
" Naon Éta Ambu?" Tanya ku kepada ibu ku.
" Kadieu Aa.. Tuang sareung Ambu. iyeuh Tutug Oncom, Saur na si Mira Aa teh hoyong nga' Emam Sareung Tutug Oncom??" Katanya sambil menyuruh Mira mengambilkan piring untuk ku.
#( Sini Aa..Makan sama ibu. ini ada tutug oncom,kata si Mira Aa Kepingin maka. sama Tutug Oncom?)
Aku hanya tersenyum Kecil kepada keduanya. Rasa Syukur ku Muncul telah memili mereka sebagai keluarga.
Anak anak ku juga tampak ikut menikmati yang di berikan oleh Tantenya, Mira. Hanya Bening Bayam dan tempe goreng. Walaupun berantakan, mereka Tampak lahap memakan nya.
Ibu Tiri ku di nikahi oleh Abah ku dulu, tak lama setelah Ibu kandung ku Meninggal.
Beliau meninggal di kampung ini, dan di makam kan di sini. Aku berencana untuk mengunjungi makam nya setelah ini.
Sudah sejak bertahun-tahun lalu Ambu Sakit. Membuat nya tidak bisa berpergian jauh atau melakukan aktivitas yang berat.
Hampir semua pekerjaan rumah, si Mira yang mengerjakan nya. Ambu hanya sesekali masak. Setiap harinya dia hanya di rumah. melakukan kegiatan kegiatan yang ringan saja.
***
Dengan menggendong Lio, aku menyusuri jalan setapak ini bersama Mira yang menggandeng tangan Danesh.
Abah tampak masih Gagah di depan ku sambil membabat Alang Alang menggunakan parang yang di bawa nya.
Tak berapa lama, kamu menemui gundukan tanah makam yg tak jauh dari jurang.
Tak jauh dari kebun pohon singkong dan sebatang pohon buah Kweni ( Sejenis mangga) di dekat nya.
Di sekitar Makam mamah ada beberapa makam lain. tak banyak, salah satunya makam Aki dan Nini, orang tua Abah.
Kusadari makam ini ada di daratan yang lebih tinggi. ketika memandang sekeliling, tampak kota di sebelah sana dan jalanan berbeton. jalan Toll yang ku lewati jika mau ke Jakarta.
Semilir angin Pagi dengan Sinar matahari yang mulai meninggi, menghangatkan tubuh ku.
Mungkin yang terlihat hanyalah Sebidang Pemakaman Kampung Biasa.
Namun kurasa, ini adalah tanah Pemakaman yang Di ingin kan setiap orang. Penuh kedamaian, Seperti menyatu, Kepada tanah Dari mana kami berasal.
(# Dalam QS. Nûh} [71]: 17-18 ditegaskan bahwa manusia dibuat dari tanah dan kelak akan kembali ke tanah setelah kematiannya, kemudian dikeluarkan lagi pada hari kiamat.- *Pandangan Islam)
🌸🌸🌸
Aku berjalan mendekati makam Mamah, dan bersimpuh di dekatnya.
Seketika air mata ku turun, Aku menangis.
Seperti ada rasa Rindu yang ku pendam lama terhadap nya, Dalam bayangan ku juga Wajah mamah tampak semakin pudar.
Aku semakin merasa berdosa kepada nya.
Aku mencium Nisan nya yang tampak memudar. Aku menangis lama, sesegukan karena nya. Danesh dan Lio pun menangisi ku yang menangis.
Mungkin mereka tak tahu Aku Kenapa.
" Mah, hampura Sakha nya mahh. Hampura Sakha NU sering lepat Kana mamah di dieu. Hampura Sakha nte jadi budak Nu Sholeh Jang mamah. Hampura Sakha maahh... Sakha menta Ampun Kana mamah??" kataku menyesal.
#( Mah, maafin Sakha ya mah,Maafin Sakha yang sering lupa sama mamah Di sini. maafin Sakha gak jadi anak yang Sholeh buat mamah, maafin Sakha mahh, Sakha minta ampun. sama Mamah??)
" Atos Aa, Ulah Ceurik??" Terdengar adik ku Mira yg ikut menenangkan ku sambil sedikit mengusap Air mata nya. Lio tampak memanggil manggil nama ku sedih, sambil berkata jangan menangis. Tak di sangka sangka.
Kemudian Mira tampak menenangkan kedua keponakan nya itu.
" Keun Mira, Aa teh memang Budak Nu nte Bakti ka kolot. Ulah Nepi maneh Siga Aa?" Kataku Sambil memeluk Lio.
#( Biarin Mira, Abang memang anak yg gak berbakti sama orang tua. jangan sampai kamu seperti Abang)
Abah ku tampak memimpin Doa.
Entahlah, Seketika aku Rapuh seperti kosong Tak berisi.
Aku Mencoba mengingat ingat kejadian lama. Memory lama yang ku simpan Saat masih bersama Mamah.
Aku menangis karena tak mampu lagi Mengingat nya secara jelas. hanya samar jemari nya menggapai ku saat tergeletak di tempat tidur nya. Dia sakit, saat itu
__ADS_1
Wajahnya pucat, Tirus. Di ingatanku hanya berwarna Hitam dan putih.
Seingat ku dia mencoba meraih ku, memandang ku dengan wajah Layu nya.
Mamah...tangis ku. sambil mencium Nisan nya.
Mamah..mamah.. Mamah.. Sakha kangen ka Mamah, jerit batin ku dengan berlinang air mata.
Abah. Hanya membiarkan ku menangis.
" Isukan mah, Bakalan kumpul. Ngariung di dieu Da Sepp??"
#( Besok Mah, Bakalan kumpul Bersama di sini )
Aku Hanya diam, entahlah apa maksud nya.
" Sanaos Urang baheula papisah. Anjeun kedah angkat ka Tasikmalaya, nyai kanggo ngurus mamah Anu Mumuriangan, Abah Sorangan sibuk Sareung Dina. Neang Waragad Jang Indung Anjeun.
Hampura Abah Tara bungahkeun Ka keluarga.?" Katanya lirih
# (Meskipun Kita sebelumnya terpisah. Kamu Harus ke Tasikmalaya, nyai mengurus mamah Kamu yang sakit sakitan. Abah sendiri sibuk nyari uang buat Mamah mu. Maaf, Abah gak pernah bahagia in keluarga)
" Ayeuna na Mah, Anjeuna Geus Balik. Abah pesen Pepejeh, Pang jagakeun Kaluarga.
Adi Adi Anjeun. Si Nyai Sanajan kaos Kitu ka Anjeun.?!" Aku hanya mengangguk.
#( Sekarang , kamu sudah pulang. Tolong pesan Abah benar benar di pegang. Tolong Jagain keluarga. adik adik mu, Nyai/ teteh mu walaupun begitu sama kamu.)
Kemudian aku merangkul nya Haru.
Sesaat, kami berbincang Apapun sebelum pulang ke rumah Jolopong milik nya.
Sungguh, aku ingin tinggal di sini Suatu hari. pikirku.
Sejauh apapun kemarin kaki ku melangkah, mana mana tempat yang pernah ku singgahi.
Tempat terbaik adalah Kampung kelahiran Sendiri. Dimana Ada Ayah dan ibu tinggal.
***
Ambu teh Hoyong SJ Mira di Pang kursus keun. Naon wae, Amih boga kabisa??" kata ibu ku pada ku.
#( Aa.. Ibu tuh pingin kalau si Mira bisa sekolah lagi. Ibu merasa sakit hati kalau ingat si Mira gak bisa sekolah karena ngurus ibu.
Ibu Kepingin Si Mira di Kursus in. apa saja supaya punya keahlian.)
Aku memandang Wajak Adik ku itu. lalu tersenyum kepada nya.
" Sugan teh Anjeun Geus hayang kawin Mira??" kataku sambil tertawa.
Dia tersenyum malu kepadaku sambil menyangkal kepada ku.
" Hayu Atuh milu Aa Mira, ka Jawa. Ngabaturan Aa di Ditu??" kataku.
#( Yaudah, ayo ikut Aa, ke Jawa. nemenin Aa di sana)
" Hoyong sih Aa, tapi moal ah. Mira da hoyong cakeut ka Ambu Sareung Abah.
#( Mau sih Bang, tapi gak lah. Mira maunya deket sama ibu sama Abah.)
Aku hanya mengangguk, Mendengarkan nya berkata seperti itu sambil merangkul nya.
" Ulah bobogohan wae nyak. Mun kanyahoan Aa kawin keun maneh??" kataku sambil mengeratkan rangkulan ku itu sambil tertawa.
#( Jangan pacaran saja yaa.. kalau ketahuan Abang nikahkan kamu)
" Aa...Nanaonan sih. Da henteu boga kabogoh Mira mah??" Katanya setengah berteriak.
#( Abang.. apa apaan sih. Mira gak punya pacar)
*****
" Sampai kapan kamu sembunyikan ini dari dia Livi??" kata Maurice kepada ku. Aku menatapnya.
__ADS_1
" Gak mungkin kamu pendam Cerita ini terus menerus, Bukan nya om Vanus sudah tau kalau??" Katanya terhenti.
"Sudah,tapi aku memohon untuk Tidak mengatakan nya kepada Sakha. Biar aku sendiri yang mengatakan nya??" Jawab ku.
Aku menatap Kylie Yang terbaring lemah di tempat tidur nya.
Sebenarnya, aku malu untuk menemuinya setelah kejadian itu.
Dua kali aku tertangkap basah oleh nya. Bukan karena??
***
Aku merapikan pakaian Anak anak ku ke dalam tas. dan bersiap untuk kembali ke Jakarta sekarang.
aku menatap wajah keluargaku satu persatu, wajah Abah dan Ambu ku yang semakin menua, sungguh aku merasa menyesal melewati hari-hari ku tidak bersama nya. kemarin aku terlalu sibuk mengejar suatu.
hingga melupakan dari mana aku berasal.
di dalam hatiku, aku berjanji bahwa akan lebih sering mengunjungi mereka di sini.
kemudian menatap wajah kedua Adik perempuanku, keponakan Azzam dan adik iparku. wajah lugu mereka polos tak menyembunyikan rasa atau berpura-pura.
semburat rasa sayangnya terhadapku sangat terlihat.
ada perasaan bangga Dari mereka Karena memiliki ku sebagai kakak lelaki nya. Padahal aku bukanlah siapa-siapa dan merasa tak pantas untuk dibanggakan.
Aku dipaksa membawa sedikit oleh-oleh, katanya untuk mamanya anak-anak dan mertua ku di Jakarta.
hanya Abah yang mengetahui ku jika sudah bercerai. yang lain belum.
aku sempatkan untuk menyiapkan Air, ku ambil Dari mata air yang mengalir dari Gunung ke Bak,di belakang Jolopong. Kami biasa mandi Di situ.
Aku Niatkan mencuci kedua kaki orang tuaku. meminta doa dan restu untuk setiap langkah yg aku jalani atau akan aku hadapi.
Sambil menangis mereka memegang kepala ku.
Aku bersimpuh dihadapan mereka, Tangis ku juga mulai pecah'.
**
" Ambu miharep anjeun hasil Aa. Janten jalma anu suksés, dipercaya ku jalma, jalma ogé bakal saé pikeun anjeun. Naha teu aya halangan anu teu tiasa diungkulan engké?
Katanya sambil memeluk ku.
#( Ambu Doain kamu Sukses Aa. jadi orang yang berhasil, di percaya sama orang, Orang orang juga akan baik sama kamu. Gak ada hal rintangan yang gak mampu kamu lalui nantinya?).
" Létah anjeun mangrupikeun létah seuneu, anu anjeun carioskeun pasti bakal kajadian.
Tulang anjeun beusi. moal gampang peupeus. Naon anu anjeun lakukeun pasti jalan.!?"
#( Lidah kamu itu Lidah Api, Apa yang kamu omongin pasti akan terjadi.
Tulang kamu itu besi. gak akan mudah patah.Apa yang kamu kerjakan pasti akan berhasil.)
" Kuncina ngan ukur hiji, tong hilap milampah kahadéan pikeun jalma, Senang masihan? ""
Ceuk Abah.
#( Kunci nya Cuma satu, jangan lupa ngelakuin kebaikan untuk orang, Senang memberi?)
Kata Abah ku.
" tong karaos hébat, tong sirik. Gaduh raos cekap sareng syukur ka anu maha kawasa.?"
Tambihkeun deui.
#( jangan merasa hebat, Jangan Rakus. Punya lah Rasa Cukup Dan Rasa syukur sama yang maha kuasa.?")
Tambah nya.
" Adil, cinta ka jalma anu bogoh ka anjeun. Entong ngaréspon jalma anu jahat ka anjeun. Entong capé. Mikir kajahatanana sareng anjeun.
#( Berlaku Adil, Sayangi orang yang sayang sama kamu. Jangan balas orang yg jahat sama kamu. gak usah capek-capek Mikirin kejahatan mereka sama kamu.)
__ADS_1