
Setelah bersusah payah tadi aku mengangkat nya ke kamar tamu Berdua dengan mbak Yuti.
Aku mengompres nya sambil menunggu Dokternya datang. sesekali aku mengusap air mata yang mengalir dan jatuh ke pipiku.
Aku baru sekali ini mendapatinya sakit sampai tak sadarkan diri.
dahulu sesakit apapun dia, masih kuat dia melakukan aktivitas ini dan itu. tidak sampai seperti ini.
Entahlah, Aku juga tak tahu kenapa aku bisa menangisi nya.
Air mataku ini rasanya mengalir tak berhenti sedari tadi. rasanya ada rasa perih dan kesedihan padanya. dan saat aku melihatnya yang menggigil tadi Rasanya aku takut jika dia sampai mati.
" ini harus dibawa bu ke rumah sakit?" kata dokter nya kepada ku.
aku menatap dokternya sedikit bingung dan bertanya tanya.
" emangnya ini sakitnya apa ya Pak dokter, Kenapa harus dirawat di rumah sakit.?" tanyaku.
" diagnosa awal saya sih Bapak terkena demam berdarah. tapikan untuk memastikannya harus periksa di lab?" Jawab nya.
Aku sangat kaget mendengarnya dan rasanya tidak percaya.
" Bapak tekanan darahnya juga sangat rendah Bu. Saya tidak mau ambil resiko kalau dirawat di rumah?" katanya kemudian. Lalu aku mengangguk.
Dengan berbekal surat keterangan dari dokter. dan dengan dibantu oleh dokter dan mbak Yuti. Aku membawa Sakha ke rumah sakit terdekat.
Hampir jam lima pagi Aku di rumah sakit ini. kondisi Sakha yang belum sadarkan diri. membuatku tertahan di samping nya.
***
Dimana ini? pikirku menerawang sambil memandang langit-langit yang berwarna biru itu. perlahan aku memandang ke sekeliling, ruangan kecil yang ber horden sebagai sekatnya.
Apa mungkin aku?? pikirku.
kemudian aku menoleh ke sampingku. di sana ada Estu yang sepertinya tidur. aku menyentuh kepalanya yang bersandar di ranjang tempatku tidur. aku merasa lemah.
" Estu.. Estu?" Panggil ku.
tak berapa lama dia terbangun dan menatapku.
" Kamu sudah sadar Kha?" katanya. aku memaksa sedikit tersenyum.
" kok aku sampai disini?" tanyaku kemudian.
" Semalam kamu tertidur di mushola. saat aku coba bangunin kamu, aku pegang, badan kamu panas banget. Mana kamunya nggak bangun-bangun.
aku takut kamu mati di rumah aku jadi aku bawa ke sini?" katanya kemudian.
Aku sedikit tersenyum kepada nya.
" Terima Kasih?" kataku Pelan.
" terus keadaannya Lio gimana?" tanya ku.
" Dia ada di rumah, masa kritisnya sudah lewat?" jawabnya. aku mengangguk pelan.
"kamu kalau mau pulang, pulang aja. besok kan kamu kerja?" kataku.
Dia menatapku seperti Tak tega.
" aku baik-baik aja kok. aku kuat, aku juga nggak mau mati Disini?" kataku mencoba bercanda kepadanya.
dia hanya sedikit tersenyum.
tapi dia menatapku dengan pandangan yang seolah-olah ingin mengatakan sesuatu. rasanya itu menggetarkan hatiku.
aku merasakan kesedihan nya, aku merasakan kalau dia sedang menahan tangisnya.
" Aku baik-baik saja..., kamu pulang gih?" kataku berbicara sedikit kuat.
" Kamu besok harus kerja dan dan Lio harus kamu kontrol?" kataku.
" besok kalau aku sudah boleh pulang, nanti aku jenguk Lio?" kataku lagi sambil memaksa untuk tersenyum.
" I Will be okay, Gak usah khawatir." kataku.
__ADS_1
dia malah menangis sambil memelukku, tangisnya pecah membasahi dadaku. Aku terdiam.
" Estu, aku gak apa-apa? kok kamu sentimentil banget sih??" kataku. mungkin ada beberapa menit dia menangis, namun ku biarkan.
" Janji ya Kha? kamu gak mati Disini?" katanya sambil memaksa tersenyum. Aku membalas senyumannya itu.
" Aku kan Sudah pernah bilang sama kamu, kalau aku pingin mati di kampung Aja. biar dekat sama Abah, Ambu sama Amih ku." jawab ku.
Dia diam tertegun sesaat memandang ku. namun dia menangisiku lagi? Seperti ada yg aneh pikirku.
Caranya Kepada ku. Canda dan tangisnya yg Seolah olah itu bukan dia. Estu yg aku Tahu.
Seperti dia bukan Estu yg biasanya??
Akhirnya dia Pulang meninggalkan ku sendiri di rumah sakit ini.
***
Dua hari dua malam aku di rawat di rumah Sakit ini. Hari ini aku sudah di perbolehkan pulang.
" Bapak tidak ada yg menjemput?" kata perawat yg mendorong kursi roda ku menuju lobby utama rumah sakit.
" Gak ada mas, istri saya kerja juga anak saya masih kecil-kecil?" jawab ku.
" Saya juga gak mau ngerepotin saudara yg sibuk?" kataku sambil tertawa kecil.
" Terus pulang naik apa?" tanyanya lagi.
" Taxy online mas. biar gampang?" kataku.
" Saya udah kuat jalan juga kok mas?" kata ku lagi.
Namun yg kudapat hanya tatapan iba dari nya.
" itu mobil nya mas, terima kasih ya atas bantuan nya?" kataku padanya yg di balas dengan senyuman nya itu.
Apakah aku se menyedihkan itu Dimata orang lain?? kataku dalam hati.
**
Aku membungkukkan badan ku, berjongkok sambil memeluknya.
" Bapak sudah sembuh?" tanya Mbak Yuti yg berbasa-basi Kepada ku itu. aku hanya tersenyum.
" ibu kerja mbak?" tanyaku.
" Iya Pak, tadi pagi di jemput sama pak Haris?" katanya. Aku hanya diam sambil menatap Anak ku. lalu bergegas berdiri, mengajak nya masuk kedalam rumah.
" Yaa Hallo?" kataku menjawab telepon dari Livia.
" Kamu di mana Kha? katanya dirawat di rumah sakit?" tanyanya yang terdengar seperti tidak sungguh-sungguh.
" Aku baru saja sampai di rumahnya Estu. dua hari kemarin aku memang dirawat di rumah sakit?" jawab ku.
" oh di rumahnya Mbak Estu? ngapain lagi kamu di sana?" tanyanya yg terdengar nyinyir. aku Sedikit kuat mengembuskan nafas ku.
" kemarin sebelum ke rumah sakit. barang punya ku, Aku tinggal di rumahnya Estu. sekarang aku mau ambil sekalian pamit!" kataku menjelaskan nya.
Aku menelan ludah.
" kamu mau langsung pulang ke Jawa? udah pengen nemuin Ayuk ya!" katanya yang terkesan meledek sekaligus menyinggung.
aku menghela nafasku kembali sedikit kuat.
" kamu mau ngomong apa sih Livi?" kataku mengalihkan pembicaraan. sungguh, aku tidak punya energi untuk meladeni ya.
" kalau kamu nggak buru-buru, kamu temui Kylie sebelum pulang ke Jawa?" Katanya.
" Kenapa, buat apa lagi?" kataku.
" Kok pakai tanya kenapa, pakai tanya buat apa lagi? dia kan anak kamu juga. kamu nggak mau pamitan sama dia?" katanya yang seolah-olah mencari celah untuk ribut.
" Livia bukan aku nggak mau nemuin anakku, tapi aku memang buru-buru harus pulang ke Jawa. banyak sekali pekerjaan yang harus aku selesaikan di sana. kan kamu tahu kalau Pak Bandi nggak mau bantu aku lagi?" kataku menjawabnya.
" Barang sejam atau 2 jam, kamu enggak bisa meluangkan waktu kamu buat anakmu Kylie? emangnya anak kamu itu cuman yang dari Estu?"
__ADS_1
" terus terang Livia, aku masih merasa lelah dan ingin numpang tidur siang di rumahnya Estu."
" Aku masih lelah dan gak ingin ke mana-mana?" Kataku menjawab nya.
" bukan masalah Aku pilih kasih sama anakku, tolong lah kamu ngerti sedikit. aku nggak bisa jadi Superman terus-terusan?" kataku lagi.
" kamu ngomong aja sih Kha, kalau mau aku jemput atau aku jenguk ke sana?" katanya.
" nggak usah repot-repot, aku nggak mau di jenguk apa lagi pakai dijemput jemput segala? aku pulang dari rumah sakit aja naik taxi online? gak ada istilah jemput jemputan?"
" Aku nggak pengen ngerepotin kamu.?" kataku
lagu terdengar tawanya yang seolah mengejekku.
" Sekarang kamu lagi kena azab ya Kha?" katanya.
tiba-tiba ada perasaan yang sepertinya menusuk di dadaku. perkataan yang tadi membuatku merasa sakit, Sebenarnya apa yang dia mau dariku.
aku kembali menghela nafas ku sambil mengelus dada dan mengucapkan istighfar perlahan.
" kamu mau apa sih Livia? kalau kamu mau aku datang ke sana nengokin Kylie tunggu sebentar aku siap-siap aku ganti baju dulu sama mau mandi. selama di rumah sakit Aku nggak mandi?" kataku.
" kalau cuma itu mau kamu dari aku nggak perlu lah kamu menghakimi kejadian yang menimpa aku? biarlah itu menjadi rahasia Tuhan dan teguran bagiku?"
" Iya, teguran dari Tuhan kan sama aja dengan azab?!" katanya mengulang yang menyakiti perasaanku.
aku mengusap wajahku seraya membaca istighfar berulang-ulang ulang, menahan amarah yg timbul karena ya.
" terserahlah apa kata kamu, sekarang aku tanya kamu maunya apa?" kataku lagi.
" bukan maunya aku, tapi kalau kamu merasa masih punya tanggung jawab sama anak kamu. tengok dia kamu juga harus pamitan dong sama dia?" katanya.
" Iyaa... itu aja?" kataku sedikit Pelan. Dia Diam.
" tapi aku ke rumah kamu Sore ya.. Aku pingin banget Tidur siang. Aku pingin makan makan siang di rumah, dari kemaren aku makannya gak enak?" kataku.
Livia lagi lagi hanya diam.
" ya sudah aku tunggu?" katanya sambil menutup telepon.
rasanya sakit dan sedikit tidak percaya, jika Livia bisa se sadis itu berkata kepadaku.
tak terasa sedikit pun kelembutan darinya, aku juga tidak mengetahui secara pasti Apa yang membuatnya begitu murka kepadaku sekarang?
Apakah rasa cemburu ya terhadap Ayu ataukah Estu. atau mungkin terhadap anakku yang lain. Aku tidak tahu.
" Mbak Yuti, Saya mau numpang tidur lagi ya mbak?" kataku kepadanya. dia menatapku sambil tersenyum.
" Ohh Iya Pak silakan anggap saja rumahnya Bu Estu?" katanya sambil tersenyum. aku membalas nya.
" Mbak bisa nggak nanti siang saya makan sama sayur bening atau Sop?" kataku sambil menyerahkan selembar uang kepadanya. dia tidak langsung menerimanya.
" Bapak mau sayur sop apa?" katanya kemudian.
" Sop sayuran sama sedikit ayam Mbak kalau ada?" kataku.
" semua bahannya ada di kulkas kok pak? nanti saya masakan. Bapak nggak usah ngasih saya uang?" katanya jujur. aku hanya mengangguk kecil.
" Ya sudah, makasih. saya tidur Sekarang ya?" kataku berpamitan lagi kepadanya. mbak Yuti kembali tersenyum.
" Pak, nanti tidurnya jangan menggigil lagi ya pak?" katanya Sambil bercanda. aku lantas Tertawa kecil.
" Enggak mbak, saya nggak mau di rumah sakit sendirian lagi?" Kataku.
***
Terdengar suara Adzan yg sayup-sayup di telingaku. aku segera membuka mataku, lantas mengumpulkan semuanya nyawaku sambil duduk di tepian tempat tidur.
aku menatap jam yang ada di meja sudut kamar ini. a pukul 1 siang. berarti yang kudengar barusan adalah adzan Dzuhur. aku segera bergegas keluar kamar menuju kamar mandi dan segera berwudhu.
Terdengar suara tawa Lio Yang sepertinya bercakap dengan seseorang. Apa mungkin Estu pulang untuk beristirahat, Atau bisa juga Danesh datang bersama mantan mertua ku itu?
Aku segera bergegas ke ruang tengah dan mendapati Livia yg tengah duduk sambil bermain HP Milik nya.
Lio dan Kylie tampak bermain bersama.
__ADS_1