
Aku menyandarkan kepalaku lebih tinggi dari tubuh ku di atas tempat tidur ini. Disampingku tergeletak Ayu Sambil sedikit Memeluk ku.
" Ay, ini bagaimana?" Kataku sedikit bingung. Dia hanya Diam.
" Aku yang memutuskan aku juga yang melanggarnya?" kataku sambil tertawa kecil.
" Aku memang punya perasaan sama kamu Ay, tapi seharusnya aku tahan ini?"
" Sekarang kita mesti bagaimana?" kataku.
" Gak harus bagaimana bagaimana mas. kita jalani Seperti biasa saja?" katanya pelan.
" Maksudnya kamu apa Ayuu?"
" Kamu mau menikah sama Linggar, lalu aku Sudah punya istri sekarang!?" kataku.
" Ya sudah, biarkan saja seperti itu.?" katanya sambil menatap ku.
" Aku tau kok Mas, apa Resikonya jika aku terus ngejar ngejar kamu.!?" Aku diam menatap nya.
" Setidaknya aku pernah melakukan sesuatu yang aku inginkan sama seseorang yang benar-benar aku cinta.!" katanya terdengar Gila.
" Aku terobsesi sama kamu, walaupun aku tahu kamu seperti itu."
" Aku tak pernah sekalipun dengan orang lain selain kamu selama ini Mas?"
" Aku harus bagaimana sekarang sama kamu?" kataku sambil menutup wajah ku dengan jemari tangan.
" Aku gak apa-apa mas?" katanya Sambil sedikit tersenyum.
" Aku gak bisa janjikan apa apa sama kamu Ay, Aku Punya perasaan itu sama kamu tapi Keadaan kita??" kataku.
" Aku gak menuntut itu dari kamu, masih ada Linggar yang mau kawin sama aku." katanya terang.
" Sekarang jika dipaksakan menikah dengan dia pun Aku bisa Terima, Aku akan pakai kamu di ingatan ku mas?" katanya.
" Gila kamu, mana bisa kamu begitu sama dia. jika aku yang jadi Linggar. aku juga gak mau punya istri macam kamu?" kataku.
" Itu urusan ku mas." katanya sedikit tertawa sinis.
" Sekarang kalo aku minta kamu bawa lari aku, apa kamu mau? Gak juga kan!?" katanya. aku hanya diam.
" Yang aku minta satu dari kamu mas.?" katanya.
' Tolong jangan memperlihatkan kemesraan kamu sama istri istri kamu itu di depan ku. Aku gak kuat!?' katanya terdengar memohon. aku hanya diam.
" Biarkan aku mencintaimu dengan Caraku mas. Tolong jangan cegah aku. itu saja!" katanya.
Psiko nih orang, pikirku.
Psiko yang bikin tenang. Aku menatapnya, sambil berusaha mencium nya kembali. dan gayung pun bersambut. Kami mengulanginya lagi dan lagi.
***
" Aa.. semalam tidur dimana? kok gak pulang." tanya Mira kepadaku. Aku hanya menatapnya, Sambil terus merapikan koper pakaianku Itu.
" Aa ketiduran di rumah teman?" jawab ku.
" Ooo, Mira pikir Aa sudah langsung ke Jakarta?" Katanya.
" Disana Aa gak lama kan, kira kira berapa lama?" tanya nya.
" Enggak lah, Aa paling sekalian ngurus teteh. paling lama semingguan lah?" jawab ku.
" Jangan lebih dari seminggu ya Aa. Mira ada ujian praktek Senin depan." katanya kepada ku. Aku hanya mengangguk.
" Aa Sudah bilang sama Mas Dokter, jika sewaktu-waktu kamu nelpon tolong di bantu?" kataku padanya. dia hanya tersenyum kecil.
Aku curiga.
" Apa kamu sudah berkirim pesan sama dia diam diam Mira?" kataku.
" Enggak kok Aa..!?" katanya sambil pergi dari ku.
Hhmmm...??
" Mira..hati hati ya di rumah?" Kataku. sambil mengusap rambut nya sambil menggendong Kylie.
" Kamu jangan nakal sama bibi ya sayang.?" kataku sambil mencium nya.
Mataku melihat kontrakan milik Ayu yang tertutup itu.
tadi dia langsung ku antar ke toko tempat nya bekerja.
" Kalau ada apa-apa, minta bantuan sama si Ayu. Aa Sudah bilang sama dia?" kataku lagi.
" Kapan Aa bilang sama dia. dia kan kerja?" kata Mira
" Lewat telepon Mira??" kataku.
" Loh, Aa gak blokir nomernya mbak Ayu? Nanti kalau Cece Livia tau apa gak marah lagi Aa??" katanya mengingatkan.
" Ya kamu jangan bilang-bilang Sama Cece kamu lah!!" " lagian Aa telepon dia nggak ada apa-apa juga kok, cuma mau nitipin kamu sama Kylie." kataku dia hanya mengangguk.
##
Aku memarkirkan mobilku Di pelataran toko dimana Ayu bekerja. lalu kemudian aku memasuki nya.
Terdengar suaranya mengatakan sambutan kepada pelanggan yang datang.
Aku menatapnya.
Lalu aku memilih barang yang akan ku beli itu. memasukkan nya kedalam keranjang. Toko terlihat sepi. hanya ada dia dan dua rekan kerja nya.
Aku membawa barang belanjaan ku tadi ke kasir, untuk di bayar.
" Kita bisa ngobrol sebentar?" kata ku pelan Kepada nya. Dia menatapku sebentar.
" Mas pura pura pinjam toilet saja. nanti saya temui disana. katanya. Aku mengangguk sambil melakukan apa yang dia perintahkan.
beberapa saat kemudian dia datang.
" Ada apa mas?" tanya nya. aku tersenyum.
__ADS_1
" Aku titip Mira sama Kylie ya. aku mau berangkat ke Jakarta?" kataku padanya Perlahan.
Dia hanya mengangguk.
" Ayu, kalau ada Apa apa. kamu DM saja di .akun sosial ku.!" kataku padanya. kemudian dia mengangguk lagi.
Aku buru buru memeluk nya. Dia mencium Bibirku kemudian keluar Duluan dari sini.
Lantas Aku kembali membeli Barang, dan membayar kembali ke Kasir toko ini.
" Ada lagi Pak, pulsa nya sekalian?" kata Ayu Kepada ku. Aku hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalaku perlahan.
" Gak mbak ini Aja.?"
kataku sambil membuka dompet ku, Lalu dia tersenyum melihat kedua jariku yang ku silangkan itu. mengisyaratkan Hati ala Korea.
Setelah ku bayar Coklat itu, lalu ku sodorkan perlahan Kepada nya.
" Ini Buat mbak nya yang manis?" kataku pelan sambil mengedipkan mata ku padanya seraya tersenyum.
Dia membalas senyumanku itu dengan wajah yang sedikit bersemu merah.
Lalu aku pergi meninggalkannya.
***
" oke baik pak. semoga ini segera di setujui sama atasan saya?" kata pak Haris sambil bersalaman dengan ku.
Aku tersenyum kepadanya.
" Saya tunggu kabar baiknya ya pak. Terima kasih sudah mau membantu saya." kataku sambil menjabat tangan nya itu.
Kemudian aku keluar dari kantor nya itu.
Aku langsung ke Rutan Setelah nya, Bertemu dengan Rudi.
Malah tak di sangka-sangka aku bertemu dengan mantan ibu mertua ku, Mungkin dia menjenguk Pak kardiman.
Aku tersenyum kepadanya,sekedar basa-basi menanyakan kabarnya.
" Loh kapan datang Ke Jakarta nak?" tanya nya.
" Sudah tiga hari ini Bu, ada sedikit urusan di Jakarta." kataku sambil tertawa kecil.
" Ohh, belum nengokin Anak-anak atau Gimana?" tanyanya lagi.
" Rencananya nanti sore kalau tidak besok siang Bu. Belum sempat saya?" kataku. Dia tersenyum.
" Bapak sehat Bu?" tanyaku.
" Ini ibu baru mau jenguk. Ayo sekalian?" ajak nya.
Aku sebentar ingin menolak, tetapi?
**
Aku menundukkan kepalaku di hadapannya itu. Sedikitpun aku tak berani mengangkat kepala ku jika mantan mertua ku tak mengajak aku mengobrol.
" Alhamdulillah baik pak?" jawabku singkat.
" Ooo, kamu sekarang dimana? Apa masih tinggal di Jawa?" tanya nya lagi.
" Iya pak masih." jawab ku
" Loh, ngapain kamu sekarang disana. Bukannya kamu sudah gak punya kerjaan?" Katanya.
Hmmm... dugaan itu ternya bisa jadi benar. pikirku.
" Saya ada kerjaan sedikit pak, buat menyambung hidup disana. sedikit bisa membantu beli susu anak anak." kataku.
" Yaa....yaa... yaa, Syukurlah kalau begitu." katanya. aku hanya tersenyum kecil.
" Kamu sudah menikah lagi belum?" tanyanya lagi kepada ku. aku menatapnya sedikit bingung.
" Sudah pak." Kataku Dia tampak terdiam.
" Sama orang mana?" tanyanya.
" Sama orang sana pak." Jawab ku pelan.
Kemudian dia tertawa kecil
" Saya pikir saya masih punya kesempatan untuk menikahkan lagi kamu sama Estu. Yahhh... saya telat sama kamu.!" katanya terdengar berat.
Aku hanya tertawa kecil, apa kali maksudnya? pikirku.
" Yah semoga saja pernikahan kamu bisa langgeng ya?" katanya sambil tertawa kecil.
" Iya pak, Semoga saya bisa menjadi lelaki dan suami yang baik untuk keluarga saya." kataku menjawab nya.
" Tolong tengokin Cucu saya kalau pas ke Jakarta yaa?" katanya. aku hanya mengangguk kecil.
Tak begitu lama, Akupun berpamitan kepada nya.
" Nak, Bapak minta maaf sama kamu, kalau bapak sering Dzolim sama kamu.!?" katanya terdengar dengan suaranya yg terbata-bata.
Aku Hanya diam, lalu tersenyum.
" Saya gak ingat Kalau bapak begitu sama saya, yang saya ingat segala kebaikan Bapak.!"
" Bapak pernah sekolah kan saya, membantu ini dan itu. serta banyak hal lain. Bapak orang baik bagi saya." kataku.
Kemudian dia langsung memeluk ku, Sambil menangis. mungkin juga tangis penyesalan atau Apalah?
" Terima kasih ya, Memang kamu orang Baik. Sejahat apapun orang mau menjatuhkan mu, kamu bisa berdiri lagi.!"
" Saya menyesali nya nak?" Katanya sambil mengusap air matanya.
Sedangkan mantan ibu mertua ku itu memegang lengan pak kardiman.
**
Tak berapa lama Rudi Datang, diantar oleh sipir penjara. dia duduk dihadapanku Sambil sedikit tertawa.
__ADS_1
Setelah mengobrol ini itu dengan nya, menunggunya Sampai selesai Makan nasi Padang berlauk Tunjang dan cumi itu habis oleh Rudi. tak begitu lama dia bersendawa dengan keras nya.
" Busett dahh, Badak nya kenyang!"" kataku sambil mengibaskan tangan ku, menghindari bau dari mulutnya itu. Dia Tertawa.
Lantas aku menceritakan musibah yang ku Alami Kepadanya. Dia seperti merenung.
" Sabar Broo, ujian ini ujian.!" Katanya.
" Dan ingatlah, akan ada pelangi setelah badai hujan, paling tidak langit yang cerah.!" katanya lagi.
Aku hanya diam menatap nya. Dia menepuk pundak ku.
" Coba kamu datang ke si Richard, cerita sama dia siapa tau ada solusinya?'" katanya kemudian.
Aku hanya mengangguk kecil.
" Gak usah sungkan, bukan nya sekarang kamu adalah bagian dari Keluarga kami?" katanya sambil tertawa terkekeh.
" Yaa nggak adik sepupuku!?" katanya terkesan memaksa. kami berdua tertawa karena nya.
" Terima kasih sudah menerima Livia apa adanya, Tolong jaga adik ku itu!" Katanya dalam.
" Masalah nya Rud?" kataku.
" Aku gak mau dengar masalah mu dengan wanita lain, Sembunyi kan!?" menyahut ku sambil tertawa keras.
" Mungkin juga uangku yang kamj pakai itu belum sempat di bersihkan, jadi gak begitu barokah kamu pakai?" katanya.
" Bukan begitu juga Rud, ini sepertinya ada unsur kesengajaan?" jawab ku. dia menatapku.
" Apapun lah, kalau kamu masih ada sisa uang itu. cepat kamu sedikit di sumbangkan ke mana kek. panti asuhan atau masjid atau Gereja." katanya.
Aku mengangguk.
" Masih ada Rud, tapi mungkin gak ada 2,5% dari jumlah awal.?" kataku. Dia mengangguk.
" Ya gak apa-apa, daripada nggak. harusnya kamu ingat dulu. kan kamu yang ngajarin aku dulu begitu Broo?" katanya. aku menatapnya.
" Thanks broo udah ingetin.?" kataku.
***
" Loh, mas Sakha kapan datang?" kata Richard Sambil menyalakan ku. Aku tersenyum kepadanya.
" Sudah dua hari kemarin?" jawab ku sambil menyambut tangan nya itu.
" Lohh, tidur dimana? Livia gak cerita kalau mas datang, padahal semalam kita ketemu?" tanya nya.
" Iya, aku belum nemuin dia. tidur di rumah kakak ku yang di Bekasi. Kakak saya sakit. jadi nemuin dia dulu?" jawab ku.
Dia tampak mengangguk kan kepalanya.
Setelah berbincang ini itu dengan nya, aku menceritakan permasalahan yang sedang aku hadapi.
Tentang gudang yang terbakar.
" Gini aja mas, sebentar lagi ada semacam lomba, gampang nya seperti itu lah ngomong nya.!"
" Buat para pengusaha mikro dan kecil. coba mas Ngajukan pinjaman dulu, Ambil tenor yang kecil saja. terus nanti ikut lomba itu.!"
" Mas mulai urus sekarang, jadi nanti pas ada turnamen mas bisa ikut Ngajukan proposal usaha mikro mas itu?" katanya memberi ide.
Aku mengangguk,tak lama kemudian aku berpamitan.
Dan meminta nya jangan memberitahu Livia masalah Gudang ku itu.
**
Aku memberhentikan mobil ku di seberang rumah milik Estu itu. bermaksud untuk menengok anak anak ku.
tetapi sepertinya sedang ada tamu di Rumah nya itu, Ada sedan Putih yang terparkir di depan nya.
Sebenarnya aku ingin menghampiri, tetapi rasanya aku Tak asing dengan mobilnya, jadi aku menunggu nya sebentar dari seberang rumah saja. siapa tahu Tamunya akan segera pulang.
Selang 20 atau 30 menit kemudian ada yang keluar dari dalam rumah.
Seseorang yang sepertinya aku kenal, masih memakai kemeja putih dan berdasi biru itu.
Dia menggendong Lio, tak lama kemudian Estu berjalan di belakangnya bersama dengan Danesh.
Kemudian mereka semua masuk kedalam sedan Putih lalu pergi.
Estu pergi bersama dengan Haris. lelaki yang kutemui kemarin, sebagai marketing di ritel yang bekerja sama dengan CV furniture Milik ku.
aku hanya menelan ludah sedikit, dan berfikir sebentar sebelum pergi.
kalau aku menemuinya, nanti Haris pasti cerita tentang keadaan ku. Makanya ku urungkan niatku untuk menemuinya.
" Yaa Hallo, Livia?" kataku menjawab telepon dari Istri ku itu.
" Iyaa, ini sedang otw ke Rumah Sakit."
" Lagi di jalan, Iyaa udah dulu ya tanya nya. nanti Aku kena tilang loh?" kataku padanya.
" Ihh, kok malah marah? nanti dulu sih marah ya. nunggu aku sampai, biar enak kamu bentak bentak akunya.?" kataku sambil tersenyum lalu menutup panggilan ku dengannya.
Di jalan malah aku tak sengaja bertemu lagi dengan mobil putih tadi, yang sepertinya berbelok mengarah ke suatu mall. sepertinya mereka akan berbelanja pikirku.
Rasanya aku tidak ingin tahu lagi tentang Urusan Estu dengan orang lain. Tetapi rasa penasaran ku menggelitik. jadi aku juga membelokkan mobilku ke dalam basement parkir mall tersebut.
dengan hati-hati aku mengikutinya. dan sedikit jauh memarkirkan mobilku ini darinya.
sebisa mungkin aku tidak terlihat oleh anak-anakku atau Estu dan orang itu.
tak terasa hampir sejam aku mengikuti mereka seperti orang bodoh. mereka berbelanja di supermarket kemudian sepertinya membeli baju untuk anak-anakku lalu kemudian mereka makan di area food court.
" Yaa Hallo, kataku mengangkat telepon Livia lagi. Aku sedikit tersenyum.
" Iya maaf, tadi di jalan ada tabrakan. jadi jalan macet." kataku beralasan.
" Aku lagi mampir ini di Mall, kok tiba-tiba aku pingin makan Donat. Sebentar yaa?" kataku sambil terburu-buru Masuk kedalam mobil ku sambil menenteng Kotak berisikan Satu lusin Donat dan dua Cup es kopi.
Aduh, kok Mereka lewat!?
__ADS_1