
Aku mengikuti jalan setapak yang menurun ke bawah itu, berjalan di antara Alang Alang dan rumput liar lainnya.
Bunyi kumbang dan daun daun kering terdepak ketika aku lewat menambah keindahan alam yang natural.
Tampak nya ada beberapa pohon jengkol yang sedang berbuah. Sebelum nya aku tak tahu pohon nya seperti apa, ada juga Nanas liar yang tumbuh. berbuah merah dan masih sangat kecil.
Ada sedikit pohon singkong yang tumbuh berbaris Sejajar. seperti nya memang di taman.
Rupanya seperti ini kehidupan desa, kehidupan perkampungan yang sebelumnya Hanya aku tahu dari televisi dan kini aku menemukan nya secara nya.
Dari tanaman yang mereka tanam Inilah mereka Bertahan Hidup, mungkin.
Kehidupan Disini tampak serasi, Kalau kupikir pikir seperti nya tampak seimbang. Antara manusia dengan alam.
Aku senang tiap kali ada Rumah yang bisa memanfaatkan pekarangan nya. Seperti sayuran yang mereka masak pun Hasil dari tanaman yang di tanam sendiri di samping rumah.
Ada pohon pepaya, bayam berdaun lebar dan beberapa pohon cabai.
Sungguh kehidupan yang Harmoni, Asri dan damai Tampa perlu meributkan Gengsi dan Berebut Kekuasaan.
Suara tawa anak anak ku pun mulai terdengar.
Terdengar tawa Danesh yang di ikuti oleh suara Sakha serta Lio yang sudah Mulai banyak berbicara.
Diam diam aku mengabaikan momentum mereka melalui ponsel ku.
Tawa tawa yang bahagia terdengar keluar dari mulut mereka.
" Mama.... teriak Danesh Sambil melambaikan tangan kecil nya itu kepadaku, setelah dia di beritahukan oleh Papa nya.
" Panggil Mama sayang, sini gitu??" perintah Sakha kepada Lio.
" Mama Cini??" katanya dengan suara yg kecil. aku tersenyum kepadanya.
" Ayo sayang, sudah mau siang. Makan dulu yok??" ajak ku Kepada mereka sambil mendekat.
Anak anak ku tampak terus mengajak ku Turun. sedangkan aku tidak mau basah.
Air di kali kecil ini memang sangat jernih dan terasa dingin. Sedikit terlindungi dari sinar matahari karena dekat dengan Sekawanan pohon Albasia yang tinggi.
Pantas saja anak anak ku betah bermain.
Tapi tetap saja aku merasa khawatir karena takut mereka masuk angin
Tiba-tiba aku tercebur jatuh ke dalam Walungan, karena di tarik oleh Sakha. mereka semua tertawa kepada ku. anak anak ku tampak menciprati ku dengan air. Aku memandang mereka yang tampak bahagia sekali.
wajah wajah dengan senyum yang lebar penuh Bahagia Tampa Tapi dan Bahagia Tampa syarat.
Sesekali kami mengambil momentum bersama. Seolah-olah aku lupa jika sudah Bercerai dengan Sakha.
Aku memandangnya dengan wajah yang basah karena air. Kali kecil ini memang tak dalam, lebih seperti saluran irigasi yang di buat oleh Alam.
Dalamnya mungkin hanya selutut ku. jadi kami orang dewasa sedikit duduk untuk tersiram arus nya.
Aku berhadapan dengan Sakha untuk mengapit Anak kami.
Kamu saling pandang dan seakan jatuh cinta kembali.
Dia mencium pipi ku cepat, Seakan takut kehilangan momentum itu.
Aku memandang nya. Mencium nya ganti dan sedikit larut diantara anak anak yang tak menyadari kami membuat momentum sendiri.
__ADS_1
Ciuman nya masih seperti dulu.
Terasa Hangat dan kuat. Sapuan lidahnya pun seolah membangkitkan Emosi ku.
Aku yakin Semakin lama akan menjadi tak terkendali.
Namun, tak ku pungkiri. Sesaat Tadi kami saling menikmati.
***
Setelah selesai Sholat Dzuhur ini, kami "Ngariung" atau berkumpul untuk makan siang di Jolopong Abah.
Setelah Aku Selesai makan, kemudian Berganti Sakha yang Menikmati makan siangnya.
Tadi, memang Dia menyuruh ku untuk makan duluan. sedangkan dia yang menyuapi Lio Agar makan nya tak berantakan.
Dahulu pun, ketika Danesh masih kecil. kami selalu bergantian membagi tugas.
dan anak anak cenderung lebih cepat makan nya jika di suapi oleh Ayah nya Di bandingkan dengan Ibunya.
Rasanya Selalu begitu, Dimana mana.??
" Neng Estu, Apa gak bisa Percaya lagi dengan Sakha??" Kata Abah Jajang Sukmara. mantan mertua ku itu tiba-tiba.
Sakha tampak sedikit tersedak makan nya?
Aku hanya tersenyum kepadanya, lalu memandang Sakha.
" Abah, Anjeuna ka dieu Kur Takziah. ngabaturan Sakha di jalan kamari teh. Lain kunanaon??" jawab Sakha.
#( Abah, dia kesini itu cuma buat Takziah. nemenin Sakha di perjalanan kemarin.bukan karena ada maksud apa-apa?)
" Sakha, ngarana awéwé teh Pang Harese di tebak Hate na. tong nyieun kasalahan. sabab salami hirup anjeun kasalahan anjeun bakal di émut Salawas na??" kata nya sambil tertawa kecil.
#( Sakha, namanya perempuan itu paling susah ditebak jangan sampai bikin kesalahan sebab selama hidup kamu kesalahan kamu bakal di ingat terus?)
Aku memandang Sakha. Sepertinya dia merasa tak nyaman.
Sedikit sedikit aku mengerti artinya.
" Kusabab kitu, sakapeung manusa masih kénéh majukeun ego.sanés lalaki atanapi awéwé, éta sami.
upami kasalahan lami sok dibawa Padahal Atos ti taun kapan,tapi hilap Saberaha Rebu kabagjaan anu parantos diliwatan Salama iyeuh anu ngan alit.
#( Itulah kenapa, manusia masih saja mengedepankan Ego. enggak lelaki ataupun perempuan, itu sama.
jika kesalahan lama selalu di bawa/ Di ingat Meskipun sudah bertahun-tahun, tapi lupa berapa Ribuan suka cita/ Bahagia yang telah Terjadi Selama ini walaupun kecil kecil/ Banyak.)
Katanya yang tak semuanya aku bisa Artikan. namun aku paham maksud dari mantan mertua ku.
Kami saling terdiam.
" Maafin Sakha ya neng Estu?" katanya kepadaku dengan aksen Sunda yang masih terdengar kental.
" Salah nya seorang anak, juga adalah salah dari orang tuanya.
Dan saya akui, saya bukan orang tua yang baik bagi dia??" Tambah nya.
Abah, Entong nyarios Sapertos kitu.??" kata Sakha Sambil memegang kedua kaki Abah nya itu. Dia menangis.
" Kasalahan ieu murni ti Sakha, kuring sadar yén kuring ngalakukeun kasalahan.
__ADS_1
kolot henteu pernah salah dina ngadidik budakna tapi éta budak anu sakapeung mopohokeun tur teu kaampeuh nyanghareupan halangan kahirupan di dunya.!?"
# ( Kesalahan itu murni dari Sakha, saya menyadari bahwa saya membuat kesalahan.
Orang tua tidak pernah salah dalam mendidik anaknya tapi justru anaklah yang terkadang lupa dan tidak tahan menghadapi sesuatu!?"
Katanya sambil menangis.
" nyak Enggeus. Ayeuna mah Terserah Neng Estu saja.
anak saya sudah ngaku salah sama neng Estu, dia menyadarinya dan sudah mengakui bahwa itu memang kesalahannya nya.
" Tapi sebaik-baiknya memaafkan adalah melupakan kesalahan yang sudah pernah terjadi.
dengan catatan, jangan pernah melakukan kembali, begitu kan Sakha ??
" Baik kamu melakukan nya terhadap neng Estu atau terhadap orang lain??"
Begitu juga sebaliknya kan ya Neng Estu??"
Kata Abah nya itu.
Katanya menasehati Kami. Termasuk untuk tetap Kerja sama membesar Anak anak.
" Jung Sepp, Bawa Mira Kana Jakarta. Laksanakeun titah Ambu maneh. Bawa Adi maneh éta ka Jawa, Amih katemu Kana jodoh na??" kata Abah berbicara kepada Sakha.
#( Jung Sepp, Bawa Mira ke Jakarta. Jalankan Perintah Ambu kamu. Bawa Adik kamu ke Jawa, Biar ketemu Sama jodohnya??")
" Anu kuat nyaéta anjeun sami sareng cobaan, naha éta kusabab artos, Dina pagawean atanapi awéwé.
#( Yang kuat kamu samai cobaan, entah itu karena uang, dalam pekerjaan atau wanita.)
Kata Abah nya itu kepada Sakha. Kan?? sudah kuduga, selalu ada perempuan di hidup nya.
" kumaha anjeun hoyong, salami anjeun tiasa adil teu masalah. salami aya kaikhlasan di jerona.
#( maunya gimana, selama bisa adil gak masalah. selama ada ketulusan di dalamnya.)
Mana ada yang mau ikhlas sih perempuan. kalau berbagi hati, berbagi Ranjang dengan perempuan lain. Batin ku. Ternyata dia menang ada bakat Play boy.
Sakha tampak Gelisah, seperti nya dia malu terhadap ku.
Jujur saja aku puas, melihat nya di kulit oleh Abah nya itu ??" 😏
" masalah bumi, sawah, sareng kebon, nyanggakeun Atmaja anu ngarawatana.Teu kedah hariwang, Abah ngan hoyong di baturan ku Elis. engken anjeunna ayeuna cicing di imah Iyeu ?!"
#( Masalah Rumah, ladang, dan kebun, biarkan Atmaja yang mengurus. Jangan khawatir, Abah hanya ingin bersama Elis. Biar nanti dia tinggal di rumah ini?)
Kata Abah member wejangan.
" Neng Estu, Lamun nanti ketemu lelaki yang sekiranya suka sama Neng Estu, carilah yang sayang juga terhadap cucu Abah.
" Jangan Suka menyama-nyamakan lelaki lain dengan lelaki yang satunya.?!"
" Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan."
" Bukannya Neng Estu juga punya sifat yang begitu?"
Katanya kepadaku yang membuat mukaku terasa panas.
Sakha hanya menundukkan kepalanya. lalu aku tersenyum kepada Abah.
__ADS_1