Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.

Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.
Episode 41


__ADS_3

" Harita, Pas Jang Sakha ka dieu. Neng Mira Nuju di pondok?? Jawab nya.


( Dulu, Pas Mas Sakha kesini, Mira lagi di Pondok)


Aku cuma mengangguk kepadanya.


Adik ku Mira Mencoba Mendekati Danesh. Menyapa anak ku itu.


Aku tersenyum saat Danesh memandang ku.


" Tante itu Kak, Ante Mira. Gak apa-apa, Sana main sama Ante??" Kataku membujuk nya.


" Mira, Maneh Ayena Yuswa na Saberaha? Sakolah kelas Saberaha??" tanya ku.


( Mira, kamu sekarang umur nya berapa? sekolah kelas berapa??)


Dia menatapku, Sambil tersenyum Kecil. Benar saja, dia adik ku. Aku merasa mirip dengannya.


" Genep belas tahun A, Bade ka Tujuh Belas Sasih Juni Isukan?"


( 16 tahun Aa/mas/Abang, Mau ke 17 bulan Juni nanti)


" Neng Mira Ereun Jang ti Sakolah. Da Ambu mumuriangan kiyeu?" Kata Ibuku Langsung menyahut.


( Mira Berhenti Mas dari sekolah. soalnya ibu Sakit sakitan begini?)


Aku memandang Adik perempuan ku itu, Ada perasaan sedih dan iba kepadanya.


" Lamun Ngalanjutkeun Sakolah Kapungkur mah, Ayena Mira kelas Dua Naek KA kelas Tilu SMA Panginten A?" Jawab si Mira.


( Kalau melanjutkan sekolah Dulu, sekarang Mira kelas 2 naik ke kelas 3 SMA mungkin bang)


" Ambu teh muriang Naon saur Dokter?" tanyaku pada ibuku.


( Ibu tuh, sakit apa Kata Dokter?)


" Saurna Dokter mah, Liper Sareung Kompilasi Lambung?" Jawab nya yang sedikit membuatku ingin tertawa.


( Kata Dokter mah, Liver sama kompilasi Lambung)


" Sanes kompilasi atuh Mah, Komplikasi??" Ralat Mira yang dibarengi tawa olehnya. aku pun jadi ikut tertawa karenanya.


(Bukan kompilasi Mah/mamah, Komplikasi?)


Dari kejauhan tampak Ayah ku berjalan menuju Rumah. Dengan cangkul yang di panggul di pundaknya. Terlihat Golok/Parang yang Tergantung di Pinggang sebelah kiri, Mengenakan Celana Pendek yang sudah Belel, Dan Bekas kemeja putih panjang. Setelah meletakkan Topi Caping nya itu, Kemudian dia terlihat membersihkan kaki dan tangan nya.


Mira yang Menyambut nya, Berdiri Bersama dengan Danesh.


" Anak na Saha eta Mir, Geus Burit. Titah balik ka Imah na Ditu"? Katanya terdengar menyuruh Mira. Mira hanya tersenyum.


( Anaknya siapa itu Mir, Sudah Sore/Magrib. Suruh Pulang ke Rumah nya Sana?)


" Da arek ngendong di dieu Abah Maneh na mah??"


( Mau nginep di sini Abah Dia nya)


" Ari Maneh, nga ngajakan Budak Batur?, Ulah. bisi kolotnya lengiten?" jawabnya.


( Kamu itu, ngajakin agak orang?, Jangan. takut Orang tua nya Kehilangan?)

__ADS_1


" Da Kajeun Atuh Bah, lamun incu na Arek ngendong di dieu. pan di Imah Aki na iyeuh?"


Jawab ku tiba tiba Sambil berjalan mendekati nya. Sesaat dia memperhatikan ku. mengingat ingat.


( Biarin aja Dong Abah, kalau cucu nya mau nginep di sini. kan di rumah kakek nya ini?)


" Asepppp??" katanya Haru Sambil menahan tangisnya yang pilu melihat ku. seakan tak mampu berjalan. dia terdiam di tempat Sambil mengangkat kedua tangan nya. Aku memeluk nya, tubuh Tua yang terlihat renta itu. Tangis ku pecah tak terbendung. Berkata memohon maaf berkali-kali kepada nya.


Kedua Anak ku Menangis juga, memanggil nama ku. Mira yang tampak menangis pun berusaha menenangkan keponakan nya itu.


Tangis Ibuku pun pecah, Meraung dari Depan pintu.


Maklum lah, dia tidak bisa berjalan jauh.


Ada Haru yang terjadi di penghujung Sore ini di Rumah Orang tua ku.


***


Selepas shalat Maghrib, kami berkumpul di ruang tengah di rumah panggung milik Abah ku ini.


ada Elis adikku yang satunya datang bersama suaminya, Atmaja dan anaknya yang berusia sekitar 1 tahun lebih itu.


Danesh duduk disampingku, tangannya masih megang krayon Jan buku gambar yang penuh dengan coretan nya.


Arcelio tampak sudah mau dengan adikku Mira, dia digendong serta disuapi dengan sayur bening kampung dan lauk tempe goreng.


Kurasakan, ada Harmoni yang terjadi saat ini.


Kami bercengkrama, Layaknya sebuah keluarga utuh. Saling Bertanya kabar dan berbagi kisah. Abah tampak menghisap rokok Yang diracik nya sendiri. bau kemenyan bercampur Cengkeh Tipis tipis Memenuhi Imah Jolopong milik nya. ( Rumah panggung suku Sunda di pedesaan)


Elis menikah dengan Atmaja baru dua tahun ini, dia tinggal di rumah mertuanya.


Atmaja, atau Maja. Suaminya sendiri berprofesi sebagai Petani seperti Abah ku.


Dia sempat kerja di Jakarta, Ikut dengan majikan nya yang ber etnis Tionghoa. Katanya dia bekerja sebagai Pengasuh anak Boss nya itu.


Majikan nya katanya baik, tapi Sering bertengkar antara suami dan istri. Kalau sedang bertengkar, banyak barang yang Rusak karena di banting. Karena merasa takut dan tak nyaman Itulah memilih untuk berhenti bekerja.


Katanya lagi, Majikannya itu Sering Bertengkar karena suaminya berselingkuh.


Aku jadi ingat kisah ku sendiri jadinya?!


****


" Jadi kamu siapnya itu kapan Yu? orang tuaku Sudah Nanyain terus loh.?" tanya Linggar kepadaku. pertanyaan ini sudah sering aku dengar apalagi semenjak keluarganya main dan Berkenalan ke rumahku di Salatiga.


aku hanya diam menatapnya.


" ya sik sabar Tho mas? keluargaku juga mesti siap-siap kan?" kataku beralasan.


" Ya paling nggak kapan kamu mau aku iket ( Tunangan).


" Kok kayaknya lama banget sih. aku tuh wes gak sabar?" katanya


Aku tersenyum kepadanya Mas Linggar.


" Sing gawe awakmu kesusu ki opo Tho mas.?" kataku sambil senyum-senyum kepadanya.


" Ya Allah dek, kok kamu malah Ngece gitu toh.? Emang kamu nggak pengen cepat-cepat kaya aku??" katanya Dengan tatapan penuh arti.

__ADS_1


Aku hanya senyum Dan tertawa kecil kemudian.


" Apa hayo??" kata ku meledek nya sambil menunjuk hidungnya dengan jemariku.


Seketika tatapannya tajam dan menatap nanar ke wajahku.


Cepat-cepat aku berpaling darinya, namun tangannya tak kalah cepat Manahan daguku.


Mas Linggar memalingkan wajahku ke ke hadapannya sedikit demi sedikit dia mendekatiku, aku tahu pasti itu. kemudian aku secepatnya berdiri, pura-pura hendak mengambil pesanan


Huuffttt... aku mendesah perlahan.


Sebenarnya, Antara yakin dan tidak aku mau Dengan nya Mas Linggar.


Semenjak pertama kali dia menyatakan perasaan kepadaku, Sampai Saat Dia berniat untuk menjadikanku istrinya.


jujur, aku masih meragukan perasaanku terhadapnya. Apakah aku benar-benar mencintainya ataukah hanya sebagai pengisi hatiku yang kosong dulu dan penangkal setiap pertanyaan teman-teman keluarga dan para tetangga yang julid selalu menanyakan kapan aku kawin??


Kesal sih, tapi memang ada benarnya. usiaku sekarang Katanya sudah terbilang cukup dewasa untuk menikah??


yah, Usiaku kini 23 tahun mau ke 24 sekitar 5 bulan lagi.


Kadang aku bingung standar orang menikah itu karena usia atau kesiapan??


***


Memang, baik keluargaku atau keluarga Mas Linggar sudah sama-sama mendesak kami.


Namun aku masih ragu dan sangat tidak yakin dengan perasaanku terhadap Mas Linggar ?


Apalagi sekarang di hatiku sudah tinggal sebuah nama Baru, yang membuat hati dan juga pikiran ku semakin berat.?!


Kenapa sih? aku telat mengenalmu??


Kenapa kamu tidak datang 3 tahun yang lalu Saja di kehidupan ku.?


Kenapa juga Mesti kamu yang jadi rekan kerja mas Bandi ?


Kenapa juga kamu harus mengontrak di depan kost-kosan ku, kenapa coba??


kenapa mesti kamu yang datang menggoda hatiku.


memberikan warna, Rasa dan makna di setiap harinya.


Kenapa Mesti kamu sih mas, Duda beranak dua yang mengacaukan Rencana ku. Ditambah kamu Dari Sunda, Keluarga ku anti Pati dengan Suku mu.


Padahal, Perang Babat sudah terjadi ratusan tahun lalu. kenapa sih musti diributkan kalau nyatanya kita saling nyaman.


***


" Sepp, Ngadadak maneh teh Nemuan Abah? Aya Naon.?" tanya Abah ku itu. Aku hanya senyum.


( Nak, Mendadak kamu tuh nemuin Abah? Ada apa?)


" Nyak lain kunaon naon atuh Abah, Bari geh Atos tahunan abdi teu uih ka lembur. Tara ngabaran Ka Abah. Asana Abdi budak Nu durhaka??" Jawab ku.


( Ya gak kenapa Napa juga Abah, Apalagi Sudah Tahunan Saya enggak pulang ke kampung. Sepertinya saya Anak yang Durhaka?)


Dia hanya tersenyum, Sambil menghisap Rokok nya.

__ADS_1


Sudah sedari tadi Elis dan suaminya Pulang. Anak anak juga sudah tertidur bersama Mira.


" Kumaha Rumah tangga Maneh??" tanya nya tiba tiba. Aku memperhatikannya.


__ADS_2