Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.

Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.
Episode 99


__ADS_3

Setelah selesai meninjau lokasi untuk mendirikan gudang kayu yang baru, Aku dan mas Bandi kembali ke dalam mobil.


Sudah 2 minggu kejadian itu berlalu, Proses yang menegangkan sudah sedikit melunak. hanya saja memang hukum terus berjalan.


Suatu saat, aku pun akan merasakan hukuman sebab akibat dari Tuhan. pikirku


Aku masih merasa bersalah terhadap Linggar, sampai saat ini,aku belum menemuinya. bahkan sampai diadi penjara. dan aku tahu itu pasti akan sulit baginya yang terbiasa hidup Bossi.


Maka Ku Putusan untuk pergi menemui nya di tahanan, Karena proses hukum sudah berjalan. Aku menemuinya di Penjara Kejaksaan.


Linggar Seperti kaget saat aku dan mas Bandi menemui nya, dia menatapku diam. Sedangkan mas Bandi Seperti nya Enggan berbicara dengan nya.


Aku menawarkan nya Rokok. namun dia tak menyentuh nya.


" Sebenarnya apa sih maksudnya kalian nemuin saya di sini!" katanya sedikit Sengit.


" Apa kurang puas Kalian memperlakukan saya seperti ini!!" katanya terdengar benci.


Aku tersenyum simpul.


" Linggar, Tidak ada hubungan nya kedatangan dengan kami dengan kepuasan melihat kamu menderita di sini.?"


" saya datang ke sini memang benar-benar ingin bertemu dengan kamu?" kataku.


" Kenapa harus dengan saya bukannya kalian bisa berbicara dengan pengacara saja. apa sekarang kalian sedang berusaha menawarkan Jalan damai Setelah semuanya ini terjadi!" katanya dengan nada yang arogan.


" Lebih baik turunkan dulu Standar kamu, Rasa kesal kamu sama Aku atau mas Bandi.?" Kataku.


" Yang namanya kejahatan tetaplah kejahatan.!" kataku kemudian.


Dia hanya tertawa sinis.


" Kedatangan Aku kesini cuma ingin menanyakan kabar secara langsung sama kamu, Tapi maaf sebelumnya. karena sekarang ini sudah terjadi, maka jangan sampai kamu kembali merasa marah sama aku?" kataku.


Linggar menatap ku penuh kebencian yang di tahan nya.


" Linggar, Apa benar tindakan bodoh kamu itu dipicu Karena rasa cemburu kamu sama aku?" tanyaku.


" Iyaa!" katanya terdengar jelas.


Aku menatap nya, dan menarik nafas ku.


" Kalau kamu Cemburu sama aku, Kenapa kamu nggak ketemu aku nanyain secara baik-baik ataupun kasar, atau mukulin, atau bisa juga ngajak berantem?!' tanyaku lagi.


Kali ini dia diam.


" Apa yang terlihat sama kamu dan bikin kamu cemburu itu sebenarnya hal yang biasa dan tak perlu dibesar-besarkan. sebelum aku kenal kamu aku sudah kenal Ayu, karena aku dekat sama Mas Bandi aku sering bertemu dengan dia. hubungan kami ya hubungan yang biasa." kataku


" Kamu jangan bersilat lidah Mas, Aku muak melihat manusia macam kamu. yang hanya ingin terlihat baik, jangan Kamu kira aku nggak tahu apa yang kamu lakukan di belakangku bersama Ayu.?" katanya kesal dan geram.


Aku seperti tersiram air panas, dan aku menyembunyikan rasa panik ku dari nya.


" Haahh!! kalau sekarang kalian punya hubungan pun, itu terserah kalian. Aku sudah enggak peduli.!!"


" memang seharusnya Ayu itu tidak menikah denganku, karena kami tidak sepadan!" katanya yang terdengar menyulut emosi Mas Bandi. Aku buru-buru menahan nya.


" Ati ati nek duwe Cocot!!" kata mas Bandi emosi.


" Apa yang pernah kamu tau tentang aku sama Ayu, yang membuat kamu benar-benar merasa kesal?" tanyaku.


" Mas.. Mas!! Gayamu sok suci!?" katanya. aku hanya diam melihat ekspresi wajahnya yang Yang sepertinya benar-benar muak terhadapku.


" Kamu Bilang cuma hubungan adik dan kakak, kenapa pakai pergi ke kafe segala!!" katanya.


" Kenapa pakai motoran terus nemplok satu sama lain? Siapa yang gak cemburu Mas pacarnya digituin sama orang?!" katanya Emosi.


" Saya akui pernah pergi sama Ayu motoran, itu pun tidak sengaja pakai motor si Hakka yang kakinya terkilir. tadinya kamu itu naik mobil Si Irfan sama Tiwi?"

__ADS_1


" Kalau ke kaffe memang saya akui mengajak nya, karena Saat itu Aku butuh teman ngobrol?" kataku.


" Apa cuma ingin ngobrol doang Mas, kita ini lelaki saya tahu kalau Mas itu suka sama Ayu.?" katanya marah.


" Tapi terserah kalian sekarang, hubungan saya dengan Ayu sudah berakhir dan tak mungkin terjadi lagi!" katanya.


" Oke, Saya memang ada rasa suka sama dia. tapi saya menahannya, karena saya tahu dia akan menikah dengan kamu?" Kataku.


" Udah lah mas, Saya sudah muak bicara sama mas. kalau nggak ada yang penting lagi silakan pergi!?" katanya terdengar mengusir kami berdua.


Aku menatapnya.


" Linggar, kedatangan saya kesini itu memang tujuannya untuk memperjelas pokok masalah di antara kita. jangan sampai setelah kejadian ini berlalu akan menyisakan dendam di hati kamu atau di hati saya.?"


" Akan menyisakan rasa yang mengganjal, atau bahkan menunggu-nunggu kejadian apa yang akan menimpa kita berdua.?"


" saya nggak tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari, untuk sekarang memang saya sudah menikah dengan orang lain. tapi saya tidak tahu jodoh dan umur saya kedepannya.?"


" atau bahkan jodoh kamu, bisa saja kamu balikan dengan Ayu atau mungkin berjodoh dengan adik saya atau saudara Mas Bandi yang lain.!?"


" Saya ingin memperjelas tentang kita. jika saya salah sama kamu Saya minta maaf sebagai lelaki.


" Saya Hanya ingin tidak punya dendam di dalam hati."


" Tetapi saya beritikad baik terhadap kamu Dulu, dan tetap mengawal Ayu menikah sama kamu sebelum saya tahu kamu berbuat kejahatan lain terhadap saya.!" kataku.


" Udah lah mas, saya beneran muak sama Mas.!" katanya terdengar marah


" basa-basi Mas itu yang bertele-tele nggak perlu saya dengerin. saya akan tetap sakit hati sama Mas dan Ayu.!" katanya seperti mengancam.


" Istighfar Linggar, gak ada segala sesuatu masalah yang tidak bisa diselesaikan?" kataku.


" Cuihhh, Gaya mu itu bikin aku pingin muntah!" katanya.


Mas Bandi seperti tersulut Emosi. berkali-kali aku menahan tubuhnya yang sepertinya akan memukul Linggar.


" kamu pikir dari tadi Saya enggak muak ngelihat kayak kamu yang sok jagoan rasa dan Ngerasa hebat!"


" Udah mas... Udah mas.. Udah!?" kataku menenangkan nya sambil menahan badannya. beberapa sipir penjara mendatangi kami.


" Tunggu Pak, saya belum selesai sama dia. tolong Bapak bawa saja saudara saya ini keluar?" kataku meminta kepada salah seorang sipir penjara membawa mas Bandi.


Setelah keadaan sedikit tenang aku kembali berbicara dengan Linggar.


Aku menatapnya, sambil tersenyum kecil.


" Linggar, Saya mau minta maaf lagi sama kamu. terserah kamu mau memaafkan atau tidak.!"


" Dan Setelah ini, Seperti nya Kita gak bisa bertemu lagi sebagai orang yg saling mengenal."


" Saya benar-benar minta maaf sama kamu, kalau perasaan saya sama Ayu dulu sempat terlihat sama kamu yang bikin kamu murka?" kataku.


" Saya harap kamu bisa belajar untuk menahan diri, semarah apapun kamu dengan sesuatu jangan sampai merugikan orang Lain?" kataku.


" Saya ataupun kamu masing-masing mempunyai kelemahan. Sebaik-baiknya manusia ialah yang mau belajar dari Kesalahan.?"


" Cukup lah mas, gak usah sok bijak lagi!?" katanya.


Aku hanya mengangguk dan memandang nya lekat.


tak lama kemudian aku berpamitan kepada nya.


***


Aku masih diam berpikir tentang kejadian tadi siang. Sebegitu Benci nya dia terhadapku. Linggar.


Lalu aku memikirkan Ayu, dan merasa Aku melakukan Kesalahan terhadap nya.

__ADS_1


Aku merasa takut jika nantinya dia hidup tak aman gara gara aku.


Ya Tuhan, Sesungguhnya Aku adalah manusia yang berdosa. tolong ampunilah dosaku. pikirku sambil menutup wajah ku sendiri.


" Aa... ada yang nyariin?" kata Mira tiba-tiba. Aku menatapnya.


Lalu aku pergi ke ruang tamu, menemui Siapa kah yang datang.


Aku merasa bingung terhadap lelaki setengah baya yang ada di hadapanku tersebut. Aku Bersalaman dengan nya.


" Maaf ya pak. sebenarnya Bapak ini siapa yaa?" tanyaku. Dia sedikit tersenyum.


" Perkenalkan, nama saya Muhammad Sakur. Ayahnya Arya?" katanya yang sedikit mengagetkan ku.


" Ohh, iya pak maaf. saya tidak tahu, Saya belum punya kesempatan untuk datang ke rumah Bapak meskipun Arya mengajak saya?" Kataku.


Lalu aku meminta Mira untuk membuat kan nya minum.


Ketika Mira menyajikan teh di meja, Dengan seksama dia memperhatikan nya.


Mungkin aku tahu apa yang di fikirkan nya.


" Maksud kedatangan saya kesini selain untuk bersilaturahmi dengan Mas nya juga sekalian mau bertanya tentang kabar burung yang beredar?" katanya santai.


" Mengenai apa ya pak?" tanyaku pura pura. Dia tersenyum.


" Saya mendengar jika Arya, anak Saya sudah menikah dengan adik nya Mas Sakha secara siri?" tanyanya lagi.


Aku hanya diam.


" Lalu?" tanyaku.


" Yaa... saya sebagai orang tua nya ingin memastikan saja, apakah kabar itu benar?" katanya.


Aku hanya tersenyum lalu mengangguk.


" Lalu kenapa istrinya tidak campur dengan Anak saya?" katanya kemudian.


Aku menatapnya sambil kembali tertawa kecil.


" Maaf Pak bukannya saya menghalang-halangi mereka untuk bersama. tetapi Arya sendiri meminta waktu untuk memastikan Mira adik saya diterima oleh Bapak dan ibunya..?"


" saya tahu jika dia belum begitu siap saat menikah dengan adik saya. namun dia tidak rela jika adik saya itu menikah dengan orang lain.?"


" Apalagi saya dengar dia sempat dijodohkan dengan orang lain, kemungkinan besar itu yang membuatnya merasa perlu Berbicara baik-baik kepada ibu dan bapak.?" kataku.


Dia hanya termanggut-manggut pelan sambil menatap ku.


" Saya sih sebenarnya merasa tidak keberatan Arya menikah dengan siapa pun, kalau saya merasa senang jika Arya Sudah berani memutuskan untuk menikah.?" " Harapan saya sebagai orang tuanya, iyalah melihat yang menikah Mas?" katanya.


Aku mengangguk kecil.


" Maaf pak, sebenarnya saya sempat ragu jika merah tidak akan diterima di keluarga Bapak. saya memikirkan status sosial Keluarga kami yang tidak sebanding dengan keluarga Bapak.


dia tampak tertawa terbahak-bahak.


" status sosial apa Mas, tidak ada seperti yang seperti itu dalam hidup saya. kita itu semua sama meski takdir dan nasib nya berbeda-beda, Tapi bagi saya yang terpenting adalah ketaatan kita terhadap sang pencipta.!"


" Jujur saya sangat senang mendengar Arya mendapatkan seseorang yang yang lulus dari pondok pesantren, mengerti akan Agama."


" Bagi saya perempuan untuk apa berpendidikan tinggi jika tidak punya adab dan rasa hormat kepada seorang suami."


" Saya minta tolong sama Mas untuk segera mempersiapkan pernikahan Arya dan Mira, mengenai biaya biar nanti Arya yang bicara sama mas.?"


"Dan saya pastikan Mira akan diterima di keluarga kami,?" Kata nya yang membuatku merasa lega.


kemudian aku memanggil Mira untuk datang menghampiriku. Aku memperkenalkan Dengan Mertua nya tersebut.

__ADS_1


Tak lama kemudian Arya datang bersama salah seorang temannya, sebenarnya ayahnya tersebut kabur dari rumah sakit sengaja untuk menemuiku.


Aku tersenyum kepada Adik ku tersebut, sambil mengucapkan rasa terima kasih kepada Mertuanya.


__ADS_2