
Aku duduk di kursi belakang, menyaksikan proses persidangan. Kali ini Rudi hadir sebagai saksi dengan terdakwa mantan mertuaku itu dengan mantan Anak Buahnya.Di sebelah sana, tampak Pak Kardiman sudah memakai rompi berwarna oranye.
Mulut nya tertutup Masker, karena dia masih Sakit. tubuhnya pun terlihat lemas.
Hanya ada mantan ibu mertuaku dan pengacaranya yang mendampingi Bapak di proses persidangan kali ini.
Dia tampak duduk di atas kursi roda.
Setelah sekitar sejam proses persidangan berakhir. hasilnya belum final, masih ada sidang lanjutan lagi minggu depan atau dua minggu lagi.
Aku mendekati Rudi, setelah proses sidang tersebut. bermaksud ingin berpamitan kepadanya, Aku ingin segera kembali ke Jawa.
Tanpak Om Vanus yang berdiri tak jauh dari Rudi memperhatikanku. Aku berusaha tersenyum kecil kepadanya.
" Rudi, gue mau pamitan sama lu. lusa Besok gue balik ke Jawa. gue udah ninggalin nomor telepon gue sama Richard beserta alamat gue di sana??"
" Terus kenapa??" tanyanya kepadaku.
" Buat jaminan gitu.?? udahlah,,, lu itu selalu sungkan sama gue.!"
" Gue nggak suka, kita kan udah temenan lama, susah, senang senang sama b****** , blangsak nya juga sama. udahlah biasa aja ke gue!!"
" Gue percaya lu. nggak usah mikir yang kek gimana gimana lagi sih!?" katanya.
Aku hanya tersenyum kepadanya. kemudian memeluknya serta bersalaman.
Ternyata di dunia ini tidak ada orang yang benar-benar jahat atau benar-benar baik kepada kita.
Baik yang terlihat ataupun tidak.
Begitupula dengan sifat yang dimiliki seseorang terhadap dirinya sendiri atau kelakuannya yang menurut orang lain minus.
disisi lain orang tersebut masih punya sifat-sifat kemanusiaan yang baik atau bentuk penghargaannya kepada sesama manusia.
Aku berlari kecil berusaha membantu ibu yang tampak kesusahan mendorong kursi roda milik Bapak, yang mau kembali ke rumah sakit di mana bapak dirawat.
Bapak tampak memperhatikan ku setelah Ibu mengucapkan kan terima kasih ya kepadaku.
Aku menundukkan kepalaku dalam dihadapannya itu.
Dan berusaha menyodorkan tanganku untuk bersalaman dengannya tapi dia hanya diam. Dengan canggung aku menarik tangan ku itu.
" Bu, Sakha mohon pamit. Besok Sakha mau kembali ke Jawa??" kataku.
" Oohh iya, kamu yang hati hati ya disana.?" kata mantan mertuaku itu menjawab. Aku hanya tersenyum Kecil dengan kepala yang masih menunduk.
" Maaf ya Bu, Bapak. Sakha selama ini menyusahkan ibu sama Bapak??" kataku lagi.
" Yang sudah ya sudah Nak??":Kata Ibu ramah.
" Doain bapak ya nak, biar cepat sembuh dan persidangan nya cepat selesai??" katanya.
" Iya Bu, insya Allah Sakha doain selalu.?" Jawa ku.
" Maaf in Bapak sama ibu juga ya Nak kalau pernah berbuat salah sama kamu??" Katanya dengan sedikit terisak kepadaku.
" Ibu sama Bapak nggak pernah salah, Saya yang Salah memang. perlakuan ibu dan bapak kemarin itu memang wajar dilakukan oleh setiap orang tua yang ingin melindungi anaknya nya. Sakha sadar itu Pak Bu??"
" kalau sekarang waktunya menata kembali kehidupan kita masing-masing. Estu ataupun saya harus tetap melibatkan anak-anak di dalamnya walaupun kami sudah berpisah??"
" Saya tidak ingin anak-anak saya merasakan kesepian atau kekurangan kasih sayang dari kami berdua.?"
" Itulah mengapa saya masih sering berkomunikasi dengan Estu, Pak Bu bukan karena ada hal lain, cuma sebatas komunikasi membicarakan anak??"
" Sekalian saya mau mengucapkan terima kasih kepada bapak dan ibu yang selama ini benar-benar baik kepada saya, mengangkat saya menjadi seorang yang Lebih baik.?"
__ADS_1
" dan Terima kasih sudah memberi pengetahuan yang lebih yang berguna untuk hidup Saya di masa yang akan datang.??"
" tapi maaf Pak Bu, Saya nggak bisa membalas kebaikan bapak dan ibu kepada saya.??"
kataku terhenti.
Bapak masih tak bergeming kepadaku dia hanya diam dibalik masker yang menutupi mulutnya itu.
" doakan saja yang terbaik untuk kami nak. nggak usah repot-repot berpikir untuk membalas.?
" Yang Ibu minta kamu memberikan doa pada kami agar tetap sehat panjang umur dan cepat Selesai semua masalah ini??" kata mantan ibu mertuaku itu.
" Sudah pasti itu Pak saya akan senantiasa mengingat nama kalian dalam doa??" kata ku menjawab.l nya.
kemudian aku berpamitan dan meninggalkan mereka berdua.
***
" Coba ya Pak, dia itu masih jadi menantu kita. mungkin ada laki-laki yang bisa diandalkan di rumah.
" Anak laki-lakimu satu-satunya, Si Panji. malah sibuk sama kasus persidangan Cerai nya.!?"
" Enggak sekalipun dia datang mendampingi kita pak.??"
" Oalah Pak Pak kita ini punya dosa apa sih ya? sampai dapat musibah bertubi-tubi??" kata ibu kardiman kepada suaminya.
***
" Ayu... aku Di Pesenin sama orang tua mu. suruh nanyain kamu sebenarnya kamu siap menikah dengan Linggar itu kapan??
" apa sebulan, dua bulan lagi apa setahun. mereka itu butuh kesiapann, Linggar juga pernah ngadu sama aku kalau dia butuh kepastian dari kamu??
" Tolonglah, kamu jangan gantung dia seperti ini??
Kata mas Bandi kepadaku. Aku hanya diam.
aku menatapnya.
" Yaaaa nggak Tho Yo mbak, Mung aku ini memang belum siap lahir batin??" jawab ku.
" Alahhh, rung siap lahir batin opo??. kamu ini masih mengkel mengkel nya e kalo ibarat buah. masih ranum ranumnya. seger buat rujak??.
" OPO sih mbak sih Iki??" kata ku dengan sedikit tersenyum.
" Masih kinyis-kinyis, Banyak daging sama air nya yang bisa ngehilagin rasa Haus!?" katanya dengan ekspresi wajah yang meyakinkan. Aku mengulum senyum ku.
" Kamu gak pengen cepet-cepet opo?, ngerasakno nikmat dunia akhirat.??" katanya meledek ku.
Aku sedikit tersenyum kepada nya.
" Pokok e Mantep, Joss Gandos !!?" katanya sambil mengacungkan jempolnya kepadaku.
" OPO sih mbak??" kataku Sambil tertawa.
" Sini tak kandani, Nek Sekali Kowe wes keno Gantungan Mutiara Hitam gone wong Lanang...wes, tak jamin njaluk meneh gak berhenti henti nek ISO??" katanya sedikit berbisik kepadaku.
Kami berdua hanya tertawa karena nya.
Iya, Bukan mutiara hitam yang dia punya. yang ingin kurasakan, tetapi Batu Burgundi yang tampak Besar, Kekar dan Gagah.
Ahhh... pikirku membayangkan nya kemana mana.
Rasanya aku ingin sekali berjumpa dengan nya. tetapi tiba tiba bayangan Linggar melintas di kepala ku.
" Nah tuh, dengerin kata-kata Mbak mu itu. dia lebih paham dan hafal masalah itu??" kata Mas Bandi kemudian.
__ADS_1
kemudian Mbak asih tampak sedikit memonyongkan bibirnya ke arah suaminya itu.
" Ehh, iya Pak itu, itu yang ngontrak di sana siapa? mas Sakha. kok enggak pulang-pulang ya, niat pulang lagi apa nggak sihh.. lama bener kayaknya di Jakarta??" kata Mbak asih tiba-tiba menyela kembali.
" Belum tahu Bu kemarin sih dia telepon katanya minggu minggu ini atau Minggu depan dia pulang ke sini kalau nggak ada halangan??" jawab Mas Bandi.
" Apa dia di sana sekalian nikah ya? pulang-pulang kesini bawa istri??" kata Mbak asih yang tampak berasumsi.
" Lahhh Bu, kok yaa ngurusin orang amat. mau dia nikah lagi atau balikan lagi sama mantan istrinya ya haknya toh namanya juga Duda??"
" He'eh Yo pak. kasihan juga dia sendiri lama-lama jadi Duda. apa dia nikah ya sama pacarnya itu yang yang pas kapan main ke sini?" kata Mbak asih
" Lah wong putus kok Mbak?" kataku langsung menjawabnya.
" Eehhh, Kok kamu tahu yu??" kata mereka menatap heran kepadaku. aku sedikit merasa tersudut
" Ehmm... kemarin itu sempat ngobrol sama temen satu kontrakane Eee Mas aku??" jawabku mengeles.
" Padahal Mereka itu Cocok serasi ya Pak. kok malah putus. Eman Eman Banget??" kata Mbak Asih.
" Ya Namanya juga belum jodoh kali Bu??" kata mas Bandi berkata kepada istrinya.
Apa Harus, aku bertanya saja langsung kepada Mas Sakha yaa?? Pikir ku.
***
" Estu, lusa Besok aku mau balik ke Jawa??" kataku kepada ya.
" Lah kok mendadak??" jawabnya kepadaku.
" Ya nggak mendadak lah aku kan di sini sudah sebulan lebih??"
" Maksudnya mendadak ngasih taunya ke aku??" Jawab nya pelan.
Aku hanya tersenyum kecil Kepada nya.
" Jadi bagaimana, Arcelio harus aku bawa langsung ke Jawa??" kataku kemudian. Estu tampak kaget karena nya.
" Loh, emang mau kamu bawa sekalian dia??" tanya nya sedikit terlihat panik.
" Gimana sih kamu, kan dari awal sudah kita bicarakan anak ini kita bagi dua mengasuh nya??" kataku.
Dia terlihat syok dan menatap ku.
" Iya, tapi nggak se mendadak ini Sakha. ini terlalu cepat dari perkiraan ku !?" katanya.
" Aku belum siap jauh dari Arcelio, atau Danesh Sekali Pun??" katanya terdengar bergetar.
Loh apa ini, Bagaimana sih mau nya.? pikir ku.
" Terus, harus bagaimana. aku sudah terlalu lama disini aku pun perlu melanjutkan hidupku??" kataku kemudian.
" Kamu kan bisa cari kerja di sini Sakha. jadi aku tidak jauh-jauh dengan Arcelio?" Katanya.
Dari mana dia tahu aku tidak punya pekerjaan. aku menelan ludahku sedikit.
" Aku punya kerjaan di sana. Kenapa kamu nyuruh aku cari kerja di sini??" jawab ku. dia sedikit terkejut.Aku tersenyum Kecil kepada nya.
" Sudahlah Estu, mau aku ada kerjaan atau tidak di sana. kalau cuma membeli susu untuk Lio aku masih mampu??" Kataku.
" Aku siap tanggung jawab sama anakku kok?" kataku.
" Aku yang nggak siap jauh dari anakku Sakha!?" katanya setengah berteriak.
" Terus, harusnya bagaimana??" kataku
__ADS_1
Dia menatapku, matanya berkaca-kaca dan menangis.