
Aku buru-buru menundukkan kepalaku di balik setir mobil agar tak tersorot oleh mobilnya yang lewat.
menunggunya sesaat agar mereka pergi duluan.
Perasaanku jadi tak enak sepertinya aku sudah ditunggu-tunggu Oleh Livia.
Perasaan seperti dikejar-kejar sesuatu. Tak lama kemudian dia kembali menelponku, kali ini dengan panggilan video.
Aku sedikit menarik nafas ku panjang.
" Apa sih sayang, gak percaya banget.?" kataku kepada nya.
"Kamu itu otw ke Rumah sakit apa otw ke rumah orang sih!?" katanya terdengar sewot.
aku sedikit tersenyum menatapnya.
" ini lho aku masih di basement parkiran,lagi ngantri mau keluar." kataku sambil membalikkan kan arah kamera ponselku.
" Aku Nungguin kamu di sini sudah hampir 2 jam!"
" Kalau tahu kamu lama aku kan bisa pulang dulu, nggak harus kaya orang dongo nungguin kamu!!" Katanya terdengar marah.
Aku hanya bisa melipat bibirku. menahan rasa geli akan perkataannya.
" Yaa Maaf, bukan maksud aku mau lama-lama in."
" ini udah mau otw kok aku langsung ke rumah sakit ya?" kataku. namun dia hanya diam tak bergeming kemudian mematikan panggilannya itu.
aku kembali menarik nafas panjang karenanya.
***
" Yaa Hallo Buk?" kataku sambil sedikit menjauh dari Harris dan anak-anak.
aku menatapnya dan dia juga memperhatikanku.
" Ada Apa Buk?" tanyaku kepada ibu ku.
" kenapa? Ibu ketemu Sakha di rutan. dia nggak ada Main ke rumah kok Buk.?"
" Mbak Yuti juga nggak bilang apa-apa tadi. pastinya dia belum ke rumah?" kata ku menjawabnya.
" Mungkin Besok kali buk, paling juga dia sibuk. kan mertua nya Sekarang lagi sakit."
Kataku memberikan alasan, seolah olah mungkin itu alasan si Sakha.
" Nanti kalau Sudah beres, pasti nengokin anak-anak dia.?" kataku lagi.
" Ehmm.. Estu lagi di supermarket Bu. belanja Bulanan.!" kataku beralasan.
" Ya sama mbak Yuti buk, sama siapa lagi?" kata ku sambil sedikit tertawa berbohong.
" Lahh, gak usah nelpon nelpon Segala buk, nanti kalau waktu nya datang. dia pasti datang. gak mungkin enggak?!" kataku.
" Apa, Bapak tadi nangis meluk dia?" kataku sedikit keras rasanya tak percaya.
" Masa buk, kok bisa Bapak seperti itu ke Sakha?"
Namun sepertinya Haris memanggilku. aku menatapnya sedikit kikuk.
" hmmm, buk Nanti lagi ya teleponnya."
" ini udah mau bayar di kasir." kataku berbohong lagi sambil menutup Ponsel ku Tak lama kemudian.
Lalu aku menghampiri Haris.
" Siapa, yang menelepon?" tanya nya.
" Itu, tadi atasan ku tanya tentang file pembukuan bulan kemarin." kataku berbohong.
Jadi dia sekarang ada di Jakarta? Pikirku.
**
Aku sedikit berlari menuju kamar inap mertua ku untuk menemui Livia.
Tetapi di tengah jalan, aku berpapasan dengan Livia. aku berhenti dan mengapa nya.
Dengan sedikit senyuman yang mengembang di bibir ku itu, Aku berusaha melunakkan hatinya yang sudah terlanjur marah.
" Maaf. Aku telat, ayo ke kamar Mama?" ajak ku padanya.
Livia tampak membuang muka. Acuh tak acuh terhadap ku.
Aku hanya berjalan pelan menuju kamar mertua ku itu.
" Mau kemana lagi!?" katanya ketus.
Sambil menunjuk ke bangsal tempat mamanya di rawat inap itu aku memperhatikan Livia.
" Lahh, ya mau ke kamar Mama. emang mau kemana lagi?" kataku.
" Jam besuknya sudah habis. Waktunya mama beristirahat!" katanya Acuh.
" Ya lihat sebentar emang nggak bisa?" tanyaku.
" Yaaa sana ngomong sendiri sama Dokternya!" katanya lagi. kali ini sedikit lebih pedas.
" Ya sudah, ayo aku antar kamu pulang?" kataku.
Namun dia hanya diam saat aku berjalan disamping nya, Dan terus diam sampai masuk kedalam mobil.
" Ehh iya Livi, bulan depan kan waktunya bayar pajak mobil. Aku pinjam KTP mu sama BPKB nya biar ku urus." kataku saat kami sudah duduk di dalam mobil.
" Nanti aku urus sendiri, bulan depan aku juga mau pulang ke Solo.!" katanya masih ketus. Aku hanya diam.
__ADS_1
" Aku tadi beli Donat, kamu sudah makan malam belum?" tanyaku.
" Boro boro mau makan malam! Mandi sore aja belum!" katanya ngegas.!!
Busett, masih marah aja dia pikirku. Gimana lagi yaa??😳
" Ya udah, nanti sampe rumah kita mandi ya. aku juga belum Mandi?" kataku sambil tertawa kecil.
" Mandi bareng yaa?" kataku Sedikit menggoda.
" Ogah amat!!" Katanya galak.
Aku memandang nya diam, Sambil menahan senyum ku. Kemudian aku menyalakan Radio di mobil.
###
Ingatkah kan dirimu
Yang pernah menyakiti aku
Kau kecewakan aku
Tapi ku maafkan salahmu
Kini berganti kisah
Ku menyakiti dirimu
Tapi apa yang terjadi
Kau meninggalkanku
Ijinkan aku untuk terakhir kalinya
Semalam saja bersamamu
Mengenang asmara kita
Dan akupun berharap
Semoga kita tak berpisah
Dan kau maafkan
Kesalahan yang pernah kubuat...
##
Sambil mengikuti alunan musik itu, aku mengikuti syairnya dan sedikit menggerakkan badan ku sedikit.
" Apaan sih, berisik amat. gak tau orang pusing apa?!!" katanya sambil mematikan radio itu.
Aku menatapnya Sebentar.
" Kamu pusing Kenapa??"
" Jangan jangan kamu pusing karena belum makan? Itu ada donat buat ganjal perut?" kataku menawarkan nya lagi pada Livia.
" Ganjal apa?" katanya terdengar ketus.
Aku menoleh kepadanya sebentar.
" Ganjal perut lah, masa iya ganjal Ban??" kataku sambil tertawa terkekeh. Namun dia hanya diam, aku pikir dia bakalan ikut tertawa.
" Udah tertawa nya?... Gak lucu!!" katanya menghentikan tawaku Seketika.
" Siapa juga yang ngelucu? wong aku Tertawa sendiri kok. biar gak ikut ikutan PUSING!" kataku.
Kemudian kami diam, Mengheningkan cipta.
" Apa kita beli nasi goreng dulu di depan situ sebelum masuk komplek?" Tanyaku kepada lagi. Dia masih diam... Huuffttt 😞
Aku keluar dari mobil, untuk memesan dua bungkus nasi goreng. sedangkan Livia masih di dalam mobil.
Kemudian Kami pulang ke rumah milik Richard itu.
***
Tak ada tanda tanda darinya untuk datang menengok Anak nya ini, bahkan telfon Dari nya pun tak ada.
Aku menatap jam di dinding, sudah pukul sepuluh malam juga.
Mungkin besok atau hari Minggu, sekalian mengajak anaknya main. pikirku
Pasti jam segini dia ada di rumah Livia, mungkin sedang beristirahat atau bahkan sedang??
Ahh, pikiran ini rasanya membunuh ku. kenapa aku ingin tau Urusan nya sekarang. aku harus ingat bahwa aku dan dia sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi.
Hanya sebatas mantan, berhubungan karena ada anak diantara kami.
Bukan urusan ku jika dia mau ini dan itu dengan Livia bahkan orang lain sekalipun. Aku sudah tidak berhak untuk marah atau yang lainnya.
Tapi kenapa hati ini rasanya tak rela. Bahkan merindukan nya.
Jika aku ingat dia, aku tak memikirkan lagi bahwa ada Haris yang sepertinya serius terhadap ku.
Dia juga sayang dengan anak anak ku, perhatikan dan juga lembut. sikap nya lebih tulus dibandingkan dengan si Erwin.
**
" Livia, ini handuk basah nya mau di taruh dimana?" tanyaku sambil menengok ke pintu kamar nya.
" Taruh aja di Gantungan kamar mandi. kan ada sih! Repot amat!" katanya masih ketus.
Aku hanya diam.
__ADS_1
" Aku mau teh, kamu mau enggak. biar aku buat sekalian?' kataku padanya lagi.
" Enggak usah, aku mau langsung tidur!" katanya.
Aku menyuapkan sendok berisi Nasi Goreng itu ke mulut ku, Sambil melihat saluran televisi yang menampilkan Talk show malam.
" Ngapain kamu beli nasi goreng Disana, gak enak cuma pedes Doang!' kata nya sambil berdiri di belakang kursi yang tengah ku duduki.
" Yaahh namanya Enggak tau. Soalnya gak ada yang ngasih tau?!" kataku sedikit kesal.
" Lebih baik nasi goreng Pedas, masih bisa dimakan. dari pada omongan pedas!!" kataku menyindir nya.
" Apa!!..Kamu ngomong Apa!!" tanya nya sewot.
Aku menatapnya Sebentar.
" Enggak, ini nasi goreng nya emang pedas?" kataku meralat.
" Enggak, tadi kamu ngomong nya gak gitu!?" katanya seolah olah cari ribut.
Aku sedikit menarik nafas ku perlahan menatap nya dan sambil diam.
" Mana teh nya aku, katanya kamu mau bikinin tadi?! ini kok cuma satu!" katanya.
Aku memandang nya, sedikit kesal. tadi bilang gak mau?! kataku dalam hati.
" Itu minum aja, masih hangat juga belum ku minum tadi?" kataku menawarkan.
" Itu nasi goreng punya kamu, donatnya di atas kulkas?" kataku.
" Aku gak mau makan nasi goreng ini, gak enak!" katanya.
" Yaudah terserah kamu aja. Aku mau tidur?"
" Kamar yang mana yang boleh ku tiduri?!" kataku.
" Itu sofa? katanya sambil menengadahkan wajah nya.
Aku sekilas menatap nya, sambil menarik nafas ku perlahan. lalu berjalan mendekati sofa itu.
**
Sudah jam dua malam, tapi mataku belum juga terpejam. Aku merasa gelisah sendiri Sambil membolak-balik kan badanku diatas tempat tidur ini.
Sesekali aku menatap ke pintu. berharap Sakha datang menemani tidur ku. Aku sebenarnya kangen pelukan nya itu. namun perlakuan ku tadi sepertinya membuat nya marah juga kepada ku.
Lalu aku bangun dari tempat tidur ku, berjalan keluar sekedar untuk minum.
Namun rasanya perutku sedikit lapar, jadi aku memakan Donat yang di belinya tadi.
Sudah berkurang tiga, berarti dia sudah memakannya.
Aku melirik Sofa dimana dia tidur, Seperti nya dia pulas sekali. mungkin dia Lelah seharian tadi pikir ku.
Kadang aku berusaha mengeluarkan suara atau melakukan sesuatu yang sekiranya membuatnya bangun.
Namun seperti dia terlalu pulas dengan tidur nya itu.
Dengan perasaan menyerah, aku kembali kedalam kamar ku.
Hampir pukul tiga malam. dan belum juga ada tanda-tanda nya dia bakal datang ke kamar ku. akhirnya aku putuskan untuk tidur saja.
Namun tak lama, Seperti nya ada suara seseorang yang menuangkan air minum kedalam gelas. sepertinya dia sedang minum. Tak lama kemudian Suara pintu kamar ku pun rasanya dibuka.
Aku pura pura tidur.
" Yang, aku tidur disini ya. di luar dingin, mana banyak nyamuk?" katanya pelan sambil berbaring di samping Badan ku yang miring.
Dia memeluk tubuh ku. seketika aku singkirkan tangan nya itu. terus seperti itu beberapa kali.
" Yang, kamu masih marah aja sih. gak enak loh kalo tidur masih punya perasaan marah.?" katanya.
" Aku kan sudah minta maaf tadi?" lanjut nya.
" Yang...katanya, aku hanya diam. Dia memeluk ku kembali. kali ini aku hanya diam.
Namun lama kelamaan sikapnya itu seperti mengisyaratkan sesuatu??
" Ikhh... awas!" kataku sambil membalas tubuh ku menghadap kepada nya. dia tersenyum.
" Jangan marah Yaa??" katanya seperti memohon.
" Gimana gak marah aku sama kamu! Hampir dua jam aku nungguin kamu, sampe gak makan malam. Bukannya gimana kek ke aku malah ditambahin Sebel sama kamu!?" kataku.
" Lah kamu, gak ditambahin Sebel aja Pedes. sekalian aja?" jawabnya sambil berusaha memeluk ku.
" Ikkhhhh.... awas. jangan Deket Deket.!!" kataku sambil mendorong tubuhnya itu.
Dia menatapku tajam. aku sedikit menelan ludah ku.
Lalu dia membuka selimut yang menutupi badan nya. seperti akan pergi.
" Mau kemana lagi!!" kataku sedikit membentak.
" Lah, aku cuma mau tidur aja masih di omelin kamu! gak bisa apa bersambung Omelan nya buat besok!?" katanya kesal.
" Kalau kamu pergi lagi, aku makin kesal!!" kataku sedikit keras.
Dia buru buru kembali ke tempat tidur sambil memeluk ku dan tak lama kemudian melancarkan aksinya itu.
Puncak dari penantian ku sedari tadi.
Suara nya yang menekan itu ku balas dengan suara desah ku yang semakin membuat nya menggila.
Kami sedikit terengah-engah di sepertiga malam yang Sunyi senyap ini.
__ADS_1
Akhirnya Kami ******* bersama. lantas dia mencium ku, Mencium ku dan terus menerus mencium ku. seperti menghilangkan rasa Haus di diri nya itu. Aku sangat menikmatinya.
Aku hanya Diam sambil membalas nya. Tugasku sudah dilakukan nya, Aku tak perlu susah susah.