Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.

Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.
episode 126


__ADS_3

" Maafin aku yaa Livia... kalau aku banyak salah sama kamu. sebagai suami kamu aku gak perhatian sama kamu?"


" Maafin aku yang banyak kurangnya ini?" kataku sedikit sesak saat mengucapkan nya.


" Aku yang harus nya minta maaf sama kamu Kha??" katanya sambil Menangis. aku mengusap usap punggung nya itu.


" Sttt...stttt... udah diam, tenang. kata dokternya, Kamu gak boleh stress?" kataku.


" kamu kan inget, kalau aku gak ingin bayi kita ini kenapa-napa?" kataku pada Livia.


" Kehadiran aku disini, bikin kamu stress yaa?" kata ku pada Livia. dia terlihat menggelengkan kepalanya itu.


Pelukan nya sedikit bertambah erat padaku.


" Livia, aku gak pingin kamu Sedih dan stres. kamu mau apa nanti aku turuti?" kataku.


" Maafin aku?" katanya sambil menangis sesenggukan.


" Iya... udah aku maafin?" jawab ku sambil memeluk tubuh nya itu


Lantas aku mengangkat dagunya. Hidung nya Tampak merah dan berair.


Aku mengusap air mata nya itu. lalu mengusap Hidung nya menggunakan kaos yang aku kenakan sebelum aku menemukan tissue nya.


setelah dia agak tenang. aku menatapnya, dan dia juga menatap ku.


Aku memegang perutnya yang mengeras dan membuncit itu.


Lantas aku tersenyum kepadanya, lalu mencium perutnya itu sambil mengelus nya.


Yaa tuhan, semoga bayi ku dengan Livia dan juga bayi yang ada di kandungan Estu. semuanya akan baik baik saja.


rasanya aku tak sabar untuk menggendong mereka.


Semoga saja kedua istri ku itu juga baik baik dan sehat selalu. Aku mencintai nya ya Allah. pikirku


Aku menatap lagi Livia yang sudah mulai tenang. dan tersenyum kecil kepadanya. dia menatapku dengan mata sendunya, pantas aku mencium kening nya itu.


Kami saling berciuman dengan hangat.


Dan Rasanya ini pelengkap atas pertikaian ku semalam dengan nya. Rasanya luar biasa.


Aku Mencium nya kembali, setelah ada waktu yang berlalu tadi.


Aku memberikan nya tissue. Dia menatap ku dengan wajah yg terlihat memerah. Aura nya terpancar sangat kuat dan cantik.


" Kha, nanti jam sebelas Kylie jadwalnya pulang sekolah?" kata Livia memberi tahu ku.


Aku menatapnya sambil melilitkan handuk di pinggang ku.


" iya... ini aku mau mandi??" kamu mau ikut enggak?"


tawar ku padanya. dia menatapku lekat karena keambiguan bahasa ku. Aku tersenyum kepadanya.


" katanya kamu belum belanja?" kata ku sambil senyum.


Dia menatap dengan penuh rasa faham atas kata kata itu. dia menarik bibir nya seolah olah meledek ku.


Kami saling tertawa satu sama lain.


***


" Maa.. maaf Aku antar dia dulu ya ke dokter.? Kata Sakha di teks pesan kepada ku.


Baru kali ini dia mengirimiku pesan dengan menyebutkan panggilan mama Kepada ku. aku sedikit tersenyum karena ya.


" Kamu mau periksa nya kapan?. Semalam dia kontraksi lagi.? tambah nya. aku sedikit berfikir, Mungkin ini yang menyebabkan muka asamnya kemarin.


" aku bisanya periksa nya Besok. Pagi atau sore.?"


" Hari ini aku gak bisa. masih terlalu sibuk di rumah.


balasan pesanku kepadanya.


" Ok, kalau begitu besok pagi aku pulang. tolong bilangin ke Lio kalau aku sedang ada urusan."


" kalau nggak, Nanti telepon aku Aja?" katanya menambahkan.


" iya." Balas ku singkat.

__ADS_1


" 😊 I love you ❤️ " balasnya yang terdengar aneh.


sudah lama sekali dia tidak seperti ini terhadap ku. aku menjadi sedikit tersipu karenanya.


Rasanya, sekarang akulah yang merindukannya. bukan lagi anak anak.


***


" Sepertinya kebetulan sekali kita bertemu di sini?" Kata Om Hans sambil sedikit tertawa kepadaku.


Aku sedikit merasa kikuk karena nya.


Bukan aku masih memiliki perasaan atau apa, hanya saja Tak merasa enak dengan Sakha.


aku tersenyum membalasnya. dia berdiri di samping Marco.


" kenalin Pak, ini suami saya?" kataku kepada om Hans. dia hanya melirik Sakha tanpa mau bersalaman.


Hanya Marco yg menjabat tangan Sakha.


" Laki lu cucok yaa?" kata Marco sambil tersenyum pada Sakha.


Sakha tampak sedikit kaku terhadap nya. Namun terlihat enggan dengan kehadiran Om Hans.


" Okelah, lain kali kita sambung lagi. aku lagi buru buru cari tas.. Biasa, anak gadis mau ultah?" kata Om Hans Sambil tersenyum.


" Kalau kamu tau model tas terbaru, bisa kasih tau saya ya Livi?" katanya lagi sambil menatap ku lekat.


Sakha hanya terdiam. wajahnya nya sedikit datar.


Kemudian mereka berlalu pergi.


" Kha... kamu baik baik aja kan?" kataku sesaat setelah mereka pergi. Sakha menatap ku sambil tersenyum.


" Aku Baik baik aja Kok??" jawab nya. aku menatapnya sedikit dalam.


" Kenapa?" tanyanya.


" kamu pikir aku bakalan merasa kalah saing gitu sama dia? haha... yaa enggak lah?" katanya terlihat menutupi perasaannya.


" tetap aku yang jadi pemenangnya... selama kamu enggak banding-bandingin aku sama orang itu.!?" katanya kemudian terdengar tegas.


" Ayo, katanya mau ke supermarket?" ajaknya sambil menggendong Kylie.


dalam hatiku merasa tidak enak terhadap Sakha. Kenapa sih bisa bisanya aku bertemu dengan om Hans di mall ini.


aku takut jika nanti, setelah ini Sakha mengungkit masa laluku.


aku diam-diam memandangnya. dia yang sebagai suamiku itu.


" Kenapa?" tanyanya sambil menatapku. seolah mengerti akan kegelisahanku. Aku lantas tersenyum kecil.


" nggak usah dipikirin. orang seperti itu, selamanya akan seperti itu. sesuatu yang dilihatnya hanya berdasarkan uang" kata Sakha Sambil menggenggam tangan ku.


Aku menatapnya perlahan. seolah kurasakan langsung Berkat pemberian Tuhan atas diri ku.


Seorang Lelaki yang sangat tulus mencintaiku ini. Walaupun dia sendiri begitu banyak kekurangan, saat ini yang aku rasakan seolah-olah dia menyempurnakan kebahagiaan yang datang dari Tuhan.


Tiba-tiba saja, aku sangat ingin memeluk nya.


***


" Kemarin kok gak nelpon aku?" tanyanya sambil menghampiri ku. aku menatapnya.


" Anaknya diam, gak tanya kamu lagi pas aku bilang hari ini kamu mau datang?" jawab ku sambil memasukkan baju nya kedalam lemari ku.


Dia tampak menatap ku lekat. sesekali matanya mengikuti semua gerakan tangan ku.


" Kamu jangan capek-capek dong?" katanya sambil Mendekap ku. Tangannya mengusap Perut ku dengan lembut. Aku tersenyum.


Dia mencium ku.


" Bagaimana keadaan nya dia?" Tanyaku padanya.


" Yaa... sekarang sudah baik. kemarin malam setelah aku datang dia sempat kontraksi lagi?" katanya menjawabku.


" kata dokternya apa?"


" Ehmm... Stres." katanya pelan. Aku hanya diam.

__ADS_1


" apa dia ada flek?" tanya ku.


" nggak ada?" jawab nya.


" nanti kamu mau pergi jam berapa? periksa ke dokter?" tanyanya.


lantas aku memandangnya.


" kamu siap antar akunya jam berapa? biasanya sih aku mau sore gitu. di ibu bidan dekat sini saja?" Dia kemudian mengangguk.


" Kalau pulangnya kita langsung main gimana? maksut aku belum makan di Mall atau di mana lah sama anak-anak??" katanya.


" ya kalau Anak anak mau nungguin aku pas di periksa nanti?" jawab ku. Dia hanya mengangguk.


**


" Itu semua anaknya pak?" tanya Bu bidan nya sewaktu mengantar kan aku dan Estu keluar.


Aku hanya tersenyum kecil.


" Iya Bu... banyak yaa?" kataku sedikit sungkan.


" Oo...ya Standar sih.?" katanya sambil Tersenyum.


" yang besar sudah kelas berapa?" tanya nya LG.


" Mau kelas empat Bu?" jawab ku.


" Ya yaa... kalau begitu, Tolong dijaga ibunya ya pak?" katanya. aku hanya mengangguk.


" Pahh.. ayoo?" kata Danesh mengajak ku untuk buru-buru pergi. tak Lama kemudian kami berpamitan dengan ibu bidan nya.


**


" Gak nyangka ya Pak kita bisa ketemu di sini?" kata Pak Haris sambil tersenyum sedikit sinis.


Dia sangat lekat memperhatikan Estu dan juga anak-anakku.


aku hanya tersenyum kecil.


" ini sedang kunjungan dinas atau bagaimana!?" Sindir nya. Aku tersenyum santai kepada-nya itu.


" ya kemarin sih kami berdua sedang jatuh tertimpa musibah. Ayah mertuaku meninggal?" jawab ku.


Dia menatapku dan juga Estu sambil mengucapkan berbela sungkawa.


" lalu selanjutnya, bapak Terus tinggal disini atau bagaimana??" katanya sedikit menyelidik


aku hanya tersenyum kembali.


" Masih belum mungkin sih Pak kalau saya harus tinggal di sini. sedangkan usaha dan relasi saya banyak yang di Jawa?" jawab ku.


" Tapi sepertinya, istri Anda ini sebentar lagi akan melahirkan? masak anda tidak menemaninya Lahiran??" katanya.


" Ooh, tentu saja saya akan menunggui nya nanti?" kataku sambil tersenyum.


" Perkiraan lahir kan masih ada sekitar 2 bulan lagi, nanti pasti saya akan ke Jakarta.?!"


dia hanya menganggukan kepalanya.


" Apa istri tua Anda tidak keberatan pak.?!" tanya Haris terdengar menyindirku.


" Anda ini lelaki yang luar biasa ya... hebat dan mampu punya istri banyak!!" katanya yang terdengar jelas.


kenapa juga dia berbicara seperti itu di hadapan anak-anakku sihh?? memang aku sedikit geram terhadap nya. Tapi Mungkin saja dia seperti itu karena masih menyimpan dendam terhadap aku dan Estu.


Estu pun sepertinya tak suka terhadap Haris yang berbicara seperti itu. matanya menatap tidak suka dan sinis kepada haris.


" kalau saya sih mungkin sudah angkat tangan... kalau seandainya ada di posisi seperti bapak!?"


" pastinya saya nggak akan mampu dan juga saya cenderung tidak suka menyakiti hati perempuan!!" katanya lagi men smash ku.


Aku hanya tersenyum sambil memandang Estu.


" memang Sih pak, Allah sendiri tidak akan memberikan sesuatu yang kita tidak mampu mengelolanya.?"


" bukan tidak dengan pengorbanan dan air mata saya menjalani kehidupan seperti ini.


" bagi saya asal semuanya tercukupi dan saya bisa adil terhadap mereka..!!" kataku.

__ADS_1


Kenapa hari ku bertemu dengan Rival ku sihh... pikirku yang sedikit tersadar


__ADS_2