
" Aku sih gak mau ikut ikutan masalah di keluarga mu Estu??" Katanya tampak tenang.
" Kalau bisa sih, nasehatin Panji. dan jangan sampai Bapak mu tau??" Katanya lagi.
Aku hanya diam dan memperhatikan nya.
" Udah, itu aja??" tanya ku kepada nya.
" Kamu mau ngomong tentang itu aja kan??" kataku sedikit ketus.
Dia tampak menarik nafas nya.
Tak lama ada pesan yang masuk ke ponselnya, kulihat dia sedikit terusik, melihat ku sebentar lalu membalik ponselnya ke meja.
Mungkin aku tahu itu dari siapa?? pikir ku sinis.
" Estu, maaf. Mungkin seharusnya tadi aku gak memberi tahu kamu??" Katanya rendah.
" Sekarang, seolah-olah - Aku Ingin kelihatan lebih baik Dimata kamu dari pada Panji??"
" Sebenarnya, bukan itu niatku. aku hanya ingin kamu sebagai kakak nya ngasih tau, perduli sama dia??" katanya lagi.
" Iya aku tau, mungkin dulu kamu juga mengharapkan begitu dari keluarga kamu??" kataku.
Matanya tampak nanar memandang ku. seperti nya dia tersindir dengan ucapan ku.
Dia hanya melepaskan nafas nya kuat-kuat.
"Huufftt...Anjing!!" katanya cukup terdengar di telinga ku. Aku Hanya pura pura tenang.
" Sudahlah, terserah kamu. anggapan kamu bagaimana.Aku minta maaf kalau kamu nilai aku salah!?" katanya dengan nada kesal.
Aku sedikit menelan ludah ku. Dia diam tertunduk di balik topi hitam yang dia pakai. kedua Tangan nya di kepal kan di atasa meja. seperti nya dia menahan marah.
Sesaat kemudian dia menarik nafas panjang dan di hembuskan perlahan. beberapa kali.
" Estu, aku tahu ini Bukan urusan kamu lagi. tapi maaf,aku mau minta tolong sama kamu??" katanya tak terduga. Aku memandang nya datar.
" Estu, seperti yang kamu tau. aku sedang menjadi saksi kasus di sidang korupsinya Rudi.?"
" Dan, pastinya kamu tahu. lamanya persidangan sampai putusan pengadilan ini."
" Lalu ??" kata ku.
" Jujur, aku butuh tempat tinggal Estu??" katanya sedikit berat. mungkin menahan rasa malu terhadap ku.
" Emangnya kamu gak bisa tinggal di hotel atau kontrakan yang lain??"
" Seperti nya dulu pernah kamu lakukan kan??" kataku menyerang nya.
Dia semakin nanar kepadaku.
" Keuangan ku gak seperti dulu lagi Estu,gaji yang aku punya pun harus ku bagi untuk anak anak sesuai dengan perjanjian kita??" katanya.
" Apalagi aku sekarang di non aktifkan di kantor sampai keputusan sidang Rudi selesai?" tambah nya.
" Jujur,itu berimbas pada pemotongan gaji yang akan ku terima.??"
" Lalu, aku harus apa. Rumah sekarang masih ada yang nyewa?"
" Aku gak bisa bantu kamu Kha?" kataku Tampa beban.
Dia hanya diam. Aku memainkan telapak tangan ku.
" Kamu bisa kok gak ngasih jatah anak anak kamu. sampai kasus ini selesai atau sampai kapanpun??' kataku sedikit tinggi. dia memandang ku tajam lagi.
" Asal dengan satu syarat. kamu gak boleh ketemu anak anak kamu dulu??!" tawar ku.
******
Anjing..anjing.. anjing!!! perjanjian macam apa ini. pikir ku aneh kepadanya.
Aku tak boleh ketemu sama anak-anakku kalau tidak memberikan jatah pada mereka.
lalu apa nanti kata bapaknya padaku.?!
aku pasti akan dicap lebih tidak bertanggung jawab terhadap anak-anak.
di satu sisi aku membutuhkan uang untuk keperluan ku, Aku butuh tempat.
bisa jadi untuk menyewa pengacara di kasus yang sedang kuhadapi.
karena kasus seperti ini akan saling tunjuk dan menjatuhkan.
yang salah bisa jadi benar, yang benar akan dipenjara menjadi tumbal.
Anjing!!!! kenapa posisinya sesulit ini. bagai makan buah simalakama.
aku hanya diam dan hanya bisa diam tak menjawabnya.
jujur aku geram sekali terhadapnya.
Ada perasaan benci sekaligus Muak kepada Estu. Bagaimana bisa, dia berubah begitu cepat menjadi Devil kejam dan amat jahat.
aku menatapnya sangat tajam dengan mata yang memerah. menahan amarah dan tangis secara bersamaan.
inikah caramu membalas Dendam? Atas semua kesalahanku yang pernah kulakukan sama kamu Estu pikirku.
__ADS_1
dan tanpa sepatah kata pun aku segera berdiri dan beranjak pergi dari hadapannya.
Sungguh, aku teramat marah terhadapnya saat ini.
******
Aku tahu dia sangat marah tadi terhadapku. dan aku juga tahu dia selalu menahanya. entah itu semarah apapun
Awalnya itu Sebenarnya aku tak tega, namun Aku tak bisa mengontrol kata-kata yang keluar dari mulutku, Begitu saja terucap dariku.
Dan akhirnya hanya menyakitinya.
Aku ingin berkata lembut, tetapi aku tak bisa jika melihatnya.
Selalu terkenang perlakuannya terhadapku dahulu. apalagi sekarang aku tahu dia masih berhubungan dengan perempuan itu.
Tiba-tiba terdengar suara gaduh dari ruang tengah, suara ibu ku yang berteriak-teriak mengatakan:
" kamu kenapa Panji, kenapa mukamu lebam-lebam seperti ini!?" katanya terdengar panik.
dia berteriak memanggil bapak, sontak aku keluar dari kamar. begitu juga Reni sambil menggendong anaknya Harsya.
" Ya Allah... kenapa bisa seperti ini Panji siapa yang mukulin kamu?!" kata ibuku sambil menangis.
" Heeh!! kamu kenapa siapa yang mukulin kamu!!" desak bapak kepadanya.
Hampir lima belas menitan lamanya, suasana terasa gaduh. Harsya menangis kaget. Reni istrinya pun tampak panik. antara mau menenangkan anaknya yg menangis atau membersihkan luka di wajah Panji.
Kemudian, sambil bersihkan lukanya dengan air kompres, ibuku masih saja menangisi Panji.
" Siapa yang ngelakuin ini sama kamu ngger!!" kata bapak. Panji melirik ke arahku.
" mantan suamimu gila mbak, ketemu aku dia langsung mukulin aku habis-habisan??" katanya.
aku merasa kaget karenanya, seolah-olah tidak percaya.
apa mungkin iya Sakha seperti itu karena marah kepadaku. ataukah karena hal yang lain, Mungkin saja karena foto dan video yang dia berikan kepada ku tadi??
Aku hanya diam, Pura pura tak tau apa dan mengapa. Menyimpan rasa Penasaran ku. Kenapa.
Mendengar kata-kata Panji, Bapak langsung naik pitam. sumpah serapah nya keluar dari mulutnya.
menatapku nanar, kemudian memandang Arcel dengan sinis.
entah berapa banyak kata cacian dan makian terhadapnya yang baru saja aku dengarkan. namun aku tak percaya dengan kata-kata Panji yang seperti itu.
Aku hanya diam, menunggu giliran berbicara dengan Bapak yang tampak marah sekali.
" benar kamu dipukul sama dia Panji??" tanyaku padanya.
" Iya bener Mbak, mana mungkin aku bohong??"
Aku kembali diam, tak bicara sepatah kata pun setelahnya. lalu aku kembali ke kamar meninggalkan mereka semua.
*******
" Iya pak, Saya baik baik saja disini. maaf membuat bapak khawatir??" kataku sambil tersenyum kala menerima telepon dari pak Subandi yang menanyakan kabar ku.
" secepatnya saya kembali pulang kok pak. nggak usah khawatir?" kataku meyakinkan.
"Oooo... Perihal kerjasama kita, ya tetap dilanjutkan kok pak."
" Mohon jangan terhasut jika Bapak dengar kabar tentang saya gimana."
" Nanti ada waktunya saya menjelaskan langsung kepada bapak, Insya Allah saya masih di jalan yang benar kok pak .?" kataku terhadapnya.
" Iyaaa, hmmm.... Nanti biar teman saya bertemu dengan Bapak mungkin mengurus lanjutan Rencana kita sebelumnya."
" Heemm,, Iya.. Teman saya yang tempo hari, yang punya mobil.?" lanjutku.
Aku tertawa kecil.
" Iya Pak, saya baik-baik saja. kalau tidak baik mungkin tidak bisa Bapak telepon sekarang.?"
" Kalau Bapak maupun, saya bisa dihubungi selama 24 jam dalam sehari. saya dalam keadaan baik tidak terlibat kasus apapun atau tidak dalam keadaan sakit.?"
Kata ku memperjelas Kepada nya.
tak lama kemudian ponselku ku matikan.
Akuu menarik nafas panjang, ku Tahan sebentar di dada lalu aku hembuskan.
keadaan semakin kompleks, Pikir ku kemudian.
******
Setelah ketukan palu dari hakim di pengadilan hari ini. setelahnya aku berencana untuk melihat kontrakan yang akan ku tinggali Nanti nya.
hari ini aku tidak diminta menjadi saksi, hanya saja Aku sengaja datang untuk mendengarkan kesaksian saksi ataupun tersangka yang lain.
aku tetap harus mengikuti ya, mendengarkan kesaksian yang lain. karena selip sedikit aku bisa menjadi seorang terdakwa ataupun tersangka.
Setelah mengucapkan selamat tinggal kepada Rudi aku menghampiri Livia yang sengaja datang dari Jogja.
Livia tampak bersembunyi di belakang, untuk menghindari anggota keluarganya yg juga datang pada persidangan hari. dia sendiri adalah sepupu dari Rudi.
Seperti nya Paman dari Livia.
__ADS_1
Yaaa... dulu memang ada keluarga dari Rudi yang menghampiriku, memintaku untuk menjauhi Livia.
begitu juga Kepada Livia, keluarganya meminta Nya untuk menjauhiku. karena kami memang beda iman.
Dan Aku masih ingat betul siapa orangnya.
Paman nya yang datang Di persidangan Rudi hari ini.
aku tersenyum padanya dari sini bermaksud untuk menghampirinya.
namun tidak terduga, ada sebuah motor yang melaju cepat menghampiriku, aku tersenggol dan jatuh.
sepertinya kakiku terlindas kemudian.
yang teringat olehku hanya suara teriakan nya. kemudian orang-orang mengerubuti ku. aku tak sadarkan diri.
******
Di Suatu Tempat yg lain!!
" Tenang aja Pak saya akan mengurus semuanya.!"
" Kalaupun Bapak Sampai tertangkap Nanti, saya jamin Bapak akan dibebaskan. tidak akan dipenjara?"
" ini bayaran yang saya janjikan, juga Jaminan jika Bapak nanti tertangkap.?"
" Untuk keluarga Bapak??" Katanya Sambil memegang tangan Bapak itu.
" Saya yang akan mengurus semuanya."
" Termasuk uang kerohiman baginya nanti jika dia Sampai menuntut.!?"
" Bapak tahu beres dan Tenang saja. Anggap biasa saja seperti kecelakaan yang tak disengaja terjadi.!"
" Lagi Pula dia tidak Sampai mati?" Katanya sambil tersenyum.
*****
" Kamu sudah Bangun Kha??" sapa ku yang baru saja datang menghampiri nya.
Mukanya tampak kusut, Dia terlihat mengucek matanya.
Lalu Mengaduh pelan. Melihat kaki nya yang di Gips.
" Berapa lama aku tidur Liv??" tanya nya. Aku tak menjawab nya.
" Sudah, kamu perlu istirahat??" kata ku menenangkannya.
" Terus, Kaki ku Gimana??" Tanya nya kemudian.
" Cuma retak sedikit kok..Nanti juga pulih?" kataku.
" Hahh!!! Retak,?"
" Sampe Retak. Dan kamu bilang cuma Sedikit.Sini coba kamu yang rasain??" katanya sinis. Aku hanya tersenyum pelan.
" Pelakunya tertangkap tidak??" Tanya nya lagi.
" sedang dicari polisi nomor motornya kemarin ada yang sempat mencatat. "
" Kemungkinan yang tabrak kamu, cuman ojol atau ojek biasa.?"
" Bapak-bapak setengah tua.?" Lanjut ku.
" Mau muda kek atau bapak-bapak. ya harusnya dia jangan lari dan tanggung jawab.!?" katanya terdengar kesal.
" Udah sih kamu jangan mikirin Itu dulu. Itu udah urusan nya polisi ?" kata ku.
" Pikirin aja dulu Keadaan sama kesehatan Kamu!?"
" Kamu itu harus sehat! Beban kamu itu udah terlalu banyak!!"
" Kalau kamu sakit akan terasa lebih berat.!!"
Kataku padanya
dia hanya tertawa sinis.
" Huuhh!! sial banget Hidup aku ya !!?"
Katanya terdengar mengeluh.
Dan jujur aku sedikit kesal mendengarnya.
" Setidaknya kamu harus bersyukur masih dikasih hidup.!"
" Kamu masih diberi kesempatan untuk memperbaiki segalanya!?" kataku.
" Dan juga Kamu masih diberi aku untuk Ngurus kamu yang lagi sakit begini!!" kataku sambil sedikit senyum.
" Please dehh, Aku nggak suka dengar orang mengeluh!?"
kataku sambil menatapnya.
dia balik menatapku tajam, terdengar tarikan nafas yang berat.
" Terima kasih ya??" katanya datar kepadaku sambil tersenyum kecil.
__ADS_1
*******