Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.

Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.
Episode 53


__ADS_3

Aku membuka pintu rumah, dan mendapati Erwin yang tengah berdiri di depan pintu.


Dia tampak heran, mengapa aku bisa berada di rumah Estu sepagi ini.


" Kamu nginap ya Mas ?" katanya curiga.


" Oh enggak, enggak seperti anggapan mu kok Aku..." kataku sedikit gagap menjelaskan.


" Maksudnya?" tanyanya tidak suka.


" Iya aku nginap semalam di sini. Tapi aku membawa adik ku kesini. Dia perempuan ?" kataku menjelaskan.


Tiba-tiba Estu datang dari dalam.


" Ada apa sihh ?" katanya sambil menatap Erwin.


" Loh ngapain win, pagi pagi sudah kesini ?" katanya sambil mengeringkan rambut nya yang basah selepas mandi menggunakan Handuk.


Aku menatap Erwin yang semakin curiga Kepada ku.


" Estu, Gimana sih pikiran kamu ?"


" Bukan nya kamu ini sudah cerai sama dia! Kenapa masih tinggal satu rumah sihh ?" katanya terdengar tidak suka.


" Apa sih kamu Win, mikirnya kejauhan. Dia semalam datang sama adiknya yang cewek. terus nginap di sini, soalnya kemaren dia di Jakarta numpang di kontrakan temen nya yg laki laki ?"


" Masa iya, dia ngajakin adiknya ke kontrakan laki laki. aku juga punya kamar kosong. kalo cuma nginep semalam dua malam sih ya aku gak keberatan !" katanya.


" Adiknya yg cewek bisa tinggal di sini, kalau dia mah nanti juga Pergi sama urusan nya !" Kata Estu lagi menambahkan. aku sedikit merasa lega.


" Lagian, ngapain sih kamu sepagi ini udah kesini, tumben banget ?" tanya nya heran.


Sesaat Erwin melirik ku.


" Ini, mau ngasih ini dari mama aku. katanya buat sarapan kamu, dia bikin sendiri loh nasi kuning nya." katanya.


Lu aku berpamitan masuk kedalam.


**


" Maaf ya Estu, gara gara aku. kamu jadi dipikir nya gimana sama Erwin ?" kata ku.


" Emangnya kamu tau apa yang di pikirkan dia ?" katanya.


" Gak usah lebay lah.." katanya acuh tak acuh.


" Oh iya Estu, aku berencana bawa Lio ke Jawa. sengaja aku bawa Mira buat bantuin jagain Lio, Boleh?" kataku.


Tiba-tiba dia berhenti makan. dan menatap ku. aku memandang nya sambil mengangkat kedua bahu ku.


" Sekarang apa lagi ?" kata ku.


Dia diam. seperti sedang menyiapkan sesuatu untuk menyerang ku.


" Aku gak bisa di sini terus menerus. Aku juga mesti jalan! Kalaupun kamu meminta lagi aku buat tinggal di Jakarta, maaf aku gak bisa ?" kataku sambil menelan ludah.


" Lalu seandainya, kamu gak ijinkan aku mengasuh Lio? ya itu hak kamu. karena Lio atau Danesh yang lebih berhak untuk mengasuh nya adalah kamu."


Kataku.


" Terus, kalo kamu bawa Arcelio pergi. kamu berapa bulan sekali Bisa nengokin Danesh??"


" Dia anak kamu juga kan??" katanya sedikit sengit.


" Bisa tiga atau empat bulan sekali mungkin. aku juga gan bisa memastikan??"


" Apalagi, jujur keadaan finansial ku enggak kayak dulu lagi??" kata ku.


" Kalau kamu tau keadaan mu, kenapa kamu berani beraninya bawa Lio ?" katanya ketus.

__ADS_1


" Loh!! bukannya kamu kemarin minta aku juga untuk jagain Lio. aku ngomong sesuai kemampuan aku dong..?" kataku sedikit tinggi.


" Iya, aku juga butuh jaminan Lah kalau dia Di asuh kamu gak Bakal Kekurangan!!" katanya.


" Akan aku lakukan apapun yang terbaik untuk kedua anak aku Estu! Apapun!!" kataku sedikit keras sambil mencondongkan wajah ku kepada nya.


Brakkk!!! suara tangan nya menggebrak meja makan.


" Bisa kali kamu biasa ngomong nya gak perlu marah marah!!" katanya balik keras kepada ku.


" Kamu yang mulai duluan!! Aku gak begini kalau kamu gak Mulai !!" kataku sambil menunjuk muka kesal.


Dia menepis kan tangan ku.


" Hehh!! Sopan kamu ya di rumah orang !!" katanya keras.


" Aku tahu ini memang rumah orang, Tapi kalau kamu pertama tadi gak bicara keras sama aku duluan, aku gak bakalan gini. Tadi aku ngomong nya baik baik loh sama kamu.?" kataku emosi.


Dia mendorong tubuhku,


" Kamu yang duluan, kenapa jadinya kamu nyalahin aku!!" katanya membentak ku.


Aku memandang nya sengit.


" Apa sihh mau kamu hahh!!" kataku sambil mendekati nya.


" Gak usah dekat dekat juga!! Tolong sopan yaa!!" katanya.


" Sekali kali orang macam kamu itu harus di kasih tau caranya menghargai orang lain!!?" kataku keras.


" Hahh!!! bukan nya kata kata itu pas nya buat kamu sendiri!!" katanya.


Tiba-tiba ponselku yg di atas meja berbunyi Wajah Ayu muncul dan terlihat oleh ku dan Estu.


" Angkat dulu tuh telfon dari pacar kamu!!" katanya.


" Kenapa emangnya kalau dia pacar aku?! kamu cemburu??" kataku.


Aku menatapnya tajam dan nanar.


Makin lama bicara nya kemana mana, enggak jelas dan selalu menghina. Lama lama aku tak tahan.


" Setan kamu!! terbuat dari apa sih hati kamu itu, gak ada habisnya hina hina aku, apa kamu pikir aku diam karena aku takut sama kamu! Iyaa!!!"


" Apa kamu pikir Aku ngajakin kamu balikan itu karena Masih Sangat Cinta sama kamu!! Atau karena aku tergiur sama harta kamu!!"


" Apa kamu pikir, selama ini aku gak tahu kelicikan hati kamu sama keluarga kamu!! Iyaa!!"


" Aku tahu Siapa yang tabrak aku kemarin, aku tahu siapa yang menghancurkan karier ku, aku tau siapa yang membuang ku dari Jakarta!!"


" Kamu pikir, aku diam karena gak tau!!"


" Gak punya hati kamu masih bilang aku gak bisa jamin Hidup anak aku jika tinggal sama aku??!"


" Gak punya hati memang kamu sama seluruh keluarga kamu itu!!" kataku sambil mendorong Dorong Bahunya dengan telunjuk ku.


" Memang, aku pernah salah. tapi gak sepatutnya kesalahan aku itu di jadikan ancam dari kamu menakut nakuti aku.!!"


" Emang kamu siapa, bisa takar takar rejeki aku.!Emang yang kamu miliki sama keluarga kamu miliki ada jaminan harta Halal?! Hahh!!"


" Pantas saja kamu begini, apa yang ada di tubuh kamu itu banyak barang gak berkah nya!!" Kata ku Puas.


" Emang kamu satu satunya perempuan yang bisa aku dapatkan. Iyaa!! gak usah kepedean??!" bentak ku keras.


" Astaghfirullah haladzim....Aa Sakha. istighfar Aa!?" teriak Mira sambil memegang tanganku yang masih mendorong Bahunya itu.


Estu menatap Mira, kemudian menatap ku. lalu pergi ke kamar nya setengah berlari.


" Yang kamu bisa lakukan cuma nangis, terus kamu bilang akulah yang salah!!!" kataku berteriak.

__ADS_1


" Aa... Istighfar Aa..!!" kata Mira lagi. Aku menatapnya sambil berkaca kaca.


" Ayo Mira, beberes. kita pergi dari sini??!" kataku.


Kemudian Danesh menangis keras-keras. Dia sudah mengerti mungkin sedikit Arti pertengkaran kami.


Aku Pergi membiarkan nya yang di tenang kan oleh Mira.


***


" Thanks bro, udah datang. lu tau gue sakit siapa kasih tau ?" kata Rudi Kepada ku. Aku hanya tersenyum kecil Kepada nya.


" Ehh, iya Richard bilang ibu lu ninggal ya? Gue turut berduka cita yaa." Katanya sedikit lemah sambil berbaring di tempat tidur nya.


Dia sakit di penjara dan di pindahkan ke rumah sakit milik negara ini. Rupanya Rudi terkena kanker. dari cerita Richard kepadaku.


" Iya, makasih yaa." Katanya sambil menjabat tangan nya.


" Udah berapa hari Lu di sini Broo?" tanyaku.


" Udah ada tiga malam mungkin." jawab nya.


" hmm.. semangat Broo. lu harus sembuh buat nagih utang ke gua." kataku sedikit tertawa kecil Kepada nya.


" Gue bakalan semangat hidup, tapi bukan buat nagih utang ke lu juga." katanya sambil tertawa kecil.


Aku membalas Tawa nya.


" Gue harus tetep hidup sampai akhirnya gue dampingi anak gue nikah di altar Gereja." katanya.


" Yooiii.. semangat!!" kataku.


" Ehh tapi, anak Lu yang mana nih yang mau lu anter? dari bini lu di Sisca apa calon bini baru nantinya.?" kataku sambil tertawa lepas.


" Sial lu, yaaa kalo bisa dua duanya ya kenapa enggak." katanya sambil tertawa kepada ku.


" Ehh, udah balik. gimana tadi? udah tanya sama Dokter nya kalo gue mau pindah rumah sakit?" kata si Rudi Kepada orang yang tiba-tiba datang dari belakang.


Aku menoleh ke padanya. Seketika senyum ku hilang.


" Kalau Dokternya bilang, dia sih gak bisa mindahin kamu ke RS lain Tampa ijin dari Rutan kamu. katanya harus mengajukan permohonan dulu sama Kemenkumham." katanya sambil mendekati kami.


" Cieee... ketemuan ni yeee?" ledek Rudi kepada kami.


Sontak aku dan Livia saling menatap.


Ada perasaan seperti menusuk ketika aku menatapnya barusan. Aku hanya memaksakan senyum dihadapan Rudi.


Sesaat, aku mendengar kan nya menjelaskan hal itu tadi Kepada Rudi. aku hanya diam selama dia bicara.


" Kha... kaku amat lu! Kek kanebo kering!" katanya sambil tertawa meledek ku.


Aku hanya sedikit tersenyum.


" Biasa aja sih gue mah. gak kek kanebo juga tapi sapu ijuk" kataku bercanda. yang di sambut oleh Tawanya.


" Ehh, Livi. udah Tahu belum kalo Sakha ibunya meninggal??"


" Oohh Masa? maaf ya aku gak tau. aku ikut berduka cita ya Kha." katanya kepada ku.


" Semoga Husnul khatimah ya almarhum ibu mu itu??" katanya.


" Aamiin.." Kataku Sambil tersenyum kepada nya.


" Itu perawat ku datang." kata Rudi sambil berusaha duduk dari tidurnya. aku membantu nya untuk duduk lalu pindah ke kursi roda.


" Ada jadwalnya kemoterapi hari ini." katanya kemudian.


" Aku antar atau gimana?". tanyaku.

__ADS_1


" Gak usah, ada mas NERS ini? Katanya sambil tersenyum kepada perawat tersebut.


__ADS_2