Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.

Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.
Episode 50


__ADS_3

Kami berjalan ke arah selatan dari Rumah Jolopong milik Abah itu, Menyusuri Jalan setapak yang tampak nya sering di lewati oleh orang orang.


Sakha mengajak ku dan anak anak nya Untuk jalan jalan menjelang sore selepas shalat ashar.


Dia meminta ku untuk membawa Air minum di dalam botol dan makanan Ringan untuk anak anak.


Di pinggang sebelah kirinya, tergantung Golok milik Atmaja yang tadi kami temui dijalan.


Atmaja seperti akan pulang ke rumah dari ladang.


Anak anak setengah berlari di depan kami, bersama Mira Adik nya itu.


" Kita Mau kemana??" tanya ku.


" Jalan jalan sore ajalah??" katanya sambil memperhatikan anaknya itu.


" Mungkin setelah ini, kita enggak akan punya moment seperti ini lagi. yahh, itung-itung buat pengalaman anak-anak??" katanya santai.


Angin Sore terasa kencang dengan matahari yang sedikit sedikit turun ke sebelah barat.


Sambil berjalan, terkadang Sakha mengambil Buah buahan liar. dan membiarkan Aku dan anak anak Mencoba nya. Sejenis Berry liar dan Batang tebu yang di tebasnya.


Kami duduk di bawah pohon akasia yang rindang, Tampak dari sini terlihat sekumpulan Rumah, mungkin desa atau perkampungan lain.


Jauh di sebelah sana nya pun terlihat jalan Toll yang berbeton.


Sakha membersihkan batang tebu itu dari kulit luar nya yang keras, dan meminta anak anak nya mencoba nya. sedikit keras tapi tampaknya Lio dan Danesh suka. Akupun mencoba nya. Sudah lama sekali aku tak makan tebu yang manis seperti ini.


Tak berapa lama Sakha berdiri, menghadang seseorang yang lewat membawa Duren dan petai. tak bera lama Sakha membawa nya kepada ku sambil tertawa.


" Makan duren yaa??" katanya sambil mengangkat buah itu.


" Isuk ka pasar Mira, meser asin Peda Jang Emam??" katanya kepada adiknya itu.


Lio tampak suka memakan Duren Seperti Sakha..berbeda dengan Danesh yang tampak geli karena Teksturnya yang Benyek di tangan. hampir sama dengan Panji adik ku yang tak menyukai Durian


" Harga nya berapa tadi ini Kha??" tanya ku kemudian.


" Semuanya cuma 100rb." Katanya.


" Dua buah sama petai segitu 100rb??" kataku lagi.


" Kata siapa dua, Enam duren sama petai segitu. sisanya aku suruh anter ke rumah ??" katanya.


Aku sedikit terkejut. Ya Allah murah nya.. pikir ku.


Dia tampak tertawa karena ekspresi wajah ku.


Kemudian dia bercanda dengan Mira, meledek nya dengan candaan Terkait pria.


Sesekali aku ikut tertawa, karena Sakha terus terusan menggoda adiknya itu. Sedangkan adiknya dengan polosnya menyangkal.


" Mira kamu udah pernah pacaran belum??" tanya Sakha


" belum pernah Aa??" jawab nya.


" Bohong ahh.. Da Aa nteu Percaya??" katanya.


" terserah lamun henteu Henteu percaya mah. Demi Allah Tara pernah Mira bobogohan??'

__ADS_1


" Halahh, meuni pake sumpah Sagala. tapi Nyaho Bobogohan Γ©ta Naon??" katanya.


" Henteu..da bobogohan Γ©ta kaos Naon??" katanya polos.


" Mun resep kana Lalaki pernah??" tanya Sakha lagi.


" Tara Aa..mana Aya Deket Jana Lalaki Mira mah??" katanya.


" Lamun kiyeu Nyaho...??". kata Sakha Sambil memperagakan dengan jemari nya. πŸ‘‰πŸ»πŸ‘ŒπŸ»πŸ‘‰πŸ»πŸ‘ŒπŸ»πŸ‘‰πŸ»πŸ‘ŒπŸ»


sontak Aku mau mukul punggungnya itu.


adiknya pun tampak malu sambil menutup wajahnya sambil berteriak kecil.


Sakha sendiri tertawa terbahak bahak karena nya. Aku sendiri memarahinya.


" apaan sih kamu gila ngomong gitu sama adek sendiri??" dan dia masih tertawa karenanya merasa puas.


Dasar gak bisa dewasa, otak nya gak jauh jauh yaa??


***


" Besok kamu pulang pakai mobil aja nanti aku antar sampai pintu toll ??" katanya kepadaku.


" Udah aku naik bus aja sama anak-anak??" kataku menjawab.


" nanti kamu capek, kewalahan lagi??" katanya.


Aku hanya tersenyum.


" Kamu aja yang pake mobilnya, siapa tau kamu mau ke rumah saudara kamu yang mana gitu??" tawar ku.


Dia hanya diam.


" Ya udah pakai aja? besok kamu anter aku sama anak anak ke Bus jurusan ke Jakarta??" kata ku.


" Aku juga mau kok, punya momentum naik bus sama anak anak??" kataku kemudian.


Dia tampak memperhatikan ku.


" Estu, terima kasih yaa??" katanya sambil menatap ku


Aku hanya diam.


" Semoga kamu mendapatkan Lelaki yang lebih baik dari pada aku??" katanya Terdengar lirih.


Ada perasaan yang menusuk ketika dia berbicara seperti itu.


Aku memandang nya, kemudian memandang jauh ke depan.


Sedangkan aku tak mampu berbicara kata kata yang sama untuk nya. batinku dalam hati.


Bagaimana mungkin aku memberikan lelaki kesayangan ku untuk perempuan lain, walaupun sebenarnya aku tau di dekat dengan seseorang yang bernama Ayu. Perempuan yang berkali kali Miss Call Sakha saat hari pemakaman kemarin.


Perempuan yang tampak nya lebih muda dari ku. sederhana namun cantik. ku akui itu.


Namun rasanya seperti terbakar saja jika aku mengetahui panggilan dari nya.


" Sepertinya Erwin mau serius sama kamu? Kamu bagaimana sama dia??" tanya nya. aku hanya memandang Sakha.

__ADS_1


" Apaan sihh, Aku sama dia cuma teman biasa??" kataku beralasan. Dia tertawa kecil.


" Mana mungkin biasa, Kalau bicara sudah seperti itu??"


" Aku juga Lelaki, tau lah yg di fikirkan nya itu??"


" Terus, kalau kamu tau fikirkan nya emang kenapa??" kata ku. Dia seperti tersudut. diam memandang ku.


" Aku juga gak tau maksud dia selama ini kok, dia juga gak pernah bilang apa-apa sama aku. cuma tanya kerjaan??" kataku kesal.


Sakha tertawa, sambil mengacak rambut ku.


" Maaf, mungkin tadi aku kelewatan tanya nya. maafin aku yaa??" Katanya.


" Semua sekarang terserah kamu. aku gak ada hak lagi ke kamu, apa pun ?" tambahnya.


" Maafin aku yang kadang lupa??" katanya sambil tersenyum.


Terdengar suara tangis Lio yang terjatuh. kami sama sama menghampiri nya..


Aku Berusaha menenangkan Lio.


" Ayok pulang??" katanya sambil menggendong Lio di pundak nya.


" Paaa.. Danesh juga mau,??" kata aneknya merengek satu lagi.


Dia menatap ku. Mampus kan, kali di gendong semua nya jadi mau.


" Gantian ya sayang??" katanya sambil merangkul ku.


Kemudian kami berjalan secara bergandengan tangan.


Meninggalkan senja yang tadi baru saja kami lihat.


Sesaat aku merasa tak terjadi apa-apa dengan hubungan kami.


Aku merasakan bahagia untuk sejenak. Bersama nya dan anak anak ku.


Sesekali aku mencuri pandang nya, menatapnya secara sembunyi sembunyi.


Perasaan kagum ku masih terasa sama Kepadanya.


Apapun kebaikan hati dan perilaku nya.


Namun memang, aku masih tak bisa menerima nya yang sudah pernah berpaling dari ku.


Benar saja apa kata kata Abah Jajang tadi. kusadari memang semuanya benar.


*Mungkin kah aku perempuan yang selalu memikirkan Kesalahan Tampa mempertimbangkan seribu kebaikan nya. walaupun itu terpecah menjadi bagian bagian yang kecil.


Selama ini pun dia selalu berusaha kepada ku. Namun jujur, aku tak pernah menganggap nya.


Tetapi Setelah tak sengaja mengetahui Perempuan yang bernama Ayu itu sudah berada di hati nya. Seperti Berkurang peluang ku untuk mendapatkan hatinya kembali.


Disaat itulah, aku juga memikirkan Restu nya Bapak.


Bagaimana kemarin dia begitu gigih menyuruh ku untuk meninggalkan Sakha.


Apa mungkin jika aku berusaha kembali demi anak anak ku, Bapak akan menerima nya.??

__ADS_1


Lalu bagaimana dengan Erwin, yang sepertinya ada niat terhadap ku. mungkin sudahlah??



__ADS_2