Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.

Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.
Episode 37


__ADS_3

" Owh, jadi sekarang kamu sudah Single dengan dua anak??" tanya Erwin kepadaku. aku hanya mengangguk pelan.


" Lalu mantan suami kamu orang mana??" Tanya nya.


" Orang tuanya ada di Purwakarta tapi diam ikut kakaknya di Bekasi dulu. dia teman kerja aku??" jawabku.


" Ya yaa ... Sekarang Dia ada di mana Kamu masih sering berhubungan sama mantanmu itu??" tanya nya lagi.


" Ada di Jawa, setelah cerai dia dimutasi??"


" Masihlah, Masih berhubungan baik demi anak-anak??" jawabku.


" Kenapa kamu tidak berbagi peran dengannya maksudku anak kamu kan ada dua. jadi satu satu gitu??" katanya. aku hanya tersenyum kecil kepadanya.


" Dulu anak ku yang satu masih bayi, dan juga aku enggan berpisah dengan mereka??" jawab ku.


" Oh, Bisa saja mantan suami mu itu modus sama kamu, alasannya cuman anak-anak padahal sebenarnya dia mau mendekati kamu??" katanya.


aku tertawa karena spekulasi nya itu.


Tampa modus pun aku ingin bertemu dengannya?? pikir ku.


" Biarin ajalah, toh kami sudah gak ada apa apa ini.??!" jawab ku.


***


Sebenarnya Aku ingin menemui Estu, tadi sebelum aku ke sini aku mau mendatangi ke rumah mantan mertuaku itu. tetapi sebelum aku datang ke rumahnya. aku bertemu dengan salah satu asisten rumah tangga yang ada di rumah mantan mertuaku tersebut.


dia mengatakan kalau Estu sudah kembali ke rumahnya, Estu sempat bertengkar hebat dengan pak kardiman. menyangkut masalah Panji yang akan bercerai juga.


itulah mengapa aku langsung datang ke sini. tapi kok ya tampaknya ada tamu di dalam rumah, Dari mobil yang dibawa sepertinya laki-laki.


Aku cukup mengawasinya dari sini, sampai lelaki itu pulang.


padahal ini sudah lama tapi kok ya Tamunya enggak pulang-pulang?? pikirku.


Aku Beranikan diri lah, untuk meminjam sejumlah uang kepadanya. pegangan ku sudah habis, Niat ku tadinya. Selain itu juga aku ingin bertemu dengan anak anak.


sedangkan aku masih menumpang tidur Di rumah Azis.


Tak lama kemudian, sepertinya mobil mantan mertua aku mendatangi rumah Estu.


***


" Apa kabar Om, sehat??" sapa Erwin terhadap bapak dan ibu mereka saling bersalaman.


" Kapan Datang??" Tanya bapak pada Erwin.


" Sudah seminggu pak??" jawabnya.


" Kamu Erwin yang kerja di Jepang atau Inggris itu kan, teman kuliah nya Estu??"; katanya


Harun hanya mengangguk Dan tersenyum.


Awalnya mereka berbicara dengan hangat penuh basa-basi. entah darimana asalnya, tampak tampak membicarakan Sakha penuh dengan emosi kepada Erwin.


membicarakan segala kelakuan buruk Sakha, serta membeberkannya kepada Erwin.


" Untung Saja mereka sudah cerai nak. nggak tahu kalau mereka itu semisal belum bercerai.??" katanya dengan nada yang angkuh.


" Itu kan Dia sedang proses hukum di pengadilan saksi korupsi mantan atasannya??"


Kata bapak mengejutkanku, berarti Sakha ada di Jakarta pikirku. tapi kenapa dia belum mendatangi anak-anak ya??


" Mana katanya teman saya yang dulu satu kantor dengan orang itu??,( Maksudnya Sakha) Dia sudah di pecat Tidak hormat dari Pusat??" katanya sedikit bangga.


Aku semakin kaget karena nya. Aku tidak percaya dengan apa yang Bapak bicara kan.


***


Dengan menggunakan ojek online aku mendatangi apartemen Dimana dulu terakhir kali bertemu dengan Livia.


Sepertinya, aku melihat si Azis Yang sepertinya masuk ke dalam lift menuju suatu lantai.


hampir 15 atau 20 menitan, aku menunggunya kembali ke parkiran. sengaja aku menyembunyikan diriku darinya. mungkin Aziz mengantarkan sesuatu ke Boss nya.


Bagaimana aku bisa melewati security-nya itu?? pikirku. Apa aku pura pura menjadi seorang kurir atau Bagaimana? Pikirku.


" Ari sia keur Naon di dieu!?" ( Ngapain kamu disin) Kata Azis tiba tiba mengagetkanku dari belakang.


Aku sedikit terkejut karenanya sambil menatapnya.


" Anj**g Siaa!!?" kataku reflek disambut dengan tawanya yang keras.


" Ari Siaa juga keur Naon di dieu!?" tanyanya lagi kepadaku.

__ADS_1


" Arek nemuan jelma di dinya Kuring, Tapi urang bingung asupna kumaha??" kata ku.


( Aku mau nemuin orang di situ, tapi aku bingung masuknya gimana)


" Saha, di Lantai jeng kamar nomor Saberaha??"


( Siapa, di lantai dan nomor berapa??")


" Asana lantai lima, kamar nomer 537??" kataku.


" Oohhh, Sarua lantainya apartemen Boss uing??" katanya.


( Oh, sama lantai nya Apartemen Boss Saya)


" Maneh arek nganterkeun Naon. Dieu ku Urang wae??" Tawarku.


( kamu mau nganterin apa. sini sama saya aja)


" Sok atuh, iyeuh. pesenan Kabogoh Boos uing. Naon iyeu, sigana Gaun Atawa Naon lah?" Katanya.


Memang sepertinya Gaun, atau lingerie.


( ya udah,ini. pesanan pacarnya bosku. apa ini, sepertinya gaun atau apalah)


" Lantai lima nomer 539?" katanya


" Ngomong ka security-nya, Azis supir nya Pak Sukmana??" katanya lagi. Aku hanya mengangguk.


Setelah berhasil melewati security, aku mencet nomor lantai pada lift. semenit kemudian aku sudah berada di lantai 5.


aku berjalan menyusuri setiap kamar, memperhatikan kiri dan kanan yang tampaknya pembeda antara nomor ganjil dan genap.


Setelah mengantarkan pesanan Azis kepada bosnya, aku akan mencoba mengetuk kamar 537 Yang sepertinya milik teman Livia dulu.


Aku Berdiri Dihadapan pintu apartemen yang baru saja aku pencet bell nya.


Terdengar samar samar suara perempuan yang berteriak dengan panggilan sayang kepada Boss nya Azis.


" Kamu nyuruh apa lagi sih ke dia Daddy, kasihan kan dia bolak balik??" Katanya sambil membuka pintu.


Aku memperhatikannya yang hanya menggunakan handuk kimono berwarna putih. dia tepat berdiri berhadapan denganku.


Aku diam, dia juga diam.


Entahlah, perasaanku semakin terasa bercampur aduk tak menentu. rasanya memang sia-sia, perasaan sia-sia semenjak bertemu di Semarang kemarin seperti terulang kembali.


Dia berlari mengejarku, memanggil namaku sambil memegang tanganku kemudian.


" Apalagi sekarang!!" Teriaku kepadanya keras.


" Dengerin Aku dulu Kha??" katanya sedikit memohon.


" Aku mesti dengerin Kamu ngomong apa!?"


" Udah nggak ada yang mesti diomongin kan, kamu seperti ini dan teruskan seperti ini enggak akan ada perubahan!!" kataku sengit.


" Sakha... Aku masih mau berubah demi kamu?!" katanya sambil menahan langkahku menuruni anak tangga.


" Masih mau!!, Aku rasa nggak perlu!?"


" Buat apa aku capek-capek perjuangin kamu kalau kamunya masih seperti ini. memperjuangkan kamu dengan iman akan sia-sia jika kamu tidak punya iman!?"


" Sakha... Aku janji ini yang terakhir kali??!" katanya.


" Terakhir kali apanya !!?" kataku terdengar marah.


" Sebelum kita ketemu di Bandungan kemarin, Kamu udah jalan kan sama bos ini. Kamu sangka aku nggak tahu. mungkin saja aku awalnya nggak tahu, tapi Tuhan selalu tunjukan kebenaran!!?" kataku dengan perasaan marah dan kesal.


" Sebenarnya apa sih yang kamu cari Hahh!?"


" Kon*** Yang Gede, panjang, Kait atau yang bagaimana!?"


" Apa punya mereka lebih hebat daripada punya ku!!?


" Sakha...!! Tolong bicara pelan sedikit?!" katanya.


" Kamu Boleh ngomong apa aja asal kamu kasih aku kesempatan untuk berubah?!"


" Aku butuh figur lelaki seperti kamu, Tolong??" katanya menghiba.


" Bullshit!! kamu itu enggak akan berubah dan nggak akan pernah berubah, di pirkiran kamu hanya uang dan kenyamanan dari uang!!?" kataku sambil meninggalkannya.


" Sakha!!" panggil nya sambil menahan ku. Aku tak bergeming meninggal kan nya.


" Gak usah Cari cari aku, aku jijik pernah ketemu sama perempuan macam kamu.!!"

__ADS_1


" Bagaimana mungkin dulu aku bisa suka sama kamu, bagaimana mungkin aku mempertaruhkan rumah tangga aku untuk perempuan macam kamu!!. sekarang Aku menyesal pun tidak ada gunanya, semua sudah musnah hancur. setengahnya gara-gara kamu juga.!!" kataku kesal.


Samar, terdengar suara dari bosnya Aziz yang memanggil nama Livia.


Aku terus berjalan ke bawah, menggunakan tangga darurat.


*****


Hari ini aku kembali menjadi saksi di persidangan, dengan terdakwa bapak Garcia Rubiandini. mantan atasanku dahulu.


Hari ini juga terdapat saksi-saksi baru atas kasus dugaan korupsi nya.


Tak kusangka sangka, terdapat nama mantan mertuaku. tetapi beliau tidak dapat hadir dikarenakan sakit.


entah sakit apa, hanya pengacara yang mewakili mantan mertuaku tersebut.


Berapa kali pun hakim menanyakan hal itu kepadaku, jawabanku tetap sama. bahwa aku hanya menemani beliau menemui seseorang (yang ternyata terdakwa juga di kasus persidangan ini.)


Beliau mengatakan bahwa orang itu membayar hutang kepadanya sebesar 800 juta.


Yang ternyata itu adalah Suap kepada nya. Sepeserpun aku tak menerima uang tersebut.


Dan benar saja, persidangan hari ini menyangkut pautkan nama Rudianto. teman ku itu, yang juga Sepupunya Livia.


****


" Bagaimana kabarnya Kha??" tanya ku kepadanya.


" Baik, Kamu sama anak-anak bagaimana??" jawabnya seraya mengusap keringat di dahi menggunakan tangan nya.


" Kamu kok tau aku ada di Jakarta??" Tanya nya sambil meminum teh botol dihadapan nya itu.


" Ada yang ngasih tau aku??" kataku pelan.


" Ooo.. Siapa??" katanya.


" Maaf yaa.. aku belum sempat nengokin anak-anak. aku masih ada urusan juga takut ya ngerepotin kamu??" bertanya terdengar memaksa.


Aku menatapnya, pura-pura saja. Dia pikir aku tidak tahu dia sedang apa di Jakarta.


" Terus bagaimana Kerjaan kamu disana, aman??" kataku mengetes kejujuran nya. Dia memandang ku sebentar.


" Aman, kerjaan aku baik baik saja. lancar kok??" katanya berbohong. aku hanya diam mencoba bias saja.


" Sebenarnya, Ada apa sih. enggak biasanya kamu minta bertemu denganku duluan??" tanya nya.


Aku hanya sedikit tersenyum kepada nya.


" Aku Mau ngomongin masalah arcelio??" kata ku.


Dia sedikit terlihat kaget lalu buru-buru menayakan anak yang itu kepadaku.


" Dia sih nggak kenapa-napa, perkembangan yang bagus gerak aktif nya baik respon nya juga cepat??" kataku.


" Lalu??" Tanya nya.


" Arcelio??" kataku.


Tiba-tiba Ponselnya berbunyi.


Dia sedikit menjauh dariku, saat mengangkat ponselnya itu.


" Maaf, bukan nggak mau ngasih kabar cuman keadaannya memang susah di sini??"


" Iya maaf, kemarin itu juga ponselku sempat mati dua hari. mungkin baterai nya sudah mulai Soak.??"


" Iya maaf Ay, Bukannya aku mau menghindari kamu?!"


Dia terlihat menahan nafasnya yang baru saja di tarik nya.


" Aku gak ada maksud seperti itu sama kamu. urusanku di sini itu banyak gak cuma satu. kalau kamu nggak bisa ngerti kamu harusnya bisa diam.!?"


Katanya terdengar Manahan emosi nya.


" Kalau kamu masih percaya ya tolong percaya saja aku akan pulang sampai urusannya ini selesai. emangnya hidup aku cuman Urusan sa kamu doang!?"


katanya terlihat kesal sambil menutup ponselnya.


Setelah meminum teh botolnya kembali, tampak dia seperti menarik nafas panjang dan dalam. diam sesaat untuk meredakan emosi yang ada di hatinya.


" Maaf yaa...?" katanya Kemudian.


" Siapa, pacar kamu??" tanya ku sedikit menyelidik.


" just Someone ??'' jawabnya

__ADS_1


" Iya... Pacar kamu yaa??" kata ku curiga. dia hanya menatap mataku tajam sepertinya dia enggan dan merasa tak nyaman menceritakan itu siapa.


Aku yang sedikit pernah memahami ya lantas diam


__ADS_2