Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.

Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.
Episode 78


__ADS_3

" Tumben kamu video call ada apa.?" tanyaku heran kepadanya.


" Yang, Kamu ingat nggak kalau punya kakak kelas sekolah namanya Arya?" katanya dari sana.


" kayaknya sih ada tapi udah nggak tahu lagi di mana sekarang?" kataku menjawabnya.


" emangnya kenapa?" kataku lagi.


" Emangnya benar kalau teman nya Arya yang tergila-gila sama kamu bukan arya nya?" Tanya nya aneh. kok dia bisa tau pikirku.


Aku tertawa karena nya...


" Iya ada, namanya Dodi. dia teman kakak kelasku yang paling pinter, namanya Arya. Katanya sih dia Sekarang jadi dokter.?" kataku heran.


" Beneran, kamu dikejar sama Dodi bukan Arya?" katanya mengulang.


" Iya sama Dodi, tapi dia berhenti sendiri. padahal dulu belum sempat jadian?!" kataku sambil tertawa terkekeh.


" Kok kamu bisa tau??" tanyaku lagi.


" Kalau Arya gimana orang nya?" katanya.


" Arya itu banyak yang suka, tapi orang nya dingin, dan cuek lagi. yang dia pikirin itu cuma belajar sama tugas-tugas, hidup nya gak asik walaupun pintar.!" kataku Sambil tertawa terbahak-bahak.


" kalau kamu tahu dia jadi dokter kamu nyesel enggak nikah sama aku.?" pertanyaannya yang seolah menjebak itu.


" Hhmmm.... kadang aku menyesal nikah sama kamu, kok bisa aku kenal kamu, aku sayang sama kamu sampai sampai punya anak yang cantik macam Kylie, seperti aku?" kataku Sambil tertawa.


" apa yang terlihat Cantik di Kylie, dia jadi enak di pandang. itu karena asalnya dari Gen nya aku sayang. bukan kamu?" katanya seperti mengejek.


" gak usah geer kamu, dari mana asalnya dia cantik kalau bukan dari aku yg cantik!" kataku menyangkal Sambil tertawa.


" Masa iya putriku itu ganteng? yang benar dia itu cantik seperti aku?" kataku Sambil tertawa lebar.


" Dimana mana, Dokter bilang kalau wajah yang rupawan itu keturunan dari ayahnya sedangkan kecerdasan itu berasal dari ibunya.?"


" Iya tau, Tapi kalau masalah cantik aku juga berperan banyak sama dia." kataku Sambil tertawa.


" sudah sudah mending kita tanya sama Pak dokternya langsung." katanya sambil membalikan laptop Nya kepada seseorang.


" Hallo Agnes, apa kabar??" kata seseorang tadi yang sepertinya aku kenal.


" Ya ampun Arya... kok kamu kenal sama suamiku yang jelek??" kataku Sambil tertawa.


" panjang ceritanya, Gimana kabar kamu sehat?"


" Aku baik.... beneran kamu jadi dokter?"


" Dokter spesialis apa?" tanyaku antusias.


Dia tersenyum kecil sambil membenarkan kacamata


" Aku masih jadi dokter umum sekarang." katanya sambil tersenyum.


" aku kenal mas Sakha karena tertarik sama furniture buatannya. seni sekali.?" katanya yang terdengar memuji.


" mungkin itulah yang membuat anakku terlihat cantik - dia membuatnya dengan Bakat seni yang dia miliki.!?" kataku Sambil tertawa terbahak-bahak.


" Husssttt... ngomong mu ngelantur lama-lama., sudah. aku tutup ya?" katanya.


" Yang, Nanti dulu jangan ditutup. kata ku sedikit memohon.


" Hmmm...Babe, may I have his number or not?" kataku pada Sakha.


" as long as you don't CLBK with your ex-boyfriend at school." jawabnya yang membuatku tertawa.


Setelah telepon dimatikan. aku baru ingat, jika aku belum tanya. dia sudah menikah atau belum.


***


" Iya, Anda ini memang kakak kelas istri Saya yaa mas Dokter... Ayo silahkan di minum?!" kataku sambil tertawa.


Tak lama kemudian pak Bandi datang, menanyakan sesuatu kepada ku.

__ADS_1


" Maaf nih mas Dokter, saya tinggal sebentar. nanti saya kesini lagi, atau mau ikut ke bengkel sekalian.?" tanyaku Kepada nya. Dia tersenyum


" Sebentar kan Mas, Saya disini saja buat lihat lihat?" katanya menjawab. aku hanya mengangguk.


Lalu aku memanggil kan Mira yang sedang menggendong Kylie itu.


" Mira, kadieu sakedap. punten ngiringan pak dokter ngobrol. Aa bade ka bengkel sakedap." kataku padanya. Dia menatap Sebentar sambil mengangguk.


#( Mira, kemarilah sebentar. tolong temani dokter untuk berbicara. Aa akan pergi ke bengkel sebentar.")


" Saya tinggal ya mas, diminum teh nya. gak usah sungkan?" kataku padanya sambil tersenyum. Dia hanya mengangguk. Lalu Akupun pergi.


***


Dengan sedikit rasa gugup yang aku tutupi, Aku menatapnya sambil tersenyum dan menganggukkan kepala.


dia duduk dihadapanku sambil menggendong keponakannya itu. sesekali aku bergumam kecil.


" Teh, Gimana keadaan adik sekarang?" tanya aku memulai pembicaraan.


Sorot matanya yang tajam menatap mataku seolah-olah langsung melesat ke dalam hatiku. Deuhhhh!!


" Alhamdulillah sudah baikan Pak dokter. ini mah masih manja aja mau tidur siang." katanya sambil menciumi rambut keponakannya itu.


aku tersenyum sambil membenarkan posisi duduk ku.


" Syukurlah kalau begitu... Eehhmm, Teteh asli orang mana.?" tanya aku lagi memberanikan diri.


" Saya asli orang Purwakarta Mas, ehh Pak dokter?" katanya sambil sedikit tersipu.


Aku jadi tertawa kecil karena tingkahnya itu.


" Gak apa-apa kok kalau mau manggil Mas.?" kataku sedikit menahan rasa malu, rasanya pipi ku juga mulai memerah.


dia hanya menundukkan kepalanya pelan.


" Lulusan SMA tahun berapa teh?" tanya ku kepadanya, kemudian dia langsung menatapku.


" Saya enggak lulus SMA mas, Sekarang masih ikut program paket C sama kursus salon di sini.?" jawabnya polos.


" Kok sampai Nggak bisa lulus SMA kenapa?" tanyaku kepadanya.


" Dulu Ambu saya. maksud saya, Ibu saya sakit keras. jadi saya nungguin Ibu saya Yang sakit itu di rumah." jawab nya.


" Ooo, sekarang ini udah sembuh?" tanya ku.


lantas dia tersenyum.


" Sudah meninggal mas, ada tiga bulan yang Lalu." jawab nya lagi.


" Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un, Maaf saya tidak tahu.?" kata Ku padanya.


" Engga apa-apa mas, wajarlah. kan kita baru kenalan?" katanya sambil tersenyum kecil lagi padaku. Aku menikmatinya


" Kalau Kita kenalan biar sama sama kenal, Boleh??" kataku sedikit nekat sambil menahan rasa malu.


aku jadi grogi dan membenarkan kacamataku dan tidak kenapa-napa itu.


dia tertunduk tersenyum malu-malu kepadaku.


" Boleh kok mas?" katanya pelan yang langsung dijawab iyesss! oleh hatiku.


Aku tersenyum sangat senang sepertinya bermunculan, bunga bunga yang mekar di dalam hatiku.


' Aduhh, perasaan apa ini. indah sekali.?' (ʃƪ^3^)


" Gak ada yang marah kan?" tanyaku lagi memberanikan diri. Dia menatap, aku jadi merasa tersudut, aku menelan ludah sedikit.


" Gak ada kok mas, Paling Aa Sakha yang suka marah sama saya?" katanya polos. Aku sedikit ngelag?? Aduh, bukan itu pikirku bingung.


" Maksudnya Aku, gak ada yang marah kalo Aku Deketin kamu. Ya pacar mungkin. atau sejenisnya." kataku mengulang. Dia hanya tersenyum kepadaku lagi.


" Iyaa, gak ada yang marah mas. Saya belum punya pacar." katanya pelan.

__ADS_1


Aku menahan, mengulum senyum ku. Ohh, ada apakah gerangan di dalam hati ku, rasanya senang sekali.


Rasanya Hormon Dopamine di diriku melonjak berkali-kali lipat karena nya. ahh... menyenangkan.


( ꈍᴗꈍ)( ꈍᴗꈍ)( ꈍᴗꈍ)


" Paling yang marah Cuma Aa, yang selalu ngancam saya kalo punya Pacar mau langsung di kawinkan saja.?" katanya polos Sambil tertawa kecil.


Aku menarik raut senyum di bibir ku itu. Apa ini maksudnya?


Ada perasaan yang bercampur aduk dan penuh tanya.


" Maksudnya apa langsung di kawinkan?" tanyaku hati hati. Dia menatapku dengan mata nya yg bulat jernih itu. Aku Menelan ludah kembali.


" Kata Aa, kalau sekolah belum selesai sama kursus belum beres gak boleh Pacaran. Katanya mending Ta'aruf an. biar Aa gak Susah susah." jawab nya polos syekaleee 😚


Aku tersenyum kembali, sambil melipat bibir ku.


" Sekolah nya masih berapa lama emang?" tanyaku.


" Kalau program sekolah paket C, bulan depan dapet ijasah nya. kalo kursus salon mungkin dua bulan lagi selesai. sekarang tinggal praktek praktek nya mas.?" jawab nya.


Aku hanya mengangguk kecil sambil meminum teh ku.


" Kapan kapan aku telpon kamu, kalau gak kirim pesan ke kamu Boleh?" tanya ku Kepada nya malu malu.


" Boleh mas." katanya pelan sambil menunduk dan menyelipkan Rambut nya yang terurai panjang itu ke kuping.


Ahaiiii... rasanya hatiku makin senang. Aku menatapnya sesekali. dia juga Menatap ku sambil Curi curi pandang dan tersenyum.


Rasanya manis... manis... manis... sekali. makhluk di depan ku ini. ( ◜‿◝ )♡(´ε` )


Kemudian terdengar suara Aa Sakha, calon kakak ipar ku itu datang.😁


Dia bergumam kecil.


" Udah ngobrol nya mas Dokter sama adik saya.?" katanya sambil tertawa kecil. aku menatapnya tersenyum dan diam.


" Ngobrol apa aja kalian? Kasihan banget ya Anak saya cuma jadi obat nyamuk kalian??" katanya sambil tertawa terkekeh.


" Apa sih Aa, wong gada Ngobrol apa apa. cuma tanya sekolah kok?" kata nya polos kepada kakaknya itu. Aku sedikit panik, takutnya dia keceplosan.


Mas Sakha menarik nafas nya panjang. dan menatap ku.


" Yahh mas, namanya Hidup orang itu pasti beda beda kan ya? Saya, Adik saya memang datang dari keluarga yang gak punya. biasa biasa saja. beda sama Mas dokter mungkin?" katanya.


" Saya juga berasal dari keluarga yang biasa mas.?" jawab ku.


Dia tersenyum kepadaku.


" Waktu saya sudah di Jakarta, Dia urus ibu saya yang sakit sakitan."


" kita dari kecil juga jarang hidup bersama. malah saya sempat lupa kalau punya adik seumuran dia?" katanya sambil tertawa.


" Saya besar di ponpes, ikut uwak saya di Tasikmalaya. yah semua nya gak ada yang tau nasibnya orang kan ya Mas.?"


" Selesai mondok, saya maksain kuliah diploma di Bandung masih ikut saudara juga dari Almarhum ibu saya.?"


" Kalau Mira, sedari kecil kumpul sama ayah dan Ibu yang sakit.?" katanya.


" Maksudnya?" kataku tak jelas. mas sakha hanya tersenyum.


" Yaaa.. setelah ibu saya meninggal sewaktu saya kecil. saya ikut uwak saya. lalu ayah saya menikah Sama Ambu nya Mirasih?" katanya.


mulutku sedikit ternganga Sambil mengangguk pelan.


" Terus saya ke Jakarta, tak lama kemudian menikah lalu Sekolah lagi sambil kerja sampai akhirnya terdampar di sini?" katanya menutup cerita Sambil Tertawa.


" Ya pesan Ambu, sebelum meninggal kemarin. Saya harus menyekolahkan dia. ngasih pendidikan ke dia mas. Biar dia gak di pandang rendah sama orang lain." katanya sambil merangkul adik nya itu.


Mesra sekali mereka. pikirku.


Mas Sakha tersenyum. Seolah-olah sedang menceritakan siapa dia dan keluarganya. Mungkin memberi ku Pandangan tentang Mira.

__ADS_1


Akupun tersenyum menatap keduanya.


__ADS_2