
Tak lama kemudian aku di tinggalkan berdua saja dengan Danesh di kamar ini. Aku terus menggendong Danesh yang tampak ingin bermanja manja.
" Pa Danesh mau minum??" kata anak ku lirih. Aku menatap nya. lalu aku memanggil nama Estu sambil keluar dari kamar.ada Estu yang tengah menggendong Arcel di ruang tengah ini bersama pengasuh yg ku bentak tadi.
" Danesh minta minum??" kataku lirih sambil mendekati nya.
Estu berdiri sambil menyusui Arcelio Aku mengikuti langkah nya menuju dapur.
Sebelum Danesh meminum nya, aku Bacakan doa dahulu Air ini untuk nya. Estu hanya menatap ku.
Arcel tiba tiba melepaskan Mulutnya dari Dada ibunya. seketika aku memalingkan muka ku yang tampak merona. Lalu berjalan ke ruang tengah lagi.
Tak tampak wajah bahkan suara kedua mertua ku itu
*****
" Danesh besok sembuh ya, Jangan bikin Mama khawatir??" kataku lirih sambil mengusap kepala anak ku.
" Tapi Papa tidur sini ya malam ini, please??" katanya memohon. aku menatap wajah Danesh yg tampak kuyu.
kemudian memandang Estu.
" iya??" kataku pelan.
" Tapi Danesh sembuh yaa??" kataku. Anakku hanya mengangguk kecil.
Kemudian dia duduk di samping Mama nya yang sedang memangku Arcel.
" Maa, boleh ya malam ini Papa bobo sama Danesh??" katanya meminta izin. aku dan Estu saling menatap.
Estu hanya mengangguk perlahan.
Entah lah pada kemana mertua ku pergi, rumah terasa aman pikir ku.
" Ya hallo pak, maaf pak. saya mau Minta ijin buat malam ini saya gak bisa balik ke hotel??"
" iya pak maaf, ini anak saya lagi rewel gak mau di tinggal?!" kataku setengah tersenyum.
" iya pak besok pagi saya ke hotel sebelum jadwal check out,?"
" Oo...gak usah pak. terima kasih. besok saya bereskan sendiri barang saya?" kataku.
Setelah aku menyuapi makan Danesh, aku pun meminta makan malam kepada Estu. Dia membuatkan ku sepiring nasi goreng dan telur dadar serta segelas teh.
Setelah sedikit berbasa-basi menanyakan keberadaan orang tuanya aku memangku Arcel, menciumi rambut nya sebentar.
" Estu...maaf tadi aku kasar sama kamu??" kataku.
Dia hanya diam.
" Aku gak bermaksud??"
" Sudahlah, aku juga tau alasan kamu seperti itu??" katanya.
" Apa aku akan di tuntut sama orang tua mu karena perbuatan tak menyenangkan. aku tadi bikin gaduh di depan??" kataku
" Gak tau, lihat saja besok??" katanya.
Kami berdua Diam, sambil menemani Danesh yang menonton film kartun.
Sesekali ku lirik Estu yang tampak sibuk memainkan ponselnya.
Aku masih memangku Arcel yang tampak tenang menonton kartun kesayangan nya.
******
Dan Tiba-tiba rasa ini hadir di dalam Dada ku.
Rasa ingin memiliki keluarga utuh, Keinginan yang bisa kapan saja menemani dan tinggal bersama dengan anak anak ku.
Memakan masakan yang di buatkan oleh istri ku, di layani sebagai seorang suami.
__ADS_1
Sungguh aku rindu Keadaan yang sudah berlalu itu.
Andai atau mungkinkah aku punya Cerita seperti itu lagi??
Pikir ku.
******
Aku buru buru bangun dari sisi Danesh yang tertidur Bersama ku. Rupanya kami tidur di ruang tengah. Tampak selimut yang ada di sisi ku dan Danesh yang terlepas jauh dari selimut nya.
Aku memandang ke sekeliling Ruangan yang sunyi.
Pukul empat lebih pikir ku, belumlah terdengar suara adzan Subuh. hanya terdengar sayup suara puji pujian, mungkin dari masjid agung yang tak jauh dari kompleks perumahan ini.
Aku menggendong tubuh Danesh yang terlentang, membawanya ke dalam kamar nya yang terletak tak jauh dari ruangan ini.
Kulihat Estu tertidur di samping Arcel.
Aku tersenyum kecil, lalu dengan hati hati aku taruh Danesh di samping mereka.
Aku memegang kening Danesh yang sudah tidak terasa panas lagi. menciumi punggung nya. sesekali dia menggeliat.
Aku bermaksud mencium kening Arcel yang berada diantara Danesh dan Estu.
Mungkin karena terusik, Estu tampak membuka matanya. Aku sedikit terkejut karenanya.
Kami saling pandang dengan jarak yang dekat.
Aku mencium keningnya yang sesaat kemudian kami saling berciuman dengan hangat.
Entahlah, Aku Bercinta dengan Estu. melepaskan Segala perasaan yg ada di selimuti dengan dingin nya pagi yang teramat terasa.
Saling memburu, Memberikan segala kenikmatan yang dulu halal kami lakukan.
Jujur, kami saling menikmati nya. momentum yang tak disangka akan terjadi dan jangan sampai diketahui oleh siapapun.
*******
" Harus nya kamu tuh lebih tegas ke dia Estu, jangan lemah karena anak!!"
" Danesh itu cuma Sakit biasa, sedang manja.!!"
" kamu bisa alihkan dia ke hal-hal yang lain, ajak beli mainan atau apa!!?"
" anaknya sendiri Pak yang tanya-tanya Papanya?" kata kuu menjawab bapak
" dan juga dia ke Jakarta ini bukan disengaja, mau ketemu anaknya. atau mau ketemu saya seperti yang bapak kira!?" lanjut ku
" komunikasi juga jarang. paling sebulan sekali itupun Dia menanyakan kabar anaknya, apa saya salah?!"
" sudahlah Estu kamu nggak usah banyak alasan.!?"
" pokoknya lain kali kalau mau ketemuan. jangan di rumah ini.aku enggak suka ngelihat mukanya!!"
kata Bapak sambari pergi.
aku hanya mendesah perlahan, kemudian kembali ke kamar Anak ku. semakin lama, Bapak semakin posesif terhadapku.
dia benar-benar mengurung ku Dalam sangkar emas nya. apa apa yang kulakukan harus dengan persetujuan nya. Hidup ku benar sangat di kontrol olehnya sekarang.
Lalu aku teringat kejadian tadi pagi. Walaupun setelah nya dia buru-buru mandi dan berkemas pergi.
Setiap Sentuhan nya masih terasa sangat intim dan hangat, aku merasakan keinginannya terhadapku. perasaan cinta,dan Teramat kuat Hasrat nya yang dulu pernah tercurah terhadapku.
Setiap sentuhan dan Apapun darinya benar benar ku Nikmati.
Jujur aku masih sangat mencintai nya, dan tak ingin Mengganti sosok lain di Kehidupan seksual ku. Dia sangat sempurna, Sosok Lelaki yg sesuai dengan apa yang aku ingin kan. Aku teramat puas dengan nya. Puas dengan Segala yang dia miliki.
Dan jujur, Aku tak ingin membagi nya dengan siapapun.
Walaupun ternyata, dia memilih membagi nya dengan orang lain,dan itu membuat ku murka.
__ADS_1
Entahlah, setelah itu. tak ada kata kata yang terlontar dari mulut kami. kami hanya saling menatap dalam remang. sesekali berciuman,dan melakukan nya sekali lagi sebelum dia Mandi.
Seperti nya kami masih sebagai suami istri.
Tuhan, maaf kan kami. pikir ku.
******
" Huufftt... desahku sambil memukul pelan kaca gerbong kereta ini.
" Kenapa Mas, dari tadi kayaknya resah mikirin sesuatu??" tanya pak Budiman yang ada di Hadapanku.
Aku hanya tersenyum menatap nya. beralih dari pandangan ku yang tadi memandang lepas keluar dari dalam gerbong kereta yang masih jalan ini.
" Gak pak, cuma mikir anak??" jawab ku.
" Kenapa anakmu??" tanya nya. kemudian aku menarik nafas dalam-dalam.
" Yaaaa...begini rasanya terpisah dari anak anak??" kataku. dia hanya tersenyum.
" Ya sabar mas, kita gak pernah tahu bagaimana cobaan hidup yg tuhan kasih ke kita??" katanya terdengar bijak.
Aku hanya mengangguk kecil
" Sebaik-baik nya manusia adalah yang mau belajar dari kesalahan dan selalu memperbaiki diri?" lanjut nya.
Aku kembali menarik nafasku, membuat busung rongga-rongga dada ku yang bidang. Kembali aku tersenyum.
" Kamu masih muda, terlalu di sayangkan jika sampai tak bisa meneruskan Hidup?"
" Hanya menyesal-menyesal dan ingin kembali ke masa lalu!?"
" Saya tak menyesali yang sudah terjadi pak, dan siap menjalani imbas dari kesalahan yg pernah saya lakukan.?"
" Hanya saja, saya sangat merasa salah dengan Anak anak saya??" lanjut ku.
" Kamu bisa melewati ini semua Sakha??" katanya sambil menepuk pundak ku.
" Dan Tuhan tak akan memberikan suatu ujian melebihi batas kesanggupan seorang hamba-nya?"
Tambah nya lagi.
" Yakin?!" katanya dengan nada menyemangati.
aku hanya mengucapkan rasa terima kasih terhadap nya, seraya tersenyum.
*****
" Kapan pulang mas??" tanya Hakka, salah satu mahasiswa yang juga tinggal di Rumah kontrakan ini.
Aku menatap nya seraya tersenyum.
" Tadi Sore Ka...Yang lain pada kemana yaa??" tanyaku kemudian kepada nya
" Oo.. anu mas, kalau Noval ada kegiatan di kampus nya. kalo mas Ikmal sama mas Eko aku gak tau aku??" jawab nya.
Akh hanya manggut-manggut kecil.
" Anu mas, kemarin pak tukang yang samping rumah nanyain kamu??" katanya kepada ku.
" Siapa? Pak Tukang siapa sihh??"
" Perasaan aku gak nyuruh orang buat benerin Rumah??" kataku menimpali nya.
Dia tertawa kecil.
" Bukan loh mas, bapak yang punya Panglong bikinin pintu kusen kayu loh mas??" katanya.
" Oo.. pak Itu??" kataku sambil mengingat-ingat namanya, aku menatap Hakka sambil tertawa.
" Kenapa emang??" tanya ku kepada nya.
__ADS_1
" Gak, dia nanyain kamu aja. katanya kalau sudah pulang suruh main??" katanya sambil berjalan ke kamar nya .
" Oke deh... makasih ya ka??" kataku yang di tinggalkan nya kemudian.