Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.

Untuk Redanya Hujan, Kamu & Mau.
episode 135


__ADS_3

Sudah hampir dua minggu mas Sakha terbaring di rumah sakit ini, selama itu istriku mira yang mendampingi nya di Surabaya ini.


Aku sendiri tidak bisa Selalu mendampingi Mira. Selama ini dia selalu ditemani oleh Ayu.


dan rencananya besok lusa dia akan dibawa pulang oleh kami. maksudku, aku dengan kesepakatan keluarga. terutama istri dan adiknya itu.


Kondisi Mas Sakha sendiri tak banyak perubahan. meskipun dia sudah sadar dari koma, dia mengalami amnesia. Belum bisa dipastikan apakah mas Sakha mengalami Amnesia secara permanen ataukah bersifat sementara. Semuanya harus melalui test kesehatan yang belum semuanya kami lakukan.


" Mas, Apakah sebelumnya mas sudah meminta izin sama ibu kalau Mas akan di bawa pulang dan di rawat di rumah kita?" Tanya Mira kepadaku sedikit merasa cemas.


" Hmmm... sudah." Jawab ku singkat.


Dia menatapku lekat. seolah dia tau apa yang sedang aku sembunyikan.


Memang benar apa Katanya, jika sebaiknya aku meminta izin atau setidaknya bilang sama ibuku akan hal ini.


Tapi mungkin, ada baiknya nanti saja aku akan berbicara dengan ibu. Aku tak ingin bertambah pusing dengan segala pendapat Ibu ku.


Memang sih, yang paling berkewajiban mengurus Mas ipar ku adalah istri nya. namun sepertinya tidak untuk sekarang. dan bukan kah nantinya mas Sakha pun akan di rawat di rumah kami, bukan di rumah ibu atau rumah orang lain.


Mira Sendiri yang sepertinya bersikeras untuk merawat Kakak nya itu.


Walaupun dia tak mengatakan nya secara langsung, namun aku tahu pasti apa yang ingin di katakan nya.


Mas Sakha dengan kondisi sekarang sangat memprihatikan.


Kadang Tatapan matanya kosong dan lebih banyak melamun. Hanya adiknya itu yang dia ingat, juga Danesh anaknya dari mbak Estu.


Selebihnya dia tak ingat apapun.


Kondisi yang seperti inilah,yang tak bisa kami pastikan kesembuhan nya.


**


" Pastikan Kakak ipar mu untuk di periksakan ke dokter di rumah sakit mu.?" kata Lula Kepada ku.


aku hanya mengangguk kecil.


" Mungkin dia membutuhkan beberapa kali lagi test MRI untuk mengetahui kondisi di kepalanya itu?"


Aku hanya mengangguk. dia memperhatikan ku.


" Kamu lebih tahulah.. Percuma saja aku ngasih tau kamu?" Katanya dengan sedikit nada mendesah.


Aku menyadari nya dan langsung berujar maaf kepada nya Sambil tersenyum.


" Maaf, aku nggak Fokus?" Kataku padanya.


" Yahh... aku bisa maklum Sih? pastinya banyak sekali Pikiran di kepala mu itu?" ujarnya.


Aku tertawa kecil.


" Istri kamu sedang hamil ya Ar? sudah berapa bulan??" tanya nya.


" Haah!!" kataku tak sadar.


Dia menatapku dan aku juga menatap nya. kemudian kami saling menertawakan.


Sesaat aku menangkap senyum yang dulu aku cinta. namun aku segera tersadar.


" Maaf, apa tadi yang kamu tanyakan?" kata ku.


" Istri kamu hamil sudah mau berapa bulan?" ulang nya


" Sudah mau 4, atau lima bulan?" jawab ku.


Dia tersenyum.


" Kapan kamu mau kenalkan aku sama dia?" katanya bertanya.


" Buat apa?" kataku. dia menatapku


" Yaa setidaknya kenalkan aku sebagai teman mu dong Ar?" katanya.


Aku hanya tertawa.


" Nanti pasti aku kenalkan sama dia?" kataku.


Dia menatapku.


" Soo.. kapan kamu akan Pulang?" tanya nya kepada ku.


" Besok pagi?" Kataku. Dia hanya mengangguk kecil.


" Okelah... aku permisi dulu, masih ada pasien yang harus aku tangani?" katanya kepada ku sambil berpamitan. Aku hanya mengangguk.


***


Ada perasaan tak tega dan kasihan aku terhadap keadaan mas Sakha yang sekarang.


Dia mengalami Amnesia. tidak banyak yang dia ingat selain Mira dan Danesh Anak nya itu.


Ada perasaan sedih. kalau begitu, sekarang aku sudah tidak ada di fikiran nya.


Semua momen kami berdua hilang dalam ingatan nya, dan itu entah akan kembali atau tidak?


Setelah dia kembali nanti ke Kutoarjo, otomatis entah kapan aku akan bertemu dengan nya lagi.

__ADS_1


Aku tidak akan sebebas dulu nanti nya.


dan bukan kah aku yang sengaja menghindari nya dulu. dan sekarang akulah yang tersingkir di ingatan nya itu.


" Pssstt... indah?..Pssttt..indah?!" kata Manda Kepada ku. Aku menatapnya kosong. dia menatapku tajam, lalu menggerakkan mata'nya itu.


Aku menuju maksud tatapan Nya itu. ternyata ada kunjungan dari manager ku yang tampak sedang melihat lihat keadaan hotel.


Aku cepat-cepat mengembalikan semua ingatan ke keadaan sadar yang tengah bekerja.


***


" Iya mbak, Besok pagi kami akan pulang ke Kutoarjo?" kata ku kepada mbak Ayu lewat sambungan Ponsel.


" Tolong doain saja mbak yang terbaik buat Aa Sakha?" kataku sedikit haru.


" Mbak, apa kita bisa ketemu dulu sebelum aku nanti pulang ke Kutoarjo?" kataku meminta.


" Iya mbak, nanti saya tunggu?" Kataku. kemudian aku menutup ponsel ku itu.


" Siapa Mira?" tanya Aa Sakha pelan.


Aku menatapnya.


" Mbak Ayu?' kataku


" Ayu siapa? Apa Aa kenal??" tanya nya tampak mengingat ingat. Aku menatapnya sedikit sedih.


Dia perempuan yang pernah dekat sama Aa. Sampai sampai orang tega membakar gudang milik Aa, dan Aa mengalami banyak kerugian karena nya.


Dia Aa... Perempuan yang selama ini Aa tutup tutupi akan kenyataan nya.


Dia perempuan yang nyaris jadi salah satu kakak ipar ku.... kata ku dalam hati.


Tak terasa aku meneteskan air mata. aku segera mengusap nya.


" Kamu Kenapa??" tanya Aa Kepada ku sambil mengangkat tangan nya memegangi tangan ku.


Aku hanya menggeleng perlahan,dan menempelkan telapak tangan nya itu di pipi ku.


Aku menangis.


Hatiku sakit Aa... sakit sekali melihat keadaan mu yang begini.


Mira ingin Aa sembuh, Mira Enggak mau Sendiri di tanah Jawa ini.


Hanya Aa orang tua Mira saat ini. Sanat peninggalan Abah dan Ambu.


Aku terus Menangis sesegukan karena nya.


" Mira... Aa punya salah apa?" katanya heran.


" Aa harus sembuh ya?" kataku padanya.


Dia hanya tersenyum tipis.


" Mira.. Danesh di rumah sama siapa?" katanya.


" Ada yang jaga kok Aa.. tenang aja?" jawab ku.


" Kemarin Aa janji sama dia mau jemput di sekolah nya?" katanya.


" Kamu tau Enggak? Di sekolah nya Danesh ada bujang ganteng. namanya Surya?"


" Kamu mau Aa jodohin sama dia enggak?" katanya


" Aa... Mira sudah menikah.ini?" kataku sambil menunjukan perut' ku yang buncit.


Dia menatapku.


" Kapan? Aa di undang Enggak?" tanyanya sambil mengingat ingat.


" Atuh Aa yang nikahin Mira sama mas Arya? masa lupa...sama Mas Dokter?" kata ku.


Kakak ku itu mengernyitkan dahi nya.


" Atuh Aa yang nikahin Mira. waktu itu di depan Abah?" kata ku.


" Abah jadi tahu kalau kamu sudah nikah??" katanya.


Aku menghela nafas sedikit.


" Kamu gak nikah siri kan??" tanya nya. Aku hanya diam menatap nya.


" Tapi dulu kayak nya Aa pernah tau, siapa yaa yang nikah Siri?" katanya sambil mengingat ingat lagi.


Tapi kemudian dia memegangnya kepalanya itu sambil sedikit menahan rasa nyeri mungkin.


dia meringis.


" Kan..kan..kan..,Mira sudah pernah bilang kalau Aa pelan pelan saja ngingetin nya.jangan di paksa?" kataku sambil buru buru mengambilkan Aa ku itu air.


Setelah aku memintanya meminumnya, lantas aku mengusap bahu nya.


" Istighfar Aa.. yang pelan, yang tenang.?" kata ku.


Kakak ku itu menatap ku.

__ADS_1


" Kata kamu, Aa harus segera sembuh?" jawab nya.


" Tapi lalaunan Aa.. ulah maksa Mun nyeuri?" ( Tapi pelan-pelan Aa.. Jangan maksa kalau sakit) kataku.


dia hanya diam sambil menatap ku lagi.


" Terus sekarang, Aa mau tidur dulu Yaa?" katanya.


Aku Hanya mengangguk kecil sambil memapahnya ke tempat tidur dari kursi roda.


***


" Mas... mas ingat Enggak? Dulu kita pernah jalan jalan ke Bandungan Semarang?" kataku padanya sambil mendorong kursi roda nya itu keluar kamar nya.


dia memintaku untuk berkeliling sambil menunggu mas dokter dan Mira yang tengah membereskan administrasi rumah sakit.


Dia hanya diam.


" Saat itu kita ber enam. ada aku, kamu, Noval, Irfan, Eko dan Hakka. juga salah satu teman perempuan ku Tiwi juga Pacar nya Noval.?" kataku.


" Mas Saat itu masih kerja di kantor?" kataku.


" Emangnya, sekarang aku sudah Enggak kerja di kantor lagi?" tanya nya sambil menatap ku.


aku hanya tersenyum.


" Mas belum begitu lama di mutasi dari Jakarta. pindah di Kutoarjo dan ngekost bareng sama mereka?" kataku.


" Terus... hubungan kamu sama aku apa?" katanya kemudian. Aku terdiam menatap nya.


' Aku sudah punya anak Lohh??" katanya. Aku hanya tersenyum kemudian.


" Kita teman.. tapi sangat Dekat meskipun jangan sampai ada yang melihat?" kataku pelan.


" Maksud nya..? teman Dekat apa?" tanyanya.


" Pokoknya teman?" kataku.


" Terus, apa yang terjadi di Semarang?" tanya nya.


Aku menatapnya lagi.


" Yaa.. kita cuma ngobrol dari malam sampai pagi?" kataku sambil tertawa kecil mengingatnya.


Awal mula aku jatuh hati sama kamu mas? kataku dalam hati.


" Lalu apa, kita ngobrol apa?" katanya sedikit penasaran.


" Apa yaa? waktu itu kita ngobrol apa ya.. aku juga sedikit lupa?" kataku sambil tertawa kecil lagi.


dia tersenyum.


" Besok nya kita jalan jalan di taman" kataku.


" Taman apa?" tanya nya


" Taman bunga.. kita cuma menatap hamparan bunga dan rindangnya pohon mas. sejuk banget di sana?" kataku.


" Aku masih ada foto kita saat di sana?" kataku.


" Tapi, Enggak ada di hape yang ini?" ujar ku.


" Kita banyak mengambil selfie?" kataku.


" Lalu kita pulang naik motor boncengan??" kata ku sambil tertawa.


dia menatapku sedikit serius. aku menatapnya.


" Apa waktu kita boncengan itu hujan?" katanya tiba-tiba. aku sedikit terbelalak menatap nya.


" Kamu ingat mas?" tanyaku penuh harap.


" Engga tau..tapi rasa rasanya aku pernah seperti itu. tapi sama siapa yaa?" katanya terlihat menerawang


" Kamu engga pusing mas?" kataku


Dia menatap ku.


" Enggak? Kenapa??" tanya nya.


Aku hanya menggeleng perlahan.


Aku ingat cerita Mira tadi, mas Sakha akan merasa pusing jika dia mengingat ingat sesuatu.


Tapi sepertinya tidak saat ini. saat dia sedang bersama ku.


" Mbak?" Panggil seseorang kepada ku. Aku memperhatikan nya.


Ternyata mas Dokter yang memanggil ku.


" Disini tho rupanya?" katanya. aku tersenyum kepadanya.


" Ayo mbak? Sudah waktunya kita mah balik ke Kutoarjo?" katanya.


Tiba-tiba perasaan ku seperti di renggut sesuatu. Rasanya sakit dan sedikit Sesak.


Aku akan segera berpisah dengan mas Sakha.

__ADS_1


Aku sedikit menelan ludah ku sambil memperhatikan Mas Dokter.


Lalu aku mengikuti nya.


__ADS_2