
" Mas??" kata ayu pelan sambil Menangis saat melihat ku. Aku menghampiri nya segera. Ada perasaan yang sangat bersalah aku terhadapnya itu.
Aku Segera menggenggam tangannya itu. Dia menangis tersedu-sedu Sambil menahan sisa sakit yang dia rasakan.
Aku tak kuat menahan rasa haru ku. Aku menangis sambil mencium tangan nya.
" Maafin aku Ay?" kataku sambil menangis.
" Aku gak nyangka kita bisa sejauh ini. aku buat kamu sakit, Dan aku menyakiti orang lain. maafin aku Ay?" aku menangis dan menggenggam tangannya erat.
" Mas, jangan tinggalkan aku?" pintanya terbata bata Sambil menangis.
Aku menatapnya, mengangguk dan mencium tangan nya kembali.
" Aku gak akan tinggalkan kamu Ay?"
" Aku janji lakukan yang terbaik buat kamu?" kataku.
" Maafin aku Ay... aku nyakitin kamu, aku gak mikir panjang Dulu?" kataku dalam dan merasa sangat berdosa terhadap nya.
Aku mencium keningnya perlahan, tubuh Terlihat sangat lemah.
" Mas, Aku gak tau kalau aku hamil, Sekarang Aku harus bagaimana.?" katanya sambil menangis. Aku mengangguk kecil.
" Udah, biar aku yang urus. kamu istirahat, pulihin dulu kesehatan kamu." kataku buru-buru mencegah nya untuk berbicara banyak.
" Kamu disini Dulu. Biar aku yang Handle, Nanti aku bicara sama Keluarga mu?" kataku.
" Jangan Mas. jangan sampai Keluarga ku Tahu kalau aku seperti ini." katanya sambil menggenggam tangan ku kuat.
" Aku belum siap, Aku takut." dan dia menangis.
Aku menatapnya dan hanya diam, Sejujurnya aku juga masih bingung dengan apa yang mesti ku perbuat.
***
" Aa... semalam Mas Bandi nanyain Aa? Aa kemana, kok telepon nya gak Aktif?" tanya Mira kepadaku sambil menyuapi Kylie makan.
" Aa ada urusan semalam, ketemu sama teman Aa dulu yang sekantor.?" kataku sambil mencium Kylie dan menggendong nya.
" Huupp, anak Papa yang Cantik. Makan sama apa Sayang?" kataku bermanja dengan nya, mencium cium pipinya. lalu aku tertawa saat dia mendorong wajah'ku. seolah tak ingin ku cium.
" Mira, Nanti kalau kamu sudah tinggal sama Arya, Aa bingung nanti Kylie siapa yang ngasuh?" kataku.
" Yaa biar saja sama Mira Aa?" jawab nya.
" Yaaa Aa gak enak sama Arya lahh?" kataku.
" Gak enak apa sihh Aa, kan ini keponakan nya juga?" jawab nya sambil menyodorkan sendok kecil ke mulut Kylie yang sepertinya sudah tak ingin makan.
" Ga mau?" katanya imut.
" Sesuap lagi yaa Bageur?" kata Mira. pada nya.
" Aa yg gak enak sama keluarga nya Arya Nanti?" kataku.
" Mbak Surti masih mau gak yaa ngasuh Kylie?" tanya ku.
" Kemarin dulu sih mbak Surti pernah bilang, katanya mau urus Cucunya yang baru lahir Aa?" jawab Mira.
" kalau bisa kamu cari orang lah Mira yg mau ngasuh anak kecil?" kataku.
Mira hanya Diam, aku mengelus rambut nya itu Sambil menatapnya tajam.
" Aa Rasanya gak percaya kalau kamu akhirnya akan ninggalin Aa dan pindah sama Arya?" kataku.
Kemudian dia memeluk pinggangku.
" Mira gak ninggalin Aa, Mira kan masih dekat disini Juga?" katanya. aku tersenyum.
" Kamu seneng kan yaa nikah sama Arya, udah gak sabaran?" godaku kemudian.
" Apaan sih Aa??" katanya sambil melepas pelukannya itu. Aku tertawa karena nya.
" Kamu gak sabaran kan mau praktekin Ilmu dari kitab " Quratul Uyun?" kataku sambil tertawa terkekeh.
Matanya sedikit melotot Kepada ku sambil menahan Tawa nya.
" Aa..!" katanya Keras sambil tersipu sipu.
Dan aku hanya tertawa.
__ADS_1
***
Sudah seminggu setelah kejadian itu, Ayu aku kontrakan di luar kota. Jauh dari orang orang yang mungkin mengenal nya.
Sengaja aku jauhkan dari jangkauan Keluarga nya juga Ataupun mira. Demi menutupi Aib kami.
Sudah dua hari aku pergi bersama dengan pak Bandi untuk membeli dan mencari Kayu jati atau yang lain sebagai bahan baku furniture ku.
" Yaaa Mira, ada apa?" kataku mengangkat telepon dari Adik ku itu.
" masih di Wonogiri Aa mir, ada apa sih. kok nanyain Aa pulang?" kataku heran.
" kamu baik baik aja kan, apa ada Masalah sama Kylie?" tanyaku. namun dia mengatakan bahwa semuanya baik baik saja.
Namun itu menjadi pikiran ku. Ada apa sebenarnya? pikirku.
***
Aku memang sengaja memberi tahu Sakha akan kedatangan ku. merahasiakan nya.
Sebelum nya, Aku menyangka akan bertemu dengan nya dan mungkin kami akan bertengkar karena ini.
Yaa, aku putuskan untuk mengambil Kylie darinya. dan juga memberikan nya surat gugatan cerai.
Aku putuskan untuk Bercerai saja dengan nya, hatiku terus terusan merasa sakit jika ingat tentang nya dan Estu.
Belum lagi dia yang masih berhubungan dengan Perempuan yg bernama Ayu itu. Dan entah sekarang sejauh apa hubungan mereka berdua.
Aku sudah memikirkan nya Secara matang dan bulat. lebih baik aku bercerai dengan nya.
Mungkin satu atau dua hari lagi dia akan menelfon ku.
Menanyakan ini dan itu, bertanya kenapa dan sebagainya. dan aku sudah menyiapkan jawabannya.
Bukan tak sakit jika mengingat tentang segala kebaikan nya, tentang Cinta nya yang tulus terhadap ku. dan sejuta kenangan manis tentang nya.
Namun rasanya aku tak bisa? apalagi keyakinan kita yang berbeda ini, akan lebih susah di terima nanti nya.
Aku mencium kening Anak ku yg baru saja tertidur. badannya sedikit hangat setelah menangis tadi, menanyakan bibi nya Mira dan memanggil nama Papa nya.
Semoga saja dia akan segera terbiasa dengan ku.
***
Aku merasa lemas, pandangan ku kosong dan mencari Anak perempuan ku.
Aku menuju kamarnya, mencari cari Kylie yang sudah tak ada yg telah di bawa oleh ibunya tersebut.
Aku membuka lemari pakaian miliknya. Aku menciumi bajunya yg tersisa itu sambil menangis.
Rasanya hatiku sakit, Aku rindu dan menginginkan Anak perempuan ku itu.
Aku terus menangis mencium baju nya yg rasanya masih harum dengan wangi bedak dan minyak telon nya itu.
Sungguh aku merindukan nya. aku semakin merasa tak mampu menjaga nya.
" Aa Sakha?" kata Mira dengan suara bergetar. aku menatapnya dengan Air mata yg tergenang.
Aku bergetar, menahan Tangis ku agar tak bersuara.
Rasanya berat, Sakit Sekali Rasanya di tinggalkan Putri ku Secara ini.
Aku mengusap air mata ku. memandang Mira yg mendekati ku yang duduk bersandar di dinding.
Dia memeluk ku.
Tangis ku pecah, sungguh aku tak tahan lagi menahan luapan emosi yg berkecamuk di hati ku.
" Semoga kamu Enggak dapat lelaki macam Aa yang nggak berguna ini Mira?" kataku sambil menangis.
Aku menyalahkan diri ku sendiri.
"Aa harus kuat?" katanya yg ikut ikutan menangis.
***
" Mas? " kata Mira kepadaku Yang sepertinya ingin mengatakan sesuatu. aku menatapnya dalam.
" Iya Mir? Ada apa?" tanyaku.
dia menatap ku ragu-ragu. seperti ingin mengatakan hal yang serius. aku memegang jemarinya, sambil menatap ya selain mengatakan Ya ada apa semua baik-baik saja.
__ADS_1
" Mas, boleh nggak setelah kita menikah nanti, kita ajak Aa untuk tinggal di rumah Mas bersama kita.?" katanya setengah ragu-ragu. aku hanya tersenyum.
" ya boleh saja Mira? tapi Aa nya apa mau mau?" kataku lagi.
" Iya Kita bujuk lagi Mas aku nggak tega membiarkannya sendirian di rumah kontrakan ini. apalagi sewanya sebentar lagi akan habis?" katanya.
" dan juga lokasi gudang yang sekarang lumayan jauh dari sini. kalau Aa tinggal sama kita kan itu membuatnya sedikit lebih dekat?" katanya beralasan.
" Iyaa, semua sih terserah kamu sama Aa kamu. kalau mengenai izin aku yaa memperbolehkan. aku enggak mempermasalahkannya.?"
" Tetapi kalau aku boleh menyarankan, Aku gak ingin kamu merasa kerepotan nantinya harus mengurus aku dan Aa mu?" kataku.
" insyaallah Jika kamu mengizinkan Mas, Aku tidak akan merasa keberatan atau capek untuk memberikan tenaga aku sebagai bentuk pengabdian terhadap suami dan kakak lelakiku.?" katanya
" bagaimanapun Aa sangat berjasa terhadapku Mas, selama ini dia menjagaku dengan baik, memperhatikan dan mematuhi keinginan almarhum Ambu kepada ku.?"
" walaupun pun cuma menyekolahkan aku paket C dan kursus salon biasa. Aa masih meluangkan waktu dan membagi rezekinya untukku di keadaannya yang seperti itu?" katanya sedikit haru.
" Aa memberikan aku tempat tinggal baik dan makan yang cukup selama ini Mas?" katanya sambil menatap ku.
" Aku beneran nggak tega meninggalkannya sendirian Mas, aku kasihan kamu yang seperti hidup berjuang sendirian.!?" tambah nya lagi.
" Mas nggak akan melarang kamu Mira untuk merawat Aa kamu kalau dia mau. nantinya pun kita kan tinggal di rumah sendiri, dan aku rasa rumah kita terlalu besar kalau hanya dihuni oleh kita berdua?" kata ku
" insya Allah aku tidak merasa keberatan Mas, Jika sudah kamu izinkan." katanya yang terdengar sangat dalam. Aku hanya tersenyum.
sebelumnya mira bercerita kalau kakak iparnya, Livia melayangkan gugatan terhadap Mas Sakha, juga membawa Kylie pergi.
aku jadi menduga-duga, Apakah livia mengetahui dan gara-gara itu dia melayangkan gugatan terhadap kakak iparku ini?
Mengenai peristiwa yang terjadi di klinik beberapa saat yang lalu.
namun aku hanya diam terhadap Mira yang bisa jadi tidak tahu pokok permasalahannya. Apalagi aku sudah dituntut janji oleh Mas iparku tersebut, agar merahasiakan ini semua.
Aku merasa sedih saat Mira tadi menceritakan keadaan kakak iparku tersebut yang sepertinya kehilangan sesuatu.
setiap kali dia pulang kerja pasti akan menuju kamar Kaili terlebih dahulu. hanya sekedar untuk mencium pakaian yang pernah dipakai oleh Kylie, serta mencium sisa bedak dan minyak telon yang pernah dipakai oleh anaknya tersebut.
aku belum begitu mengerti tentang rasa kasih seorang ayah kepada putrinya. mungkin karena aku belum pernah mempunyai seorang anak, tapi aku bisa mengerti dengan kondisi psikologis seperti itu.
Aku pun merasa iba terhadap Mas iparku tersebut.
**
" Rencananya nanti tanggal 18 bulan depan anne-marie mau melangsungkan pernikahan resmi dengan Mira? kalau bisa kamu datang ya?" kataku kepada Livia.
hanya terdengar suaranya yang tertawa dari jauh sana.
" Mas Sakha kasihan nggak punya pendamping yang sebagai wali dari Mira.?" kataku lagi
" lagipula sepertinya masa aku kangen banget sama Kylie, Livia?"
" Selain kamu ngucapin selamat ke aku, kamu ngasih kesempatan Mas Sakha untuk bertemu dengan Kylie.?" " Yaa sebenarnya aku nggak mau ikut campur, tapi terlanjur kita sudah menjadi keluarga jadi mau nggak mau aku tahu sedikit tentang Kalian?" kataku Berusaha hati hati.
Sebentar aku mendengarkan yang berbicara, memberikan alasan ini dan itu terhadap tindakannya tersebut.
" Bagaimanapun cara kamu itu salah Livia, ya memang dia anak kamu Tapi kan kamu harus memperhatikan psikologi anak kamu sendiri ataupun ayahnya!?"
" Kamu nggak bisa dong ambil dia begitu aja seperti kamu ngambil anak ayam dari induknya.?"
" Seharusnya kamu setidaknya permission sama Mas Sakha!"
" Gimanapun Mas Sakha itu punya perasaan, punya hati dan rasa sayang. apalagi sama anaknya sendiri.?"
" Sebenarnya aku nggak mau cerita ini sama kamu, tapi aku lama-lama kasihan sama iparku itu yang pulang kerja selalu Diam diam menangis sambil menciumi baju bekas Kylie?" kataku Bercerita.
" Lohh, aku gak mengada-ngada sama kamu Livia? ini memang benar apa adanya."
" Dia sampai seperti itu. Emang kelihatan dia tegar dan biasa saja sama orang lain, sama aku sendiri bahkan.!"
" Istilahnya, Mas Sakha itu diam-diam nangis di pojokan? gak percaya kan kamu orang seperti dia bisa seperti itu?" kata Ku terhadap Livia.
Di seberang sana Livia hanya Diam.
**
Apa benar dengan apa yang dikatakan Arya terhadapku tadi? bercerita tentang keadaan Sakha yang seperti itu.
karena selama ini tidak pernah ada telepon dari nya yang menanyakan kabar anaknya- atau ini dan itu?
Aku juga sedikit heran awalnya dan juga menunggu nunggu kabar atau telepon dari nya. kenapa sampai sekarang tidak ada sedikitpun dari nya kepadaku.
__ADS_1
sekedar pesan pun tidak ada.