Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.

Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.
Episode 20


__ADS_3

" Maaf, Aku baru dengar kamu kecelakaan??" kata Ku Pelan kepadanya.


Dia hanya Menatapku Lalu tersenyum Kecil Sambil duduk bersandar di tempat tidurnya, dengan kakinya yang di gips.


Dia tampak menciumi rambut anaknya itu, Muka nya yang terlihat tirus sekarang tampak senang.


Dia sesekali sibuk menanyakan hal-hal kecil kepada Danesh Yang datang bersamaku.


Sedikit tak menghiraukan ku.


" Yang??... kamu tadi taruh resep Dokter sama kwitansi nya Dimana??" kata seseorang yang tiba-tiba masuk ke kamar opname ini.


Aku berbalik menengok ke arahnya.


Aku hanya diam. kami diam dan saling pandang.


Sakha juga hanya diam.


***


" Eeee...Di laci situ kali Liv??" Kataku menjawab nya. mencairkan situasi yang Tiba tiba beku dan dingin.


Tampa sepatah kata pun, Livia segera mencari apa yang di maksud kan tadi.


" Aku gak tau kalau ada tamu, Sorry??" katanya sambil tersenyum simpul.


" Aku tinggal dulu ya. aku mau ke kasir??" katanya terdengar formal dan datar dengan senyuman yang terpaksa di tarik nya.


Estu Hanya datar menanggapi nya, Sesekali dia memalingkan wajahnya. menatap ke tempat lain. atau pura-pura mengajak anaknya mengobrol.


Aku tak tahu jika tiba-tiba keadaan menjadi Se canggung ini.


Tak terfikir Olehku jika Estu akan datang menjenguk.


Aku Sesekali menelan ludahku.


" Emmhh...Yang. Nanti kalau aku belum balik. Kamu minum obatnya sendiri yaa??" Kata Livia sebelum meninggal kan kami.


Dia tampak tersenyum yang terpaksa.


Estu Sendiri tampak menaikan Bola matanya dengan bibir yang sedikit dinaikkan.


Benar benar keadaan yang Tak di sangka-sangka pikir ku.


" Oohh..Jadi Kamu sama dia sekarang??" Tanya Estu dengan Nada sedikit Gimana gitu rasanya??


" Hmmm... ya begitulah??" jawab ku cepat. lalu berpura pura mengajak Ngobrol Danish.


" Akhirnya yaaa... bisa legal juga hubungan kalian.!?" Sindir nya sambil tersenyum sinis.


" Selamat yaa!?" katanya lagi.


" Jadi kapan?? Undang anak mu yaa?" tambah nya lagi.


Aku hanya diam menatap nya.


Aku menghela nafas ku sesaat.


" Memang ada rencana bagiku untuk bisa bersama nya, tetapi Bukan sekarang sekarang in?" kataku.


" Masih banyak yang harus ku benahi??" kataku.


" Oowhh, seperti itu??" katanya dengan nada menyindir.


Aku hanya tersenyum kepada nya.


" Kamu sendiri kapan??" tanyaku. Dia hanya terlihat mencibirkan mulut nya.


" Masa Iddah mu kan sudah lama lewat??" kataku.


" Mungkin sudah ada calon dari Bapak yang lebih Njawani Ketimbang aku??" Kataku sedikit menyinggung nya.


" Yang lebih punya unggah ungguh tata Krama Sopan santun dan Budi pekerti yang terpuji ??"kata ku Menyindirnya.


" Hahahaha...?" Terdengar suara tawanya yang di paksa.


" Kamu juga kenapa masih Dapat orang Jawa-Jawa juga kalau benci sama orang Jawa.


bukannya dia juga Jawa walaupun ada darah Chinese nya?? katanya kepadaku.


" Kata siapa aku benci orang Jawa??, Malah banyak orang Jawa yang benci sama orang Sunda sepertiku.!?"


" Yaaa mungkin kebetulan aja Aku dapatnya orang Jawa Lagi? walaupun separuhnya Chinese??"


" Itupun kalau aku berjodoh dengan dia??" kataku.


" Atau mungkin Berjodoh dengan Jawa murni lagi Atau Jawa Eropa Mungkin??"


" Aku tidak tahu jodohku seperti apa?" Kataku dengan mimik muka dan kepala yang sedikit ku gerak kan.


Aku sedikit tertawa lepas .


Estu terlihat semakin terlihat kesal.


" Hahahaha... boleh tuh sekali-kali dicoba yang bukan orang Jawa?!" katanya


" Mungkin bule atau orang Arab, atau India.! Bisa Kamu cobain siapa tahu beda rasanya!!?"


Katanya terdengar sinis kepadaku


" Apanya yang dicoba??!" tanya aku kepadanya.


" Apa aja boleh lah terserah kamu!!, kan kamu paling ahli - paling pintar?!! ahli tukang cicip!!" katanya membalas ku.


Aku memandangnya sedikit sengit.


kenapa dia begitu pikirku?? Bukannya kami sudah saling terpisah satu sama lain, Jadi aku bebas melakukan hal-hal yang aku mau dan dia juga sama seperti itu. tapi kenapa malah seperti ini??


Rasanya Aku tak punya kebebasan memilih siapa jodohku selanjutnya jika diketahui Estu.

__ADS_1


Ada perasaan seperti diperhatikan dan dipantau segala tindak-tanduk ku olehnya. Apapun yang aku lakukan ada salah dan tidak benar di matanya.


Apakah dia sangat membenci ku ataupun segala yang berhubungan dengan diriku.


Ataukah dia masih memiliki perasaan terhadap ku, dan yang dikatakannya tadi adalah ungkapan rasa cemburunya terhadapku.


Aku tak habis pikir tentangnya. Salah satu alasan kenapa aku masih berhubungan dengannya adalah anak-anak.


Aku hanya menghela nafasku panjang.


" Yang aku punya sekarang cuma dia dan anak-anak.?" " sebenarnya aku tidak mengharuskan jodohku kelak Jawa ataupun bukan Jawa.?"


" Dan pastinya Kamu tahu kan, aku sudah terikat sebelumnya dengan dia!"


" Dan aku hanya punya rencana memperbaiki hubunganku dengannya secara baik. Dimata hukum ataupun Agama nantinya??"


" Maaf, Aku pernah membuat mu terluka, Karena nya!?" kataku pelan.


Estu hanya tertawa sinis sambil menatapku tajam.


#


Haahh!!! dengan gampangnya dia mengucapkan kata maaf dan terang-terangan membelanya dihadapanku sekarang. Pikir ku.


Dia seperti tidak punya hati dan perasaan, melupakan segala pengorbananku terhadapnya Dahulu.


Melupakan bagaimana dia dulu sampai jadi seperti ini. atau mungkin bakal melupakan anak-anak kami nantinya.


Egois dan tak Berperasaan.


Bagaimana bisa aku harus berjodoh dengannya, kenapa dulu aku sangat mencintai nya Yaaa??


sungguh ku sesali diriku yang bodoh karenanya.


*****


Secara sembunyi, aku berdiam diri di depan pintu kamar Opname Sakha.


Aku mendengarkan semua percakapan Sakha dengan Estu mantan istrinya itu.


Aku masih merasakan kemarahan Estu terhadap Sakha, rasa cemburunya dengan mengatakan hal-hal yang seharusnya tak perlu diucapkan kan diantara mereka lagi.


seharusnya, biarlah Sakha Menentukan jalannya sendiri. Dan Dia bebas memilih pilihannya. bukan saling sindir seperti tadi.


Atau mungkin mereka berdua sebenarnya masih memiliki perasaan yang sama, masih merasa saling memiliki satu sama lain.??


Ataupun masih merasa berhak mengatakan sesuatu yang seharusnya menjadi rahasia mereka masing-masing.


Tetapi tadi di akhir pembicaraan, Sakha dengan telak mengatakan kepada Estu perihal diriku. sampai dia tak dapat berkata-kata lagi.


Aku merasakan perasaan bangga terhadapnya.


Namun aku sendiri terhadapnya??


******


pria separuh baya,Bapak tua yang terlihat sedikit lusuh, dengan mengenakan jaket yang sudah mulai pudar.


Dia menangis menghampiri Sakha, seraya meminta maaf kepadanya. aku tak jadi pergi karena itu.


Aku ingin tahu dia siapa dan kenapa.


" Maaf Mas kemarin saya buru-buru, saya panik karena mendapat telepon kabar dari kampung saya kalau orang tua saya meninggal??" katanya sambil menangis .


Aku hanya memandangnya dari sini.


ku lihat Sakha yang sedikit terlihat marah, dia berusaha duduk dari tidurnya. sesekali berusaha menahan rasa sakit di kakinya.


" Maaf mas kalau saya bikin Mas terluka, saya nggak sengaja tolong jangan laporkan saya ke polisi."


katanya menghiba-hiba.


Sakha hanya diam, perempuan itu tampak menenangkannya, berdiri di samping sambil memegang tangan si Sakha.


Aku menelan ludahku sedikit. Mungkin harusnya itu aku??


" Saya mau kok Mas bertanggung jawab membiayai mah sampai sembuh. tapi tolong jangan laporkan saya ke polisi!??"


" Saya orang kecil mas, rakyat biasa, saya cuman tukang ojek. istri saya sedang sakit diabet.?"


" Anak saya masih ada yang di SD, tolong Mas maafkan saya yaaa??"


katanya sambil menangis dan menghiba.


Perempuan itu tampak mengelus-elus tangan dan bahu saka.Sungguh pemandangan yang tidak ingin ku saksikan.


Sengaja ku alihkan pandanganku, memandang Danesh yang juga terdiam memperhatikan Papanya Itu.


Sesekali dia bertanya, siapa orang itu kenapa menangis sama Papanya dan meminta maaf.


aku tak langsung menjawabnya dan menyuruhnya untuk diam dengan telunjuk ku.


" jujur Pak saya sangat kesal,!!" kata Sakha kepada bapak itu.


Dia sepertinya menahan amarah. terlihat dari caranya menahan nafas dan menghembuskannya.


"Saya juga rakyat biasa Pak, Emang Bapak pikir saya pejabat!!?"


" Walaupun ini kecelakaan tidak sengaja perbuatan Bapak. Sakit ini sangat mengganggu aktivitas saya Pak. Jujur, Kalau bisa saya pindahkan - Coba saja bapak yg merasa!?"


" Saya ini juga Orang susah Pak,punya banyak masalah juga!!"


" Tapi saya berusaha tidak mencelakai orang lain sepanik apapun Saya, tetap berhati-hati mau melakukan hal apapun!"


" Saya Kesal dan marah sama Bapak!. Jujur ini !"


" Apalagi kemarin bapak berusaha lari dari Tanggung jawab kemarin.!? main kabur aja setelah menabrak saya.!!"


" Untung saja masih banyak orang-orang mau menolong saya kemarin!?"

__ADS_1


" Kalau itu terjadi di tempat sepi, apa saya nggak mati.!!" katanya kesal.


" Saya juga punya anak, punya keluarga, Punya kepentingan yang harus saya pertanggung jawabkan?" " Semua orang itu sama Pak, punya beban masing-masing. tapi setidaknya jadi orang bertanggung jawab dulu!!"


" Bukannya Bapak lebih tua dari saya, Bapak lebih tahu artinya tanggung jawab daripada saya!"


" Bapak lebih lama hidup kan dibanding saya! tahu maknanya kehidupan sebagai manusia yang dewasa apalagi sudah tua.!!"


Katanya terdengar sinis.


" Jangan karena takut di laporin polisi Bapak baru datang ke saya!!"


" Makin kesal Pak saya.!?"


katanya dengan nada yang sangat jengkel.


perempuan itu mencoba menenangkan Sakha.


Sudah kasihan - katanya berulang ulang.


" Lalu siapa yang kasihan sama saya!!" hardik Sakha kepadanya.


walaupun terlihat kesal, dia mencoba sabar terhadap Sakha.


" Wajar saya marah sama dia itu.!"


" Karena dia, menyusahkan saya!!"


" Kaki saya sakit enggak tahu kapan sembuhnya!"


" Kamu kan pada tau sekarang saya lagi proses apa, dan apa apanya harus sendiri?!" katanya kesal.


" Mungkin nanti saya memaafkannya, tapi kan semua itu butuh proses. butuh waktu!!?" katanya.


" Kamu juga kalau marah begitu kan, apa langsung maafin saya??!"


" Yang ada saya Di caci dulu, di maki dulu, di diemin dulu, digantung dulu.! sebelum akhirnya keputusan kamu buat untuk saya!!" katanya sambil sedikit memperhatikan kami.


" Saya juga masih manusia nggak bisa nahan marah.!"


" Untung saja dia tua seperti bapak saya kalau sepantaran sudah saya maki-maki dia.!"


katanya dengan nada yang masih marah setelah Bapak tadi itu berpamitan.


" Dia kan sudah meminta maaf sama kamu mencoba bertanggung jawab sama kamu walaupun kamu tolak di harus gimana." kata perempuan itu pelan kepada Sakha.


" Aku itu cuma ngeluh, Cuma pengen ngomong?"


" Aku masih kesel sama orang tadi, aku tuh nggak butuh saran pembelaan kamu terhadap dia?" kata nya.


" Ataupun pembahasan omongannya tadi itu??"


" Aku cuma pengen didengarkan lagi ngomel begini?"


" Biar Perasaanku sedikit Plong. masa iya aku ngomong sama tembok, nyeritain keluh kesahku.?" katanya ngedumel.


Kami berdua Hanya diam menatap Si Sakha.


Mungkin, kami berdua maksud dengan omongannya itu.


Dan aku tak bisa berbuat banyak, aku dan dia saling canggung. mungkin dari kami ingin mengatakan sesuatu kepada Sakha.


namun merasa Saling tidak enak satu sama lain.


***


Amplop yang disodorkan Bapak tadi itu dikembalikan lagi kepadanya.


Sebenarnya bukan uang yang jadi masalah, memang dia sekarang membutuhkan kondisi yang fit untuk menjalani proses sidang yang mungkin lama dan berbelit.


Mungkin dipikirannya, kalau dia sehat dia bisa melakukannya sendiri tanpa harus merepotkan siapapun.


Akupun tak bisa berbuat banyak. besok aku harus kembali ke Jogja.


Dan tadi sebelum pulang, anaknya merengek kepada ibunya. meminta izin agar bisa bersama Sakha.


Aku Sempat berpikir, mungkin kalau kemarin kami sudah mendapatkan kan kontrakan. itu akan membuat Sakha Mudah tinggal bersama anaknya itu.


Aku berfikir, setelah Sakha keluar dari rumah sakit dia harus tinggal di mana??? sedangkan aku harus kembali ke Jogja.


Aku sempat bingung mau naruh Sakha di mana.


****


" Nanti aku minta temanku ke sini deh buat Temuin kamu?" kataku kepada Sakha.


" Aku sudah bilang ke dia, Biar kamu Bisa numpang sementara di apartemen miliknya??" kataku


" Apartemen teman yang mana??" tanya nya kemudian yang menyadarkanku.


Aku Buru-buru berkelit


" Oooh itu, apartemen milik Aldes, teman kuliah ku dulu. mungkin kamu nggak kenal dia, tapi dia tahu kamu.?" kataku


" Nggak usah lahhh, aku bisa cari tempat sendiri, aku juga masih punya beberapa kenalan di sini.??" jawabnya


Aku hanya sedikit mengangguk dan menatapnya haru.


Lalu mendekatinya dan memeluk tubuhnya.


" Mmmhh, sayangnya aku??" kataku Manja sambil memeluk nya Erat.


" Cembuh yaaaa??" kataku lagi dengan manja.


Dia tampak tersenyum menatapku sedikit terlihat senang.


Sambil membalas pelukanku dengan Hangat dan juga Sangat erat.


Aku tak percaya, Lelaki sebesar ini bertingkah seolah-olah masih berusia sama dengan anaknya yang berumur 6 tahun. aku tertawa geli dalam hati memandang nya dan Mencium nya mesra.

__ADS_1


__ADS_2