Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.

Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.
Episode 13


__ADS_3

" Mas Sakha tadi ada telfon dari kantor, katanya kamu suruh ke Jakarta besok Rabu?" kata Rahma kepada ku.


" Kenapa ??" tanya ku.


" Katanya sih perwakilan kantor cabang per daerah buat dengerin pengarahan dari Mentri??" jawab nya.


" Terus??" kataku sambil berdiri di hadapan nya.


" Ya ini lagi di siapkan transportasi nya. naik kereta ya mas, nanti di Senen ada yang jemput di anter ke Hotel?" katanya sambil memutar kursi kerjanya, membelakangi ku.


Aku pun berlalu meninggalkan nya.


" Mas Sakha!?" panggil Rahma kala aku masih beberapa langkah meninggalkan nya.


aku hanya menaikan alis ku.


" Oh yah mas, nanti kamu bareng pak Budiman ya ke Jakarta nya?" katanya sambil menyebutkan nama atasan ku.


Aku hanya terdiam.


Hmmmm....


*****


Sesudah ku kemasi beberapa Potong baju, aku keluar dari kamar kost ku. ku dapati Eko dan Ikmal yang tengah mengobrol.


" Mas, kaos nya yg buat keponakan ku itu kamu bawa aja buat oleh oleh anak mu??" kata Eko tiba tiba.


aku menatap nya.


" Serius ko, terus keponakan mu gimana??" tanya ku


" Gampang lah, wong kita masih bakal ke Jogja inj mas. proyek yang disana kan belum rampung??" katanya sambil memakan kacang rebus yang ada di hadapan nya.


" Makasih ya, nanti tak ganti??" kataku


" Gak usah ganti ganti lah mas. santai wae??" katanya .


Aku tersenyum sambil mengacungkan kedua jempol ku.


" Kemana mas??" tanya Noval yang tiba-tiba datang dari pintu depan.


" Mau ke tempatnya pak Subandi. kesamping, kayaknya hari inj dia ngerjain furniture lagi??" kataku.


" Ooo... iya sih kayane. soalnya berisik mesin serut nya?" kata Noval menjawab ku.


" kamu baru pulang apa piye??" tanya ku kepada nya.


" Wes dari tadi sih, cuma aku mampir tempat nya Desy??" katanya sambil tertawa. aku menatap nya.


" Apa tho mas??" katanya bingung memperhatikan, aku mencolek wajah nya yg tampak berminyak.


" Ngapain tadi kamu??" kataku sambil tersenyum


" Ngapa tho mas, ya gak ngapa-ngapain lohh?!" katanya sediki menyangkal.


Aku hanya tertawa.


" Awas loo.. jangan ngerusak anak orang??" kataku


" Apa tho mas??" katanya sambil sedikit mecucu/ memonyongkan bibirnya.


" Mandi, jangan lupa keramas pake sabun cuci piring, biar minyaknya gak nempel?" kataku sambil mengacak rambut nya dan tertawa sambil meninggalkan nya.


*****


Pak Subandi ini dulunya pebisnis furniture yg cukup punya nama, namun belakangan bisnisnya mengalami kebangkrutan setelah di tipu oleh rekan bisnis nya.


Katanya dia sampai punya hutang di Bank sebesar 175juta. tetapi sekarang tinggal sekitar 80 juta yang harus di cicil.


Karena hutang itu, Sebidang Tanah dan kebun nya di jual dan itupun masih memiliki hutang kepada keluarga besar nya.


Kerajinan furniture nya menurut ku punya kelas dan cukup bagus. dia adalah pengrajin yang menggunakan kayu dengan kualitas bagus.


Sesekali aku Berputar mengelilingi tempatnya meng-rajin furniture. dan kebetulan salah sudut nya berdekatan dengan kost-an berlantai dua khusus perempuan.


" Mas minta dong Mangga nya ??" teriak seseorang dari kost-an.


Spontan aku mendongak ke bawah, mencari suara itu berasal. Aku tersenyum lalu mengambil dua Buah mangga yg kurasa sudah tua itu. lalu ku lempar kepada mbak yang tadi teriak kepada ku. di samping nya ada seorang teman nya.


" Makasih ya mas?" katanya sambil tersenyum. aku membalas senyum nya lalu cepat turun dari pohon mangga itu.


" Ada mangga nya mas??" tanya pak Subandi kepada ku.


" Ada pak,?" jawab ku sambil menyodorkan buah yg ku petik untuk ku itu.


" Tadi ada yang minta juga pak, jadi saya kasih mangga nya dua??" kataku lagi.


" Biasa itu Cewek Cewek kontrakan minta mangga. buat di rujak mesti??" kata pak Subandi.


Aku hanya tersenyum.


" itu udah disiapkan sama Ningrum Bumbunya??" katanya sambil memanggil anak perempuan nya yang masih SD itu.


" Walah malah ngerepotin??" kataku.


" Ya gak apa apa??" katanya ramah.


Sambil memakan petis mangga dengan bumbu nya itu aku Sekalian berbincang dengan pak Subandi.


" Saya juga punya keponakan jauh. anak sepupu saya ada yang kerja di Jakarta??" katanya.


" Harusnya tahun kemarin menikah, e malah gak jadi."


katanya, aku hanya tersenyum.


" Lah Mase Sakha kenapa bisa cerai??" tanya nya polos. aku sedikit terdiam lalu tersenyum.


" Ya saya gak tahan godaan pak,saya yang salah. saya yang gugat cerai istri saya dulu??" kataku berkilah.


*****

__ADS_1


" Aduh, kenapa daftar panggilan di hapus semua??" pikir ku sambil menepuk jidat ku.


Benar benar aku lupa menyimpan Nomer telfon nya Livia.


" Kemarin Nomer nya berapa yaa??" kataku serasa menyesal.


Tak lama kemudian ada telfon dari Estu, sedikit berbasa-basi. kemudian Suara Danesh yang mengajak ku mengobrol kesana kesini.


" Gimana kamu di sana Kha??" tanya Estu datar.


" Alhamdulillah baik. kerjaan kamu gimana??" tanyaku.


" hmm.. baik, aku sekarang pindah kerja nya??" katanya


" Ooyaa... kemana??" tanyaku.


" Aku sekarang kerja di Dirjen Pajak.?" katanya.


" Ooo... selamat ya??" kataku sumringah.


" Kabar bapak ibu Gimana? " tanya ku


" Baik." jawab nya singkat


" terus Reni, ipar mu sudah melahirkan?" tanya ku


" Sudah?" jawab nya lagi.


Sungguh, ingin sekali aku akhiri percakapan ini. aku bosan dengan kalimat kalimat basa basi.


Rasanya,buat apa sih?! pikir ku sedikit kesal.


" Terus apa rencana kamu selanjutnya Kha?" Tanya Estu.


" Rencana apa??" tanya ku.


" Gimana kamu disana,sudah ketemu seseorang??" tanya nya to the point.


Aku tertawa kosong


" Ketemu mah sudah sama macam macam orang, maklum lah pelayanan publik?" jawab ku


" kalau itumah, gak lah- aku belum mau. belum ada modal!?" kataku sambil tertawa.


" Kamu gimana??"


" Denger denger kamu mau di jodohin sama petinggi TNI?" tanyaku. terdengar suara tawa kecil nya.


" Apa mau balikan lagi sama panca??" ledek ku.


" Mungkin??" katanya singkat.


" Wah selamat dehh?" kataku keki


" Kamu katanya Balikan lagi sama mantan Kha??" katanya dengan nada menyelidik.


" Mantan yang mana nih??" ledek ku


Lalu tak lama kami mensudahi percakapan itu.


Apa ini, kenapa kita masih kepo dengan kehidupan masing-masing.?! Pikir ku.


******


" Kok mendadak sekali kamu kesini??" kata Estu kemudian menyalami tangan ku. Aku tersenyum,


" Aku ada kerjaan di sini, jadi bisa sekalian nengok anak anak??" kataku sambil tersenyum.


" Anak anak lagi di ajak bapak sama ibu keluar. baru aja?" katanya


" mungkin baru 15 menitan?!" katanya.


Aku hanya diam. Aku gak ketemu anak anak ini pikir ku. Mana aku besok balik ke Kutoarjo. pikir ku sedikit kesal.


" Oo... ya sudah, aku titip ini aja buat mereka.?'' kataku sambil menyerahkan oleh oleh untuk Estu.


Kemudian dia membuka nya.


" Kamu ke Jogja?" tanya nya


" Iya, Minggu kemarin aku ada kerjaan di sana?" jawab ku.


Tak lama terdengar suara tangisan memanggil mama. aku berfikir itu Arcel.


" Itu Anaknya Reni??" katanya cepat.


Aku hanya diam sambil tersenyum.


Entah mengapa kurasakan sesak di dada. rasanya?!!


" Ya sudah Estu, aku pamit. sampaikan salam buat Bapak juga ibu?"


" Salam ke anak anak ya.?" tambah ku lagi


Dia hanya tersenyum.


"Video call aja kapan kapan Kha?" katanya yg tak ku hiraukan. Perasaan ku kesal sekali.


" Kapan kamu pulang??" tanya nya.


" Besok.!" kataku sambil berdiri dan bersiap menyalami nya.


Tiba-tiba terdengar suara Danesh yang seperti nya berbicara dengan pengasuh nya dari ruang tengah, Mungkin sedang di tahan agar tak di ke ruang tamu.


Seketika aku refleks memanggil namanya.


Estu Tampak melotot kepada ku.


" Danesh itu pergi sama Bapak ibu. gak percaya banget sama aku!?" katanya sedikit marah .


aku hanya diam menatap nya nanar. sesekali menelan ludah ku.

__ADS_1


" itu suara sepupu ku dari Bekasi!?" katanya lagi.


" Danesh!!! ini Papa sayang?" kataku dengan suara sedikit keras.


Kemudian terdengar tangis nya.


Aku yg coba menyusulnya keruang tengah di halang halangi oleh Estu.


" Apalagi sih Estu, aku cuma mau ketemu anak aku!!" kataku sedikit keras kepada nya.


" Kamu gak boleh sembarang Sakha di rumah orang!?" halau nya tak kalah keras juga suaranya


" aku cuma mau ketemu anak aku sebentar!?" kataku.


" Gak boleh!! kamu gak boleh masuk!!" katanya sambil menahan badan ku.


" Danesh... Danesh... Danesh!!" teriak ku yang di Sahuri olehnya dari dalam .


Aku menatap Estu marah. aku menyingkirkan tubuh nya ke samping.


" Hei..heii..heii ada apa ini??" kata mantan mertua ku tiba tiba.


" Kamu gak boleh se enaknya di rumah orang Sakha!!" katanya keras.


" Saya Cuma mau ketemu anak saya pak,!?" jawab ku sambil terus berjalan walaupun di halang halangi nya.


" Sakha, Danesh gak boleh ketemu kamu.!!" kata Estu yg berteriak kepada ku


seketika aku menatap nya.


" Aku gak Sudi anak ku kamu sentuh!!" katanya.


" Aku Ayahnya Estu.!!"


" Apa yang Salah!!" balas ku


" Aku gak mau aja!!" katanya emosi.


" Apa alasan kamu melarang aku,kamu melanggar perjanjian kalau begini Estu!!?" kataku keras.


" Terserah aku!!" katanya menggila dengan tatapan yang nanar.


" Aku salah apa sih Estu, aku cuma pingin ketemu anak anak. aku gak bakal apa apain mereka juga!?" kataku.


" kamu boleh ketemu mereka tapi setidaknya ijin dulu!!" katanya.


" Mereka bukan tahanan kamu Estu!!"


" Dia anak kamu, Anak aku juga!?" kataku


" Pokoknya kamu gak bisa nemuin mereka!!" katanya lagi.


Seketika aku lepas kendali. Ku tendang keras Kursi kecil yang ada di samping ku hingga terlempar jauh.


aku memaksa masuk ke ruang tengah sambil berteriak memanggil Danesh yang sedang menangis di kamar nya.


" Ngapain kamu kunci kunci anak saya di sini!!" teriak ku kepada pengasuh nya itu.


aku menghampiri Danesh yang menangis memanggil nama ku.


" Kamu gak boleh sentuh anak ku!?" kata Estu sambil menarik baju ku.


" Diam kamu!!!" teriak ku


Aku mendorong nya sampai jatuh ke kasur milik Danesh. Aku berdiri dan langsung mengunci pintu kamar Danesh dari dalam.


" Aku cuma pingin ketemu mereka!!"


" Kamu sangka aku mau ngapain, ngerebut mereka dari kamu!!" teriak ku pada Estu.


" Berbulan bulan aku gak ketemu mereka, jauh jauh aku sempetin kesini malah kamu perlakukan aku kek begini! hati kamu dimana Estu??" kataku sambil menggendong Danesh yang masih menangis.


Aku coba menenangkan Danesh, memeluk dan mencium rambut nya. Badan nya sedikit hangat.


Sesaat keadaan sedikit tenang. Aku terperangkap sendiri di Rumah mantan mertua ku ini. Aku berfikir entah apa setelah ini.


" Dia sakit??" tanya ku kemudian pada Estu. Kami saling menatap. lalu ku ulangi pertanyaan ku.


" Sekarang sudah agak reda panas nya?" jawab nya pelan. Aku hanya menarik nafas dalam-dalam.


" Arcelio gimana dia??" tanya ku


" Dia baik?" jawab nya sambil menatap Danesh yang bergayut di gendongan ku.


Kaki anak ku tampak nya makin panjang tubuhnya sedikit tinggi dan agak ringan.


" Sudah berapa hari??" tanya ku.


" Tiga hari ini, katanya sambil mengusap matanya yang berkaca-kaca.


Seperti nya aku tahu alasan nya berbuat seperti itu tadi. Dia panik karena anaknya Sakit, dan selalu seperti itu dulu. karena takut aku marahi.


Mungkin itu alasan nya.


" Dia selalu panggil nama kamu kalau sedang gak enak badan??" katanya lagi.


Aku mendekati nya yang duduk dj tepi tempat tidur Danesh. aku mendekapnya. Seketika dia menangis sesenggukan.


" Sebaiknya kalau ada apa apa dengan anak anak, kamu libat kan aku??" kataku pelan.


" Meskipun aku gak bisa pulang setidaknya aku bisa video call mereka??"


" Aku takut??" katanya terisak Isak.


Aku menarik nafas ku.


Sedangkan diluar mantan mertua ku memanggil nama Estu.


Aku memandang Estu.


" Tolong biarin aku sama Danesh Dulu?!" pinta ku.

__ADS_1


__ADS_2