
" Iya Pak, maaf jika terlambat mengantar stok nya. tempat saya habis terbakar, tadi saya mengirim barang terlambat. kataku kepada Paris Pak Haris di saluran telepon seluler milik ku.
" Oh, maaf pak saya baru tau kalau bapak mendapatkan musibah. apa bapak mengasuransikan Gedung dan isinya ." tanyanya kepadaku.
" Sayangnya belum pak, soalnya modal saya yang kemarin terbatas jadi belum sempat saya asuransikan.!" kataku menjawab nya.
"Jadi untuk pengiriman barang, sesuai kontrak besok gimana Pak?" tanyanya kepadaku.
" Saya masih bisa kirim barang ya Pak. saya masih bisa produksi tetapi jumlahnya tidak banyak Pak, mungkin setengah atau seperempat dari total kesepakatan kontrak.!!" Kataku kepadanya.
" Oke... oke, saya bisa mengerti. tapi lebih baiknya bapak Datang ke Jakarta dan berbicara dengan atasan saya ya."
" perusahaan kami juga bisa memberikan pinjaman modal kepada mitra usaha." katanya Kemudian
Dan seperti mendengar suara yang merdu, melebihi lagu yang pernah aku sukai. angin yang semilir melebihi angin dingin di puncak gunung.
kata-kata itu itu adalah modal.
" mengenai Modal, Boleh saya tahu bagaimana prosedur nya Pak?" tanyaku padanya.
Lalu dia menerangkannya kepadaku, beberapa saat kemudian:
" Oke... oke, memang lebih baiknya saya ke Jakarta Ya pak. Sambil membawa berkas-berkas yang diperlukan itu serta foto bukti bahwa tempat kerja saya terbakar juga ya pak?" kataku padanya.
" Iya Pak mudah-mudahan Bapak bisa dibantu oleh kami agar kemitraan diantara kita terjalin baik." katanya.
" Terima kasih Pak atas informasinya, nanti setelah semuanya siap dan saya selesai mengurus ini itu di sini, Saya segera ke Jakarta."
" Dan untuk Pengiriman barang sesuai kontrak, mohon maaf nih. saya kirimnya separuh dulu ya pak.!" kataku padanya
" Oke..., oke Pak nanti saya rubah perjanjian kontrak kita.!"
katanya, Tak lama kemudian dia menutup panggilannya itu.
aku sedikit tersenyum setelahnya
Alhamdulillah ya Allah.. pikirku.
" Pak Bandi, ini kayu yang ini masih bisa dipakai kataku kepadanya.
" tapi Mas, ini udah hangus lo cuman tengah nya saja yang masih tersisa." aku tersenyum kepadanya.
" Iya pak ini masih bisa dipakai, nanti kita aplikasikan sama material lain. Jadi nggak terbuang sia-sia."
" Seri model Furniture ini sebagai kenang-kenangan kita juga. kalau pabrik Kita pernah terbakar."
kataku sambil tersenyum kepadanya.
" Oke Mas, nanti saya bawa ke gudang di rumah." katanya kepadaku aku hanya mengangguk
" Bagaimana Pak Bandi?, Apa Bapak sudah tanya sama pak polisi yang menangani kasus ini, apa katanya" Kata ku padanya.
" kata polisi bilang ini, karena konsleting listrik jawabnya.
Aku hanya tertawa sedikit sinis. mana mungkin ini korsleting listrik pikirku.
Sedangkan setelah gudang selesai digunakan semuanya alat listrik dalam keadaan off atau mati.
di gudang hanya aja 3 lampu sebagai cahaya agar tidak gelap.
titik api pertama ditemukan dari sebelah utara.
Sudahlah, aku berpasrah semuanya kepada Tuhan. jika memang ini teguran darinya, semoga aku lebih tawakal dan tawadhu kepadanya.
__ADS_1
tetapi jika ini disebabkan oleh seseorang yang mungkin berniat jahat kepada kami, semoga saja bisa ketemu atau dia mendapatkan balasan yang setimpal.
Astaghfirullahaladzim,, semoga saja dia tidak melakukan hal ini kepada orang lain dan dia akan segera sadar bahwa perbuatannya ini adalah buruk pikirku lagi.
" terus Mas untuk kelanjutannya bagaimana." tanya Pak Bandi kepadaku.
" Alhamdulillah, Pak. apa selalu saja ada kemudahan disetiap kesulitan.!"
" janji Tuhan, janji Allah itu nyata.!"
kataku sambil tersenyum kepadanya
" Mungkin setelah ini selesai saya harus ke Jakarta, tadi Pak Haris menawarkan pinjaman kepada saya." kataku kepadanya dia menatapku dengan mata yang berbinar seraya tersenyum.
Aku menggenggam tangan nya. Alhamdulillah kata kami berdua.
***
" Terima kasih ya pak Dokter." kataku sambil menyalami nya. Dia hanya tersenyum kepadaku.
" Iya pak, Sama sama." Jawa nya.
" Adik Kylie jangan Sampai Syok lagi ya pak. Kasihan kalau jantung nya kaget.?" katanya. aku hanya mengangguk.
" Mungkin karena kemarin tidak sengaja Kami bawa melihat Gudang yang terbakar.?" kataku kepada Pak dokter itu.
" Gudang apa pak? jangan-jangan gudang furniture itu ya pak?" katanya kepadaku. Aku tersenyum
" Iya Pak itu gudang usaha saya, ya karena panik kami membawanya untuk melihat kebakaran itu.?"
" Ooh... ya... yaa, saya ikut prihatin ya Pak atas terbakarnya gudang bapak."
" Tapi Bapak ini yang punya usaha furniture itu?" tanya nya kepadaku. aku hanya mengangguk pelan
" wah Saya suka sekali lupa loh Pak dengan model furniture yang Bapak bikin." katanya.
" Oyaa, terima kasih sekali nih saya ketemu Penggemar, Dokter lagi!" kataku kepadanya Sambil tertawa kecil.
" iyaa ya pak. Nama saya Arya Prasetyo. kebetulan saya memerlukan satu set meja makan yang simple untuk rumah saya." katanya sambil menyalami ku tadi.
" Apa saya bisa order? kalau saya beli pakai label itu harganya Kok mahal sekali ya??" katanya sambil tertawa.
" Bisa Pak, tapi saya tidak bisa ngasih Label nya Saja. Merk dagang saya Terikat sama kontrak. Apalagi saya belum punya Official Store sendiri.?" jawab ku.
" Ini kartu nama saya, Pak Arya.?" kataku kemudian.
" Baik pak, ini nomor telepon saya.?" sambil menyerahkan kartu nama itu kepadaku.
" Kalau ada panggilan atau Pesan dari nomor saya tolong dibales ya Pak?" katanya.
" Siap... siap... siap, saya tunggu orderannya ya pak. terima kasih ini saya mau langsung pulang.!" kataku tersenyum kepadanya
" Panggil saja Arya Pak.?" katanya sambil tersenyum kecil kepadaku. aku menatapnya.
" Ooohh.... Anda belum menikah Lalu meja makan tadi untuk siapa?" tanyaku tertawa kepadanya.
" Maksudnya, rumah orang tua saya pak??" katanya meralat Sambil tertawa Juga.
" Anda inj hebat ya mas, semuda ini sudah jadi Dokter spesialis Jantung." kataku memujinya.
" Usia nya berapa mas?" tanyaku.
" Ahh, biasa saja pak. Malah monoton jadi Dokter, gak punya Seni." kata nya sambil tertawa.
__ADS_1
" Ini saya baru 29 tahun Pak." katanya menjawab ku. aku hanya mengangguk.
" Aa... mau pulang kapan??" kata Mira tiba-tiba dari balik pintu kamar. kami berdua menatap nya.
" Sebentar, Aa lagi ngobrol sama pak Dokter nya ini loh?" kataku padanya. Mira tampak tersenyum kepada Arya. Aku melihat mereka saling menatap.
Lantas Aku menyembunyikan senyum ku dari keduanya.
" Oh iya, mas Dokter ini adik saya. Mira, Mirasih?" kataku sambil menyuruh nya bersalah dengan Arya.
Tampak rasa kaku dari keduanya terlihat. ada perasaan malu malu, dari mereka berdua. aku bergumam kecil yang lantas menyadarkan mereka untuk saling melepaskan jabatan tangan di keduanya.
" baiklah Mas dokter saya pamit dulu. terima kasih untuk semuanya dan saya tunggu untuk orderannya." kataku pada Arya.
Dia hanya tersenyum kepadaku sebentar lalu tersenyum kepada Mira yang seperti kagum atau sejenisnya. Mira hanya menunduk malu malu, sesekali melirik Arya. mencuri pandang.
mungkin Mas dokter terkena serangan dari Mira. serangan berupa 'love at first sight.'
***
" kamu teh Kenapa Mira, dari tadi senyum-senyum sendiri??" tanyaku kepada adikku itu.
" Ahh enggak kok. Aa salah lihat kali.?" katanya sambil tersenyum.
aku hanya menarik bibirku, serasa tak percaya dengan apa yang diucapkannya.
Dia pikir aku tidak tahu jika dia suka sama dokter Arya saat mereka bertatapan untuk pertama kali.
Hahaha...
aku tahu sekali sinyal itu. kataku dalam hati.
" nanti kamu Aa tinggal ke Jakarta, Aa ada urusan di sana."
" Tolong kamu jaga Kylie dengan baik jangan sampai dia kaget lagi seperti kemarin."
" kalau ada apa-apa, ini Aa kasih nomor telepon dokter Arya."
" tolong kamu mbok Sarti kerjasama yang baik untuk menjaga Kylie anak Aa." kataku.
Dia hanya mengganguk kecil.
" nanti aku kirim pesan sama dokter Arya. Ngasih nomornya kamu. biar sewaktu-waktu dia nggak merasa kaget ada nomor lain yang masuk ke ponsel nya."
" tapi ingat, nomernya dokter Arya jangan kamu salah gunakan?" kataku Sambil tertawa.
" Ihhhh.... emang Mira mau menyalah gunakan bagaimana?" katanya menjawabku. Aku tertawa kecil menatapnya.
" Yaa siapa tahu kamu punya niatan menggoda dia??" kataku Sambil tertawa geli.
" atuh Aa mana mungkin Mira godain seorang dokter yang gak selevel sama mira?" katanya terdengar pesimis.
" Emang kamu level berapa? level 5, level pedas, Level kelewatan apa Level tingkat dewa??" kataku Sambil Tertawa geli. Mira hanya mendorongku dan ikut tertawa karenanya.
Adik ku jatuh Cinta, Dia cantik, manis dan lugu. Sangat sayang jika dia harus jauh dariku nantinya.
Ahh.... inikah rasanya Khawatir terhadap Adik perempuan yang sudah Dewasa, jatuh cinta terhadap lelaki yang mungkin saja adalah jodohnya.
ada rasa takut jika nantinya adikku ini akan bertemu dengan lagi seperti aku.?
Tiba-tiba ponselku bergetar, ada panggilan masuk dari nomer Asing. Aku kemudian mengangkat nya, mungkin dari dokter Arya Pikirku.
" Yaa Hallo, siapa?" jawab ku.
__ADS_1
" Sepp... kamu teh Dimana??" kata Teteh ku yang terdengar seperti menangis.
Aku menelan ludah ku karena nya.