
Aku sedikit tak mempercayai nya, kalau ternyata dia Duda beranak dua.
Mantan istri dan anak nya ada di Jakarta. katanya sih, dia dulu bercerai karena Berselingkuh. tetapi tidak jelas siapa yang berselingkuh, dia ataukah mantan istri nya.
Kadang aku memikirkan ini, Apa iya beneran aku suka sama dia. lelaki yang berstatus Duda.
Mungkin usianya pun sebenarnya jauh di atas ku. aku hanya bagai seorang keponakan dari nya.
Rasanya tiap kali ingin menjauh, bayangan wajah nya semakin lekat.
kadang aku menghindar dari nya jika tiba tiba Mas Sakha mengunjungi toko.
Semoga saja , dia tak menyadari nya.
Seperti nya aku butuh waktu,waktu untuk menerima kenyataan ini. Waktu untuk diriku sendiri.
******
" Ya hallo... Livia. ada apa tumben nelfon??" tanyaku sambil mencari barang yang aku perlukan.
" Oo...gak tau juga sih kapan aku ada kerjaan disana??"
" Apaa..kamu lagi ada disini. ngapain??" tanya ku.
" Oo..ngehadirin pernikahan teman kerja kamu??" lanjut ku.
" Hmm..gimana??ulang ku.
" Nanti aku share lock aja ya.. ini aku lagi belanja??" kata ku kepada nya. kemudian pembicaraan kami terputus.
" Ini aja pak??" kata mas mas kasir itu kepada ku. aku hanya tersenyum sambil menatap kesekitar.
Aku pikir tadi ada dia?? kataku dalam hati.
" Mbak yang biasanya kemana mas,pindah toko apa beda shift??" tanya ku pelan.
" Ooh.. Indah, ada kok tadi. lagi ke luar kali Pak??"; Jawab nya sambil memandang ke sekeliling.
" Kenapa pak? ada perlu??" tanyanya kepada ku. aku hanya menggeleng dan tersenyum kecil.
*****
" mas mas tadi nyariin kamu loh Ndah.. apa mu emang??" tanya Syam rekan kerja ku.
" Yang mana??" kataku pura pura tak mengerti.
" Alahhh..yang biasanya bareng kamu,yang orang nya agak tinggi itu?? katanya.
" Ooh...Bukan siapa siapa,cuma kenalan aja.?"
" Kan kontrakan nya di samping rumah saudara ku, kontrakan mahasiswa itu??" jawab ku datar.
" Oohh..tadi sempet kayak cari cari kamu dia??" katanya
" Lah.. perasaan mu aja kali Syam??" kataku datar.
Buru buru aku mengganti topik pembicaraan.
Sebenarnya aku takut Syam bertanya macam macam tentang mas Sakha dan mengetahui kebenaran nya bahwa dia seorang Duda.
Apalagi kalau sampai tahu aku menyukainya.
Ada ketakutan tersendiri dalam hatiku, Aku memang menyukai mas Sakha. tapi aku belum bisa menerima statusnya.
********
" jauh gak??" kataku sambil menyambut nya yang keluar dari pintu mobil Biru metalik nya itu.
Kemudian dia tersenyum kepada ku, lalu menempelkan pipinya Dan memeluk pelan pundak ku.tanda bersalaman.
" Lumayanlah??" Jawab nya sambil jalan beriringan dengan ku masuk kedalam Rumah kontrakan yang aku tinggali.
Di dalam sudah ada teman teman satu kontrakan ku yang lain.
Mereka bersalaman satu persatu dengan livia.memperkenalkan dirinya masing masing secara singkat.
" Di gedung mana emang nya resepsi teman mu itu??" tanyaku sambil berhadapan dengan nya.
" Hotel Arta graha atau gedung gitu Kha. undangan nya ada di mobil sihh??" jawab nya.
" Itu sih Hotel mas??" timpal Hakka tiba tiba. kami memandang nya.
" Itu loh mas, yang dari pertigaan Supermarket lurus dikit terus belok kiri. itu ada Hotel yang ke dua, gedungnya cet warna hitam atau abu abu gitu??" terang nya.
Aku mengangguk pelan.
" ini pake batik atau apa aku nya Livi??" tanya ku kemudian.
" Pake baju aja Kha??" jawab nya yang di timpali tawa oleh yang lain. aku hanya tersenyum.
Aku mandi dulu ya?? jawab ku.
" Ya Tuhan... sedari tadi kamu belum mandi??" katanya pura pura heran. aku hanya tersenyum simpul.
" Tolong ya jagain sebentar, jangan sampe padam??" kataku
" jaga lilin emang??" kata Eko sambil tertawa lalu aku meninggalkan nya.
*******
" Ayo berangkat.??" kataku sambil keluar dari kamar. semua mata memandang ku.
" Wes, tak mangkat sek ya??" kataku sambil berjalan keluar.
" Kha kamu yang bawa mobilnya yaa??" kata Livia kepada ku. aku hanya tersenyum.
__ADS_1
" Kamu udah pake parfum belum??" tanya nya lagi. aku hanya menggeleng.
" Nih pake punyaku dulu??" katanya.
" Lah gak usah, nanti bau nya beda??"
" Ya gak lah..mana bisa begitu??" katanya sambil mengeluarkan parfum milik nya
Rasanya semua memperhatikan kami, saat Livia membenarkan stelan jas ku dan memakaikan parfum ke tubuh ku.
Ada mata mata yang seperti nya Iri atau bahkan kagum dengan kami, yg kuakui tampak serasi.
Sekilas kulihat bayangan Bu asih, istri dari Pak Subandi masuk ke dalam rumahnya yang persis berhadapan dengan kontrakan ku.
aku tak menghiraukannya. mungkin hanya kebetulan saja dia keluar rumah.
Ku hentikan mobil milik Livia tepat berada di depan minimarket ini. kemudian aku turun dari dalam, bermaksud hendak membeli minuman kemasan serta amplop.
Livia hanya diam, menungguku di dalam mobil.
tak berapa lama aku membawa barang belanjaan ku ke kasir.
Aku langsung membayarnya, sejenak aku tersenyum kepada Ayu sebagai kasirnya. dia tampak diam dan acuh tidak seperti biasanya kepadaku.
senyumnya hanya sebatas biasa. tatapan matanya tak se berbinar biasa jika bertemu denganku.
aku melempar senyum kepadanya yang tak ia balas. ada perasaan aneh dan bertanya di dalam hati.kenapa dia seperti itu??
Tampak dia melirikku dan melihat keluar kemudian. aku buru-buru meninggalkannya dan kembali kepada Livia yang berada di dalam mobil.
" Lama amat sihh??" kata Livia yang sedikit menggerutu.
********
"kamu mau langsung pulang atau mau main dulu di sini."
tanyaku kepada Livia sambil terus mengemudi. sesekali aku menatap wajahnya. dia menatapku dari samping.
" Kamu besok mau pergi? "katanya kepadaku.
"ya bukan begitu, aku kan nggak tahu urusanmu?? "
"besok sih aku libur, rencananya aku mau main ke toko furniture milik seseorang. "
" Oowhh, Ada apa ke toko furniture. kamu mau beli barang buat siapa? "
Aku hanya tertawa kecil kepadanya.
" bukan mau beli barang, aku ada sedikit urusan bisnis? "kata Aku menjawab Livia.
" oh sekarang kamu bisnis furniture juga ? " tanya Livia kepadaku.
" baru mau mulai sih? "kataku kepadanya.
*******
aku meletakkan setelan jasku ke dalam lemari yang ada ada di ruangan ini. sedangkan livia tanpak membuka sepatunya
" kalau tahu begini, kenapa Engga check-in di hotel Arya tadi.?"kataku kepadanya sambil sedikit tersenyum.
" Jangan gila kamu Sakha, di sana banyak atasan ku dan keluarganya yang menginap. juga sebagian rekan kerjaku ada yang jadi bridges maid pengantin??"
katanya dengan mata setengah melotot kepadaku.
aku hanya tertawa.
Kemudian Aku duduk di tepian tempat tidur. menunggunya membersihkan make up.
" Livia, lalu siapa lelaki yang kemarin bersamamu?? tanyaku kepadanya. dia tampak memandangku dari pantulan cermin.
" yang mana?" katanya terdengar santai
" lelaki yang ku temui di Jogja??" kataku.
" teman biasa?" katanya biasa.
" Hmmm.... kenapa dulu kamu diam waktu aku tanya dia siapa?"
" Lalu aku siapa bagimu??" kataku dengan nada bertanya
dia memandangku dengan perasaan yang sepertinya tidak dia suka. matanya menatap nanar kepadaku.
" bisa enggak sih Kha, kita nggak ribut dulu. menanyakan ini dan itu?" katanya. aku sedikit menarik nafas panjang.
tak lama kemudian ponselku berdering. panggilan masuk dari Estu. Livia memandangku dengan sedikit sinis.
aku berlalu darinya, menepi menuju jendela. hampir setengah jam Aku berbicara dengan anak-anak ku dan juga mantan istriku.
kemudian aku mendapati Livia yang sudah tergeletak di atas tempat tidur dan memiringkan badannya.
Aku kembali duduk di pinggiran tempat tidur. terdengar pelan tarikan Nafas Livia yang terdengar berat.
"gimana kabar anak-anak mu, sehat? "katanya terdengar memaksa
" Alhamdulillah.." jawabku
" kabar mbak Estu gimana??" tanyanya lagi. aku memandangnya yang masih memiringkan badannya.
" dia baik, mungkin semakin baik sekarang setelah jauh dari aku??" kataku dengan sedikit tawa.
" Ohh ya syukur lah??" jawab Livia.
"kenapa, tumben kamu tanya dia.?" kataku penasaran.
" Iya tanya aja emangnya kenapa?" kata nya beralasan
__ADS_1
aku hanya tertawa kecil menanggapinya.
" Livia??" kataku memanggil nama nya beberapa kali
" kamu marah sama aku??'
" mau marah sampai kapan??"
" apa kamu nggak kangen aku?"
" kita kesini buat apa sihh. saling marah??"
Dia tampak membalikkan badannya, menatapku diam.
*******
" kenapa sih kita enggak menikah saja??" kataku sambil mendekapnya dari belakang.
Livia hanya mencium tanganku yang bersandar di dadanya.
" izinkan aku untuk bertanggung jawab sama kamu livia??"
" Aku ingin meluruskan dan membenarkan jalan kita yang salah?"
" izinkan aku untuk menikahi kamu Livia??" kataku sambil mencium rambutnya yang harum itu.
" nggak semudah itu Kha??" jawabnya.
" bukannya dulu kita pernah menikah, walaupun cuma siri??" katanya lagi.
" iya, tapi baiknya sekarang kita menikah secara resmi??"
" melegal kan hubungan kita yang salah, menjadi sah!"
dia hanya tertawa kecil.
" kamu lupa siapa kamu, dan apa kamu lupa siapa aku.?"
" Bukannya kamu keluaran dari pondok? seharusnya kamu lebih paham masalah ini?? katanya lagi.
" kamu kuat dengan iman kamu, dan aku tetap yakin dengan kepercayaan aku??" jawab nya.
" apa itu jadi masalah lagi bagi kita.! "
" Lalu buat apa semua ini??"
" banyak dari teman-teman aku yang memiliki keluarga yang berbeda agama dalam satu rumah.?"
" dan itu baik-baik saja, kenapa kita nggak bisa seperti itu??" kataku.
" masalahnya Gak se simple itu Sakha. Aku terikat dengan Keluarga besar. aku merasa lebih bersalah jika mereka tahu kebenarannya tentang aku??" jawabnya.
" Ya kalau begitu, seharusnya kita nggak bertemu lagi dan Gak seperti ini Livia?!" kataku dengan nada sedikit emosi.
" Harus nya kita hentikan semua ini, seperti kemarin!?"
Aku hendak berdiri, tetapi tanganku ditahan oleh Nya. dia mendekat ku erat.
" tolong kamu kasih aku waktu Kha. Aku tahu ini salah, tapi aku nggak bisa ninggalin kamu begitu aja.!"
" aku nggak bisa ngelupain kamu walaupun pernah aku coba?!"
" aku tersiksa dengan keadaan yang seperti ini, tapi lebih tersiksa jika aku harus melupakan kamu?'
" menghapus kamu dari hidupku."
"setahun lamanya Aku nungguin kelanjutan kamu yang bersikeras tidak mau menceraikan Estu??"
" aku pikir, kalau kamu tidak bercerai dengan rela aku akan menyingkir.!?"
" Aku sengaja menjauh dari kamu, aku nggak mau tahu lagi tentang kamu.!?"
" sampai akhirnya kita ketemu lagi, ketemu lagi, ketemu lagi secara kebetulan.?"
" Aku berfikir mungkin ini bukanlah kebetulan, tetapi rencana Tuhan?!"
aku menarik nafas ku perlahan.
" jika kamu berpikir ini pertanda dari Tuhan, seharusnya kamu mulai berfikir bahwa ada sesuatu yang harus kita selesaikan??!"
kataku kepadanya dan dia hanya diam.
" tetapi nggak juga harus hari ini kan Kha??" katanya kepadaku.
aku menatap matanya, sebenarnya apa yang ada di Fikiran Livia tentangku. pikir ku.
Livia Bersandar di dinding dengan rambutnya yang terurai,Dan aku dihadapan nya.
Aku hanya diam dan terus menatap matanya.
Sejurus kemudian bibirnya seolah menggodaku.
matanya menarik serta merayuku dan setiap sentuhan darinya adalah keinginan kuat darinya terhadapku.
Aku mulai menggodanya dengan ciuman hangat mendarat di bibirnya yang merona. kami terhanyut sesaat, sambil memejamkan mata.
tanganku memegang erat jemarinya yang halus. membelai rambutnya nya dan menciumi sekujur tubuhnya dengan sejuta keinginan kuat akan itu.
Dan untuk kesekian kalinya, nafas kami berdua saling memburu. terengah-engah untuk sampai ke puncak.
" I love you Livi." kataku pelan Sambil mencium kening Nya.
Dia tampak Tersenyum dan mencium Dagu ku.
*****
__ADS_1