Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.

Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.
Episode 40


__ADS_3

" Estu, Aku mau minta Izin ke kamu. Besok Boleh yaa Aku Bawa Danesh juga Arcelio pergi??" kataku padanya.


" Kemana??" tanyanya dengan menatapku sedikit curiga.


" Aku berencana mengajak mereka mengunjungi ayahku di kampung??"


" Ayah kamu, Di Purwakarta??" Katanya Balik bertanya. Aku hanya mengangguk.


Estu Hanya Diam, mungkin dia sedikit ragu kepadaku.


Aku sedikit melipat bibirku, Menunggu jawaban darinya. Lalu mengolah nafas perlahan.


" Mau berapa hari, Kesana nya naik apa??" Katanya kemudian.


" Lima Hari atau seminggu, kalau boleh??" jawab ku.


" Lama Amat??" kata yang terdengar ragu-ragu.


" Aku berfikir nya, agar anak-anak tidak terlalu capek?" kataku memberikan alasan.


" Bawa Mobil??" katanya.


aku hanya tertawa kecil sambil memandangnya.


" Mobil nya siapa Estu? Aku berencana Naik Bus Saja. Biar hemat?"


" Kamu kan bisa bawa mobil Itu, kenapa harus Naik Bus??" katanya terdengar tidak setuju.


" Kenapa juga mesti harus lama-lama seminggu, 3/4 hari juga cukup?" Katanya.


Aku kembali tertawa kecil,


" Kenapa? Emang ada yang Salah!?" Nadanya terdengar ketus.


" Enggak sih, enggak salah. Cuma, Katamu sewaktu-waktu aku Diminta merawat Arcel. Kan aku sudah pernah bilang kalau mungkin dia akan aku bawa ke Jawa??"


" Yang berarti itu akan lebih jauh dari Purwakarta?" kataku mengingatkan.


" Iya tau, Tapi itu kan enggak sekarang sekarang ini. kamu juga mau bawa Danesh Pergi? aku sendiri sama siapa??!" katanya terdengar gusar.


" Yaaaa, Aku ingin membawa mereka berdua ketemu ayahku. mereka belum pernah sama sekali kenal dan dekat dengan keluargaku??" kataku.


" Kan kamu sendiri Dulu, yang nggak ingin memperkenalkannya ke keluargamu. bukan salah mereka Atau Aku. iyaa kan??"


Aku kembali memandangnya.


" Iyaa memang, Dulu aku yang salah. Gak pernah berfikiran untuk mengenalkannya kepada Abah ku?"


" Atau mengenalkan nya kepada Keluarga ku yang lain. Sekarang Aku ingin mengenalkan anak-anakku kepada keluarga aku terutama Abah!?"


" Bagaimana pun, anak-anak harus tahu asal papanya dulu dari mana Siapa kakeknya, siapa keluarga papanya??"


" Kata mu, Dulu buat apa? Katamu keluarga mu Jahat!?" katanya mengungkit perkataan ku dimasa lalu.


Lalu aku Mendesah. Menarik Nafas dan membuangnya, merasa kesal mengapa aku dulu begitu dan mengapa Estu mengungkit-ungkit nya sekarang.


Aku memandang nya sekali lagi.


Aku menahan Rasa kesal dan Emosi ku, dengan ekspresi muka yang datar seraya menggelengkan kepalaku perlahan terhadapnya.


Lalu aku pergi meninggalkannya.


***


Kenapa dia tidak marah tadi??, pikirku sedikit merasa aneh kepadanya.


apa Iya, dia hanya pergi ke Purwakarta, bukan kabur ke Jawa, ke Kutoarjo tempat tinggalnya sekarang.


Jujur aku takut dia Mau bawa kabur anak-anakku. aku takut Jika nantinya anakku bersama dengan ibu tirinya.


Kan Ibu Tiri biasanya tidak senang kepada anak bawaan dari suaminya??


Sekarang, apa yang harus aku lakukan.??


Aku tahu dia tadi kesal dan ingin marah kepadaku. tetapi dia menahannya, Aku tahu Pasti.


Apakah benar dia cuma akan membawa anakku untuk berkenalan dengan kakeknya?

__ADS_1


Ataukah ada maksud lain, aku harus bagaimana?pikirku lagi.


Aku menghampiri Sakha yang sedang menemani Danesh dan Arcel bermain di ruang tengah.


dia tampak membantu itu Arcel membenarkan tumpukan balok kayu yang sisi-sisinya terdapat huruf dan angka.


" Sekarang coba kamu berfikir, seandainya tadi aku yang bicara begitu sama kamu adalah Danesh yang meminta izin kepada istrinya untuk mempertemukan anaknya dengan kakek nenek nya yang tidak pernah ditemui.


" Terus istrinya Menjawab seperti kamu tadi. bagaimana perasaan kamu??" katanya sambil terus bermain bersama Arcel.


Aku terdiam. Ada betul nya, perkataan Sakha Barusan.


" Aku sengaja mengajak Danesh dan Arcel naik Bus sekalian melatih kemampuan motoriknya, daya ingat, menambah pengetahuan Dan Pengalaman nya yang mungkin akan Mereka ingat.?"


" Bukan ada maksud lainnya??"


" Apa kamu takut, Aku akan bawa kabur mereka??" katanya seperti tahu ke gelisahan ku.


" Bukan begitu??" dalih ku.


" Aku cuma gak suka aja kalau mereka harus naik Bus. Kotor, banyak debu, Panas. Belum lagi mereka akan Capek selama di perjalanan??" kataku.


Dia tertawa.


" Estu, kamu terlalu lama gak lihat Terminal, udah lama Gak naik Bus. Jadi kamu mana tahu keadaan nya sekarang??" katanya.


" Yang kamu pikirkan itu, adalah bayangan kamu dari Film jaman dulu??"


" Sekarang, hampir semua Bus antar provinsi,atau antar kota sudah ber AC. tempat duduk nya nyaman empuk, Kita sekarang punya jalan Toll yang Bikin perjalanan semakin cepat sampai??"


Aku hanya diam. Iya sih?? Pikirku.


" Tetap saja Sakha.Gak menjamin Kehigenisan nya. Kenapa kamu gak naik kereta aja, kan sama cepat nya??" kataku.


" Ribet naik turun nya Estu, Apalagi aku harus bawa dua anak kecil.?" jawab nya.


" Sudahlah, kalau Enggak boleh sama kamu??" katanya terdengar kesal.


" Apalagi, tadi kamu ngomong seolah-olah aku ini harus terus melakukan kesalahan.?"


" Aku tau aku pernah salah, tapi tolong kasih aku kesempatan untuk memperbaiki nya.!?"


" Kalau aku beranggapan seperti itu sekarang apakah masih salah di pikiran kamu Estu??"


" Salah Aku emang Cuma sekali memperkenalkan kamu sama Abah ku di kampung."


" aku cuma sekali membawa kamu ke kampung halamanku itu, karena aku malu dengan kamu, dengan kenyataan Asal-usul ku yang tidak sebanding dengan keluarga besarmu yang Ningrat itu.?"


" Sekarang aku Baru menyadari, kenapa aku mesti malu sama keadaan. emang nyatanya Aku anak orang Gak punya kok? Anak Buruh Tani, Yang kadang Kerja serabutan."


" Seperti yang kamu tau, Aku memang dibesarkan oleh orang Lain, Bukan Abah ku sendiri. Aku ini dititipkan Di sana sini Olehnya karena ketidak mampuannya karena Ekonomi!?"


" Bertahun tahun di pondok, harus Ikut Orang lain yang masih saudara agar bisa melanjutkan sekolah?"


Katanya Berbicara Serius kepadaku walaupun Masih duduk di samping Arcelio.


" Sedari kecil yang aku tau cuma cari Kayu Bakar, nyari rumput, Menggembala ternak milik Orang lain. Gak seperti kamu yang bisa main ke mall, latihan ice skating, main sepatu Roda, ikut Bimbel sama Les??"


" Kalau liburan sekolah,bisa jalan jalan ke luar kota apa luar negeri??"


" Kalau aku apa, paling mancing, Berenang di kali, Sambil Mandiin Kerbau??" Katanya Bercerita.


" Tapi Bukan kesedihan yang mau aku kenalkan kepada anak-anakku Estu, Hanya ingin ngasih tau, Titik balik Aku dahulu, Mengenalkan Memori yang aku punya tentang Aku dan kampung?!"


" Juga Sebagai pengetahuan, Nilai luhur kekeluargaan Yang harus di jaga, Trah keluarga itu ibarat obor. Jangan sampai padam.?"


" Sudah nggak perlu panjang lebar, aku ijinkan kamu bawa mereka berdua tapi cuma 4 hari.!" kataku sambil masuk ke dalam kamar.


Panjang sekali penjelasan nya itu, tetapi masuk di akal juga. pikirku.


Sedikit merasa sedih Aku, tiap kali dia menceritakan masa lalunya itu.


Masa lalu yang di ceritakan olehnya Ibarat Kilau emas Yang dia miliki.


***


" Papa, kita mau kerumahnya siapa??" tanya Danesh kepadaku.

__ADS_1


" Kerumahnya kakek, ke rumahnya abah??"


" oh, jadi pergi ke rumahnya kakek sama ke rumahnya abah??" katanya. aku hanya tersenyum sambil mengusap rambutnya.


" Bukan sayang, rumahnya kakek berarti rumahnya abah juga??" jawab ku


" rumahnya ada dua emang??"tanya nya Gemas.


" Papa panggil kakek itu Abah kayak Mama manggil Eyang itu bapak?? kataku


" oh mau pergi ke rumahnya Abah nya papa, berarti rumahnya kakeknya Danesh dong?? katanya.


" ih pinter banget sih anak papa??" kataku sambil mencium Kepala nya.


Seperti biasa, Arcel tidak banyak bicara dia hanya menunjuk ke arah apa yang Aku tanyakan.


seperti aku bertanya sekarang kita naik apa. Kalau kalau Danesh pasti langsung jawab naik Bus. kalau Arcel hanya menatapku, Mulut nya ternganga tanpa mengeluarkan kata.


Setelah turun dari angkot, aku menaiki ojek untuk sampai kedalam kampung ku yang lumayan masih asri itu. lumayan ribet lah, selain membawa anak-anak aku juga membuat sedikit oleh-oleh untuk ayah dan keluargaku.


Kulihat hamparan padi yang baru saja mulai ditanam terlihat hijau. seperti hamparan karpet yang ada di dalam masjid.


Bau tumbuhan dan dedaunan liar yang tercium masih sangat jelas kuingat.


Terkadang, Kebatan alang-alang yang mengenai tanganku yang sedang menaiki ojek yang melaju kencang.


Arcelio aku apit Di tengah, sedangkan Danesh duduk di depan Mamang Ojek nya.


memang aku tidak tinggal dengan ayahku sewaktu kecil, sebenarnya aku lebih dekat dengan keluarga ibuku yang berada di Padalarang Bandung.


Namun waktu kecil aku di pondokan dan dititipkan di Rumah uwak atau kakak dari ayahku di Tasikmalaya.


ibuku meninggal sewaktu aku masih kecil, lalu Abah menitipkanku kepada bibi yaitu adik ibuku karena dia akan menikah lagi.


sewaktu dulu Bi Siti memang yang merawat aku dan kakak perempuan ku, teh Nyai.


Sedangkan Kakak lelakiku Aa Ridwan Tak terurus. sejak kecil dia mengalami gangguan jiwa. Bertambah Parah setelah ibuku meninggal dunia, karena sakit-sakitan.


Kata Abah dulu, yang memberi nama ku adalah Insinyur. Pengawas proyek tempatnya bekerja Dulu sebagai kuli bangunan di Jakarta. saat membuat salah satu gedung yang kini masih menjulang.


makanya namaku Bagus sendiri diantara kakak-kakakku.


Aku mempunyai panggilan sendiri oleh Abah, Aku biasa dipanggilnya Asep alias kasep atau ganteng? hehehe


***


Arcelio tampak menangis tidak nyaman ketika bertemu dengan orang-orang baru.


Danesh hanya diam ketika neneknya, atau Ibu tiri ku menyapanya. dia juga merasa asing berada di sini.


" Abah kamana Ambu??" tanyaku kepada ibu, menanyakan akan keberadaan Abah.


" Jam sakiyeu mah Abah maneh masih aya di serang?"


(Jam segini ini mah Abah mu masih ada di sawah) katanya.


Lalu Aku berikan oleh-oleh ku kepadanya.


" maneh teh kadieu tiluan bae jeung barudak, pamajikan maneh teh mana?? tanya nya.


( Kamu kesini ini cuma bertiga saja sama anak-anak, istri kamu mana)


Aku hanya tersenyum.


" nuju Aya Pang damelan, anjeuna keur ka luar kota. tugas ti kantor Ambu?? jawab ku.


( Sedang ada kerjaan, dia lagi pergi keluar kota tugas dari kantor, ibu)


tak lama kemudian adik perempuan ku datang menghampir,i membawakan aku segelas teh.


mungkin usianya baru 16 tahun atau 18 tahun.


Aku tidak pernah tahu jika aku memiliki dua adik perempua. Yang ku ingat cuma Elis yang sudah menikah dan memiliki 1 orang anak. dia tinggal tidak jauh dari rumah Abah.


" Iyeu Adi maneh, si Mira?" Kata ibuku memperkenalkan nya. kemudian dia menyalami tanganku. aku melihat jam dinding yang sudah tua masih tergantung di bilik rumah ini. percis berada dan di tempat yang sama saat aku dan Estu datang ke sini dulu.


" Naha Ambu, Sakha teh Tara apal Jeung si Mira? Kapungkur Da asana eweh?" kataku sambil me mangku Arcelio. Ibuku tertawa kecil.

__ADS_1


( Masa Bu, Sakha nggak pernah tau sama si Mira? Dulu Rasanya tidak ada)


__ADS_2