
Aku terdiam Saat dia menangis tersedu-sedu Kepada ku. mengadukan nasibnya sekarang.
" Sepp, tolongan teteh Katanya sambil menangis.
" kalau bukan sama kamu, teteh ngadu sama siapa lagi. "
" saudara teteh yang laki-laki cuman kamu. nggak mungkin Teteh ngadu sama Abah."
" sekarang teteh sakit kena stroke. teteh nggak bisa jalan, Terus Aa kamu malah mau nikah lagi. terus Teteh harus gimana??" katanya sambil menangis terisak-isak.
" tenang dulu Teh jangan nangis seperti itu.?" kataku kepadanya.
" sekarang teteh tinggal di mana??" tanyaku.
" teteh sekarang tinggal sama Iqbal, yang di rumah si Nisa sama papanya. Teteh udah diusir sama Aa." katanya sambil menangis sedih.
" teteh sekarang Udah cacat, udah jelek, udah stroke jadi Apa kamu lupa sama peranan teteh di hidupnya.?"
" Dia lupa Kalau Teteh mau jualan nasi uduk untuk nyambung hidup pas dia masih nganggur belum jadi apa-apa.?"
" Dia lupa..." katanya sambil terus menangis.
" Teteh tenang, yang sabar. yang penting teteh masih bisa aktivitas walaupun terbatas. sabar dulu, nanti Sakha Kesana. nyusul teteh." jawabku untuk menenangkan nya.
" Teteh nggak mau di sini Teteh pengen pulang deket Abah.?" katanya sambil menangis menghiba.
" yang sabar teh, Abah juga baru sembuh dari sakit. nanti kalau teteh di sana Siapa yang rawat?" kataku.
" Pokoknya, Teteh mau di Kampung aja. berobat atau terapi di sana, teteh nggak mau di sini malah tambah bikin sakit hati."
" teteh masih ada uang buat bayar perawat yang mau bantu urusin teteh. asal Teteh nggak disini, tolongin teteh, jemput teteh.?" kata nya terdengar memohon.
" Iya sabar. ini Sakha lagi di Jawa. minggu depan mau ke Jakarta. nanti mampir ke tempat Teteh, di rumah Iqbal." kataku.
Lalu aku bicara dengan Iqbal, keponakanku itu. dia menceritakan semua kronologi jadian yang menimpa kakak perempuanku itu.
selama pembicaraan aku hanya diam. dan meminta keponakan ku itu untuk menenangkan kakak perempuanku, ibunya.
**
" Aa... Siapa?" tanya Mira kepadaku. aku menatapnya.
" Tolong kamu bantuin Teteh sama Aa doa Mira, Sekarang keadaan Teteh sama Aa mungkin lagi terpuruk - terpuruk nya.."
" Teh nyai kena stroke, dan sekarang tinggal sama Iqbal, dia mau dicerai sama Aa Rahman.!" kata ku pelan kepadanya.
Lantas Mira menutupi mulutnya itu dengan jemarinya.
aku menarik nafas berat.
Ya Allah, semoga aku mampu melewati semua cobaan yang kau berikan kepalaku.
" Tolong bantu Aa sama Teteh dengan doa kamu Mira. Siapa tahu doa kamu paling tulus yang bisa menembus langit menggantikan doa Ambu dan Amih." kataku sambil mengusap kedua mataku.
aku merasakan kesedihan yang kakakku rasakan. seketika rasanya hidungku terasa pengar aku jadi ingin benar-benar menangis.
berulang-ulang kali aku menarik nafasku panjang.
Yaaaa Allah.
***
" Bagaimana keadaan nya Kylie Kha Disana?" tanyaku padanya.
" Syukurlah, kalau semuanya baik. apa dia rewel sama kamu?" tanya ku lagi kepadanya. aku tersenyum kecil mendengarkannya berkata seolah memuji dirinya itu.
" Dia jadi anak baik kan itu keturunan dari aku Kha, bukan kamu."
" kamu kok dengan pede nya mengatakan kalau kamu baik, kalau kamu baik nggak mungkin kamu kenal aku dong Kha?" kataku Sambil tertawa kecil.
" Sekarang kamu lagi dimana?" tanya ku.
" Di Jepara. sama siapa?"
" Oohh, pak Bandi. beneran cuma sama pak Bandi??" kataku. aku tertawa kecil.
__ADS_1
" Puji Tuhan, keadaan Mama sekarang baik, dia sudah sadar dan membuka matanya."
" Siapa Teh nyai??" tanyaku heran.
" Ooo... teteh kamu. Dia kenapa?!"
" Ya Tuhan, kena stroke. terus sekarang dia di mana.".
" Di rumah Anak Lelaki nya??"
" Kenapa, minta pulkam? Lah terus yang ngurusin dia nanti siapa?? Bukannya Abah juga baru sembuh nanti yg kewalahan adik kamu yg di sana."
" Ooo... nungguin kamu ke Jakarta? Kapan?" kataku sambil memainkan bibir ku.
" Iyaa, aku tungguin di sini. tapi kalau bisa kamu telepon aku sih sehari sekali, Atau 2 hari sekali juga Nggak Apa apa. jangan hilang seperti sekarang.?"
" kalau bukan aku yang telepon kamu terus kapan kamu bakalan nelpon aku?"
" Aku maafin, tapi jangan diulangi ya." Pinta ku padanya.
***
" Pak, Bukannya minggu minggu ini, Bapak harus bersiap di pernikahan si Ayu?" kataku sambil membantunya menggerinda.
" Di undur mas, mungkin sebulan lagi, soalnya kemarin kakeknya Linggar meninggal dunia.?"
" Innalilahi wa Inna ilaihi, kok bapak ngasih tahu saya?" kataku padanya.
" Mas lagi sibuk ngurusin anak mas yang masuk rumah sakit?"
" jadi saya mau ngabarin juga takut mas nya sibuk. kesini nya malah lupa sekalian." katanya sambil tersenyum.
Tiba-tiba ada yang mengucapkan salam kepada kami berdua. sontak aku dan Pak Bandi menjawabnya lalu menoleh ke arah suara.
" Loh, mas Dokter. kok kesini??" kataku sambil jabatan tangan dengan nya.
lalu aku mengenalkan nya kepada pak Subandi.
" kemarin saya Baca kartu nama Bapak, alamat rumahnya seperti saya tahu sekalian saya main ke sini?" katanya sambil tersenyum.
" Silahkan melihat-lihat dulu Mas Dokter. ini gudang pertama saya memproduksi Furniture. yang kemarin terbakar jadi kami pindah lagi kesini?" kataku sambil sedikit tertawa
" bangunan ini bukan punya saya sih, punya rekan kerja saya ini, Pak Subandi dialah orang yang pertama membuat saya jatuh cinta sama furniture."
" Kita di rumah saja mas dokter, sambil ngopi atau ngeteh.?" kataku mengajaknya.
" Mas libur kan hari ini atau ada jadwal?" tanyaku padanya. dia tertawa kecil.
" Hari ini saya free pak Lebih santai sedikit?" katanya sambil mengikuti langkahku.
" Panggil mas Sakha atau Aa juga Boleh. sepertinya usia kita nggak berbeda jauh.?" kataku meminta kepadaNya. dia hanya mengangguk kecil.
" Pak Bandi, ayo sekalian ngopi di rumah saya?" kataku mengajaknya.
" Iya mas, nanti saya menyusul. ini tanggung?" jawab nya. aku hanya mengangguk sambil Berjalan meninggalkan ya.
" Mas, tadi kayu yang hitam itu jenis kayu apa ya?" tanyanya sesampai kami ada di rumah.
aku langsung memanggil Mira adikku itu dan memintanya membuatkan teh.
lagi lagi tatapan mata mereka mengisyaratkan. aku bisa mengetahuinya. ( ꈍᴗꈍ)
" Itu sisa kayu yang terbakar Mas, sayang Kalau dibuang jadi saya manfaatkan kan sebagai tambahan.?" kata ku menjelaskan nya.
Kemudian aku mengambil laptop ku. Memberikan beberapa gambar model meja untuk nya.
Tak lama kemudian Mira datang membawa dua cangkir teh dan sepiring kue talam.
" Oh iya mas Dokter, Saya mau minta tolong nih sedikit sama mas?"
" Apa itu Mas?" katanya.
" Saya kan Lusa mau ke Jakarta. Semisal ada apa apa dengan Anak saya lagi, nanti boleh ya sewaktu waktu adik saya Mira menelepon mas. meminta bantuan.?" kataku.
Mereka saling bertatapan lagi. Kan..kan..kan..?
__ADS_1
" Ohh, ya tentu boleh mas. dengan senang hati saya membantu.?" katanya terdengar lancar. aku hanya tersenyum.
" Leres, Mira, cobi tuliskeun nomer anjeun dina kertas sareng pasihkeun ka dokter. " Kataku padanya.
#( Ya, Mira, coba tulis nomormu di selembar kertas dan berikan ke dokter. ")
" Lohh, mas ini suku nya Sunda?" tanya Arya Kepada ku. Aku hanya mengangguk.
" Mas Dokter kok tau??" kataku. dia hanya tertawa kecil.
" Dulu teman satu kontrakan saya orang Bandung waktu kuliah kedokteran di Jogja.?" katanya.
Aku hanya mengangguk.
" Gak perlu cari kertas teh, inj tulis di handphone saya saja langsung.?" kata Arya Sambil menyerahkan ponselnya itu kepada Mira.
Mira tampak Sedikit melirik ku. Sambil meraih ponsel Arya dengan Hati hati
Aku menarik nafas panjang lagi. sedikit memalingkan wajah ku, Seperti sedang melihat Adegan Film romantis secara live.
" Terus, sekarang adik Kylie nya mana mas?" katanya sambil meminum teh nya.
" sepertinya sedang tidur siang dia mas??" kataku padanya
" Maaf mas, saya kok kemarin nggak pernah lihat mamanya Adik Kylie? kemana ya??" katanya
" Mama nya Kylie ada mas, tapi di Jakarta. ibu mertua saya sakit. ada di rumah sakit Kanker. dan kebetulan istri saya itu anak tunggal?" jawab ku.
" Ohh, yang ini yaa?" katanya sambil memberikan laptop ku. Aku menatapnya. takutnya itu foto orang lain. Syukurlah, itu benar foto Livia.
" Iya Mas Ini foto istri saya?" kata ku kepadanya.
" kayaknya kok saya seperti kenal ya Mas, dia namanya Agnes bukan?" katanya kepadaku.
" Iya, nama depannya memang Agnes tapi saya biasa memanggilnya Livia. Agnesia Charlotte Livial Aslan.!" kataku kepadanya. kemudian dia tertawa seolah-olah menertawakan sesuatu.
" Ada apa mas? "tanya aku heran kepadanya. dia menatapku.
" kalau ada ungkapan dunia itu sempit, sekarang baru saya membuktikan istilah tersebut. Agnes ini punya adik kelas saya di bangku SMP dan SMA. saya dulu SMA loncat kelas, jadi sewaktu SMA Saya hanya 2 tahun saja.?" katanya bercerita.
" saya kuliah pertama di Jogja kemudian mengambil spesialis di Jakarta. waktu itu kalau nggak salah dia kuliah di Jakarta ambil jurusan akuntansi?" katanya menjelaskan.
" loh, kok masnya betul sekali menjelaskan. saya curiga jangan-jangan masnya ini dulu mantan istri saya kataku Sambil tertawa.
" enggak... Enggak. saya nggak pacaran sama dia tapi teman saya dulu tergila-gila sama Agnesia. tapi berhenti suka sama Agnes karena tahu Dia non muslim.?"
" Apa mas nya juga beragama nonmuslim??" tanyanya padaku sedikit berhati-hati. aku hanya tersenyum.
" Maaf Mas sampai saat ini saya masih muslim meskipun istri saya non muslim.!"
" ya kalau diceritakan panjang ceritanya. butuh beberapa tahun untuk menyatukan kami di mahligai pernikahan!" kataku Sambil tertawa terbahak-bahak.
" Iya Mas mas namanya jodoh kita nggak ada yang tahu katanya kemudian
" sekarang masnya sudah punya pacar atau tunangan mungkin?" tanyaku kepadanya.
dia tersenyum seraya menggelengkan kepala.
" itulah Mas setiap manusia pasti ada kelebihan dan kekurangan. saya hidup bertahun-tahun belum pernah merasakan yang namanya pacaran!" jawab nya.
" Waahhhh!!! bohong sekali anda?"
" Anda pikir Saya bisa ditipu dengan akal akalan saudara!" kataku Sambil tertawa.
dia ikut tertawa sambil menggerakkan kedua tangannya, Seolah mengatakan bahwa dia belum pernah pacaran.
" Kalau sekarang pasti banyak yang menginginkan anda mas?" kataku kemudian.
" Jujur, Sekarang malah saya yang sedikit selektif memilih perempuan, Saya takut mereka hanya memanfaatkan saya."
" Saya masih punya Ibu dan 1 kakak lelaki saya Yang yang sedikit mengalami gangguan jiwa, Dimensia."
" Saya mencari perempuan yang benar-benar bisa menerima keadaan saya dan keluarga saya.?" katanya.
" Yahhh, semoga mas nya segera menemukan Perempuan yang seperti itu.?" kataku sambil menghela nafas panjang.
__ADS_1
" Ngomong ngomong, istri saya dulu gimana mas waktu sekolah?" kataku Kepada nya sambil tertawa.