan begitu.? bukan maksud ku sok berfilosofi atau apa??"


" Kitakan harus menikmati proses nya, cepat atau lambat pasti akan berlalu."


" Iya deh, terserah kamu aja." jawab nya datar.


Aku hanya tersenyum, melihat ekspresi wajah nya yang pura pura cuek itu.


" Udah waktunya makan siang Estu, ayo pulang atau kamu mau kita kemana lagi??" tanya ku sambil melirik jam di pergelangan tangan ku.


" Ya udah ayo pulang??" katanya sambil berdiri.


tak lama dia memanggil Danesh, seraya menghampiri nya.


" Gimana kalau kita makan di Ruko depan komplek. disana lengkap kok food court nya?" tawarku.


Estu hanya memandang ku.


" Papa...Anesh mau iskim pahh??" kata Danesh tiba tiba. aku memandang nya yang berdiri sejajar dengan hampir separuh paha ku.


Lalu aku menatap Estu.


******


" Makan sendiri ya Danesh, jangan berantakan.??" kataku sambil menaruhkan potongan ayam di hadapannya.


" Nanti kalau habis, Papa kasih es krim nya??" kataku sambil tersenyum hangat padanya.


Tampak Estu yang sedang menyuapi Arcelio dengan sup Krim ayam dari resto fast food ini.


Ahhh .. sungguh pemandangan indah bagi keluarga yang utuh.batin ku.

__ADS_1


__ADS_2