Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.

Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.
Episode 112


__ADS_3

" Kamu baikan sama dia?" tanyaku Kepada nya sesaat kami meninggalkan rumah. Dia menatapku diam, Aku tersenyum.


" kok kamu bisa bilang begitu?" tanyanya.


" Itu, kamu sudah boleh lagi bawa mobil nya Livia?" kataku sambil tertawa.


dia menatapku sedikit malu.


" Enggak tahu lah aku Estu dengan jalan pikiran nya?" katanya.


" Aku cuma terima aja lah, apa yang Jadi maunya dia?" katanya lagi kepada ku.


Dan seperti itulah dia, yang selalu mengalah jika menghadapi sifat perempuan yang sering moody.


Dahulu dia juga begitu kepadaku.


" oh iya Bagaimana hubunganmu sama Haris?" katanya kepada aku.


aku sedikit memperhatikannya kemudian konsentrasi kembali mengemudi mobil ku yang dulu lu miliknya itu.


aku tertawa bias.


" sepertinya hubungan kamu serius, sampai-sampai mengajak kamu liburan ke Jogja?" katanya.


" Aku ke Jogja itu tidur di rumah keluarganya, kamu jangan mikir yang macam-macam?" Kataku menyangkalnya. Kemudian dia tertawa sambil menatapku.


" loh siapa yang nuduh kamu macam-macam? kan aku cuma bilang kalau hubungan Kamu sepertinya serius sama dia. sampai jalan-jalan ke Jogja?" katanya.


" kamu mau tidur di manapun sama dia Itu terserah kamu. urusannya kamu?" katanya lagi sambil tertawa.


" apalagi malah kamu bilang, tidur di rumah keluarganya Haris? bukankah itu menandakan, jika hubungan kalian itu serius?" Katanya.


" saran aja sih buat kamu, kalau masalah sepele itu jangan dibesar-besarkan. apalagi kesalahpahaman kemarin itu akan berbuntut panjang??" katanya.


" Emang!!" jawab ku. lalu dia menatapku.


" apa Lebih baik aku bantu ngomong ke Haris?" katanya.


" ngomong apa?" kataku sambil menatapnya sebentar.


" yang ngomong kalau kita itu udah nggak punya hubungan apa-apa lagi, selain urusan anak?" katanya.


" enggak perlu, enggak usah. Aku capek juga ngadepin sikap dia yang kekanak-kanakan. dikit-dikit marah dikit-dikit cemburu. ada aja hal yang diributkan sama dia?" kataku.


" ya kalau dia begitu, Itu tandanya dia beneran sayang sama kamu?" katanya


" aku yang capek kha... ngadepin dia yang seperti itu? lebih baik aku break dulu sama dia, saling intropeksi?" kataku.


Dia terlihat mengangguk kecil.


" Iya lebih baik break dulu sebentar, lalu mencari jalan keluar bersama-sama. daripada buru-buru menikah ketika menghadapi masalah ujung-ujungnya cerai?" katanya dalam.


Aku menatapnya Sebentar dan terdiam.


**


" kapan datang Nak?" kata mantan ibu mertuaku itu kepadaku.


" mungkin ada seminggu yang lalu Bu, mertua saya meninggal?" kataku memberikan alasan.


" iya, Estu juga sudah bilang ke saya. saya ikut berduka cita ya nak?" katanya kepada ku. aku hanya tersenyum kecil dan mengucapkan kata terima kasih.


" Bagaimana kerjaan kamu di sana nak?" kata Pak Kardiman dengan suaranya yang sedikit kecil.


Mungkin dia memaksa untuk berbicara denganku.


aku tersenyum menatapnya,


" Alhamdulillah baik pak. Bapak jangan memaksa berbicara istirahat saja?" kataku kepadanya.


" apa kedatangan saya ini mengganggu istirahat Bapak?" kataku.

__ADS_1


" Enggak kok Nak, malah bapak senang bisa bertemu dengan kamu?" katanya lemah.


" waktu sakit yang kemarin itu dia minta ketemu kamu loh nak?" kata mantan ibu mertuaku itu.


" dulu Ibu pernah minta sampaikan sama Estu ke kamu, entah dia sampaikan atau tidak? Katanya.


" sampai kok Bu Estu pernah berbicara seperti itu kepada saya." kata aku buru-buru menjawabnya.


" waktu itu saya belum punya waktu untuk datang ke Jakarta, kebetulan sekarang punya kepentingan di Jakarta Jadi saya sempatkan mampir ke sini?" kataku lagi.


Padahal tadi. ketika aku diajak oleh Estu, hampir saja aku menolak dan tidak ikut dengannya ke rumah sakit ini.


" Nak Bapak ingin berbicara sesuatu sama kamu." kata Pak kardiman dengan suara yang lemah.


Aku menatapnya.


" Iya pak, apa yang mau Bapak bicarakan sama saya. Saya siap dengarkan?" kataku.


kemudian dia memandang mantan ibu mertuaku dan juga Estu secara bergantian.


" sebelumnya Bapak mau minta maaf sama kamu, atas semua kesalahan yang pernah Bapak perbuat sama kamu?" katanya lirih dan terdengar sedih.


aku sedikit menarik nafasku. perasaanku tiba-tiba tak karuan, seperti deg-degan. Sebenarnya apa yang hendak dia katakan pikirku?


" sudah Pak, dari dulu saya sudah memaafkan dan melupakan segala kejadian yang menimpa saya.?"


" apapun yang terjadi dahulu, sudah tidak berarti lagi bagi saya. Karena sekarang baik saya atau Estu sudah punya kehidupan masing-masing. kami sudah berbahagia dengan pilihan hidup masing-masing?" kataku sambil memandang Estu.


Dia tersenyum lemah.


" Saya tahu kamu orangnya begitu, tetapi bagi saya pribadi. saya harus mengucapkan kata maaf dari mulut saya sendiri sama kamu.!" katanya.


" kalau cuma ingin mengatakan maaf, kan Estu bisa menelpon saya Pak. jadi tak sampai Bapak menunggu saya datang?" kataku Sambil Tersenyum kecil.


" Bukan begitu juga Kha? Bapak juga ingin membicarakan sesuatu sama kamu?" katanya. aku mendengar kan nya secara serius. sesaat dia berhenti, seperti sedang menarik nafas.


" Bapak ingin mengatakan sesuatu yang penting kepada kamu secara langsung?" katanya pelan namun jelas. itu membuat perasaanku semakin tak menentu mendengarnya.


lalu kemudian dia menatap Kami bertiga secara bergantian. tatapannya berhenti, ketika dia memandang Estu.


" Nak??" katanya.


" Bapak ingin kamu menikah lagi sama Estu?" katanya yang membuatku syok mendengarnya. mata Estu sedikit terbelalak.


" Bapak ngomong apa sih?" kata Estu kemudian.


" Sakha itu udah punya istri pak? bapak jangan ngaco deh??" kata Estu Terdengar senewen.


Pak kardiman mengangkat tangan nya. seolah meminta Estu berhenti berbicara.


" Mau kamu nikahin dia secara siri pun. bapak akan merestuinya?" katanya. aku dan Estu saling bertatapan. Estu menghela nafasnya berat.


Sesaat kami terdiam. aku menatap beliau.


" Maaf Pak permintaan Bapak ini terlalu sulit buat saya dan Estu. Saya sekarang sudah mempunyai istri dan anak dari orang lain??"


" dan saya tahu jikalau Estu sekarang sedang dekat dengan seseorang dan hubungan mereka serius Pak?" kataku.


..


" sepertinya kami tidak mungkin menikah lagi?" kataku.


" Tolong lah nak, Bapak minta sama kamu. Bapak ingin menebus rasa bersalah Bapak sama kamu.?" katanya sambil menggenggam tanganku.


aku tertawa bias, sambil menatap Estu dan ibunya.


" Saya enggak tahu Pak, saya enggak bisa memutuskan. Saya takut menyakiti hati Estu lagi nanti nya?" kataku.


" Dan belum tentu juga Estu mau sama saya lagi semisal saya masih menduda pun??" kataku sambil menatap Estu.


" akan lebih baik jika Estu hidup bersama lelaki yang dia inginkan?" kataku.

__ADS_1


" mau dengan siapapun Estu menikah, kalau bukan dengan kamu Bapak tidak akan merestui nya?" katanya, yang seperti terdengar mengancam Estu.


lalu aku menatap Estu dan tertawa bias yang pusing.


Bagaimana mungkin sekarang Bapak Kardiman bisa berpikiran seperti itu kepadaku.


" tolong lah kamu bimbing Estu, karena Bapak yakin kamu pasti mampu. Bapak juga masih yakin, jika kalian berdua masih saling mencintai?" katanya sambil menatap dan menggenggam tangan ku.


Aku jadi bingung, harus berbicara apa atau menjawab apa terhadapnya.


Kenapa masalah dalam hidupku silih berganti, dan tak berhenti.


Sesekali berhenti pada bagian yg happy ending misalnya.


Aku hanya Diam. tak tahu harus bicara apa, Estu juga Diam. sama seperti ku. Aku menatapnya.


Setelah kami berbicara tadi, Aku dan Estu tak langsung pulang. kami masih duduk di tepian taman rumah Sakit ini.


" Maaf ya Kha? kalau tadi Bapak berbicara seperti itu sama kamu?" katanya. aku hanya tersenyum.


" jujur aku nggak ngerti jalan pikiran bapak gimana? bisa-bisa sekarang dia meminta aku untuk menikahi kamu. padahal dia dulu sangat...??" kataku terhenti.


Estu tersenyum kecil.


" aku pikir karena kondisinya itu, sekarang Bapak sering berbicara ngelantur. Sudah beberapa kali dia berbicara seperti itu kepadaku, namun aku nggak tanggapin?" katanya.


Aku menatapnya tajam.


" Udah gak usah Geer??" Katanya sambil terbatuk-batuk kecil.


" Iya kamu ngomongnya pelan-pelan aja??" kataku. Sambil tertawa.


Namun, lama-kelamaan Malah seperti akan muntah.


seperti orang yang sedang masuk angin.


" kamu tadi sarapan nggak sih?" kataku.


" Sarapan tadi aku sama telur dadar?" katanya yang terus terbatuk seakan-akan mau muntah.


kalau dia permisi kepadaku untuk pergi ke toilet. aku duduk menunggui nya di sini.


tak begitu lama kami berjalan pulang, Aku yg membawa mobil nya itu.


Estu malah terkulai lemah di sampingku. Sepertinya dia tidak berdaya, badannya terasa hangat saat kusentuh.


" Apa kamu mau kita mampir ke dokter dahulu?" tanya ku.


" enggak usah kau pengen pulang aja, Bukannya kamu nanti siang juga harus pulang ke Jawa?" katanya.


aku hanya mengangguk mengikuti perintahnya itu.


namun baru saja mobil berhenti di depan rumahnya dan mesin mobil belum sempat ku matikan. Estu cepat-cepat masuk ke dalam rumah menuju kamar mandi.


terdengar suaranya yang muntah-muntah hebat.


Apa mungkin penyakit lambungnya kumat? pikirku.


" kita ke dokter aja yuk?" Kataku padanya.


Sambil jongkok, dia melambaikan tangannya.


" nggak usah kah ini cuma masuk angin biasa Mungkin aku kecapean kemarin ngurusin Rio di rumah sakit?" jawab nya Sambil muntah.


aku mendekati Estu lalu memijit-mijit tenguk nya. Dia kembali muntah muntah.


Kemudian aku meminta mbak Yuti agar membuat kan nya teh hangat dan minyak kayu putih untuk mengerik.


Aku menunggui Estu sampai dia selesai di kerik. pantas saja dia begitu, karena masuk angin. pikirku.


" Sekarang udah baikan belum?"

__ADS_1


" Aku antar ke dokter yaa?" Kataku.


__ADS_2