Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.

Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.
episode 134


__ADS_3

Suara tangis Mira pecah saat Dia melihatku. kami saling berpelukan. rupanya dia juga sedang hamil sekarang.


Berkali-kali Dia memanggil nama kakaknya itu. tangisan yang terdengar haru, dan itu membuatku menangis juga.


" Sudah.. sudah?" kata Mas Arya menenangkan istrinya itu.


Aku turut menenangkan nya.


tidak begitu lama ada seseorang yang menghampiri Mas Arya. Sepertinya Dia seorang dokter juga, menjelaskan sesuatu kepada Mas Arya dan Mas Richard.


Beberapa kali mata Mas Arya menatap kepada Mira. dia sepertinya mengkhawatirkan sesuatu.


bisa jadi itu karena keadaan Mas Sakha.


Aku menjadi panik dan merasa takut. Yaa Tuhan, harus bagaimana ini. semoga kamu Segera Sembuh mas Sakha ku. kataku dalam hati.


" Yaa mbak Estu.. Hallo?" terdengar suara mas Arya kepada mbak Estu.


Lalu Tak lama kemudian wajahnya berubah menjadi panik. berkali-kali dia mencoba menenangkan sesama iparnya tersebut.


Aku yang menyaksikan hanya sedikit menghela nafasku. sedang kan Mira bersandar di bahuku. sesekali dia masih sesenggukan.


" Mbak... Apa jadinya Aa kalau dia gak ketemu kamu.?" katanya.


" Siapa yang akan memberitahu keadaan nya kepada kami??" katanya sambil menangis.


Aku menenangkan nya lagi walaupun pun dadaku terasa sesak.


***


Yaa Allah... kenapa keadaan nya menjadi seperti ini. kataku dalam hati sambil menangis.


Rasanya sakit, Sepertinya ada rasa sesak di dadaku.


Beberapa kali aku menyeka air mata ku.


Aku harus kuat untuk diri ku sendiri dan juga anak anak ku.


Tadi, saat Arya menelpon ku. tak ku sangka sangka dia akan mengabariku dengan berita yang buruk tentang Sakha.


Aku belum siap menghadapi kenyataan jika dia??


Pikirku sedikit dalam.


Astaghfirullah haladzim... Yaa Allah.


Semoga saja keadaan nya membaik Seperti sedia kala pikirku lagi.


Keadaan yang di ceritakan oleh Arya yang mengatakan bahwa Sakha harus segera di operasi itu membuat ku panik sekaligus takut.


Aku jika operasi yang tidak berhasil, Bagaimana dengan nasib anak-anakku. Bayi yang aku kandung ini?


tak terasa, berkali-kali aku menyeka air mata ku.


Selalu ada fikirkan buruk tentang nya di kepalaku. Aku takut dan takut menghadapi ini semua.


ingin rasanya aku pergi ke Surabaya, tetap kondisiku yang tidak memungkinkan. dan juga Arya melarangku.


Bagaimana ini? pikirku lagi.


***


Rasanya aku sudah tak kuat menahan tangis yang sedari tadi aku tahan di hadapan Om Vanus.


dadaku sesak, rasanya aku ingin sekali mendatanginya. memeluk tubuh kekasihku itu.


Sakha... Kenapa semua ini terjadi padamu.


Aku tidak ingin menjanda kalau begini caranya, Aku tidak ingin bayiku yang sedang aku kandung ini tidak bisa kamu gendong.


Aku ingin kamu mendampingi ku Sakha.


seperti janji kamu kemarin, baru beberapa hari yang lalu.


Sakha, aku ingin Kamu. Aku ingin kamu ada di sampingku.


Jangan tinggalkan aku seperti ini Sakha. Kata batin ku menjerit.


Kylie menghampiri aku dan dia mengusap air mataku yang mengalir di kedua belah pipi ku.


Aku memeluk Nya sambil kembali menangis.


" Kamu harus Sabar, dan kuat Livia..?"

__ADS_1


" Ingat kondisi kamu, Titipan yang sedang Tuhan berikan ke kamu. Jaga kondisi kamu?" kata Om Vanus mencoba menenangkanku.


Aku menatapnya, ada perasaan takut takut kehilangan Sakha.


Apalagi aku mendengar kata-kata operasi dan tak sadarkan diri.


Aku teringat kembali akan keadaan Mama sewaktu sakit kemarin.


Aku tidak ingin Sakha.... ratap batin ku pilu.


***


" Iya mbak, operasinya segera dilakukan Nanti sekitar jam 8 Malam ini?" kataku menjawab telepon dari mbak Estu.


" Mbak bantu Doa yaa... tetap tenang.?" kataku lagi.


" Iya... Saya sama Mira yang mendampingi Mas Sakha. jangan khawatir.?" kataku.


Disana kulihat Mira juga tengah mengangkat telepon dari Livia.


Dari matanya yang sembab itu, aku masih merasakan kesedihan nya yang mendalam.


Dia mencoba menenangkan Kaka ipar nya tersebut.


Yahh... Sekarang waktunya kami mengembalikan semuanya kepada Tuhan.


kamu berpasrah sepenuhnya kepadanya atas apa yang terjadi terhadap Mas Sakha.


Tadi Helmi sempat menceritakan, jika pendarahan di kepala nya cukup hebat.


Katanya, ketika saat Mas iparku tertabrak. dia terpental dan kepalanya menghantam tembok pagar yang cukup keras.


Aku menghela nafas sedikit panjang.


***


" Yaa Nggak mungkin lah Bu kalau Arya meninggalkan mas Sakha begitu saja?"


" Kan sebelumnya arya sudah bilang sama ibu, Mas Sakha itu sudah jadi keluarganya Arya. kalau sekarang ada apa-apa. Arya juga yang harus bertanggung jawab menjaga nya.?" kataku Kepada ibuku.


" Iya benar Kalau Mas Arya itu masih punya istri, tapi kan sekarang kondisi istrinya itu sedang hamil Dua duanya.!?"


" Enggak mungkin lah mereka ke sini, atau Arya maksa-maksa mereka untuk datang ke sini.!?" kataku sedikit kesal menjawab telepon dari Ibu ku tersebut.


" Sekarang kan masih ada Arya dan Mira. jadi masih bisa Arya handle kok?!" kataku menjelaskan.


" Mungkin 2 atau 3 hari lagi Arya baru bisa pulang, sekalian membawa Mas Sakha yang sekarang belum siuman pasca operasi.?" Kataku.


Tak lama kemudian aku menutup panggilan dengan ibuku tersebut.


" Arya..?" Sapa seseorang tiba-tiba dari balik punggung ku.


Aku menatapnya lekat, serta terdiam.


aku tak menyangka akan bertemu dengannya di sini Meskipun aku tahu dia bekerja di rumah sakit ini.


dia mantan pacarku, hanya mantan masa lalu.


Aku tersenyum kepadanya Sambil menyambut jabatan tangannya tersebut.


" Apa kabar?" kataku.


" Baik?" katanya sambil tersenyum sangat ramah kepadaku.


Aku sedikit menundukkan kepalaku. ternyata tidak ada yang berubah dari dia. wajahnya, senyumnya tingkahnya. seperti itu masih sama seperti dulu.


" ngapain kamu di sini?" katanya kepada ku.


Aku cepat-cepat menyadarkan diri dari lamunanku tadi.


" Oohh... Ini, Kakak ipar ku mengalami kecelakaan kemarin. semalam sih baru dioperasi?" kataku.


" Siapa?" tanya nya??


" Atas nama Bapak Nuril?" kataku menjawab nya.


" Oohh... pasien yang tertabrak kemarin pagi ya?" katanya.


Aku hanya mengangguk kecil.


Dia sedikit tersenyum.


" Kalau lihat kondisi fisiknya sih, Enggak Ada luka memar apa luka parah yang berarti."

__ADS_1


" tetapi, Dari hasil scan kemarin dan operasi semalam Sepertinya kita membutuhkan keajaiban dari Allah?" katanya kepada ku.


Aku menatapnya.


" Iya... semalam aku membantu operasinya?" katanya kemudian.


" Lalu?" Tanyaku.


Dia terlihat mengangkat kedua bahunya.


" Kita hanya menunggu keajaiban dari Allah. kita hanya mampu berusaha dan berdoa selebihnya kita serahkan sama dia?" katanya kepada ku.


Aku hanya diam. Dia sedikit Memperhatikan ku.


" By the way... Aku mau kontrol pasien yang lain. Soo, aku pamit dulu ya?" katanya kemudian.


Aku hanya tersenyum kecil kepada nya.


" Makasih yaa?" kataku sambil mengulurkan tangan ku.


" Okay... kalau masih ada waktu isya mungkin kita minum kopi?" katanya.


Aku hanya mengangguk.


" Okay... nanti aku hubungi kami?" katanya kemudian.


Tak lama dia berlalu dan pergi.


Aku sedikit menatapnya, yang berjalan meninggalkanku itu.


Katanya sih dia sudah punya anak satu dari suaminya yang keturunan timur tengah itu.


Meskipun tidak pernah berhubungan, Namun kami masih sering mengobrol di grup himpunan dokter sesama alumni.


baik aku atau dia, hanya menyimak pembicaraan tanpa ikut serta di dalam nya. di dalam Grup Perpesanan


***


" Mas dari mana?" Tanya Mira pelan Kepada ku.


" Lohh.. kok kamu di sini. kok kamu nggak tinggal di hotel saja?" kataku sambil memegang tangannya.


Dia tersenyum kecil.


" Aku water kamu belum makan? Ya udah jalan aku beliin kamu ini?" katanya sambil mengangkat kantong berisi makanan yg dia beli.


" Kamu kan masih bisa telepon aku Mira, ingetin makan. nanti aku bisa beli sendiri?" kataku padanya.


" Lah percuma, materi yang ada ada kamu nggak makan lagi... Harusnya kamu ingat kalau kamu itu punya sakit Lambung?" katanya.


Aku hanya tersenyum


" Aku juga khawatir sama keadaan nya Aa?" katanya.


Lalu aku menghela nafas ku Sedikit Panjang.


" Kita tunggu Aa sampai siuman, lalu kita bawa pulang ke Kutoarjo?" kata ku.


Dia menatapku lekat.


" Mas... Kalau lihat kondisi Aa yg sekarang. kata kamu Aa Bagaimana?" tanyanya kemudian.


" Bagaimana apanya??" kataku padanya


Dia hanya diam menatapku.


Aku menatapnya balik.


" kita harus tetap optimis dong kalau Aa kan baik-baik saja.?"


" kita jangan sampai lelah berusaha dan berdoa untuk kesembuhan Aa... kasihan anaknya masih kecil-kecil, apalagi Mbak sama Cece sedang hamil??" kataku.


" Tapi ngomong ngomong? sekarang Mbak Ayu ada di mana?" tanyaku pada Mira.


" Dia kerja..!" jawab nya pelan.


Kemudian dia menatapku, aku juga menatap nya.


Kami berdua seakan ingin mengatakan sesuatu namun enggan untuk di katakan.


" Besok lagi... kamu jangan ke rumah Sakit dulu. kamu tunggu saja aku di hotel, tahu ah nggak kamu main sama Mbak Ayu?" kataku.


" Kenapa?" katanya Pelan sambil menyandarkan kepalanya pada ku.

__ADS_1


" Sekarang kami kan sedang hamil sayang, burung di rumah sakit itu banyak kuman. Aku nggak ingin kamu terkena kuman?" kataku.


" Malah aku terbiasa hidup dengan kuman yang pulang dari rumah sakit.?" katanya sambil tersenyum menatap ku. Aku membalas senyumannya it sambil memencet hidung nya perlahan.


__ADS_2