Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.

Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.
Episode 8


__ADS_3

Aku berkali kali mencuri pandang kepada Sakha yang memperlakukan Danesh sangat Papaable.


Caranya mencium dan mengelus rambut Arcel yang lembut. caranya menggenggam tangan anak anakku yang sangat Soft. Manly.


Seketika aku jatuh cinta dengan segala perlakuan nya terhadap anak anakku,yang juga anaknya.


Apakah emang ini sifat aslinya atau kah akting saja selama di depan ku.


Yang ku ingat dulu saat Danesh masih kecil juga begini sihh perlakuan nya?? Ahhhhh....


Dan tiba-tiba ada perasaan kehilangan, bagaimana jika perlakuan nya tak dapat aku lihat lagi.


Atau perlakuan nya untuk anak yang lain. bukan untuk Danesh dan Arcel.


Ada perasaan sedalam itu,Rasa takut dan menyesal melepaskan sikap sikapnya nanti yang akan menghilang.


Lihat... bagaimana caranya mengusap mulut Danesh yang belepotan karena remah remah ayam goreng dan minyak.


Caranya memberikan minum kepada anak anak ku atau ikut menyuapi Arcel dengan sendok yang terlihat semakin kecil karena di pegang nya.


Sesekali dia tertawa kecil atau tersenyum sambil menatap kedua anaknya.


Sebahagia itukah perasaan nya,atau hanya pura pura?


Sudahlah,ini tak akan membuat ku memaafkan apa yg sudah dia lakukan untuk mengorbankan rumah tangga kami. Namun aku ada perasaan Sayang, Sayang jika semua sikapnya yang lembut nya tak terasa lagi untuk kedua anakku.


" Estu... ayo cepat di habiskan.ini loh Danesh sudah ngajak beli Crayon?" katanya tiba tiba mengagetkan lamunan ku. aku hanya menatap nya.


" Dirumah itu masih ada Crayon nya,cuma belum di serut aja?" kataku.


" Lagian ibu pasti ngomel ke dia,diem diem suka coretin dinding??" lanjut ku.


" Ow.. ya pasang wallpaper aja dulu kamarnya. atau mungkin kamu lupa periksa buku gambar nya yang habis.?"


" lah emang dasar anak nya yg suka gambar sembarangan?" Jawab ku.


" Ya tolong maklum lah. namanya juga anak kecil.?" jawab nya.


" kita gak bisa maksa dia begini begitu. ya sebaiknya baiknya kita ya terus ngasih tau, ngasih pengertian kedia?" katanya lagi.


" Jangan sampai aja dia kehilangan sesuatu yang dia minati.bakatnya mungkin?"


" Bakat apa, wong coretan nya garis gak jelas gitu?!" sahut ku ketus.


" ya siapa tau belum terlihat saja?"


" Ckkk.... belum terlihat apa!? itu coretan nya udah ada di sana sini. sampai ke ruang tamu?" kataku sedikit kesal.


Dia hanya tertawa sambil mengacak rambut ku.


aku menatap nya sambil berujar dalam hati...heiii apa ini??


*****


" Nahh... sampai?!" katanya sambil memberhentikan motor yg kami kendarai berhenti di depan komplek perumahan kami dahulu.


dia menengok ke arah ku.


" Mau mampir sebentar gak Estu, nengok rumah kita dulu buat terakhir kali??" tawarnya.


Aku menatap nya tajam penuh arti.

__ADS_1


kemudian dia tertawa.


" aku janji,gak akan melakukan itu lagi sama kamu.?!"


terang nya.


Perlahan aku buka pintunya, tampak isi rumah yang sedikit berantakan. Masih ditempat semula seperti terakhir kali aku tinggal kan. hanya saja foto dan hiasan dinding yang menggantung sudah tak ada lagi.


Sakha tampak menggendong Danesh yang tertidur di perjalanan tadi.


Dia meletakkan tubuh Danesh di sofa panjang milik kami dulu.


Sofa yang pernah ada cerita bagi kami dulu di atasnya.


Perlahan dia melepaskan sepatu sandal yang dipakai Danesh.


Arcel yang ikut tertidur di gendongan ku juga sedikit agak gusar karena ku letakkan di kasur lantai di ruang tengah. seperti nya untuk tidur Sakha. sedangkan kamar rumah ini sudah ku kunci yg di pegang oleh ku.


Sudah pukul dua siang Rupanya. Saat Kami pergi meninggalkan rumah , aku lupa membawa ponsel ku memang. karena ku pikir kami hanya akan pergi sebentar.


" Kamu mau minum apa??" tawar Sakha padaku.


" Gak usahlah, nanti aku ambil sendiri !" jawab ku.


dia mengangguk sambil beranjak ke kamar mandi


" Aku mau solat Dzuhur dulu yaa?" katanya setengah berteriak dari belakang.


*******


" Dinding rumah ini kosong, padahal aku punya keinginan.?" Katanya menerawang.


" Buat punya foto keluarga yang aku gantung kan di situ??" kata Sakha Sambil duduk di samping ku.


Dia kemudian tersenyum kepada ku. aku langsung memalingkan muka ku.


Aku sedikit mendengus dan tersenyum sinis terhadap nya.


" Kamu kan bisa buat nya suatu hari??!" kataku datar.


Dia tertawa.


" Maksud ku, tadinya mau ku begitu. foto kita loh??" katanya tenang


" Tapi ya sudahlah, mungkin nanti nya kita foto keluarga masing-masing??" katanya lagi sambil menatap ku.


Terdengar suara Rintikan Hujan dari atap rumah.seketika kami saling pandang.


" Di luar hujan Estu, kamu mau pulang kapan??" tanya nya kemudian.


" Ya nanti ajalah. anak anak aja masih tidur??" jawab ku sambil memegang pelipis kening ku.


" kamu kenapa??" tanya nya


Aku hanya menggeleng perlahan.


" Kamu migren ya. aku ambilkan balsem ya??" tawar nya.


" Gak usah?" tolak ku.


" Ohh iya,kamu gak suka ya sama bau balsem. aku buatin teh aja ya??" katanya sambil beranjak ke dapur.

__ADS_1


*******


" cepet diminum panas panas... di seruput pelan gitu" katanya kemudian sambil meletakkan teh panas di hadapan ku.


Aku hanya diam.


Kemudian dia menghampiri Arcel, dan berbaring di samping nya.


Sesekali dia menciumi wajah anak nya itu dengan mesra.


lagi lagi aku melihat pemandangan yang indah, penuh romantisme antara ayah dan anak.


Kenapa tak pernah ku sadari dulu ya. saat Danesh kecil, sikap Sakha pun begitu. Dulu aku pikir itu hal yang biasa saja. namun kenapa sekarang sikapnya terasa istimewa terhadap Ganesha Arcelio Adisakha. anak kedua kami.


******


Jam berapa ini?? pikir ku sambil membuka mata. Rupanya aku tertidur tadi.


Dimana ini, pikir ku sambil melihat kesekitar.


Anak... anak siapa?? Eh iya anak ku batin ku sambil merasa bodoh. Tadi kami kesini berempat?? lalu aku mencari dimana Danesh dan Estu.


Danesh ada di belakang punggung ku rupanya, bukan nya tadi dia ku letakkan di sofa??


Estu..mana Estu pikir ku sambil menatap kesekitar mencari keberadaan nya.


Rupanya dia tertidur di lantai, di bawah kaki Arcel. Hanya kepalanya yang bersandar di atas kasur.


Aku segera beranjak menuju ke kamar mandi.


" Sudah bangun??" tanyaku kepada Estu sekembalinya aku dari Shalat Ashar. Mukanya sedikit berminyak, Rambut nya terlihat berantakan. aku hanya tersenyum sambil berjalan mendekati Danesh yang masih tertidur pulas.


Aku menciumi wajahnya yang mungil. Anak ini mirip sekali dengan Estu pikir ku.


Kelopak matanya yang kecil, bibirnya yang merah dan mungil. tapi hidungnya punyaku. mirip dengan ku. Dia menggeliat sambil memiringkan kepalanya. aku tertawa kecil.


kucium lagi wajahnya yang tampak risih dengan janggut ku yang kasar.


" Mandi yok sayang... asem nih??" kataku sambil mencium perutnya. Danesh tampak kegelian.


" Gak mau Papa?" jawab nya


" Loh kok gak mau, ayok pulang. eyang udah nyariin itu??" kataku . dia hanya menggeleng perlahan.


Tak lama kemudian Arcel terbangun dari tidurnya, seketika dia menangis. Tampak Estu menenangkan nya. Spontan dia mengeluarkan itu untuk menyusui Arcel. aku memalingkan muka.


" Estu.. kayak nya tadi bapak telfon. waktu kita tidur tadi?" kataku.


" Hmm... terus kamu jawab apa??"


" Kok jawab apa?? kan tadi aku tidur??" jelasku.


" Kacau nih, nyawanya belum kumpul??" kataku sambil tertawa. Dia hanya santai sambil melirik ku sambil memukul pelan pantat Arcel.


" Jangan tidur lagi sayang..heyy..heyy??" katanya.


" Bangun nak, nanti malam kamu melek sampe jam berapa. gak mau Mama nemenin kamu begadang??" katanya lagi.


Aku hanya tersenyum menatap nya.


" Danesh, ayo mandi sama Papa??" kataku lagi

__ADS_1


dan dia kembali menolak.


__ADS_2