Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.

Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.
Episode 62


__ADS_3

" Bulan depan, Bulan depan kita kesini lagi.!" kataku Kepada Maurice.


" Maaf sebelumnya, Saya titipkan dan percayakan Kylie sama Suster." kataku sambil menatap Livia.


Dia tampak tersenyum.


" Lalu, apa rencana kalian Berdua?" tanya nya kepada kami.


" Yaa, kami akan tetap menikah setelah ini di gereja." kataku sedikit pelan.


" Mungkin sementara, setelah kami menikah nanti. Kylie bersama saya. biarkan Livia mengurus ibunya di Jakarta!" kataku menambahkan.


Dia mengangguk menatap kami berdua. Tak berapa lama kami berpamitan.


Kami masih saling diam,dan canggung satu sama lain. Aku terdiam dan terus mengemudi. tiba-tiba ponselku berdering, panggilan dari Ayu.


Aku sedikit menghela nafas ku sambil menatap Livia yang membuang muka kepada ku.


" Ya Hallo." kataku lirih.


" Di Solo, Aku ada urusan sama rekan kerja ku dulu di kantor. Kenapa?" tanya ku.


" Ya mungkin Nanti aku pulang. cuma belum lihat jadwal kereta nya." kataku datar.


" Hahaha...aku tertawa lirih.


" Iya, Aku sedikit Capek. Urusan ku disini bikin pusing soalnya!" kataku sambil melirik Livia.


" Ya sudah, sampai ketemu di sana yaa?" kataku. sambil menutup Ponsel ku.


" Kayak gitu kok ngajak aku nikah bulan depan!? Urusan kamu sama cewek kamu itu Gimana?" katanya terdengar nyinyir.


Aku hanya diam sambil menarik nafas dan menghela nya panjang.


" Tadi mantan, sekarang pacar? terus nanti apalagi?" katanya. Aku menatapnya jelas, sedikit menelan ludah ku.


" Kalau kamu gak suka, ya sudah batalin saja pernikahan kita. gak usah banyak omong, sindir sindir Begitu!" jawab ku.


" Masalah Kylie bisa aku tanganin,kalau kamu gak mampu rawat dia. aku Bisa jaga dia, Aku gak akan tega menitipkan nya lagi di Panti."


" Kamu Marah ke aku, cuma gara-gara Mantan aku yang jarang-jarang berhubungan. telepon cuma ngomong masalah anak Aku.!"


" Dia yang kamu bilang Cupu aja kepanasan, terus Gimana sama aku yang tau kamu punya Sugar Daddy lebih dari 2.!" Kataku balik menyindir nya.


" Gimana kalau seandainya aku punya Sugar mommy?" Kataku gampang saja.


" Loh kok kamu ungkit-ungkit lagi! Kamu gak tulus terima aku, Iya?!" katanya balik menyerang ku.


" Bukan masalah gak tulus nya Livi. Bukan ungkit-ungkit juga. Cuma kamu ini keterlaluan sih, masa hal sepele aja kok kamu besar besarkan!" kataku


" Sepele...hahh!!" katanya sinis.


" Dia mau kamu kemanain kalau kita nikah!" katanya ketus.


" Haha!! Aku pulangin lah ke calon suaminya itu!" kataku kesal.


" Ooo, jadi kamu macarin pacar orang?!" katanya.


" Hebat yaa kamu, player jago banget bikin semua nya termehek-mehek sama kamu!?" katanya dengan nada kesal dan marah sambil pura-pura bertepuk tangan.

__ADS_1


Aku menatapnya sambil memberhentikan mobilnya itu.


Aku menarik nafas panjang sambil menatap nya.lalu mengeluarkan berkas fotokopian itu kepada nya.


" Ini berkas berkas yang di perlukan buat bulan depan. semuanya udah ada di situ.!" kataku.


" itu pun kalau kamu masih mau melakukan nya sama aku. Aku sih terserah kamu aja.!" Kataku sambil melepaskan safety Belt. Dia menatapku


" Kamu mau kemana!!" katanya sambil menahan lengan ku membuka pintu mobil.


" Aku mau balik, mau pulang..Kamu gak lihat didepan itu stasiun!" kataku kesal.


" Enak aja kamu mau pulang! Bicara soal ini juga belum selesai!!"


" Sekarang yang serius itu kamu atau aku sih!?" katanya.


Aku menatapnya semakin kesal.


" Mau kamu Apa!" kataku lirih sedikit menekan.


Sesaat kami diam. Aku mengencangkan lagi safety belt ku. Membawanya pergi.


" Terus maunya kamu gimana?" kataku dalam perjalanan menuju Hotel.


" Aku manut saja sama kamu. mau lanjut apa berhenti ya gak apa-apa.!" kataku.


Dia hanya diam.menatap ke depan.


" Mungkin aku egois, tapi aku lelaki dewasa Livi. aku butuh support perempuan yang ada di sampingku, dalam hal apapun."


" Aku gak bisa hidup sendiri sekarang." kataku yang tak membuat nya bergeming.


Aku mati gaya. padahal dia yang mulai, aku yang salah.


" Ya Hallo pak. ooh, iya maaf. saya perginya mendadak, lupa bilang sama bapak. gimana pak?" tanya ku Kepada pak Bandi.


" Oohh, ada yang nawarin kayu lagi. dimana Pak? tanya ku padanya.


" Di Blora, apa Randu Blatung?" Tanyaku bingung.


" itu nama apa pak, kok seram ya." kataku sedikit tertawa.


" Saya di Solo pak. saya tunggu disini atau saya ketemu bapak Dimana gitu?" kataku.


" Oh ya sudah, saya tunggu di sini saja ya pak. besok ketemuan nya ya."


" Masalah harganya gimana, ya kalau bisa dikurangi lagi pak. soalnya kayu ukuran segitu gak jadi banyak bahan baku kan pak. iya, percis sepemikiran kita pak?"


" Ooh,iya baik. besok kita lihat dulu ke TKP. oke, sampai ketemu besok pak?" kataku sambil menutup ponsel dari nya.


Aku menatapnya sedikit. dia masih diam.


" Lama banget sih marahnya,bertele tele lagi. Capek aku!" kata ku sedikit mengeluh sambil menghela nafas panjang.


" Livia, kenapa sembilan bahasa Inggris nya Nine?" tanya ku garing.


" Kalau Mine, itu kamu dong.?" kataku sambil tertawa sendiri.


" Kamu tau gak Kenapa ikan kalo di air itu Sering Cuap... Cuap... Cuap..?" kataku sambil menirukan gaya ikan.

__ADS_1


" Ya kalau Cium... Cium... Cium... itu Aku dong?!" Jawab ku sendiri sambil tertawa terkekeh.


" Gak lucu katanya sambil memukul ku.!" aku memandang nya yang tengah menahan Senyum. Lalu aku menatapnya sambil mengembangkan senyum ku.


Akhirnya dia tertawa walau harus mencubit pinggang ku. Kami pun tertawa bersama Pada akhirnya.


" Udah ya marah nya?" Kataku sambil memberhentikan mobilnya itu di halaman Penginapan.


Aku menggandeng tangan nya sambil berjalan ke lobby.


***


" Aku akui, aku dekat sama Ayu. kami menjalin hubungan sembunyi sembunyi lah istilahnya.!"


" Aku sama dia dekat setelah beberapa waktu lalu ketemu kamu di Semarang itu. Ya aku memang suka dia, tapi gak berani lah bilang!"


" tapi gak tau kenapa kita bisa Deket sampai seperti ini sekarang." kataku sambil mencium rambut Livia yang berada di samping ku.


" Terus kamu, mau sampai kapan ngasih harapan palsu kedia?" tanya nya. Aku hanya diam.


" Jangan jangan kamu sengaja karena ke enakan!?" katanya sambil mencubit perut ku.


Aku menatapnya sambil sedikit mengaduh.


" Aku belum ngapa-ngapain sama dia, kalau kissing ya sedikit lah yaaa?" jawab ku sambil tertawa kecil. dia kembali mencubit ku.


Aku sedikit menarik nafas panjang.


" Iya, aku gak ingin ini nantinya jadi masalah kita." Kataku sambil menatap nya.


" Tapi kamu mau kan kawin sama aku Vi??" tanyaku kepada nya.


" Lah, Barusan kan kita Kawin?" jawab nya sambil sedikit tertawa.


" Bukan itu Sayang...!" kataku sambil membenamkan kepalaku ke sesuatu dibalik selimut yang menutupi nya.


***


Hari hatiku semakin di sibukkan dengan rintisan usaha ku yang menuntut ku untuk Kesana kemari, mengurus izin usaha dan mencari bahan baku Kayu.


Aku memindahkan Proses produksi ku ke sebuah gudang semi permanen yang ku dirikan di lahan tanah sewa.


Meskipun mundur dari rencana Awal. Sekitar dua bulan kemudian, akhirnya aku menikah dengan Livia di Gereja nya.


Sesuai Dengan perjanjian Awal, bahwa aku tak bisa meninggalkan ke yakinan ku terhadap Tuhan yang aku imani. Begitu juga dengan nya.


Sebelum nya, Saat aku dan Livia belum menikah. kami sempat tertangkap basah oleh om Vanus yang tak sengaja memergoki kami bertiga. Aku, Livia dan Kylie. Di Supermarket, saat itu aku dan Livia sedang memilih baju untuk di Kylie.


Karena itulah, om Vanus menjadi saksi di pernikahan ku dan Mira yang menjadi saksi dari pihak ku.


Namun terkadang, meskipun lewat telepon. aku masih berhubungan dengan ayu. dan aku merahasiakan pernikahan ku ini dari nya atau dari siapapun.


Sampai suatu hari, aku mendengar berita pertunangan nya dengan Linggar yang sudah di langsung kan beberapa Minggu yang lalu.


Mungkin hanya berjarak beberapa hari dengan pernikahan ku.


Kata pak Subandi, sepupu nya itu. Ayu akan menikah beberapa bulan kedepan.


Memang sih, ada perasaan seperti apalah yang tak bisa ku jelaskan. mungkin rasa kehilangan tetapi kan bukan hak ku.

__ADS_1


__ADS_2