
" Hallo Kha?" kataku tersambung dengan jaringan telepon Sakha.
" Ada apa Es?!" katanya Dari jauh sana dia menjawab.
" Es??.. Hhmmm, aku sedikit merasa aneh dengan jawabannya tersebut. biasanya dengan kondisi apapun dia akan memanggilku dengan nama Estu?
kemudian setelah berbasa-basi, aku bermaksud untuk menanyakan perihal topik yg sengaja ingin ku bicarakan dengan nya.
" Katanya orang yang membakar gudang kamu sudah tertangkap?" tanya ku kemudian.
" Alhamdulillah kalau begitu?, Terus sekarang bagaimana?" tanya aku lagi.
" Emmm, tadi Haris yang ngasih tahu aku, terus beritanya kamu itu ada di koran lokal. aku lihat sendiri tadi di di koran lokal online?" jawab ku padanya yang bertanya.
" Emang benar kalau pembakaran gudang mu itu sebenarnya dipicu oleh motif asmara?" tanyaku.
Dia Diam mendengarkan ku.
" tersangka yang berinisial L merasa cemburu sama kamu karena pacarnya dekat sama kamu? iya??" tanyaku. Dia hanya diam, tapi tak lama mengiyakan.
" Berarti kamu dulu sama dia itu selingkuh?, kamu itu selingkuhannya. atau bagaimana?!" tanyaku sedikit menyelidik.
Terdengar suaranya yang sepertinya enggan menjelaskan. dia beralasan jika kejahatan secara hukum dan masalah hati itu berbeda.
Masalah hukum harus diselesaikan secara hukum.
Masalah hati atau masalah pribadi masih bisa dibicarakan baik-baik secara lelaki.
Begitu katanya beralasan. Hmmm... alasan yang sangat halus pikirku.
" Proses secara hukum? emang dari para tersangka tidak menawarkan sesuatu, ganti rugi misalnya?" tanya aku kepadanya.
lalu terdengar suaranya tertawa datar menyikapi pertanyaanku. aku sedikit berfikir lain tentangnya.
" Ohh... kamu tidak mau?! emang jumlah ganti rugi nya kurang?" kataku kemudian.
lalu aku terdiam cukup lama mendengarkannya yang sedikit mengoceh, menandakan bahwa dia tidak suka atau tidak setuju dengan pihak korban yang meminta Jalan damai.
Memang masuk di akal sih alasannya tersebut, Akupun tak menyalahkannya tetapi sedikit menyayangkan Jika dia berbuat terlalu keras kepada orang yang Bersalah.
" Kenapa sekarang jadinya aku yang dituntut memberi belas kasihan kepada mereka yang telah mencelakaiku, menghancurkan usahaku!!" katanya dari sana yang terdengar kesal karena opiniku.
" Kenapa aku harus berbelas kasihan sekarang sama mereka, kenapa mereka menuntut itu sekarang dariku? kemana hati nurani mereka saat anda melakukan itu semua sama aku!?"
" Masalahnya bukan uang, mau mereka ganti 10 kali lipat pun aku nggak mau?" katanya kesal.
" Aku Kesal sama orang-orang yang menggampangkan sesuatu bisa diselesaikan dengan uang, uang dan uang !!"
" Bahkan harga diri pun kalau dijual mereka akan mereka beli!"
" dan kamu tahu sekarang apa? mereka sedang berusaha membeli harga diriku!!"
katanya yang terdengar marah. aku hanya diam mungkin opiniku itu tidak tepat disampaikan sekarang padanya. atau bahkan mungkin salah, seharusnya aku tidak berkata seperti itu kepada Sakha.
" Iya Maaf, Aku kan cuman bertanya dan memberikan opini ku."
" Maaf jika aku tidak mengetahuinya secara persis yang terjadi."
" Aku minta maaf kalau bikin kamu kesal, semoga masalahnya cepat selesai ya?" Kataku merasa tidak enak.
Kemudian dia cepat mengalihkan pembicaraan, dengan menanyakan kabar anak-anak kepadaku.
" Mereka semua baik-baik di sini, Kamu jangan kuatir. Handle aja dulu urusanmu itu. tetap fokus dan selesaikan, aku bantu doa buat kamu dari sini?" kataku.
Namun entah mengapa, ada sesuatu yang mengganjal di pikiran ku. lalu aku bertanya kembali padanya.
" Tapi Kha jika mereka. khususnya tersangka L lah, diproses secara hukum karena kejahatan nya yang dikategorikan Tindak kriminal?!"
__ADS_1
" Dan Dia mengakui Sebagai otak pelaku dan perencana? Lalu Apa pertanggung jawaban moril kamu terhadap tersangka L yang merasa cemburu sama kamu?"
" Kamu Ngaku kan kalau jalan sama Pacarnya L??" tanyaku.
" Loh, kan ini masalah nya beda Es?" katanya terdengar suara tinggi.
" Apa kamu juga sudah minta maaf sama dia!?" Kataku membungkam mulutnya.
" kamu sendiri bilang kan mereka diproses hukum Karena sebab akibat, kamu nggak Berpikir juga itu berlaku buat kamu! itu akibat dari sebab yang kamu perbuat?" Kataku yang sedikit menghakiminya.
" Loh kamu kok malah membela mereka sih?" katanya kesal.
" aku enggak membela Mereka cuma ngingetin kamu, kamu itu Egois? selalu merasa orang lain menyakiti kamu. padahal kamu sendiri melakukan kesalahan sama mereka tapi kamu tidak mau ngaku!?"
" Kamu Enggak bisa terus-terusan seperti itu Kha?" kataku.
" Oke, Masuk di Akal sih! berarti tindakan aku disini itu sama halnya dengan tindakan aku sekarang ke kamu sama Haris gitu?"
Kini giliran aku yang diam.
" Anggap saja Aku selingkuhan kamu, sedangkan di sana ada Haris yang serius sama kamu.?"
" Sekarang aku tanya sama kamu, semisal aku ini selingkuhan kamu dan semisal yg di posisi perempuan itu Adalah kamu.?"
" Dia punya hubungan Dengan lelaki lain yg jelas jelas mencintai nya, sedangkan dia mempunyai perasaan yg besar ke aku. dia ngejar aku padahal aku sudah punya istri, sekarang pertanggung jawaban kamu ke aku sama lelaki itu gimana?"
Tanyanya. Aku diam. Ada yg ingin aku jawab tapi Mulai nya harus dari mana.
" Estu, bukannya aku membela diri. Tapi lelaki mana sih yang tahan jika di Pepet terus-terusan?"
" Apalagi kamu tahu kelemahanku apa! Mudah jatuh hati sama perempuan. Aku mudah akrab dengan siapapun?"
" Aku tau aku Salah, menjalin hubungan dengan perempuan itu. yang memicu rasa cemburu di hati lelaki yang telah diberikan Harapan olehnya.?"
" Sekarang posisi aku di hati kamu, hidup kamu Gimana. Salah atau apa?"
" Kalau kamu tanya bentuk pertanggung jawaban aku sama lelaki itu gimana ya aku jawab, Aku harus mundur?! iya kan begitu jawaban seharusnya?"
" Apa inti dari semua pertanyaan kamu Barusan adalah Ini?" Katanya.
Lohh kok malah larinya ke sini? pikirku.
Secara tidak langsung, dia menggagalkan rencana nya terhadap ku sempat di ucapkan nya kemarin.?
Aku jadi merasa salah bicara,dan salah langkah. bukan maksud ku ingin menolaknya. yaa Tuhan, Bagaimana ini. Aku tidak ingin kehilangannya lagi.
" Sudah lah. aku paham sekarang, kalau kamu nggak mau sama aku ya nggak apa-apa. aku sadar posisi aku juga sulit untuk kamu sekarang.
terlalu banyak wanita di hidup aku. Aku terlalu Badjingan untuk kamu yang Tulus?" katanya.
" Kita seharusnya berhubungan tidak lebih dari pembahasan anak." katanya.
Dan sebelum dia menutup sambungan teleponnya dengan ku dia mengucapkan kata maaf. Sedangkan ada rasa kelu di lidahku, Aku nggak tahu harus berkata apa. Aku menyesalkan pertanyaanku tadi.
Aarrrghhhh!!
***
Sebenarnya, benar juga Apa yang dikatakan oleh Estu tadi.
Akulah yang mau bermain Api, seharusnya aku juga berani memadamkan nya.
Lalu aku harus apa sekarang? Bentuk pertanggung jawaban ku, Menebus rasa salah ku pada Linggar?
Tetapi kan Ini masalah perasaan, kan tidak bisa di larang larang pikirku.
Tapi benar juga jika aku itu Egois pikirku lagi.
__ADS_1
"Mas, ngelamunin apa?" kata pak Bandi mengagetkan ku. aku hanya diam menatap nya.
" Apa ada Masalah sama anak anak mas di Jakarta?" tanyanya. Aku hanya menggeleng.
hari ini kamu memang masih berada di kampung nya pak Bandi.
" Nanti malam rencananya kita pulang Mas?" kata pak Bandi.
" Terus Ayu?" tanyaku.
" Ya pulang bareng sama kita?" katanya yang membuatku sedikit gusar.
" Maksudnya?"
" ya maksudnya pulang sama sama mas ke Kutoarjo. naik mobilnya Mas Sakha?" katanya.
" Waduh?? bukannya saya nggak mau Pak ketumpangan sama dia. tapi ini menjaga jaga agar tidak ada ada fitnah?" kataku.
Mas Bandi tertawa.
" Fitnah apa sih Mas kalau kita pulangnya sama sama, Bukan Mas sendiri sama Ayu?" katanya.
Aku hanya diam.
" Lebih baik Ayu pulang ke Kutoarjo daripada harus hidup tertekan di sini?" Katanya.
" Bukannya keluarga Linggar ada di Kutoarjo, Apakah itu menjamin Ayu bisa tenang Pak?" kataku.
" Dia sih rencana untuk keluar kerja, Mau ikut kerja temannya ke Surabaya?" katanya lagi. Aku hanya diam saja.
" Mas, menurut Mas perbuatan kita terhadap mereka itu adil Gak sih??" tanya ku.
" Maksudnya?" tanyanya.
Aku menarik nafas ku panjang, lalu menatap ke sekeliling takut jika ada yang mendengarkan. sedangkan kami berdua ada di bale pemancingan di belakang rumah orang tua mas Bandi.
" Mas Bandi kan tahu sebenarnya apa yang terjadi, antara saya dan Ayu memang mempunyai perasaan. yah Kamis pacaran meskipun jalan biasa kataku berbohong.?"
" Sebenarnya wajar jika Linggar cemburu sama saya. kan seharusnya saya meminta maaf karena jalan sama pacarnya?"
" Kenapa minta maaf mas? Ayu juga mau kan sama mas?" katanya. aku hanya mengangguk.
" Tapi kan saya yg mulai Mas?" kataku.
" Saya bukan membenarkan perbuatan Mas Sakha, tapi kalau Ayu tidak menanggapi Mas mungkin tidak akan seperti ini?" katanya.
Padahal yang sebenarnya terjadi, Ayu lah yang mengejarku.
Bagaimana jika dia tahu, keluarga nya tahu atau keluarga Linggar yang tahu. malah akan tambah repot lagi. Bisa bisa Ayu yang akan di tuntut.
" Sebenarnya Saya juga tidak suka jika Ayu menikah dengan Linggar.?" katanya.
" Tukang Mabok, Suka judi belum lagi selalu mengandalkan orang tuanya. gayanya yang Petantang-Petengteng persis preman itu bikin saya muak!" katanya.
Aku hanya diam sambil memandang nya. lalu menelan ludah.
" Mas, apa ada baiknya kita terima saja proses damai yang mereka inginkan?" kataku
" Maksudnya Mas mau menerima uang dari mereka?" katanya.
" Bukan seperti itu si mas, saya masih berharap mereka dipenjara sebagai contoh pada orang lain. tetapi saya tidak ingin mereka dipenjara terlalu lama, setidaknya kita bisa memberikan keringanan terhadap mereka.?" Kataku.
" Kalau mas setuju, nanti biar saya yang berbicara sama Pengacara." Kataku.
" Maksudnya Mas Sakha, Mas nya ingin terlihat keras Di luar tapi lembut di Dalam?" katanya.
" Nahhh.. kurang lebih seperti itu. ini bisa jadi strategi kita juga Mas mencari nama di lingkungan?" Kataku.
__ADS_1
" Untuk sementara ini biarkan Berjalan, di penghujung ceritanya. kita bermain sedikit?" kataku sambil tertawa.