Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.

Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.
Episode 116


__ADS_3

" Ya Hallo?" kataku mengangkat telepon dari Marco yg tak disangka sangka.


" Hallo Livia? ini ada yang mau bicara sama kamu?" katanya kemudian.


Aku sedikit diam setelah mendengar suara nya itu. Aku ingat persis suara itu milik siapa?


" Baik Om?" Kataku Sedikit Canggung.


" Hmmm... Saya ada di Jakarta sekarang Om.?" kataku lagi.


" Iya Om, memang saya sudah menikah sekarang." Kataku... lalu Tertawa canggung kemudian.


" Apa Om? Bahagia, maksudnya?" tanyaku sambil menelan ludah ku sedikit. lalu terdiam mendengar kan suaranya.


" Kebahagiaan itu relatif sih Om, tidak melulu bisa di Standar kan sama sesuatu? Ya namanya juga menikah, pasti ada saja kurang lebihnya. Tapi saya berusaha menikmati nya.?" jawab ku.


Kemudian terdengar tawa nya yang seperti itu. dan tak berapa lama dia mengucapkan salam perpisahan.


" Oh iya, baik. saya simpan nomor nya Om?" kataku sebelum menutup ponsel ku itu.


Aku menatap ke sekeliling, sedikit mengingat saat aku masih menjadi Baby nya? Kemudahan apa yg tak kudapati Dari nya yang Punya uang banyak??


Profil nya sebagai kepala keluarga yang sangat mencintai keluarga nya itu berbanding terbalik dengan kenyataan yg ada.


Mempunyai nama, kedudukan dan jabatan serta harta yang berlimpah nyatanya juga tak membuat manusia itu bersyukur atas kebaikan Tuhan padanya?


Meskipun aku pernah di lingkaran yg seperti itu, Bersyukur atas apa yg telah menimpaku. Aku punya Kylie dari Sakha.


Lelaki yang pertama menjadikan ku sebagai Sugar Baby nya. Dan sekarang aku telah menjadi istrinya.


Tak berapa lama kemudian, terdengar suara Sakha yang memanggil namaku. Dia baru saja datang.


" Sudah pulang? Gimana keadaan nya teteh kamu?" kataku. Dia menatapku lesu dan terlihat letih sekali.


" Aku gak jadi ke Bekasi. tadi aku malah di telfon Ade karena tau aku ada di Jakarta?" katanya sambil masuk kedalam rumah.


" Loh... kok malah main sama Ade? kemana?" tanyaku.


" Gak kemana-mana. cuma mampir ke Pub Sebentar." katanya lagi.


" Ke Pub? kamu minum?" tanyaku.


" Aku gak minum?" Katanya sambil mengambil gelas di tempat nya.


" Lalu? ngapain ke Pub?" tanyaku Sambil mengekori nya yg berjalan.


" Udah sih gak usah tanya terus, aku capek!" katanya dengan suara yg sedikit membentak. Aku kaget dan menatap nya tajam.


" Ya ngapain ke Pub kalau gak minum? Kamu main perempuan apa pergi juga ke Karaokean?!" tanyaku mencecarnya.


" Enggak?! Aku cuma ketemu sama Ade. kita bicara, ngobrol sesuatu yg bikin PUSING!" katanya sedikit keras.


" Tolong sekarang, kamu jangan tanya sesuatu yg bikin aku pusing lagi?!" katanya sambil duduk di sofa dan menyandarkan kepalanya.


Aku menatap nya Aneh. tak lama aku membiarkannya nya sendiri.


**


Sudah hampir jam dua pagi dia belum juga masuk kedalam kamar?


Sebenarnya dia kenapa seperti itu? Dia membicarakannya apa dengan Ade, teman sekantor nya dulu itu?


Lalu aku memutuskan untuk menghampiri nya? Namun dia tak ada di ruang tamu, di sofa tempat nya tadi Tidur. Aku mencari nya di kamar Kylie, ternyata dia juga tak ada. kemana dia pergi pikirku.


Aku mencari nya ke atas, ke kamar tamu. ternyata dia ada disana sedang Shalat. Shalat malam mungkin?


Terdengar suara tangisannya yang Pelan??

__ADS_1


Sakha menangis? Apa Menangis!? pikirku tak percaya? Sebenarnya dia Kenapa, Aku tak pernah melihat nya seperti itu sebelumnya? Dia kenapa pikirku.


**


" Kha... bangun?" kataku pelan sambil menggerakkan tubuhnya itu yg tertidur di kamar Kylie.


Aku menegang perutku yang rasanya kram itu.


" Sakha... Kha.. bangun?" kataku sambil menahan Rasa Sakit di perutku itu.


" Apa?" katanya pelan sambil mengucek matanya itu.


" Perut aku sakit??" kataku sambil meringis.


Dia bangkit dari tidur nya itu sambil memegang bahu ku.


" Kamu Kenapa?!" katanya terdengar panik.


" Perut aku Sakit?" kataku sambil sedikit menangis karena rasanya nyeri.


" Kamu makan apa tadi?" katanya.


" enggak makan apa apa? Sakit khaa...?" kata ku sambil menangis perlahan.


" Ayo ke dokter!?" katanya sambil berdiri dan mengambil dompet dan kunci mobilnya itu.


Dia memapah ku masuk kedalam mobil lalu Segera berlari masuk lagi ke rumah. Dia keluar sambil menggendong Kylie yg tertidur.


" Aku gak bisa ninggalin dia sendiri di rumah?" katanya.


**


" Haid terakhir kapan Bu?" tanya dokter nya kepada ku. Lalu aku terdiam, mencoba mengingat nya.


Dokter nya tersenyum.


Aku menatapnya lekat.


" Sepertinya Dua hari kemarin Dok?" jawab ku. Si Dokter nya malah tertawa.


" Ibu gak sadar ya kalau ibu sedang hamil?" katanya kemudian yang membuatku kaget.


Aku hanya diam, rasanya tak percaya.


" Ibu sedang hamil muda Bu, lebih baik jangan melakukan hubungan badan dulu sama Suami ibu?" katanya lagi.


" Kalau di lihat-lihat.. seperti nya usia kandungan nya baru 7 - 8 Minggu?" katanya.


" Tolong Panggil kan Suaminya ibu dulu Yaa?" katanya kemudian.


**


Aku hanya diam Setelah mendengar dokternya bicara seperti itu. Mendadak kepalaku menjadi pening.


Aku diam saja sambil berjalan ke arah parkir mobil.


" Kha... kamu gak suka Kalau aku hamil!?" kata Livia saat kami sudah ada di dalam mobil. Aku menatapnya


" Kok ngomongnya begitu?" jawab ku.


" Yaa... dari tadi ekspresi kamu seperti gak Suka Begitu!?" katanya.


" Aku ini masih ngerasa ngantuk, jadi sedikit syok sama berita kehamilan kamu. Aku malah suka kok?" kataku sambil tersenyum.


" Bohong?" katanya seperti akan menangis... Loh...loh...loh... kenapa ini pikirku, Dan memang kemudian dia menangis pelan.


" Livia? Kenapa sih. kok malah nangis Gitu?" kataku bingung.

__ADS_1


" Aku sedih aja lihat kamu yang begitu.?" katanya.


" Yaa.. aku harus bagaimana. ini masih nyetir ini?!" kataku.


" Kamu gak tau dulu aku yang harus hamil Kylie sendirian. Gak ada yang merhatiin. sekarang kamu malah begitu?" katanya sambil Menangis dan mengusap air matanya itu.


" Maaf... maaf?" kataku sambil memberikan nya tissue.


Dia sangat emosional sekali pikirku. Sangat berbahaya jika dia juga tau??


Aku menghentikan mobil ku itu di sisi jalan. Lalu aku memeluk nya seraya mencium keningnya.


" Maafin aku sayang. aku kurang peka sama kamu?" Kataku.


" Jangan nangis ya Sayang, Aku suka kok kalo kamu hamil Lagi. jadi nanti Kylie akan punya adik yang pastinya rupawan Seperti mama nya?" kataku sambil tersenyum.


" Gombal!?" katanya pelan. itu membuat ku menjadi tertawa kecil.


" I love you." kata ku sambil mencium bibir nya pelan.


**


Aku menelan ludah ku perlahan. Rasanya Kelu sekali lidah ku ini. Aku sangat berat untuk membuka Mulut ku ini.


Estu terdiam Sambil terus menatap ku.


" Kha... kamu Kenapa?" tanyanya kemudian.


Aku menatapnya Lekat lekat.


" Estu.... Livia juga hamil." kataku.


Dia memandang ku seperti kaget. lalu dia memalingkan wajahnya itu.


" Aku..?"


" Aku enggak nyangka ini akan terjadi Secara Bersamaan... kamu sama Livia?"


" Terus aku harus apa? Memang ini perbuatan kamu kan?" katanya.


Aku hanya diam.


" Apa yang kamu takut kan Kha?" tanyanya kemudian. Aku memandang nya.


" Kamu takut Livia tau atau apa?" tanyanya lagi.


" Aku enggak tahu. Aku gak tahu harus mikir Bagaimana? Aku.... enggak tahu lah Aku?" kataku.


Terdengar suara helaan Nafas nya Panjang.


" Aku akan membawa Livia ke Jawa." kataku kemudian.


" Terus Aku?" katanya. Aku menatapnya yg seolah ingin juga di perhatikan.


" Iya, Aku akan Usahan waktu juga untuk kamu?" jawab ku.


" Enggak cuma waktu juga Kha? I need your attention too!!"


" Iya... aku tau. tapi kamu tahu juga kan posisi ku?" Kataku


" Aku gak setuju kalau kamu ajak dia ke Jawa?!" katanya terdengar Cemburu.


Aku menatapnya lalu Terdiam.


Aku seperti berada di Dua kutub magnet yang Daya tarik nya luar biasa.


Mungkin karena mereka sedang Hamil. Segala Hormon nya Tentang itu meningkat.

__ADS_1


Ya Tuhan... Aku harus apa? pikir ku


__ADS_2