Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.

Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.
Episode 71


__ADS_3

" Aku antar kamu nanti ke rumah apa Rumah sakit Livi?' katanya terdengar sambil menatap Livia yang duduk di sampingnya yg sedang mengemudi itu.


" Ke rumah sakit ajalah Kha. tadi pagi dokter kirim pesan katanya mama sudah sedikit sadar." jawab nya.


" Yaa sudah.!" jawab nya.


" Estu, aku nanti antar Livia dulu ke rumah sakit ya. baru antar kamu, atau Gimana?" tanyanya sambil melihat ku dari spion.


" Gimana nanti ajalah.!" jawab ku singkat.


Dia hanya mengangguk pelan.


Tak lama kemudian, anaknya si Danesh merengek ingin Makan. Yah mungkin karena tadi masih pagi, dan Danesh masih mengantuk saat di suapi, jadi merasa lapar sekarang.


" Nanti ya Sayang, kita berhenti di rest area. mau makan apa Danesh?" tanyanya lembut kepada anaknya itu.


Tak lama kemudian, Sakha melambatkan laju mobil nya dan menepi kesebuah area SPBU yang ada restoran cepat saji nya. kemudian memarkirkan mobilnya di antara mobil lain.


" Ayo pipis Dulu sama Papa?" Katanya sambil mengajak kedua anaknya itu ke toilet umum laki laki.


Aku dan Dia pun Sama, langsung ke toilet.


Ketika aku keluar dari toilet. Sakha sudah Tampak menyuapi Anaknya itu. dan melambaikan tangannya kepada kami. lantas kami menghampiri nya.


" Mbak, kamu mau makan apa. sekalian saya pesan kan?" katanya kepada ku. Aku menatapnya sedikit tersenyum.


" Aku pesan sendiri saja." Jawab ku sambil mengikuti nya dari belakang.


***


" Aku mau beli kopi dulu ya, Ini Danesh sama lio tolong di suapin.!" katanya sambil berdiri dan sedikit menguap. Sepertinya dia lelah.


" Kha, sekalian kamu beli makan loh. biar gak berhenti Berhenti lagi nanti?" katanya kepada Sakha. Dia hanya mengangguk sambil pergi.


" Mbak, besok kerja atau libur?" tanya nya sambil menyuapi Lio. sedangkan aku menyuapi Danesh.


" Hmmh, aku kerja lima hari, dua hari libur. tapi kadang Sabtu ikut seminar atau ada kunjungan Dinas." jawab ku.


" Enak ya mbak." katanya sambil sedikit tertawa kecil


" Kalau saya sekarang lagi nganggur. kemarin kerja terakhir di Solo." katanya.


" Mama kamu sakit apa?" tanyaku sedikit Berbasa-basi.


" Kena kanker mbak, Kanker nya ada di paru paru." jawab nya.


" Sekarang jaga siapa? Adik kamu??" tanyaku lagi.


Dia tersenyum kecil Kepada ku.


" Aku anak tunggal Mbak, kemarin aku titipkan sama perawat. ya khusus ngebantuin Mama pas masih Sadar. karena aku kan juga mesti kerja kemarin?" jawab nya.


" Dari semenjak mama sakit sakitan lah mbak, sebelum kenal Mas Sakha. aku ajak mama pindah ke Jakarta ini. tadinya di Surakarta." katanya


Aku jadi berfikir Sesuatu. Mungkin karena??


Tak lama kemudian, Sakha kembali Sambil membawa kopi panas di tangan nya.


" Anak anak emang laper kayaknya yaa Estu.. tuh makan nya pada habis?" katanya sambil mengusap rambut Danesh.


" Aku Kesana dulu ya, mau ngerokok bentar?" katanya sambil membawa kopi nya itu. aku hanya mengangguk.


aku sedikit memperhatikan Sakha yang duduk bersandar itu, merokok sambil menikmati kopinya.


" Livia, aku mau tanya lagi ke kamu. maaf bukannya aku mah mengulang kembali Cerita ini." kataku sedikit hati hati.

__ADS_1


" Apa Mbak?" katanya sedikit tegang.


" Emang benar kalau kamu di suruh Bapak ku untuk kenalan sama Sakha?" Tanya ku. Dia menatapku tajam, lalu tertawa kecil.


" Iya mbak, memang Seperti itu adanya. Pak kardiman Lah yang suruh Aldes teman saya yang mengenalkan saya dengan Sakha."


" Jujur sih mbak, awalnya saya hanya ingin main main. tapi setelah dekat dengan nya saya jadi??" katanya terhenti.


" Maaf ya mbak, atas kejadian yang sudah lalu itu. maaf juga karena saya, mbak berdua jadi Bercerai?" katanya lirih.


Aku hanya tersenyum kecil sambil menatap nya Sebentar.


" Apa sekarang Sakha punya Pacar?" selidik ku lagi.


Dia menatapku lekat Sambil sedikit menghela nafasnya.


" Bilangnya sih Gak sengaja, Perempuan nya yg suka sama dia. Tapi ya aku gak percaya begitu saja mbak sama dia." katanya sambil menatap ku tajam.


seperti mengingat sesuatu lalu dia tertawa.


Aku sedikit Bingung Kepada nya itu, apa yang dia Tertawakan. tetapi? Aku menjadi ingat sesuatu juga. mungkinkah Posisi nya seperti aku Dahulu.


" Ngerasain Apa? Kok kayaknya seneng betul?" Tanya Sakha yang tiba-tiba muncul itu. kami Berdua Menatap nya.


" Kamu masih capek Kha?" tanya nya. yang ditanya langsung menggeliat kecil.


" Aku yang bawa mobil aja, kamu tidur sama anak anak di belakang?" katanya sambil menatap ku.


" Kalau sudah sampai Bekasi, gantian ya?" Katanya lagi. Sakha hanya mengangguk kecil sambil sedikit menatap ku.


" Bak kalau capek istirahat aja. gak usah nemenin saya nyetir." katanya sambil menoleh kepadaku yg berada di samping nya itu. Sedangkan Sakha ada di belakang dengan anaknya.


Sepanjang jalan kami Bercerita sambil mendengarkan lagu yg di putar di radio mobil.


Sesekali kami tertawa Bersama, menertawakan berbagai Macam Hal. seperti tak ada sekat diantara kami. Saling Bertanya satu sama lain.


Ternyata, Pribadi nya baik dan hangat. Easy Going dan nyambung mau diajak bicara apapun.


Pantas saja Sakha enggan melepaskan nya dulu. Selain Cantik dia juga Biasa saja.


Iya, Aku menemukan sedikit persamaan antara aku dan Dia. Susah untuk di bicarakan sih. tetapi Ada point tertentu yang menjadi patokan bahwa Sakha menyukainya itu sama seperti menyukai ku.


Ada Tipikal yg sama diantara kami Berdua yg mungkin itu daya tarik tersendiri, musabab Sakha mengapa memilih Kami.


Istilah nya satu Tipe.


" Kha.. sebentar lagi Bekasi, bangun loh!" katanya sedikit terdengar keras membangun kan Sakha yang tertidur pulas itu.


" Kha Bangun!" kataku lagi sambil mengarah kepada nya.


Tak lama Sakha menggeliat kan tubuh nya perlahan.


" Kalau ada SPBU, belok aja dulu Livi. sekalian isi bensin. tadi kan kita cuma mampir makan." katanya.


" Aku juga kebelet pipis." katanya sambil mencium Rambut Anaknya.


" Nanti kapan kapan, ajak anak mu ke rumah ya Livia. Biar kenal sama Kakak nya!" kata ku Kepada Livia yg sontak memandang ku sebentar. lalu terlihat memandang Sakha dari spion nya.


" Iya mbak, nanti Sakha bawa dia dari Jawa. kalau Mama sudah Sembuh. Biar Aku gak terlalu kewalahan ngurus nya?" jawab nya kemudian.


Aku hanya tersenyum.


***


Dia tampak memeluk pinggang Sakha dan tersenyum kepadanya ketika akan kembali ke mobil ini.

__ADS_1


Kemudian Sakha sedikit bergegas menghampiri ku, yang akan gantian ke toilet. karena anak anak masih tidur.


" Mbak, biar aku Duduk di sini saja. mbak didepan temanin Sakha yang nyetir.?" katanya kepada ku setelah aku selesai dari toilet. Aku hanya tersenyum sambil menatap Sakha sebentar.


Sesampainya kami memasuki wilayah Jakarta, mobil yang di bawa Sakha langsung menuju Rumah Sakit Kanker dimana Mama nya Livi di Rawat.


***


" Sebentar saja, aku mau jenguk mama kamu." katanya kepada Livia. Aku sedikit heran namun hanya diam.


Kemudian memakai kan Masker Kepada kedua anak ku yang masih kecil ini.


Kami berjalan beriringan, menuju kamar tempat Mama mertua ku di rawat.


Dia tampak memegang tangan Mama mertua ku yang masih terlihat lemah itu, kondisinya belum sepenuhnya sadar dari koma.


Estu tampak menguatkan Livia, seraya Memeluk nya sebentar sebelum berpamitan kepada nya.


" Kha, kamu langsung pulang ke Purwakarta apa kapan?" Tanya Livia Kepada ku. aku menatapnya.


" Ya setelah aku antar Estu sama anak anak. Aku langsung Pulang. Mau ketemu Rudi dulu sebentar.!" jawab ku.


"He'em...Hati hati ya." katanya sambil sedikit mendekat kepadaku. aku memeluknya sambil mencium rambut nya itu.


" Makasih ya mbak, mau mampir." katanya kemudian kepada Estu yang diam. Dia menatapku lalu tersenyum kepadanya.


" Semoga mama kamu cepat sembuh ya?" katanya yg dibalas senyum oleh Livia.


pemandangan yang indah. pikirku.


Lalu kami meninggalkan Livia, Aku berpamitan mengantar Estu.


***


Ada perasaan cemburu tadi, saat Sakha mencium dan memeluk dia sangat lembut. Aku sedikit tak tahan akan kemesraan mereka berdua.


Tapi ya sekarang aku punya hak apa?


Aku hanya diam sepanjang perjalanan menuju mobil dan Rumah ku.


" Estu, kamu capek ya?" katanya kepada ku.


Aku menoleh kepadanya.


" Sedikit." kata ku menjawab pelan. dia terlihat mengangguk.


lalu terdengar tarikan nafas nya itu.


" Terima kasih ya, sudah mau nengokin Abah kemarin!" katanya lagi. aku menatapnya dan hanya diam. terlihat wajah gusar nya Menatap ku.


" Maaf, kalau ada tindakan yang kurang berkenan di kamu?" katanya sedikit buru buru. aku hanya tertawa kecil Tampa menatap nya.


Aku sih, gak masalah kamu mau semesra apa kamu sama dia. tapi bisa mungkin ya tak melakukan nya di sembarang tempat!" kataku sedikit kesal.


Dia sedikit terlihat bingung namun hanya diam.


" Kan aku cuma pamitan tadi sama dia?" katanya.


Namun aku hanya diam Sampai Depan rumah ku itu.


Kemudian Sakha tampak menurunkan barang bawaan ku dan sedikit oleh oleh yg diberikan oleh Elis tadi pagi. Dia mengikuti langkah ku yang menggandeng Lio.


" Kamu mau kopi!" tawar ku kepada Sakha. dia hanya mengangguk kecil sambil berjalan ke toilet rumah.


lantas aku meminta mbak Yuti untuk merebus Air nya. Dan meracikan kopi untuk Sakha dan menaruhkan nya di meja ruang tengah.

__ADS_1


Aku bergegas ke kamar untuk ganti. namun ketika aku keluar dari kamar, dia sudah tergeletak di lantai berkarpet di samping Anak nya yang menonton TV itu. Sepertinya dia lelah, dan tertidur. Aku membiarkan nya.


__ADS_2