Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.

Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.
Episode 4


__ADS_3

" Estu.. boleh dong mau lihat Arcel?" pintanya setelah dia berpamitan dengan Danesh.


aku menatap nya diam.


" Sebentar saja?" pinta nya lagi.


Lalu ku balikan kamera menghadap ke wajah Arcel yang sedang tertidur.


" Masyaallah Tabarakallah."


Terdengar suara nya lirih.


" Apa dia gak rewel kalo siang Estu??" tanya nya.


" enggak" jawab ku datar.


" Dia belum makan bubur Ya Estu?' tanya nya lagi.


" Belum."


" Susu formula nya apa?"


" Aku belum pake sufor, masih asi."


" loh kan kamu kerja?"


" Aku tinggalin dia Asi ku."


" Hah!, Maksudnya gimana??" katanya sedikit tersenyum


" Kamu tinggalin satu gitu Punya mu?" katanya mengajak ku bercanda.


Hampir saja aku tertawa geli karena pertanyaan nya.


" enggak lah, aku pompa Asi nya."


" Oo...nanti gede dong ya?"


" jadi ASI-nya keluar banyak?" katanya sambil senyam senyum.


" Udah lah..udah malem?" kataku.


" kapan kapan lagi?" kataku cepat cepat menyudahi.


" Bentar Estu, aku pingin cium anak aku??" katanya kemudian.


Lalu terdengar suara kecupan dari nya yang dulu terbiasa ku dengar.


Sesaat sebelum ku tutup Panggilan video ini,aku kembalikan kamera ke kamera depan.


Dia tersenyum kepada ku.


" Ya udah, selamat malam ya. Terima kasih ya??" katanya sambil tersenyum.


tetapi masih melihat jelas mata nya yg memerah.


Aku menatap nya datar.lalu kemudian aku menutup panggil itu.


*******


Bukan tak tau kalau dia menangis. menahan rasa yang benar benar rindu terhadap kedua anaknya.

__ADS_1


Bukan tak tahu, dia mencoba mencari celah pembicaraan kepada ku.


menawarkan perkataan perkataan menggelitik yg mengundang tawa.


kebiasaan yang selalu kamu hadirkan dulu di rumah kita.


memang,sesaat setelah Arcelio lahir,empat bulan lalu. aku memilih untuk pulang kerumahnya ibu ku. dengan alasan aku yang melahirkan Cesar tak ada yang membantu merawat aku, Danesh dan Arcelio.


Sengaja aku lakukan sambil menyiapkan surat gugatan terhadap nya.


Semua aku persiapkan, Sampai hari ini dengan keadaan yang begini.


Sudah aku persiapkan untuk membalas kamu. Jujur, aku ingin kamu sakit. seperti aku yang merasakan rasa sakit karena pengkhianatan kamu.


Maaf saja jika aku tidak membalas nya dengan cara yang sama seperti yang kamu lakukan.


Aku bisa menyakiti mu Tampa memberikan badan ku kepada siapapun.


********


" Terus,kamu bakal ngambil langkah apa Kha??" tanya Ade kepada ku sambil menarik Vape yang di pegang nya. Aku menatap nya,lalu meminum es jeruk ku.


" Aku lanjutin aja, aku mau in aja maunya?" kataku sedikit pelan.


Ade tampak terkejut.dia memegang bahu ku.


" Kamu serius sama yang kamu lakukan Kha??" tanyanya. aku hanya mengangguk pelan.


" Terus... Komitmen kamu yg dulu kamu ucapkan gimana?" tanyanya lagi.


" Bukanya kamu ingin ambil hati orang tuanya Estu,memperbaiki kesalahan kamu. sebagai tanda terimakasih,tanda bersyukur kamu sama orang tua nya Estu yang sudah mengangkat harkat martabat kamu!?" katanya sedikit menekan. aku menatap nya dalam.


" Buat apa de,buat apa aku pertahankan ini semua.?"


" Aku udah di buang di hati nya,udah di buang di hidup nya!!?" kataku sedikit keras.


Tampak Ade memandang ke sekitar kantin,tempat kami berbincang.


" Pelan in suara kamu Kha?" katanya lirih sambil meletakkan telunjuk di depan bibir nya.


Aku hanya menatap nya diam.


" Berapa kali aku minta maaf ke dia,ke orang tua nya sambil nangis darah pun..? gak bakal dia maafin aku !?"


" Apalagi dari awal orang tuanya, keluarga nya gak suka sama aku?"


" Aku SUNDA. Aib bagi keluarga nya dapat menantu aku yang Sunda ini!" kataku


" Di tambah aku yang tak tau diri. lengkap kan kesalahan aku?!" kataku sambil tersenyum sinis.


" Aku lebih baik iya in aja maunya dia,dari pada merengek minta maaf,nelpon in dia atau datang ke rumah orang tua nya. percuma!?"


" yang ada aku makin di jauhi sama anak anak aku de?" kataku sedikit sedih.


" Aku Niat mau ngasih nafkah ke anak ku juga di tolak De..Katanya gak usah,tabung aja?"


" Apa coba maksudnya??" kataku


Ade lantas merangkul bahu ku seraya menarik nafas nya.


" Kamu gak niat lain di balik ini semuanya kan Kha?"

__ADS_1


Aku menatap matanya yang penuh arti.


" Maksud kamu!?" kataku dengan mata yang saling beradu. lalu aku tertawa kosong


" Enggak lah.. Aku sudah gak pernah ketemu Livi,atau telpon,sekedar pesan pun enggak de?" jawab ku.


" Udah hampir setahun kali De,aku gak kontekan sama dia."


" Aku gak tau sekarang dia ada di mana ataupun bagaimana keadaan nya?!" kataku lagi.


" Jangan kan sama dia,sama cewek lain pun aku gada niat mau cepet cepet kawin,atau cari yang lain.?"


" Aku pusing sama Hidup ku De, gini amat ya??" keluh ku.


" Aku juga gak tau bakal gimana nasib ku di sini??" kataku lagi.


***********


Bapak mertuaku itu tadinya petinggi di kantor BUMN Dimana sekarang aku mengabdi.


Aku bisa diterima disini pun karena campur tangan nya. Pengaruh nya masih terasa walaupun dia sudah pensiun sejak beberapa tahun yang lalu.


Masih banyak koleganya di kantor ini.


Bisa saja aku di Mutasi atau di pensiun kan dini. Entah lah. Aku benar benar sedikit khawatir dengan nasibku sendiri.


Dan, setelah aku putus dengan Livia karena skandal kami ketahuan oleh Estu dan keluarga.kemudian kami berpisah.


Aku sendiri mengenal Livia karena tak sengaja.


Saat itu aku datang ke rumah sakit dimana Rudi di rawat karena DBD. Aku sebelumnya tak mengetahui jika Livi adalah adik sepupunya yang tengah berkuliah semester akhir di fakultas ekonomi. Kami berkenalan,ya hanya biasa saja saat itu.


Kemudian Dia menumpang mobil ku untuk pergi ke salah satu gedung yang akan aku lintasi.


Jujur, mungkin Rudi lebih brengsek dari ku. Anak istrinya tak di urus. punya sugar baby belum lagi kelakuan nya yang sangatlah absurt. Tak bisa di jelaskan


Saat aku sedikit mengorek informasi dari Livi tentang Si Rudi, Dia bukan tak mengetahui nya. tetapi sengaja diam.


Bermula dari saling bertanya, Ketemu dan suka.


Jujur Aku merasakan sesuatu di waktu yang Salah.


Livia sebenarnya tahu jika aku sudah menikah,dan saat itu dia akan bertunangan dengan pacarnya yg berhubungan semenjak lima tahun lalu, Panca.


Aku rasa dia mau dengan ku bukan karena uang atau sesuatu materi yang dia incar.


Aku terus mendekati nya bukan karena tergiur oleh paras nya,Tubuh atau sesuatu yg aku ingin kan dari nya. Aku penasaran dengan perasaan yang tumbuh sangat cepat di dalam dadaku. seperti mood booster yang sangat powerfull.


Kami saat itu benar benar saling jatuh cinta,mengagumi satu sama lain mungkin?


Aku akui,semakin lama rasa di dada dan pikiran di kepala ku seakan meledak ledak. menggebu.


Aku inginkan lebih dan lebih setelah mengenal nya.


Ucapan ku,mataku, perlakuan ku terhadap nya semuanya terlihat jelas. Tampa disangka,dia pun sama.


Hampir dua tahun aku menjalani hubungan terlarang dengan nya.


Iya...kami sudah lakukan semua nya, mutlak. kadang aku tinggal bersama nya di apartemen,menjatah hari hari dengan Estu.


Hingga akhirnya,Estu mulai curiga dengan diriku.

__ADS_1


sampai aku berani mengatakan niatku untuk berpoligami dari nya.


__ADS_2