Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.

Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.
Episode 74


__ADS_3

Sehabis kejadian itu, aku belum bertemu kembali dengan Mas Sakha ataupun Mas Linggar. hanya beberapa kali Mas Linggar mengirimkan pesan kepada aku yang intinya meminta maaf.


Dia mengakui Kalau malam itu memang dia mabuk sehabis acara di rumah Satrio temannya itu yang akan menikah minggu depan.


dan aku akui setelah kejadian itu, Aku tidak dekat dengan Mira lagi. biasanya pagi sore atau jika aku libur aku sering bermain dengan Mira.


tapi setelah kehadiran anaknya Mas Sakha itu aku jadi Enggan bermain.


Hari pernikahan ku dengan mas Linggar Hanya kurang dua puluh hari lagi dari sekarang.


rasanya aku semakin tidak siap menghadapinya, entahlah kenapa, aku hanya merasa bahwa pilihanku ini salah.


tapi salahnya di mana pun aku tidak tahu, kalau dipikir lagi sebenarnya mungkin akulah yang salah. salah terhadap Mas Linggar.


dari perkataannya kemarin terhadap mas Sakha, sepertinya Mas Linggar mengetahui sesuatu di antara kami berdua. atau mungkin sebenarnya tahu tapi pura-pura tidak tahu.


entahlah, aku merasa jika aku harus berhati-hati terhadapnya. sifat asli Mas Linggar terlihat ketika dia sedang mabuk kemarin itu.


Bertolak belakang dengan sikapnya sehari-hari terhadapku atau yang terlihat oleh kami semua.


atau mungkin saja selama ini Mas Linggar hanya berpura-pura baik dan lembut terhadapku atau keluargaku. karena menginginkan aku.


***


Aku berdiri di tepian jalan menunggu angkot yang lewat.


Hari ini aku memang dioper ke toko lain dari minimarket kami, karena kekurangan karyawan.


sebenarnya hari ini jadwalnya aku libur tetapi harus menggantikan orang lain, menutup kekurangan karyawan di toko lain, salah satu cabang minimarket kami.


Tiba-tiba ada mobil Biru berhenti di hadapanku. aku menatapnya, sepertinya ini mobil yang biasa digunakan oleh Mas Sakha.


kemudian kaca mobilnya dibuka, ternyata memang benar mas Sakha.


" Ayu... Mau kemana. kok ada disini. kamu gak kerja?" tanya nya dari dalam mobil. aku hanya tersenyum.


" Lagi nungguin angkot mas, mau ke cabang toko yang disana." jawab kemudian.


" Ayo bareng aku saja, aku mau lewat sana?" katanya kepadaku. aku hanya diam sambil menatap nya.


" Enggak usah Mas, sebentar lagi angkotnya juga lewat." kataku menolaknya secara halus.


Dia hanya tertawa menatapku.


" Sudah mulai gerimis, nanti kamu kehujanan. Ayo sekalian saja.!" katanya terdengar sedikit memaksa.


Dan benar saja katanya, ketika aku baru saja naik kedalam mobilnya itu. hujan sudah turun dengan deras. memang akhir-akhir ini sering turun hujan.


" Sudah mulai musim hujan ya, bulan nya sudah ber ber ber..!"


" maksudnya akhiran nama bulan nya sudah ada bernya." katanya mau bicara sendiri.


" Katanya Orang sih kalau nama bulan nya sudah ada akhiran ber nya, sudah masuk musim hujan.!"


katanya sambil sedikit tertawa kecil aku hanya diam.


" Sudah musim hujan, Bakal banyak juga musim kawin."


" Ehhh, Iya. sebentar lagi Kamu kawin juga kan Ay?" katanya Sambil sedikit tertawa kepadaku, aku hanya tersenyum.


" Musim kawin dan Musim hujan adalah sesuatu yang tidak bisa dipisahkan!?" katanya sambil tertawa kecil.


" Kamu baik-baik aja kan Ay?" tanyanya kepadaku lantas Aku menoleh kepadanya


" Aku baik-baik aja kok mas, Emang kenapa??" kataku datar. kemudian dia terlihat tersenyum kecil.


" Maksud aku hubungan kamu sama Linggar habis kejadian itu??" tanyanya yang membuat buatku sedikit tersudut

__ADS_1


" Iya Mas baik-baik saja, ya memang setelah kejadian itu aku aku nggak pernah ketemu sama Mas Linggar."


" Mungkin dia sibuk juga, tetapi komunikasi Kami tetap lancar ko?!" kataku menjawabnya.


dia hanya terlihat sedikit mengangguk kecil.


" Syukurlah kalau begitu.!" katanya sambil tersenyum.


" Kenapa Mas kok senyum-senyum?" kata ku curiga.


" Yaaa enggak, cuma pengen senyum aja. masa nggak boleh.?" katanya.


Kemudian kami saling menatap, tak sengaja dia tersenyum kepadaku Sambil tertawa kecil entah kenapa aku menanggapinya dengan tertawa juga. seketika hatiku merasa lega rasanya, bahagia saja karena tertawa bersama barusan.


" Harap dimaklumi kalau lelaki itu memang susah menahan yang seperti itu?" katanya.


" Termasuk kamu!?" kataku memberanikan diri. dia terlihat bergumam kecil sambil sedikit menarik nafasnya.


" Yaaa bisa jadi sih, aku akui memang. aku sebagai lelaki dewasa membutuhkan itu."


" Oooo... kataku panjang. dia melirik ke arahku sebentar


" Jadi kalau lelaki dekat sama perempuan itu, tujuan utamanya itu ya Mas? tanya ku memberanikan diri lagi


dia tertawa kecil dan terlihat kaku.


" Sebenarnya sih nggak semuanya, cuman ya itu memang satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan."


" Maksudnya kalau kita laki-laki mendekati perempuan yang pertama dilihat Emang Wajah nya terus di cocokan dengan perilakunya, yaaa..? yaaa pasti itunya nyangkut lah?" katanya menjelaskan.


" Apanya yang nyangkut Mas??" kataku lagi.


" *** Appeal.!" katanya terdengar jelas. aku hanya diam.


" Terus kenapa Sewaktu itu ada seseorang yg terlihat mau, dan Agresif sama laki-laki tapi tetap ditolak?"


" Dan bukannya dulu sempet kejadian." katanya kepadaku


kami saling bertatapan.


" Maaf... maaf, seharusnya aku nggak berbicara seperti itu lagi!"


" Itu bagian masa lalu kita yang harus kita lupakan, sekarang kamu mau menikah sama Linggar dan aku punya kehidupan sendiri. maaf, maafin aku." katanya buru-buru.


entahlah Setelah dia mengucapkan kata maaf itu ada perasaan kesal dalam Hati ku terhadap nya. perasaan tidak tereksploitasi dengan baik.


Perasaan ini ada lagi...kenapa sihh??


" Yang hati hati ya kerjanya, semangat." Katanya kepada ku saat menepikan mobilnya itu Di depan Minimarket tujuan.


Aku hanya tersenyum kecil Kepada nya, lalu dia pun pergi.


Tiba-tiba ponselku berdering, mas Linggar memanggil


" Yaa... Hallo Mas?" jawab ku.


" Kenapa mas, Iya baru saja sampai Mas. kenapa?" kataku kepadanya.


" nggak kehujanan kok tadi aku naik mobil?" jawab ku padanya.


" Yaaa angkot lah, apa lagi?" kataku menjawab nya.


" iyaa, gak kedinginan Kok."


" Yaaa udah, sampai nanti?" kataku sambil menatap ponsel ku itu.


***

__ADS_1


Aku dan pak Bandi tertawa terbahak-bahak karenanya. membahas kejadian di saat itu, antara Linggar dan Ayu.


" Wajar sih yaa, kalau mereka mau melakukannya- ya urusan mereka, tapi yang jadi masalah kan ini Ayu yang nggak mau?? yaaa... gagal enak??" kataku Sambil tertawa terbahak-bahak yang disahuti oleh tawa Pak Bandi.


" Memang kali mabuk bawaan nya pingin itu kan mas? Hahahaha..." sahut pak Bandi


Aku nyengir kuda karena perkataan nya itu.


" Kalau Ayu nya gak jerit sih aku biarin Pak, lah wong ini jeritnya kaya korban perkosaan. jeritnya dibilang dikit mungkin aku ya nggak bakal dobrak pintu kamarnya?" kataku sambil tertawa terkekeh.


" Hahahaha... Linggar nya juga Nga'****an. mabuk sama temennya cerita jorok dikit langsung nyari bahan??"


" Bahan apa pak, wkwkwkwkwk..." jawabku terkekeh kekeh.


" Dulu waktu sumuran Linggar, kamu bisa nahan nggak?" tanya nya sambil terus Tertawa.


" Ooo... ya saya juga gak bisa jamin pak...hahahaha


" Sekarang sih gampang pake hape bisa janjian. lah jaman saya dulu, awal awal mau nikah ya janjian di kamar mandi mertua saya jam 2 malam??"


Aku bengong.


" Ngapain pak janjian jam 2 malam di kamar mandi??"


" Ya nggesek lahhhhh!!" katanya sambil tertawa lebar aku juga ikut menertawakan nya.


" Jaman dulu kan kamar mandi itu pasti terpisah dari rumah, letaknya ada di belakang rumah. Jadi kalau janjian jam segitu nggak bakal ketahuan kasak-kusuk nya sama calon mertua??" katanya sambil tertawa terbahak-bahak


" Ooo... jadi seperti itu dulu mainnya. serba manual yaa..." kataku sambil tertawa.


Tak begitu lama, ada salah seorang karyawan yang menghampiri ku dan pak Bandi.


" Apa wan?" kata ku kepadanya.


" Itu Mas barangnya sudah jadi tolong dicek dulu sesuai sama pesan apa enggak sebelum dikemas.?" katanya.


" Oohh, yang buat pengiriman ke Jakarta ya.?" tanyaku. dia hanya mengangguk.


" Yaa...nanti saya Kesana.?"


" Oh iya mas Sakha, itu Teman saya nawarin kayu. semuanya minta 94 juta jadinya Gimana?" tanya pak Bandi.


" Kalau boleh bulan depan sih mending bulan depan Pak Tapi kalau enggak boleh ya kalau kita bayar separuh dulu boleh apa enggak?" kataku padanya.


" Loh mas, kan kayu nya sudah sampai tadi pagi itu??" kata Iwan menyahut. aku memandang pak Bandi.


" Aku gak nyuruh kirim padahal. Mau lihat Batang dulu?" katanya.


" Ya sudah lah pak. tolong di cek saja sebelum di bayar. kalau ada kualitas yg jelek kan bisa kita Pulang kan?" kataku. dia hanya mengangguk langsung pergi. Aku pun sama langsung mengecek barang yang akan aku kirim ke Jakarta itu.


***


" Aa.. bangun Aa...itu ada orang gedor gedor pintu jam segini!!?" kata Mira sambil membangunkan diriku yang terlelap.


" Apa Mira??" kataku sambil sedikit menggeliat.


" Aa... ada yang gedor-gedor pintu dari tadi." Katanya.


aku pun melihat jam yang berada di dinding. masih pukul 2.30 pagi.


aku pun bergegas keluar pintu, untuk melihat Siapa yang melakukannya pagi ini.


" Lohh.. pak Bandi??! ada apa!!" kataku heran.


" Maaf mas ganggu. tapi ini Urgen Mas!!" Katanya terdengar panik.


" Iya pak, tapi Ada apa??" kataku heran.

__ADS_1


" Mas Sakha, Tempat kerja kita kebakaran.!!" katanya yang membuatku langsung shock.


__ADS_2