Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.

Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.
Episode 117


__ADS_3

" Jadi Cici Livia sekarang sedang hamil Aa? Dan sekarang Aa balikan sama mbak Estu yang juga Hamil??" kata Mira memperjelas pernyataan ku tadi.


Aku hanya mengangguk. lantas dia menutup mulutnya dengan jemari nya itu, Seperti Syok.


"Mira gak tau harus ngomong Apa Aa... disatu sisi Aa itu Kakak Mira, tapi di sisi yg lain mereka... Cici dan mbak adalah perempuan juga yg sama kayak Mira.?"


" Mana ada sih Aa, perempuan yg mau di Madu. Mira juga gak bakalan mau." katanya yg membuat ku Merasa bersalah.


Aku diam menatap nya.


" Aa gak tau kalau akhirnya bakal begini Mira? Aa juga.... Gak Taulah Mira, Aa pusing?" kataku padanya.


" Terus? Nanti bagaimana kalau Cici livia tau kalau Aa sama Mbak Estu?" kata Mira


Aku kembali menatap nya sambil menghela nafas panjang.


" Aa masih belum tau?" kataku pelan.


" Aa mungkin akan mengalah Sesuai maunya Livia?" jawab ku.


" Cerai? Aa ngiyain Cici kalau semisal Cici minta cerai?" tanya nya. Aku menatapnya lekat.


" Aa ngga tau Mira!" kataku sedikit kesal pada diri sendiri.


Sesaat kami saling Diam. Aku juga tak tahu harus bagaimana sekarang.


Estu juga sekarang menjadi seorang yg lebih menuntut ku. Dia seakan minta perhatian lebih juga terhadap ku.


Meskipun aku sudah kembali ke Jawa. tak membuat nya berhenti meminta perhatian. walaupun sekedar telepon, menanyakan kabarnya dan kondisi kehamilan nya itu.


Sama halnya dengan Livia yang begitu.


Keduanya seakan-akan harus bermanja-manja dengan ku setiap hari.


Mungkin karena Hormon Mereka yg sedang berubah drastis.


**


" Lalu, bagaimana hubungan kamu sama Arya? Baik baik aja kan?" tanya ku.


Dia mengangguk kecil.


" Mas Arya sih baik Aa.. tapi ibunya?" katanya kemudian.


" Wajarlah kalau begitu.. yg penting Arya cinta sama kamu?" Kataku. Dia menatapku.


" Iya Aa.. tapi Mira kadang sakit hati aja kalau ibu ngata ngatain Aa?" katanya. Aku hanya tersenyum.


" Biarin aja Mira? kan Aa memang seperti yg di ceritakan nya Mungkin?" kataku.


" Gak A.. ibu terlalu melebih-lebihkan!" katanya terdengar sewot.


Aku tersenyum.


" Mira.. sekarang kamu harus netral kalau menghadapi orang?"


" Orang yg kamu anggap baik, tidak akan selalu berbuat baik. begitu juga orang yg jahat, tidak akan selamanya jahat.?"


" Banyak orang yg berbuat seperti itu karena alasan dan berbicara dengan siapa nya?"


" tapi kalau kamu merasa kamu itu baik, yaa teruslah jadi orang yang Baik." Kataku. Dia hanya menatap ku lekat Lekat.


" Terus, pak Bandi ada kesini?" kataku. dia menggeleng perlahan.


" Gak ada Aa, cuma kemarin ada Pengacara nya Aa datang. menanyakan keberadaan Aa?" katanya.


" Emangnya urusan si Linggar belum beres Aa?" tanya Mira.


" Aa mau cabut tuntutan.?" kataku. Dia Tampak kaget mendengarnya.


" Aa serius?" tanya nya. Aku hanya mengangguk.


" Apa gak terlalu mudah Aa buat mereka?" tanyanya


" Aa capek Mir, Semua- yg atur pengacara aja. termasuk urusan sama pak Bandi?" kataku.


" Kalau kamu belum hamil, bantuin Aa ya mir di CV punya Aa ini?" pintaku padanya. Dia mengangguk kecil.


" Mira juga udah minta ijin sama Mas Arya kok Aa.. kalau bisa kapan kapan Aa tembusin lagi?" katanya. Aku hanya mengangguk.


***


" Ya gak harus seperti itu lah Bu?, Mira itu Adik nya Sakha. Sekarang Sakha masih kesulitan ngurus usahanya. dia punya siapa disini selain adiknya yang dimintai tolong.?" kataku pada ibu.

__ADS_1


" Ya istri itu harus di rumah, ngurusin rumah sama suami. bukan nya seperti itu?" katanya nyinyir.


" Kan Arya udah ijinin dia juga Bu...ibu maunya apa sih?"


" Kalau ibu butuh pembantu buat bantuin ibu, Arya yg cariin orang lain. Janganlah ibu jadikan istri Arya untuk seperti itu.!" kataku sedikit jengkel.


" Arya menikahi dia untuk dijadikan istri bukan pembantu atau tukang bersih-bersih. kakaknya aja memperlakukan dia dengan baik masa Arya memperlukan Dia buruk sih Bu?" kataku.


" kalau ibu carikan arya perempuan lain, yang sama kedudukan dengan keluarga kita... kata ibu, belum tentu Arya bisa cinta seperti Arya mencintai Mira.?" kataku.


" Ibu tolong doakan saja untuk keluarganya Arya. Arya tidak ingin punya 2-3 istri seperti Bapak. Arya pengen jadi lelaki setia walaupun tidak direstui sama ibu.!" kataku Jengkel sambil meninggalkan nya.


Aku menarik nafas ku perlahan dan panjang.


Seperti itulah ibu sekarang yg menuntut ku harus ini dan itu terhadap Istri. Terhadap Mira yang kurang di Restui nya itu.


Bisa saja sih kemarin aku menggagalkan pernikahanku dengan Mira secara resmi. namun aku memang benar-benar jatuh cinta kepadanya, jatuh cinta pada pandangan pertama sama seseorang yang begitu lugu dimataku.


Entahlah, mungkin kalau tidak bertemu dengan Mira sewaktu anaknya Livia itu sakit. mungkin aku belum menikah sekarang. mungkin aku masih bingung menentukan calon istriku, masih mencari sosok perempuan yang benar-benar pas di hati dan hidupku.


Alhamdulillah, aku bertemu dengan Mira. pertemuan yang tidak disangka-sangka.


kebetulan juga aku sangat suka dengan kerajinan yang mas Sakha produksi itu. adalah jalan untukku bertemu dengan Mira.


Entahlah, kenapa aku sangat mencintainya.


seakan kehadiran Mira melepaskanku dari bayang-bayang mantanku yang terdahulu.


Alunna Syaky Herdian Kamil seorang dokter spesialis juga, kami bertemu dulu di Surabaya. saat awal-awal aku menjadi dokter.


Namun sayangnya, saat itu dia harus menikah dengan Calon suami yg dipilihkan oleh orang tuanya.


keluarganya masih keturunan timur Tengah, maka sesuai kebiasaan keturunan dari mereka harus menikah lagi dengan keturunan yang sama?


saat itu hubungan kami sudah berjalan 5 tahun dan harus kandas begitu saja setelah calon suaminya datang. seorang lulusan hukum dari universitas di luar negeri. M Akmal Shaleh Mulabi .


Aku kalah mancung dan brewok saja darinya, pikirku sambil tersenyum.


Ibu selalu saja membandingkan Mira dengan nya, yang jujur aku tidak suka.


Membandingkan Istri ku dengan istri orang lain?


Mempermasalahkan mas Sakha yang tinggal di rumah ku sekarang. Aku dan Mira memang yang memintanya kemarin untuk tinggal di rumah milik ku.


***


" Mas, Ada tamu yang nyariin?" kata Arya pada ku. Dia tengah bersiap siap untuk berangkat ke Rumah Sakit. Aku menatapnya?


" Aku gak tau mas. Ada Dua orang di bawah?" katanya lagi.


" Mira kemana?" tanyaku lagi.


" Tadi sih lagi nganterin apa Gitu kerumah Ibu?" jawab nya. Aku terdiam lalu turun ke bawah.


Aku menatap Linggar dan pengacara nya itu yang berdiri saat Aku datang.


Sedikit ada rasa khawatir aku dengan kedatangan mereka.


Aku tersenyum, tapi tak lantas menyalami keduanya. Namun mereka lah yg seperti nya buru buru menyalami ku.


Aku sedikit menelan ludah ku.


" Mas... gimana kabarnya?" tanya Linggar sedikit berbasa-basi. aku tersenyum menatapnya.


" Alhamdulillah baik. Kamu sendiri gimana?" tanyaku.


dia hanya mengangguk kecil sambil tersenyum.


" Kamu kapan keluar?" Tanyaku padanya.


" baru tadi Mas saya langsung ke sini?" katanya menjawab ku.


aku sedikit pura-pura kaget Sambil Menatap nya.


Tak lama kemudian Mira datang, dia sempat memperhatikan Kami bertiga dan menyalami Linggar penuh curiga.


Tak lama kemudian Arya juga datang menghampiriku. dan menyalami mereka berdua.


Dia duduk di samping ku, mendampingi ku mungkin atas perintah Mira.


setelah sedikit berbasa-basi memperkenalkan Arya kepada Linggar. Aku meminta merah untuk membuatkan minum.


sesaat aku dan arya saling bertatapan.

__ADS_1


kemudian aku melanjutkan kan pembicaraan kami yang tadi.


" Oo.. ini kamu sekalian lewat sini mampir yaa?" kataku.


" kok bisa tahu kalau aku tinggal di sini sekarang?" tanya aku lagi kepadanya. dia kembali tersenyum kecil.


" Iya Mas, saya tahu dari Pak pengacara?" jawab nya.


aku menganggukkan kepalaku pelan.


" saya sengaja Mas mampir ke sini?" katanya kemudian. aku menatapnya sedikit dalam dan menelan ludahku perlahan.


" Sengaja mampir, Maksud nya??" kataku.


" Iya mas, saya sengaja mampir mau ngucapin Terima kasih ke Mas. Terima kasih karena meringankan kan masa tahanan saya." katanya.


Aku hanya diam, lalu tersenyum kecil.


" sebenarnya nggak harus kamu repot repot datang ke sini Linggar, Kan semuanya sudah diurus lewat pengacara. Jadi kalau ada apa-apa lagi ya silakan menghubungi pengacara saya." kataku.


" Iya Mas, tapi saya memang ingin bertemu dengan Mas?" katanya.


" Saya ingin mengucapkan terima kasih secara langsung, dan meminta maaf atas kelakuan saya yang tidak berkenan sama Mas?" katanya kepadaku.


aku kembali menelan ludahku sedikit sambil menatapnya.


" saya pikir, itu kejadian sudah berlalu cukup lama. Emang saya dulu sama Mas Bandi tidak ingin menyelesaikan ini secara kekeluargaan. sengaja ingin menghukum kamu.?"


" tapi setelah dipikir-pikir Mungkin saya juga punya salah sama kamu Saya minta maaf juga ya Linggar. agar pada saat itu emosi Kamu memang benar-benar tidak terkontrol dan rasa cemburu saya.?"


" saya cuma ingin mengakhiri pertikaian diantara kita berdua. Saya tidak ingin memperpanjang kasus kamu yang mungkin saja memberatkan keluarga kamu bahkan menyisakan dendam yang lain di hati kamu.?" Kataku.


mereka berdua memperhatikanku dengan sungguh-sungguh.


" Saya Juga sadar Mas. kalau saya ini yang memasakkan cinta kepada Ayu?" kata nya


" Saya memang yang ngejar-ngejar Ayu, sampai cinta buta sama dia.!" katanya.


" Sekarang, saya sadar Jika sesuatu yang dipaksakan itu memang tidak baik. saya sadar, saya lah yang memaksakan Segala sesuatu harus sesuai dengan keinginan saya.!?" katanya lagi.


" dan sekarang saya sudah ikhlas, insya Allah ikhlas Mas. menerima segala kenyataan yang yang sudah terjadi sama saya dan keluarga saya.!" katanya sungguh sungguh.


Aku sedikit tersenyum kepada mereka, sambil mempersilahkan mereka berdua untuk minum.


" sekarang Ayu gimana Mas kabarnya Ada di mana dia sekarang?" tanya Linggar kepadaku.


aku dan Arya saling bertatapan, sambil sedikit menarik nafas panjang aku menatap Linggar sambil tersenyum.


" aku sudah nggak tahu lagi kabarnya Ada di mana sekarang, kontak milikku sudah dia blokir begitu juga kontak Mira.?"


" hubunganku sama Pak Bandi juga menjadi renggang?" kataku.


" Kok bisa renggang Mas? Bukannya dia itu setuju kalau merah dekat sama mas?" katanya bertanya kepadaku, lantas aku tertawa kecil.


" kamu cuma menduga-duga saja Linggar, mungkin apa yang kamu lihat tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya?" jawab ku.


" Aku sudah punya istri, secara logika pun Pak Bandi tidak mungkin menyerahkan sepupunya itu kepadaku?" kataku Sambil tertawa.


" Sebenarnya dia dulu setuju setuju saja dengan kamu tapi keluhannya pada saat itu kamu itu sering minum itu yang membuatnya tidak suka sama kamu.


" Saat itu aku ingat betul kalau dia pernah bilang begini: tidak apa-apa Linggar menikah dengan Ayu, kan Ayu juga mau menerima Linggar. mungkin Ayu cinta. ya aku harus menghargai apa yang jadi di keinginan Ayu sama hidupnya?"


Kataku yg lantas membuatnya tertawa.


" Ayu itu nggak pernah cinta sama saya Mas dia memang cintanya sama kamu?" kata Linggar kemudian.


aku lantas terbatuk kecil karena mendengarnya berbicara seperti itu.


" sudahlah, terlepas dari itu semua ... jangan membicarakan tentang perasaan lagi. Aku nggak ingin kamu terluka dan Nggak ingin mengungkit kisah yang sudah berlalu?" Kataku. lantas kemudian Linggar tertawa kecil.


" aku udah nggak apa-apa kok mas?" katanya.


" kalaupun seumpama aku tahu sekarang kamu sudah menikah dengan Ayu, aku tetap menerima?" katanya lagi. Aku menatapnya sambil tersenyum bias.


" Sudah lah, semua sudah ada masanya. kamu Atau aku sekarang tinggal menata hidup. menyelesaikan yang kemarin yang sempat tertunda, sempat rusak , atau Sempat hilang?" kataku.


**


Aku sempat memikirkan perkataan dari kakak iparku dan juga tamunya itu, yang menyebabkan kerugian yang tidak sedikit hidupnya.


aku tahu Setelah itu, financial miliknya porak-poranda. belum lagi permasalahan lain yang timbul.


permasalahan lain yang disebabkan oleh dirinya sendiri terhadap perempuan yang mencintainya.

__ADS_1


__ADS_2