
" Mbak Ayu yang Sabar yaa.. yang tabah dan tawakal. semoga musibah yang Mbak Ayu alami itu akan mempertemukan Mbak Ayu dengan lelaki yang lebih baik?"Kata Mira Kepada ku.
Aku menatapnya Diam Sambil menahan Tangis ku yang sepertinya akan pecah.
Rasanya aku tak kuat menjalani hari hari jika tak ada Support yang di berikan oleh Mas Sakha. Andaikan dia tahu??
Meskipun akhirnya aku berpisah dengan Mas Linggar, Namun kini aku menemukan Masalah baru. Aku merasa tak nyaman tinggal di kota ini lagi? Sepertinya memang gerak gerik ku selalu di awasi oleh orang orang yang penasaran dengan ku.
Mas Sakha pun sengaja menjauh dari ku, dia menjaga jarak di saat keadaan genting seperti ini.
Keluarga ku sendiri masih banyak yang pro dan kontra atas kejadian yg menimpaku, menyangkut pautkan dengan Mas Sakha.
Tak jarang dari mereka melontarkan rasa ketidak sukaannya terhadap Mas Sakha.
Mungkin, jika mas Sakhaa tidak mempunyai usaha bersama dengan mas Bandi. itu akan memperburuk pandangan keluargaku terhadap nya yang sangat anti dengan sukunya itu.
Entahlah, dari mana mereka mengetahui segala sesuatu tentang Sakha.
" Mira, selamat ya akhirnya kamu nikah duluan daripada aku?" kataku mencoba merubah topik pembicaraan. dia hanya tersenyum.
" Mbak Ayu tahu dari siapa Mbak?" tanya nya kepadaku sambil tersenyum.
" Mbak Asih Tadi Cerita?" kataku. dia hanya mengangguk pelan malu-malu.
" Terus Sekarang Rencana mbak Ayu apa? Apa benar Mbak Ayu mau pindah kerjaan?" tanyanya kepadaku aku hanya mengangguk.
" nanti kita berpisah dong katanya seperti menyayangkan. aku kembali tersenyum.
" terpaksa Mira Aku sudah enggak nyaman di sini aku mau ikut temanku ke Surabaya jawabku.
" ya di manapun berada nantinya, semoga Mbak nggak lupa sama saya dan kita masih saling berhubungan.?" Katanya. aku memeluknya.
" Kamu juga jangan lupa, Jangan sombong sama aku ya kalau sudah jadi orang kaya?" kataku
" Saya nggak mau jadi orang Sombong mbak. Apalagi sama Mbak yg sudah membantu saya selama saya di Jawa." jawabnya tulus.
" Mbak Ayu, jika mbak berkenan. mau gak mbak bantu saya dulu sebelum beneran pergi ke Surabaya?" pinta nya.
" Apa?" kataku.
" Ehmm, Aa Sakha minta saya ngomong sama mbak buat bantuin saya nyiapin pernikahan?" katanya.
" Kamu gak takut aku bantuin??" kataku.
" Loh, emangnya kenapa?" tanya nya.
" Kan Aku kemarin mempersiapkan pernikahan ku sendiri, tapi malah gagal?" kataku sambil tertawa.
" Aku takut nanti nasib mu seperti aku?" kataku.
" Ahh mbak ini, gak usah menghubung-hubungkan segala sesuatu.?"
" Semuanya juga sudah kehendak Allah, ada jalan cerita masing-masing?" katanya.
Aku hanya tersenyum.
" Emangnya Aa mu ngomongnya begitu??" tanyaku. dia mengangguk.
" Disini, siapa lagi sih yang bisa Di mintai tolong kalau bukan mbak Ayu?" katanya sambil tertawa kecil.
aku hanya tersenyum.
" Terus Mas Sakha sekarang kemana?" tanya ku.
" Belum pulang mbak, tadi pergi sama Mas Bandi?" katanya. Aku hanya mengangguk kecil.
" Eehhmm, Mbak?" kata Mira Seperti ragu Ragu. aku menatap.
" Apa?" kataku pelan.
" Mbak Mira mau tanya sesuatu, tapi mbak jangan marah atau kesinggung ya?" katanya lagi yang membuat ku sedikit penasaran.
" Apa sihh?" tanyaku balik. Dia menatapku dalam.
__ADS_1
" mbak-mbak Apa benar kalau Mas Linggar bakar gudang milik Aa karena Cemburu?" tanya nya. aku menatapnya tajam Sambil sedikit mengangguk.
" Katanya si begitu tapi aku nggak tahu pasti?" jawab ku kepadanya.
" emangnya kenapa tanya aku balik
Dia sedikit tersenyum sambil memandangku,
" Apa benar Mbak Aa sama Mbak punya hubungan yang spesial?" tanyanya yang membuatku bingung harus menjawab apa, namun aku hanya diam.
" Mira sih nggak mau nyalahin siapa-siapa Aa atau mbak katanya kemudian. aku menatapnya tajam.
" sebenarnya merah sudah tahu sejak lama kalau mbak sama Aa dekat nggak biasa harusnya dulu biarlah Mira ingetin Mbak sama Aa tapi Mira nggak berani katanya kepadaku aku menatapnya sedikit malu.
"tapi sudahlah semua sudah terjadi juga?"
" kalau boleh, sekarang Mira mengingatkan kan sama mbak. tolong lah Mbak kalau mau suka sama Aa Mbak harus siap juga terima konsekuensi nya.?"
" Mira juga Tahu kalau sekarang pun Aa masih sering perhatian sama mbak-juga sebaliknya. yg Mira takutkan sebenarnya, jika nantinya Cece Livia datang marahin Mbak Ayu?"
" terus terang mira sayang keduanya dan menghormati keduanya. baik mbak atau cece Livia? katanya kepadaku.
" Aa itu tipikal laki-laki yang frendly sama setiap orang Mbak, nggak jarang yang jadi pasangannya sering merasa cemburu.?"
" Aa itu lemah sama perempuan?"
" kalau sekarang Mira lebih baik, melarang Mbak Ayu dekat sama Aa karena Aa masih milik Cici. tapi kalau takdir berkata lain juga Mira nggak bakal menyalahkan siapa-siapa?" katanya yang seperti mengetahui sesuatu tentang aku dan Sakha.
" tapi janji ya mbak, nggak marah sama Mira Kalau Mira ngomong seperti ini sama mbak?" katanya sambil memegang kedua tanganku. aku hanya tersenyum kepadanya.
" Iya cantik.... Mbak aku nggak bakal marah. malah makasih udah diingetin sama kamu?" kataku sambil tersenyum.
***
Aku masih saja memikirkan perkataan Linggar tadi siang kepadaku.
sebenarnya semua kata-katanya itu benar tentang opininya terhadapku.
aku ini memang lelaki yang munafik, egois dan terkesan selalu ingin terlihat baik. aku tidak jujur menjadi diriku sendiri.
Aku selalu mengikuti hawa ***** ku?.
Yaaa Allah, aku sangat kotor dan menjijikan.
pikirku sambil menutupi wajahku dengan telapak tangan. merasa berdosa.
sungguh aku meminta ampunan mu ya Allah....
Bimbinglah aku ke jalan yang lebih benar, menemukan hidup yang lebih baik dan meninggalkan segala sesuatu itu yang memper buruk kepribadian ku dan hidupku.
Hanya akulah yang tahu persis tentang diriku sendiri.
Tentang segala dosa yang pernah aku perbuat, dan tak pernah mengakuinya kepada siapa pun. Hanya aku dan Tuhanku yang tahu.
lalu aku berpikir tentang semua perempuan yang pernah dekat denganku, perempuan yang pernah Aku suka, aku cinta, aku sayang?
Aku sedang mencari pokok permasalahan dalam diriku sendiri.
Aku sedang mencari titik terlemah dalam diriku.
dan sebisa mungkin aku ingin segera memperbaiki diriku semampuku sebagai manusia yang mempunyai kekurangan.
aku menitikkan air mata. menangis perlahan, lalu Aku Teringat orang tuaku. Abah, Ambu dan Amih.
dan mengingat anak-anakku.
Aku merasa gagal menjadi seorang anak untuk orang tuaku dan aku merasa gagal menjadi seorang ayah Bagi anak-anakku.
" Lalu, kemanakah semua ilmu yang pernah aku dapat dan aku pelajari dulu di sekolah dan pondok pesantren. kemanakah perginya budi pekerti dan pengendalian diri yang pernah orang tuaku ajarkan?"
dan aku semakin menangis semua kesalahanku terhadap orang lain Ya Allah tolong ampunilah segala dosaku. kata batin ku menghiba di sepertiga malam ini.
***
__ADS_1
" Aa Hari ini enggak pergi kemana-mana?" tanya Mira sambil menghidangkan secangkir kopi untuk ku.
aku hanya menggelengkan kepalaku pelan. dia menatapku heran.
" Apa Aa sakit nggak enak badan?" tanyanya sambil memegang dahi ku. aku menatapnya sayu. buru-buru dia menarik tangannya dari keningku sambil nyengir kikuk.
" Maaf Aa, reflek?" katanya pelan.
" Apa Aa mau pergi ke dokter atau rumah sakit? Mira antara ya kalau nggak kira teleponin mas arya ya?" Katanya penuh antusias.
" Halah... kamu Bukannya mau ngantar Aa ke rumah sakit buat berobat kan??"
" bilang aja, biar kamu ketemu arya kan?" kataku. dia menatapku sambil senyam-senyum.
" Aa teleponnya bunyi katanya kemudian Ya udah Tolong ambilkan kata aku menyuruhnya Tak lama kemudian dia menyerahkan ponselku itu.
Cece Livia katanya pelan.
dan memang benar itu telepon dari Livia? kemudian aku mengangkatnya.
" Yaa hallo, Liviaa ada apa?" tanyaku kepadanya.
" Kok jawabnya seperti itu? kayaknya bete banget aku telepon!?" katanya dari Sana. Aku hanya tersenyum.
'' lagi sedikit nggak enak badan?" kataku menjawabnya.
" Sejak kapan? Apa sudah ke dokter untuk berobat?" tanyanya lagi.
" belum, mungkin nanti siang berobat ke rumah sakit atau minta tolong arya datang ke sini?" kataku sambil melirik Mira, dia hanya sedikit tersenyum sumringah.
Aku langsung merubah raut mukaku yang langsung dicibir oleh Mira. Kemudian kami saling tertawa kecil.
Setelah ngobrol basa-basi ini dan itu, kemudian Livia menanyakan sesuatu hal kepada aku.
Persis seperti apa yang ditanyakan oleh Estu kepadaku tempo hari. Kali ini aku hanya diam
" Sekarang sudah rasa kan sama kamu sendiri, kalau kamu bermain api akan dibalas dengan Api?"
aku hanya diam tak menjawab nya. sedang malas berargumen.
" Sekarang aku tanya sama kamu, Kamu masih sama dia apa Enggak!?"
" Enggak.!" jawabku pelan. lalu terdengar suara tawanya yang sedikit sinis.
" Aku itu tahu kamu Sakha. kamu nggak capek-capek ya nyakitin aku!?" katanya kemudian dengan nada yang sedikit lebih tinggi.
" Kamu itu tipikal lelaki yang gak mudah melepaskan sesuatu kalau kamu belum menemu Titik yang benar-benar membuat kamu berhenti."
" Mana kutahu banget kalau perempuan itu pasti tergila-gila sama kamu sampai-sampai diam menggagalkan pernikahannya Itu demi kamu.?"
" Apa sih Livia, aku bilang enggak. ya enggak? Aku harus jawab gimana emang?" kataku kepadanya.
" terus baiknya aku harus menjawab apa?!" kataku sedikit pasrah.
" Yang mutusin seperti itu keluarganya, bukan dia atau Hasutan ku terhadapnya.?"
" Demi Allah, aku enggak pernah memintanya untuk menggagalkan pernikahannya tersebut.!?" kataku
" Seandai nya kemarin dia tetap melangsungkan pernikahan, bertepatan dengan kejadian yang seperti itu. Aku tetap menuntut lelaki itu karena tindak kejahatannya.!" Kataku sedikit keras.
" Jadi aku itu nggak seperti yg kamu omongkan Livia" kata ku Berusaha sedikit meredam emosinya.
" Pokoknya, aku mau ambil Kylie Kesana Besok!?" katanya tiba-tiba berkata seperti itu?
" Kok kamu ngomong nya jadi kesitu?" tanyaku sedikit Curiga dan agak tidak suka.
" Aku nggak ingin saja dia dekat dekat sama perempuan itu yang Deket sama kamu!" katanya Emosi.
" Dia mau pindah kerja juga, mau jauh-jauh dari aku.!"
" Siapa sih yang mau Deket sama lelaki yang kayak aku!!" kataku.
" Pokoknya aku mau Ambil Dia?" katanya terdengar marah sambil menutup ponselnya itu.
__ADS_1
Setelah dia menelepon itu, aku lantas memandangi Ponsel ku sambil sedikit terbengong bengong.
Kadang aku tak habis fikir, bagaimana Baiknya aku menghadapi seorang perempuan.