
" Kamu kabarnya baik Mira?" kataku sambil meminum teh yang dibuatkan nya tersebut. dia hanya mengangguk kecil.
Senyumnya yang manis sepertinya menambah kadar gula yang ada di secangkir teh ini. aku tersipu, sedikit tersipu menatapnya yang juga Menatap ku malu-malu.
ikhh... Aku Gemas sekali Rasanya.😚
Aku kemudian membenarkan letak kacamataku dan cara duduk ku.
" Maaf yaa.. Aku jarang ngasih kabar ke kamu soalnya akhir-akhir ini banyak operasi?" kataku beralasan.
" Iya mas, gak apa-apa. Mira maklum kalau mas sibuk?" Katanya. aku hanya mengangguk.
" Kabarnya Livia gimana? ehh maksud ku Cece Livia!" kataku canggung. dia hanya tersenyum kecil.
" Yaa kalau gak ada Aa apa orang nya panggil namanya saja juga gak apa-apa mas. kata Cece mas kan dulu kakak kelasnya yaa?" katanya. Aku kemudian mengangguk.
" Alhamdulillah Cece baik. cuma keadaan ibunya saja yang belum pulih?" kata Mira.
" ehhh, Mira. setahuku Livia itu non muslim. Terus kok bisa menikah dengan Aa?" tanyaku hati hati.
" Gak tau juga Mira. Aa ketemu Cece di mana?"
" Tapi waktu Aa menikah sama Cece, Mira ada kok sebagai saksinya. mereka menikah di gereja.?" jawabnya.
" Terus Aa pindah Agama?" tanyaku pelan. dia hanya menggeleng.
" Sesuai kesepakatan, Aa sama Cece menikah gereja tetapi setelah menikah tidak mau mau pindah agama.?" jawab nya.
Aku mengangguk kecil untuk menutupi rasa kaget mendengarnya.
Memang sih, banyak disini yang menikah beda agama tetapi menikah dengan cara salah satu agama yg dianut. sebagai formalitas berkas negara.
" Lalu Kylie?" tanyaku lagi.
" Ikut agama Cece Mas?" jawab nya. Aku hanya mengangguk kecil.
" Maaf mas, Mira juga mau tanya?" katanya. Aku menatapnya sambil menelan ludahku. apa ya kira kira pikirku?.
" Apa Mira." tanyaku.
" Mas... apa keluarga nya mas sudah tau tentang hubungan kita?" tanyanya.
" Kamu Sabar Sebentar ya Mira. Bukan Aku mengulur-ulur, tetapi sekarang waktunya tidak tepat ayahku lagi sakit. kalau aku menyampaikan kabar ini mendadak, aku takut akan kondisinya." jawab ku.
Dia hanya diam. sepertinya dia tidak puas dengan jawabanku.
" Mas juga sudah janji sama Aa, Mas secepatnya akan mengurus ini. kalau nggak ada halangan dan rintangan minggu depan mas mau kenal kan Aa sama kamu ke keluarga mas?" jawab ku.
Matanya sedikit berbinar.
" tapi seandainya, kalau mas belum bisa mengatakan hal ini yang sebenarnya sama orang tua mas. harap maklum ya. Tolong tunggu?"
" Mas masih punya itikad baik untuk melanjutkan pernikahan ini secara negara." jawab ku.
Dia tersenyum menatap ku.
Sebenarnya aku sedang pelik dengan persoalan, perkara ibu yang menjodohkanku dengan seseorang yg katanya berasal dari keluarga yg dia kenal.
seseorang yang baru lulus sarjana dan digadang-gadang akan cocok denganku.
andai ibu Tahu bahwa aku sudah menikah dan memiliki Seorang Istri. seorang perempuan yang sudah benar-benar memikat hatiku.
***
" Bismillahirrahmanirrahim... udah siap semua nya belum?" kataku ketika duduk di belakang stir sambil menatap spion.
" Udah mas, barangnya sudah naik semua kan yu?" tanya Bu asih kepada Ayu. Dia menjawab dengan bahasa Jawa yang mengatakan jika semuanya sudah siap dan beres.
" Loh ini kok di depan saya duduk sendiri Ibu Asih duduk di depan saja?" tawar ku.
" Enggak lah mas. saya ini mah bukan biar Ayu aja yang duduk di depan sama Mas Sakha?" katanya.
" Sana pindah yuk sekalian kamu nunjukin jalan ke mas Sakha?" katanya terdengar memerintah.
Aku menatapnya sebentar dari balik spion. dia juga seperti memperhatikanku.
Tak lama kemudian dia keluar dari mobil bermaksud untuk pindah duduk bersamaku.
namun sesaat dia berhenti karena Mira menyapanya sambil menggendong Kylie.
sepertinya Mira sedang mengucapkan basa-basi karena tidak bisa ikut. aku membuka kaca mobil.
" Dada sayang, jangan nakal ya. jangan rewel nurut sama Bibi?" kataku kepada anak ku itu.
__ADS_1
Sekilas Kylie mirip dengan Livia. kulit yang bersih dan matanya yang sedikit sipit.
anakku itu rasanya cantik sekali Nanti kalau dia sudah besar. semoga saja cantiknya seperti ibunya tetapi tidak dengan segala perilaku buruknya.
apalagi mendapatkan jodoh seperti bapaknya ini. pikirku.
" Dadaa Papa... Cepetan pulang yaa??" kata Mira Kepada ku.
Aku tersenyum kepada Mira, adikku itu juga cantik sangat pantas mendapatkan Arya. ya Meskipun banyak kekurangannya, aku rasa memang adikku itu berjodoh dengan Arya. semoga saja Arya itu lelaki yang baik untuk Mira. jangan sampai Arya mempunyai sifat seperti diriku, hiihh amit-amit... pikirku lagi.
Aku melambaikan tangan ku kepada keduanya.
" Tungguin Papa ya, Nanti Papa bawain jenang dari rumahnya Mbak Ayu?" kataku sambil tertawa kecil.
Ayu Menatap ku.
" Iya kan?? biasanya di Jawa Kalau ada yang menikah pasti ada jenang?" kataku sambil tersenyum.
" Apa Aa Mesti bawain kamu Bunga Kantil punya mbak Ayu- Mira?" kataku lagi sambil tertawa.
" Gak usah aneh-aneh Aa.. Aa mau anter calon pengantin apa mau Nodong ini itu sama mbak Ayu!?" kata Mira yang membuat ku tersenyum. Dia menatap Ayu.
" Pake mau nyolong bunga Kantil Segala? yang ada bukan Mira yang nikah tapi Aa yang bakalan Nikah lagi!?"
" Aa mau disunat sama Cece Livia?" katanya sambil tertawa.
" Ampun... Enggak?" jawab ku dengan ekspresi yang pura-pura takut. mereka semua tertawa.
" Ya sudah, doain kita semua selamat ya sampai tujuan. pulang pergi?" kataku pada Mira dari balik stir mobil ini. Dia mengangguk.
" Iyaa Papa, iya Aa. Mira sama Kylie doakan semoga selamat sampai tujuan, pulang dab pergi nya.?" katanya. Mira dan Ayu tampak berpelukan, kemudian Ayu masuk ke dalam mobil. Aku menatapnya lalu tersenyum.
" Sudah yaa??" kataku sambil menatap Ayu. kemudian aku melambaikan tangan kepada Mira dan Kylie. sebagai tanda perpisahan.
" Bismillahirrahmanirrahim...
Aku mengantar Pacar ku menikah.?" pikirku.
**
Pada awalnya, aku mengobrol dengan mbak Asih. namun sepertinya dia mabuk perjalanan, kemudian bilang kalau dia ingin tidur.
Aku memberikan nya minyak Kayu putih dan sebuah kantong plastik, berjaga-jaga kalau nantinya dia akan muntah.
Aku diantar oleh pacarku untuk menikah dengan orang lain.
mungkin ini judul yang tepat untuk serial drama TV yang sering ditayangkan, pikirku.
" Oohh, jadi yang jadi pagar bagus dari pihak Linggar itu termasuk si Hakka?" tanya mas Sakha kepada ku.
Aku menatapnya sambil mengangguk.
" Hakka sama siapa lagi, apa Noval sama Irfan gak ikut?" tanyanya.
" Kalau mas Noval katanya ada kegiatan di kampus, kalau Irfan kan istrinya, Tiwi baru saja melahirkan Mas. jadi pulang ke Surabaya?" jawab ku.
" Loh.. bukannya sudah lama melahirkan?" tanyanya lagi.
" Ini anak yang kedua mas?" kataku sambil tersenyum.
" Waahh, Cepat sekali Irfan. Gercep!?" katanya sambil tertawa.
" Jadi 2 tahun dua yaa?" katanya
" Malah 1,5 tahun dua Mas?" jawab ku. dia menatapku, tersenyum lalu tertawa. Kemudian kami saling berpandangan pengingat kejadian satu setengah tahun yang lalu.
" Nantinya kamu mau langsung punya anak atau ternak anak Ay?" katanya sambil tertawa lebar.
" Sembarangan ternak anak, dikira aku ini hewan apa Mas?" kataku Sambil tertawa membalasnya. kami saling menatap.
" Yaa bukan mau nyamain kamu sama hewan, aku bercanda?" katanya.
" Maksudnya, kamu nanti mau punya anak langsung apa mau KB dulu atau kau mau punya anak banyak sekalian?" katanya.
" Anak banyak sekalian Gimana mas maksudnya?" tanyaku. dia nyengir.
" Yaa maksudnya, punya anak terus punya anak lagi?" katanya.
" Lahh.. sama saja sama Tiwi kalo gitu dong mas?" kataku.
" Yaa Enggak lah?" katanya.
" Maksudnya?"
__ADS_1
" punya anak dari yang udah Punya anak??" katanya sambil tertawa terkekeh lagi.
Aku menutup mulutku yang ternganga juga karena tertawa.
" Ngawur mas kamu ini.?" kataku.
" Engga Ay.. cuma bercanda?" katanya.
Maksudnya menikah dengan seseorang yang pernah punya anak sebelumnya.?
Bisa saja jika aku menikah dengan dia yang beranak tiga bukan dengan Linggar, pikirku.
" Kamu kalau mau Tidur, ya tidur aja Ay... Aku biasa nyopir sendirian kok?" kata mas Sakha Kepada ku.
Aku menatapnya sambil menggelengkan kepala ku.
" Kalau mau berhenti dulu ngomong aja, apa semisal kebelet kawin ehhh... Pipis?" katanya sambil bercanda.
Aku tersenyum lagi.
" Mas, makasih ya... kamu udah mau antarin aku?" kataku Kepada nya. dia menatapku.
" Iya.. gak apa-apa. gak usah bilang begitu lah. kamu kan saudaranya mas Bandi yang udah aku anggap sebagai keluarga Disini?"
" Itupun kalau boleh?" katanya.
" Selama aku di Jawa ini, yang baik itu mas Bandi. Orang yang percaya sama aku yaa dia itu. ke masalah apa saja??"
" anggap saja aku sedang mencoba berbalas Budi?" katanya.
" Yaa kalau orang Baik pasti akan di Baikin lagi Mas?" kataku. dia menatapku Sebentar.
" Aku sih Ngerasa Enggak pernah berbuat baik sama dia. cuma menolong yang aku bisa.?"
" kalaupun aku baik kata kamu, aku nggak minta balasan kebaikan lagi dari orang yang pernah aku tolong." jawab nya.
" Yaa harusnya sudah adab si mas, kalau ada orang baik sama kita ya kita mesti baik lagi sama dia.?"
" Tapi kan kita nggak bisa memaksa Ay?, mau sebaik apapun kita sama seseorang. kalau orang itu nggak suka sama kita ya ya kita kan salah aja di matanya?"
" Apalagi kalau seseorang itu sudah tahu aib kita, kekurangan kita.?" katanya.
Mungkin maksudnya untuk menyindir mbak Asih.
" Kalau nasehat aku sih sama kamu, teruslah berbuat baik tanpa mengharapkan balasan kebaikan. Biar Tuhan yang balas dengan caranya yang lebih indah.?" katanya.
" Indah Bagaimana mas?" tanyaku.
" Yaaa Indah Rahayu Puspayogi mungkin?" katanya sambil tertawa kecil.
Aku tersenyum simpul, Mas Sakha ternyata masih ingat nama lengkap ku.
Aku sungguh Merasa Senang tiap kali berbicara, Ngobrol dengan nya.
Cara pandang nya yang dewasa dalam menyikapi sesuatu membuat ku kagum.
Bicara nya yang bijak itu serasa menghibur hati ku yang pura pura bahagia akan menikah dengan Linggar.
Aku jadi sedikit Bertanya, sebenarnya bagaimana perasaannya mengetahui Aku akan menikah besok malam dengan Linggar?
Tak sedikitpun aku melihat kecemburuan di wajahnya.
sebenarnya aku ini siapa nya sih? Pacar atau Kami adalah dua orang yang yang saling membutuhkan.
Apakah sebenarnya kami menikmati hubungan ini sebatas friend with benefit?
Tapi aku yang selalu cemburu terhadapnya.
akulah yang cemburu tiap kali dia memperlakukan istri atau mantan istrinya itu ditelepon dengan sangat lembut dan mesra.
sebenarnya aku yang cinta dia atau memang ini adalah perasaan bertepuk sebelah tangan.
lalu apa artinya kemarin itu? dia yang sudah menyentuh ku. mendahuluinya, sebelum calon suamiku sendiri.
Sekarang sih aku belum merasa menyesal, tetapi entah kalau nanti.
" Mas Sakha, nanti bisa mampir dulu nggak ke pom bensin?" kata mbak asih tiba-tiba.
" Kenapa Mbak?" tanyaku kepadanya.
" Aku kebelet pipis Yu, AC nya dingin banget?" katanya.
Mas Sakha tampak sedikit nyengir.
__ADS_1
" Mbak kalau kedinginan tinggal bilang? nanti AC nya saya Kecil kan?" katanya.